Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 47


__ADS_3

"Usir saja dia, aku tidak ingin melihatnya."


Bima semakin bingung dengan tingkah Raina yang tiba-tiba saja berubah.


"Kenapa Raina berbicara seperti itu ?" Bisik Bima pada Edo.


Edo menggelengkan kepalanya, ia pun sama bingungnya dengan Bima.


"Kenapa Nona berkata seperti itu ? Bukankah Nona ingin bertemu dengan Pak Bima ?" Tanya Edo.


Raina langsung menggelengkan kepalanya. "Dimana Kakakku ?"


"Tuan, sedang di luar, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


"Raina, kamu tidak ingat seharian ini kita terus bersama ?" Tanya Bima sekali lagi.


"Tidak, tidak mungkin." Ucap Raina sedikit ketakutan.


"Pak Bima sebaiknya anda keluar saja." Ucap Edo kasihan melihat Raina seperti itu.


"Baiklah." Bima pun keluar kamar Raina. 


"Saya juga akan keluar. Permisi Nona."


"Bima ada disini. Apa yang harus aku lakukan ?" Ucap Raina saat Bima dan Edo sudah keluar dari kamarnya.


"Raina… cepatlah berpikir." Raina semakin terlihat gelisah. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Ataukah ia begitu gugup bertemu lagi dengan Bima ?


"Ok tenang Raina, tenanglah. Aku harus tahu dulu kenapa Bima ada disini ?"


"Tapi, aku tidak mau bertanya langsung padanya."


Tiba-tiba mata Raina berbinar. "Edo! Benar Edo. Aku harus bertanya padanya."


Lalu ia bangkit dan berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu perlahan, dan mengintip keluar. Beruntung Edo ada di depan kamarnya bersama Bima.


Raina menutup kembali pintu. "Ada Bima juga. Bagaimana aku memanggil Edo ?"


Raina kembali berpikir. "Edo! Kamu masih disini ?" Tanya Raina.


"Iya, Nona. Saya disini."


"Masuklah."


"Baik, saya masuk sekarang."


Edo kembali masuk ke kamar Raina. Dan buru-buru Raina menutup pintu kembali, lalu mengajak Edo menjauh dari pintu. Ia takut Bima menguping pembicaraannya.


"Ada apa Nona ?"


"Ceritakan! Bagaimana Bima bisa sampai disini ?"


Edo terdiam. Dalam benaknya, ia merasa aneh dengan sikap Nonanya yang sangat berbeda dengan tadi siang.


"Edo, kenapa diam ?"


"Maaf Nona."

__ADS_1


"Cepatlah ceritakan! Untuk apa Bima datang kesini ?"


Lalu Edo menceritakan semuanya secara detail dari awal hingga sekarang.


"Benarkah ? Jadi semua itu nyata ? Aku kira semuanya hanya mimpi belaka." Ucap Raina seolah tak percaya.


"Jadi Bima… belum tahu kalau aku… tidak-tidak… aku harus diam, aku harus diam saja." Lirih Raina.


"Nona tidak apa-apa ?" Tanya Edo khawatir.


"Tidak apa-apa. Aku hanya memastikan saja bahwa aku sedang tidak bermimpi."


"Nona mau bertemu dengan Pak Bima ?" 


Raina tertegun, ia bimbang. Ia tidak tahu mau bertemu Bima lagi atau tidak.


"Bima ? Ah ya, Bima. Aku…" Raina menghentikan ucapannya, seperti tengah mempertimbangkan sesuatu. 


"Tuan Reno sudah menitipkan Nona pada Pak Bima. Ia bahkan rela meninggalkan keluarganya demi Nona." Edo sedikit melebihkan ceritanya, ia hanya ingin membuat Raina merasa senang.


"Benarkah ?" Tanya Raina tak percaya.


"Buktinya ia masih disini, menjaga Nona."


"Benarkah ?" Tanya Raina lagi semakin tidak yakin.


"Benarkah untuk menjagaku ? Atau ada alasan lain kah ?" Tanyanya dalam hati.


"Jika tidak ada lagi yang ditanyakan, saya permisi Nona. Saya akan panggilkan Pak Bima kesini."


"Raina." Panggil Bima. Sontak Raina kaget. Ia tidak sadar dengan kepergian Edo dan kedatangan Bima.


"Bima." Raina berjalan sedikit menjauhi Bima.


"Kamu tidak apa-apa ?"


"Iya, aku tidak apa-apa. Aku mau tidur lagi." Raina naik ke atas tempat tidur dan berbaring membelakangi Bima.


