
"Ari! Jangan kabur kamu!"
Bima dan Pak Edi langsung bangkit dan mengejar Ari. Sahla dan Bu Marni mendengar teriakan Bima pun langsung keluar.
Ari berlari keluar rumah begitu saja. Sepatu dan motornya ia abaikan. Yang terpenting baginya sekarang, selamat dari amukan keluarga Bima.
"S**l! Dasar b******k!" Bima sangat kesal karena tak berhasil mengejar Ari.
"Sudah, Bima. Tenangkan dirimu. Ayo masuk!" Ajak Pak Edi. Bima pun menurut.
"Kenapa ini Pak ?" Tanya Bu Marni. Saat Pak Edi masuk ke dalam rumah.
"Ambilkan minum dulu, Bu." Pinta suaminya.
Bu Marni dengan patuh berjalan ke belakang untuk mengambilkan minum.
"Duduk dulu, Bim. Tenangkan dirimu dulu." Titah Pa Edi.
Tak lama, Bu Marni datang dengan dua gelas di atas nampan, lalu menyajikannya kepada suami dan menantunya.
"Ada apa Pak ?" Tanya Bu marni lagi.
"Sahla mana Bu?" Tanya Pak Edi, mengabaikan pertanyaan Bu Marni.
"Ada di belakang. Ini apa yang terjadi, Pak ?" Tanyanya lagi.
Pak Edi menghela nafas panjang. Terlihat masih ngos-ngosan.
"Dia kabur begitu saja sebelum sempat menjelaskan apa-apa." Ucap Pak Edi. "Panggil Sahla, Bu ?"
"Neng! Sini sebentar!" Teriak Bu Marni.
Dan tak lama Sahla datang menghampiri mereka bertiga. Lalu duduk di sebelah Ibunya. Bima terus memandangi istrinya, seakan sudah lama tidak bertemu. Ingin rasanya menarik tubuh Sahla dan mendekapnya. Namun ia sadar, itu tidak mungkin ia lakukan karena Sahla belum memaafkannya.
"Neng! Mumpung kita lagi kumpul. Lebih baik kita luruskan masalah kalian. Bapak sudah mendengar ceritanya dari Bima. Dan Bapak juga berpikir bahwa Bima memang dijebak." Ucap Pak Edi.
Sahla mendengarkan dengan seksama. Tapi hatinya masih belum terbuka sepenuhnya untuk menerima kenyataan yang sebenarnya. Adegan di video itu, terus membayanginya, dan membuat hatinya sulit untuk menerima Bima, meskipun Bima tak bersalah sama sekali.
"Dan ternyata Ari kabur sebelum menjelaskan apa-apa. Itu artinya, memang dia pelakunya." Lanjut Pak Edi.
"Sepertinya dia ada dendam sama kita, Pak!" Ucap Bu Marni dengan kesal.
__ADS_1
"Dendam apa Bu ?" Tanya Pak Edi.
Bima dan Sahla pun penasaran dengan ucapan Bu Marni.
"Bapak lupa ? Diakan laki-laki yang dulu pernah melamar anak kita. Tapi kita tolak." Jelas Bu Marni
Bima terkejut mendengar perkataan Bu Marni. Ternyata apa yang dikatakannya benar, bahwa Ari menyukai istrinya.
"Masa sih, Bu ? Bapak kok gak ngeh ya."
"Kenapa ditolak, Bu ? Kalau Bima boleh tahu." Tanya Bima.
"Sahla waktu itu belum mau menikah. Ibu juga agak kurang sreg sama dia. Dan ternyata terbukti sekarang, kelakuannya kurang baik."
"Jadi rencana ke depannya gimana, Bim ? Kamu mau nyari anak itu ?" Tanya Pak Edi.
"Iya, Pak. Bima akan cari dia. Lagipula, kunci warung dibawa sama dia. Bima gak punya cadangannya."
"Warung ? Maksudnya, dia temen Kakak yang kerja di warung ?" Tanya Sahla. Yang dari tadi hanya diam memperhatikan saja, akhirnya ikut bersuara juga.
"Iya, Dek!"
"Lebih baik besok kamu ganti kunci saja, Bim. Bapak takut dia berbuat yang tidak-tidak sama warungmu." Saran Pak Edi.
"Wah. Bener-bener ya dia orang yang tidak baik. Sudah dikasih kerjaan, malah mau nikung." Ucap Bu Marni geram.
"Apa jangan-jangan dia sengaja deketin Bima, memang mau balas dendam ?" Lanjut Bu Marni.
"Sudah, Bu. Jangan berpikiran buruk seperti itu." Ucap Pak Edi sambil mengusap bahu Bu Marni.
