
"Neng, kamu marah ?"
Sahla tak bergeming. "Kakak cuma bercanda," lanjut Bima.
"Bercandanya nggak lucu." Ucap Sahla ketus.
"Maafin Kakak ya?"
Sahla kembali dalam diamnya.
"Neng, udah ya marahnya. Kita kan lagi liburan." Bima masih mencoba membujuk Sahla.
Sahla bangun dari tidurnya. Menatap tajam Bima. "Kakak yang mulai." Protes Sahla.
"Iya tahu, Kakak salah. Kakak minta maaf."
Bima hendak memegang tangan Sahla, tapi Sahla menghindarinya. "Bagaimana caranya agar kamu tidak marah lagi? Tolong kasih tahu Kakak."
Sahla menghela nafas. Melihat Bima yang terus menerus membujuknya, akhirnya luluh juga. Tak tega juga mendiaminya terus seperti ini.
"Jangan bercanda seperti ini lagi. Aku tidak suka. Aku juga cukup tahu kalau Kakak tidak akan mungkin melakukannya disini, karena aku tidak sebodoh itu." Ucap Sahla pelan namun masih terdengar jelas di telinga Bima.
Bima cukup kaget dengan ucapan Sahla berusan. Rasa bersalahnya makin menjalar dalam hatinya. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Sepertinya aku benar-benar telah menyakitimu."
"Sudahlah, tak usah dibahas lagi." Ucap Sahla.
Bima menatap Sahla cukup dalam. Dan tiba-tiba saja ia dengan cepat mengecup bibir Sahla. Sontak Sahla terkejut dengan ulah Bima kali ini. Debar jantungnya seketika berdetak dengan cepat. Sahla hanya bisa diam, tak tahu harus bersikap apa. Wajahnya sekarang sedikit menghangat.
"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diri." Setelah mengucapkan kalimat itu, Bima langsung keluar dari tenda. Merutuki dirinya yang berbuat bodoh. Sementara Sahla masih dalam posisinya. Perlahan tangannya menyentuh bibirnya. Ini adalah pengalaman pertama baginya. Dan berlangsung begitu cepat.
Cukup lama Sahla berdiam diri di tenda. Ia enggan keluar, kerana hawa malam yang semakin dingin. Namun sesekali Sahla menengok keluar, memastikan Bima ada di sekitar tenda. Sejujurnya, Sahla takut ditinggal sendiri di tempat yang asing baginya. Meski banyak orang yang berkemah juga, tapi hanya Bima yang ia kenal.
Sahla menengok ke luar tenda. Hanya kepalanya saja yang menyembul keluar. Tapi kali ini ia tak mendapati Bima ada di dekat tenda. Rasa takut dalam sekejap menguasai hatinya. Lalu ia memastikan lagi dengan keluar tenda, melihat ke sekelilingnya. Tetap tak mendapati keberadaan Bima.
"Kak Bima kemana ya ?" Gumam Sahla. Rasa khawatir bercampur takut tergambar jelas di wajahnya. Lalu ia memutuskan masuk kembali ke dalam tenda.
Dan tak berapa lama, tiba-tiba Bima muncul di pintu tenda dengan kantong plastik di tangannya. Aroma masakan menguar memenuhi tenda.
"Kakak dari mana ?" Tanya Sahla dengan nada yang sedikit tinggi, karena ketakutan dan kekhawatirannya pada Bima.
"Beli nasi goreng di warung dekat mushola. Sekalian sholat juga."
__ADS_1
"Lain kali kalau mau pergi bilang dulu. Jangan asal pergi saja. Bikin khawatir aja." Ucap Sahla yang semakin pelan suaranya.
Bima tersenyum. Ia sangat senang, ternyata Sahla mengkhawatirkannya.
"Iya, maaf. Ayo makan dulu." Bima menyerahkan sebungkus nasi goreng pada Sahla.
Mereka makan di tempat terpisah, Sahla masih di dalam tenda sedangkan Bima di luar tenda. Bima tak berani masuk karena kejadian sebelumnya. Namun ia bersikap biasa saja, seakan-akan tak terjadi apa-apa.
Selesai makan, Sahla menunaikan sholat isya di dalam tenda. Enggan berlama-lama di luar, jadi ia lebih memilih sholat di dalam tenda. Dan juga, ia gengsi meminta tolong Bima untuk mengantarkannya ke mushola.
Rasa canggung yang telah mencair, kini tercipta kembali diantara mereka.
Bima sendiri masih tak berani masuk. Padahal ia juga sudah merasa kedinginan walaupun sudah memakai jaket.
Dan ternyata Sahla menyadarinya. Diam-diam ia memperhatikan tingkah Bima di luar tenda. Seperti orang yang bingung karena kehilangan arah.
"Kak, masuklah." Ajak Sahla, ia tak tega melihat Bima yang kedinginan seperti itu.
"Tidak apa-apa, Kakak mau di luar dulu. Kalau kamu mau tidur, tidur saja duluan."
Lalu Sahla keluar menghampiri Bima.