"Baiklah. Jika butuh apa-apa panggil saja." Ucap Bima.


Namun Raina diam saja, tak merespon ucapan Bima.


Akhirnya Bima pun kembali ke sofa. Waktu sudah menunjukkan tengah malam.


Bima maupun Raina tidak bisa tidur. Bima masih memikirkan tentang perubahan sikap Raina yang begitu drastis. Seolah-olah ia lupa dengan kejadian sebelumnya. Sementara Raina sibuk dengan segala pemikirannya. Apa yang akan ia lakukan untuk menghadapi Bima ? Ia belum siap bertemu Bima. Dan ini sangat tiba-tiba baginya.


***


Raina terbangun saat matahari sudah meninggi. Semalaman ia tidak bisa tidur. Pikirannya dibuat sibuk dengan segala pemikiran yang belum ia persiapkan. Kedatangan Bima yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


"Sudah bangun ?" Tanya Bima saat Raina membuka mata.


"Bima." 


"Ayo bangun dan sarapan. Semalam kamu tidak makan, pasti sekarang kamu lapar." 


Benar apa yang Bima bilang, ia memang merasa sangat lapar.

__ADS_1


"Ayo makan, aku sudah menunggumu dari tadi."


"Jam berapa sekarang ?" Tanya Raina sembari bangun dari tidurnya.


"Jam 9."


Lalu Raina turun dari tempat tidurnya menghampiri Bima yang duduk di sofa. Kini sofa telah kembali pada posisi yang seharusnya. Bima langsung membereskan kembali setelah bangun dari tidur.


"Sepertinya kamu tidur cukup nyenyak ?" Tanya Bima.


"Kenapa memangnya ?"


"Kamu terlihat lebih segar." Jawab Bima sembari tersenyum.


Memang benar Raina tidur cukup nyenyak di akhir waktu malam. Karena ia telah mencapai keputusan untuk bersikap biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa. Ia juga ingin tahu keadaan Bima yang sesungguhnya. 


Raina dan Bima makan dengan diam. Fokus dengan piring masing-masing. Namun sesekali, Raina mencuri pandang pada Bima.


"Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Raina setelah selesai makan.


"Aku ? Tentu saja aku tidak apa-apa."


"Maksudku, kamu apa kabar ?" Tanya Raina lagi.


Bima terdiam. Ternyata Raina belum kembali seperti kemarin. Ia masih Raina yang semalam.


"Aku baik."


"Sepertinya hanya aku yang tidak baik-baik saja setelah perpisahan kita."


Bima terdiam, tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. Raina memang benar, Bima baik-baik saja setelah perpisahan itu. Bukan tak sedih karena berpisah dengan seseorang yang masih dicinta, tapi Bima hanya mencoba realistis saja, tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, karena hidup terus berjalan.


"Bahkan sampai detik ini, aku belum bisa melepaskanmu." Lanjut Raina.


"Kalau boleh tahu, bagaimana caranya agar aku bisa melupakanmu? Dan aku bisa hidup tanpa bayang-bayangmu lagi." Tanya Raina.


Bima masih belum membuka mulutnya. 


"Kenapa diam ? Cepat jawab! Aku juga ingin seperti kamu yang dengan mudah melupakanku begitu saja." Raina mulai emosi.


"Kenapa kamu berkata seperti itu ?" Tanya Bima.


"Kamu pergi begitu saja setelah Kakakku mengusirmu. Kenapa ? Kenapa kamu tidak memperjuangkanku ?" Tanya Raina semakin emosi.


"Raina sudahlah. Semua itu telah berlalu." Bima ingin menyudahi pembicaraan ini.


"Ya benar, semua itu telah berlalu tapi hanya untukmu saja. Tidak denganku. Disini, aku masih terkurung oleh masa laluku, yaitu kamu." Ucap Raina.


"Dan sekarang kamu disini, di depanku. Untuk apa ?" Tanya Raina lagi.


"Karna Kakakmu yang membawaku ke sini." Jawab Bima.


"Dulu kamu pergi atas permintaan Kakakku, dan sekarang kamu di sini juga karena Kakakku. Kenapa ? Kenapa kamu selalu menuruti perintah Kakakku ? Kenapa tidak mau menurutiku saat aku tidak mau kita berpisah ? Kenapa ?" Tanya Raina mulai menangis.


Bima langsung merengkuh Raina dalam dekapannya. Ia hanya ingin mencoba menenangkannya.


"Menangislah sepuasnya." 

__ADS_1


__ADS_2