"Ibu gak berpikiran buruk, Pak. Ibu ngomong kayak gini berdasarkan kenyataannya."
"Terserah Ibu sajalah." Lalu Pak Edi bangkit dan berjalan menuju warungnya.
"Bapak gimana sih, Ibu lagi ngomong malah ditinggalin." Lalu Bu Marni beralih menatap Bima dan Sahla bergantian.
"Kalian sudah menikah kenapa canggung begini ?" Tanya Bu Marni, karena melihat Sahla dan Bima seperti orang yang baru kenal.
"Sudahlah, kalian selesaikan masalahnya sendiri. Ibu mau nyusul Bapakmu." Lalu Bu Marni beranjak menyusul suaminya ke warung.
Bima terus menatap Sahla. Sementara yang ditatap, selalu mengalihkan pandangannya ke segala arah agar tak bertemu dengan tatapan Bima.
__ADS_1
"Dek! Kamu masih marah ?"
Sahla enggan menjawab, hanya matanya saja yang melirik ke arah Bima sebentar.
"Dek! Kamu sudah tahu kan, kalau Kakak benar-benar dijebak."
Hati kecil Sahla mengiyakan perkataan Bima, tapi egonya masih belum menerima sepenuhnya Bima. Kenyataan bahwa Bima tak bersalah, belum mampu menyembuhkan hati Sahla yang sudah terluka.
"Dek! Kakak harus melakukan apa agar kamu mau menerima Kakak kembali ?" Bima benar-benar frustasi karena Sahla hanya diam saja.
"Rasa sakit hati ini tak mungkin bisa hilang dalam sekejap, meskipun kenyataannya Kakak tidak bersalah."
Bima terdiam mendengar jawaban Sahla. Apa yang disangkanya ternyata salah. Bima menyangka setelah terbukti bahwa ia memang dijebak, Sahla akan secepatnya kembali kepadanya. Tapi ternyata dugaannya meleset. Bima lupa, ada hati yang telah terluka, dan tak semudah membalikan tangan untuk menyembuhkannya.
"Baiklah, Kakak mengerti. Kamu butuh waktu untuk sendiri. Kakak tidak akan mengganggumu lagi." Setelah berkata seperti itu, Bima bangkit dari duduknya. Lalu keluar rumah, meninggalkan Sahla yang tercenung karena mendengar perkataan Bima.
"Apa maksud perkataannya ? Dia mau meninggalkanku atau apa ?" Lirih Sahla. Sahla kemudian bangkit dengan hati yang kesal.
"Bukannya dibujuk, dirayu. Ini malah langsung pergi begitu saja, tanpa ada usaha apapun." Sahla masih saja ngedumel sambil menutup pintu depan.
"Jika kamu tidak rela aku pergi, katakan saja. Aku pasti tidak akan pergi." Tiba-tiba saja suara Bima terdengar begitu dekat. Sontak saja Sahla terkejut, ternyata Bima belum benar-benar pergi dan mendengar semua apa yang ia katakan.
"Astaghfirullah! Kamu mau buat aku jantungan ?" Ucap Sahla sambil mengelus dadanya. "Aku lagi hamil anakmu, tapi kenapa kamu suka sekali membuatku jantungan ? Kamu mau aku dan anakmu cepat mati?" Lanjut Sahla dengan suara yang lebih keras. Lalu tiba-tiba saja Sahla menangis.
"Maaf, Dek! Kakak gak bermaksud mengagetkanmu." Bima mencoba meminta maaf, tangannya mencoba meraih tubuh Sahla. Tapi Sahla selalu menepisnya.
"Pergi! Aku tidak mau melihat Kakak! Hu… hu…!" Sahla terus menangis.
"Ada apa ini ?" Tanya Bu Marni. Mendengar suara anaknya berteriak, Bu Marni langsung menghampiri.
"Usir dia Bu, Sahla gak mau melihatnya lagi." Lalu Sahla berlalu menuju kamarnya dengan air mata yang masih mengalir.
"Ada apa, Bima ?" Tanya Bu Marni penasaran.
Yang ditanya hanya cengar-cengir saja sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Bima hanya mencoba mencairkan suasana saja, Bu. Tapi sepertinya Sahla sedang tidak ingin bercanda."
Bu Marni mengangguk. "Oh… Ibu kira kalian berantem lagi. Ya sudah, lebih baik kamu pulang dulu. Biarkan saja Sahla tenang dulu. Dan jangan masukkan ke hati kata-katanya yang tadi. Orang hamil itu perasaannya lebih sensitif, jadi kamu maklumi saja."
"Baik, Bu. Bima pamit. Assalamualaikum." Pamitnya sambil mencium tangan Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."