"Tangannya mana ?" Tanya Sahla setelah sampai di depan Bima.
"Tangannya mana dulu ?"
Bima mengulurkan tangannya. Sahla langsung memegang tangan Bima. Dan ternyata benar apa yang ia duga, tangan Bima terasa dingin.
"Lihat! Tanganmu dingin, Kakak pasti kedinginan , dari tadi di luar terus. Ayo masuk." Sahla menarik Bima masuk ke dalam tenda. Dan Bima tak bisa menolaknya, ia menurut pada omongan Sahla. Jangan ditanya bagaimana perasaan Bima saat ini. Tentu saja sangat senang.
Bima dan Sahla kini sedang terbaring saling bersisian dan berbagi selimut yang sama. Keduanya terdiam, tak ada yang berani bersuara. Padahal keduanya belum ada yang tidur.
Hingga malam telah mencapai puncaknya, dingin pun semakin menjadi. Orang-orang sudah berada pada tendanya masing-masing. Melindungi dirinya dari hawa dingin.
Tidak demikian dengan Sahla. Matanya tak bisa terpejam, karena rasa dingin yang semakin dingin. Membuat Sahla menggigil kedinginan. Ia mencoba memeluk dirinya sendiri, berharap dapat mengurangi rasa dinginnya. Tapi tetap tak membantu.
Bima yang berada di sampingnya, menyadari gelagat Sahla yang terlihat gelisah. Tak tega melihat istrinya kedinginan. Bima langsung memeluk Sahla.
"Jangan menolak. Ini akan menghangatkanmu." Bisik Bima. Sahla yang memang sedang kedinginan, hanya bisa pasrah saja. Karena ia juga membutuhkannya.
"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam," lanjut Bima. Hingga adzan subuh berkumandang, membangunkan mereka berdua dan mendapati keduanya saling berpelukkan. Sahla terlihat salah tingkah, sementara Bima bersikap biasa saja. Sahla ingin melepaskan pelukan Bima, tapi Bima malah semakin mengeratkannya. Dan untuk beberapa saat, Sahla mengalah. Membiarkan Bima mendekapnya.
"Aku menginginkanmu." Bisik Bima yang dijawab dengan cubitan dari Sahla. Sahla buru-buru bangun.
__ADS_1
"Sudah subuh, ayo bangun." Ajak Sahla.
Sahla dan Bima pergi ke mushola untuk menunaikan sholat subuh. Selama berjalan, tangan mereka tak pernah lepas.
Sekembalinya dari mushola. Bima langsung merebus air untuk membuat teh manis dan kopi.
"Dek. Teh manis." Bima menyodorkan segelas teh manis yang masih mengepul pada Sahla.
"Kok panggil 'Dek' ?" Tanya Sahla heran.
"Boleh kan ? Atau mau dipanggil sayang ?" Bima malah menggoda Sahla.
"Apaan sih." Sahla terlihat salah tingkah.
"Menikmati sunrise dengan segelas kopi ditemani seseorang yang dicintai. Menurutmu bagaimana rasanya ?" Tanya Bima tiba-tiba.
"Entahlah, karena di tanganku hanya ada segelas teh manis, bukan kopi seperti yang kamu katakan."
Bima tertawa kecil, merasa konyol sendiri dengan pertanyaannya barusan.
"Memangnya apa yang Kakak rasakan ?"
"Tentu saja senang. Apalagi kalau cinta ini tak bertepuk sebelah tangan." Ucap Bima sambil menunjuk ke dadanya. Bima semakin membuat Sahla salah tingkah.
"Jangan terburu-buru menjawabnya sampai kamu benar-benar yakin akan perasaanmu."
"Kak, kita sudah menikah."
"Iya. Kakak tahu kita sudah menikah."
"Terus apa gunanya pernyataan cintamu tadi ?"
"Setidaknya kita tahu, ada cinta di antara kita. Bukan karena paksaan."
Sahla menghela nafas, mencerna perkataan Bima. Mungkin ada benarnya juga apa yang diucapkan Bima. Selama ini, tidak ada pernyataan cinta baik dari Bima maupun Sahla. Keduanya setuju menikah karena orang tua mereka. Dan seperti yang kita tahu, pernikahan karena paksaan bagaikan hidup di neraka. Mereka terutama Bima tidak ingin mengalami seperti itu.
"Kak. Aku tidak tahu ini bisa disebut cinta atau bukan. Ketika memutuskan menikah denganmu, itu berarti aku telah siap menjadi istrimu dengan segala kewajiban yang harus dilakukan. Entah itu terpaksa atau memang karena cinta, aku pastikan akan melakukan kewajibanku sebagai istri. Karena yang kutahu, ketika wanita sudah menjadi seorang istri, maka surganya ada pada suaminya. Dan aku mengejar itu."
"Meski tidak ada cinta kamu akan tetap melakukannya ?"
"Tentu. Karena itu sudah menjadi kewajibanku."
"Jika kamu tak mendapatkan hakmu, bagaimana ?"
__ADS_1
"Itu urusanmu dengan Allah."