
Sudah tiga hari Sahla dirawat di rumah sakit. Keadaannya sudah cukup membaik, meski mual muntah masih sesekali terjadi. Dan dokter telah membolehkannya untuk pulang. Sahla sangat senang mendengarnya, ia sudah rindu dengan suasana rumahnya.
"Hati-hati turunnya." Ucap Bima, saat akan turun dari mobil karena sudah sampai rumah. "Aku gendong aja ya ?"
"Gak usah Kak. Aku bisa jalan sendiri kok."
Bu Ratih dan Bu Marni langsung menghampiri Sahla. "Gendong aja Bim, Neng Sahlanya." Ucap Bu Ratih.
"Gak usah, Bu. Sahla bisa jalan sendiri."
Dengan dipapah Bima dan Ibunya, Sahla masuk ke rumah. "Disini aja, Kak." Ucap Sahla, ia ingin duduk di ruang tamu saja, karena bosan kalau harus berbaring lagi di kamar.
"Di kamar aja ya. Kamu masih butuh istirahat." Ucap Bima.
Sahla menggeleng. " Bosen Kak tiduran terus."
"Ya, sudah." Lalu mendudukkan Sahla di atas kursi di ruang tamu."
"Mau makan, Neng ?" Tanya Bu Marni.
"Nggak Bu. Sahla pengen teh manis aja. Kayaknya enak."
"Ibu bikinin dulu ya." Sahla mengangguk.
Sementara Bu Ratih membawa tas berisi pakaian kotor milik Sahla saat di rumah sakit menuju kamar mandi. Diikuti Bima di belakangnya.
"Mau kopi Bim ?" Tanya Bu Marni melihat Bima yang sudah ada di dapur.
"Boleh Bu, kalau gak ngerepotin."
"Ya nggak lah Bim. Sekalian mau bikinin buat Bapak sama Mang Dandi juga."
Bima tersenyum. "Makasih ya, Bu."
"Kenapa Bim ?" Tanya Bu Ratih, saat melihat Bima yang celingukan di dapur.
"Mau makan Bu."
"Kenapa gak bilang dari tadi, Bima." Ucap Bu Marni yang masih membuat kopi.
Bima tersenyum malu.
"Ada di meja makan. Sudah Ibu siapin semua. Makanlah." Ucap Bu Ratih.
Bima mendekati meja makan, dan membuka tudung saji. Banyak aneka masakan yang tersaji di meja tersebut.
"Banyak banget Bu masaknya?"tanya Bima, karena memang tak seperti biasanya.
"Bukan buat kamu aja, Bim. Bapak mertuamu sama Mang Dandi juga." Jawab Bu Ratih.
Bima mengangguk. Lalu menyendokkan nasi ke dalam piringnya, dan mengambil beberapa lauk sebagai teman nasi.
"Ini Nak kopinya." Bu Marni meletakkan kopi di atas meja.
"Makasih, Bu."
"Makan yang banyak."
Bima tersenyum. "Iya, Bu."
Bu Marni lalu meninggalkan Bima ke ruang tamu untuk mengantarkan dua cangkir kopi untuk suaminya dan Mang Dandi, dan secangkir teh manis untuk anaknya, Sahla.
Selesai makan, Bima kembali ke depan menghampiri istrinya yang masih duduk di ruang tamu.
"Mau makan nggak ?" Tanya Bima.
Sahla menggeleng. "Mau ke kamar aja Kak."
Bima membantu Sahla berjalan ke kamar.
__ADS_1
"Istirahat lah. Aku mau mandi." Ucap Bima. Sahla hanya mengangguk.
Bima berlalu ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama, Bima keluar dari kamar mandi. Lalu memakai pakaian dinasnya saat pergi ke toko. Setelah semuanya siap, Bima menghampiri Sahla yang terbaring memunggunginya.
"Neng." Panggilnya pelan. Namun yang dipanggil tak bergeming.
"Neng." Sekali lagi Bima memanggil sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sahla.
"Rupanya istriku sudah tidur. Pamit dulu ya, sebentar. Mau ke toko." Bisiknya. Lalu mencium kening Sahla.
Lalu membuka pintu kamar dan menutupnya perlahan, agar Sahla tak terbangun.
"Mau kemana, Bim ?" Tanya Bu Marni saat melihat Bima yang keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan membawa tas.
"Mau ke toko Bu."
"Besok aja lagi Bim, sekarang istirahat dulu." Ucap Bu Marni.
"Benar kata Ibu mertuamu. Besok aja ke tokonya. Emangnya kamu gak capek ?" Lanjut Bu Ratih yang keluar dari dapur dan ikut mengompori agar tak jadi keluar.
"Gak enak Bu, udah beberapa hari ditinggal sendiri."
"Itukan bukan keinginanmu, Nak. Namanya juga musibah, siapa yang tahu." Ucap Bu ratih lagi.
"Gak apa-apa Bu, Bima cuma sebentar. Nengok doang sebentar, nanti pulang lagi."
"Ya sudah hati-hati di jalan."
"Iya, Bu." Lalu Bima menyalami kedua ibunya. Bima mengeluarkan motornya yang terparkir di dalam rumah, dan berlalu pergi ke toko.
"Assalamu'alaikum." Bima memberi salam saat tiba di toko.
"Wa'alaikum salam." Jawab seseorang dari dalam toko. "Bima ?" Tanyanya.
Bima tersenyum. "Maaf Ri, aku baru datang sekarang."
"Gak apa-apa, Bim. Kamu kan bos di sini, bebas mau datang dan pergi kapan saja."
"Pulang kapan dari rumah sakitnya ?"
"Tadi pagi."
"Bagaimana keadaan istrimu ?"
"Sudah mendingan."
"Syukurlah." Jawab Ari perlahan.
"Gimana toko ?"
"Alhamdulillah seperti biasa ramai. Lihat! Banyak barang yang sudah kosong stoknya." Ari memperlihatkan etalase-etalase yang sudah tinggal sedikit stoknya, bahkan ada beberapa yang sudah kosong.
"Iya, maaf. Aku terlalu fokus mengurus istriku, hingga lalai pada toko."
"Kamu sudah benar, Bim. Istrimu harus diprioritaskan apalagi dia sedang hamil anakmu."
"Makasih ya, Ri. Aku tidak salah memilihmu bekerja disini."
"Tidak usah sungkan. Aku juga membutuhkan pekerjaan ini." Lalu Ari membuka laci tempat menyimpan uang. Mengambil semua uang yang telah ia tata rapi.
"Ini pendapatan selama kamu tidak ada." Sambil menyerahkan uang tersebut kepada Bima.
Bima menerimanya. "Terima kasih ya." Lalu menghitungnya dengan seksama.
"Nih, buatmu." Bima menyerahkan 3 lembar uang berwarna merah kepada Ari.
"Aku tak minta kasbon loh, Bim." Tolaknya.
"Ini bonus. Kamu sudah bekerja keras selama aku tidak ada."
__ADS_1
"Bener nih?"
"Tentu saja. Ambillah!"
"Makasih ya, Bim."
"Sama-sama."
"Kebetulan sekali, aku butuh uang buat beli baju untuk acara reuni."
"Reuni apa ?" Tanya Bima heran.
"Oh iya, aku lupa. Angkatan kita mau ngadain reuni. Kamu ikut ya ?"
"Kapan?"
"Minggu depan. Pas malam minggu, sekitar jam 8 di tempat makan Saung Sunda."
"Gak kemalaman jam segitu ? Apalagi tempatnya jauh dari sini."
"Kita bukan anak sekolah lagi, Bim. Apalagi kamu udah mau jadi bapak. Jam segitu pas lah buat kita kumpul-kumpul."
Bima terdiam.
"Ikut ya ? Kapan lagi kita kumpul ? Udah lama juga kita gak kumpul."
"Lihat nanti deh."
"Kenapa ? Takut istri ?"
"Bukan begitu. Istriku habis dari rumah sakit, tubuhnya masih lemah. Jadi aku khawatir kalau meninggalkannya cukup lama, apalagi malam hari."
"Ya, ya baiklah. Aku paham, kamu pasti sangat mengkhawatirkannya."
"Tentu saja khawatir, apalagi dia lagi hamil. Kamu juga pasti begitu, jika berada di posisiku."
Ari terdiam cukup lama.
"Kenapa ? Apa perkataanku menyinggungmu ? Maaf ya ?"
Ari menghela nafas lalu menggeleng. "Sepertinya kamu sangat menyayanginya ?" Tanya Ari.
"Ya, seperti itulah. Dia menerimaku tanpa alasan apapun. Bahkan dia tidak pernah mau tahu kehidupanku yang dulu seperti apa. Dia tidak memperdulikan itu. Yang dia lihat hanya aku yang sekarang dan pandanganku tentang masa depan. Hanya itu."
"Kamu sangat beruntung mendapatkannya."
Bima tersenyum. "Jika melihat bagaimana aku yang dulu, mendapatkannya adalah anugrah terbesar dalam hidupku. Dan benar apa yang kamu bilang, aku sangat beruntung mendapatkannya."
"Aku juga ingin memilikinya."
Bima mengernyitkan dahi. "Apa kamu bilang ?"
Ari tersentak. "Maksudku, aku juga ingin wanita seperti istrimu. Bisa menerimaku apa adanya."
"Aku kira kamu menginginkan istriku."
"Ya, kalau boleh."
"Jangan coba-coba ya!"
Ari tertawa. "Baiklah, aku akan mencobanya."
Bima terdiam. Sedangkan Ari masih tertawa. "Bercanda Bima, lagian aku juga tidak kenal sama istrimu."
Bima hanya tersenyum.
"Bucin sekali kamu, Bim." Ucap Ari.
"Dia memang pantas diperlakukan seperti itu. Kamu juga pasti akan bucin jika mendapatkan istri sepertinya. Sama seperti aku."
__ADS_1
"Sudahlah, Bim. Jangan sampai aku benar-benar menjadi pebinor dari sahabatku sendiri."
Bima tertawa. "Kamu ini ada-ada aja."