Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Pertemuan Dengan Marisa


__ADS_3

"Wanita paling populer di sekolah. Marisa Suci Ramadani." Ucap Bima.


"Ya, ya, aku ingat. Kau pun salah satu anak yang pernah menembakku."


Bima terperangah. Tak menyangka Marisa akan berkata seperti itu di depanku dan Ari. Bima melirik kepada Ari, dan ternyata ia pun berekspresi yang sama dengan Bima.


"Aku tak menyangka kamu masih mengingatku, bahkan masih ingat nama lengkapku. Padahal aku sendiri sudah lupa dengan nama panjangku."


Marisa berdiri dan menghampiri Bima. Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bima. "Apakah sekarang pun aku masih populer di hatimu ?" Ucapnya pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Ari yang memang duduk bersebelahan dengan Bima.


"Hei, hei. Sudahlah. Itu hanya masa lalu. Paling cuma cinta monyet belaka." Ucap Ari. Lalu Marisa kembali duduk di tempatnya semula.


"Dia bahkan sudah menemukan cinta sejatinya." Lanjut Ari sambil menunjuk ke arah Bima.


"Maksudmu dia sudah menikah ?" Tanya Marisa.


Ari mengangguk. "Ya seperti itulah, bahkan sebentar lagi dia akan menjadi ayah." Jawab Ari setengah berbisik.


"Menarik. Aku suka laki-laki matang sepertinya."


"Jangan macam-macam, Marisa." Ucap Ari.


Marisa tertawa. "Tenang saja. Dia tidak akan ku apa-apakan. Malah aku yang takut padanya."


Ari mengernyitkan dahi. "Takut kenapa ? Bima pria baik-baik, dia tidak mungkin berbuat macam-macam."


Lalu Marisa berbisik pada Ari. "Aku takut tidak bisa mengontrol keinginanku untuk memilikinya."


"Gila kamu!"


Giliran Bima yang mengernyitkan dahi, karena ia tidak tahu apa yang Marisa ucapkan pada Ari.


"Kenapa?" Tanya Bima penasaran.


Ari menggeleng. "Lebih baik kamu pulang sekarang. Kasihan istrimu, pasti nungguin kamu pulang."

__ADS_1


Bima mengangguk. " Baiklah. Aku pulang sekarang." Bima beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Ari dan Marisa.


"Baiklah, aku juga harus lekas pergi. Acara ini sungguh membosankan." Ucap Marisa sambil beranjak dari duduknya. Ari tak menggubris ucapan Marisa. Ia lebih tertarik untuk memperhatikan teman-teman yang lainnya.


Bima telah siap di atas motornya untuk bersegera pulang. Namun ia mengurungkan niatnya, karena Marisa telah menghalangi jalannya. Tanpa basa basi, Marisa menghampiri Bima dan langsung duduk di belakangnya.


Terang saja Bima terkejut dengan ulah Marisa. Ia tak menyangka sama sekali Marisa akan berbuat seperti itu.


"Hei! Cepat turun! Aku harus segera pulang." Ucap Bima sedikit keras.


"Jangan marah begitu, Bima. Aku juga ingin pulang."


"Pulanglah sendiri. Lagi pula, aku hanya mengendarai motor, kamu lebih pantas memakai mobil."


"Tega sekali kamu, Bim. Membiarkan seorang wanita pulang sendiri di malam hari." 


Bima menghembuskan nafas dengan kasar. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Dan ini adalah yang pertama sekaligus yang terakhir."


Marisa tersenyum puas. "Baiklah, tak masalah. Tapi aku tak bisa menjanjikannya."


"Terserah apa katamu. Karena kita tidak akan pernah  bertemu lagi." Ucap Bima dalam hati.


"Berhenti di depan, rumah berwarna orange." Ucap Marisa. Bima menghentikan motornya tepat di rumah yang disebutkan Marisa.


Marisa turun dari motornya dan tiba-tiba saja mengambil kunci motor yang masih menggantung di tempatnya. Bima terkejut dan terlihat kesal oleh Marisa.


"Cepat kembalikan kuncinya!" Bentak Bima.


Marisa menggeleng dan menaruh kunci motor Bima ke dalam tasnya. "Mampirlah dulu ke rumahku. Nanti aku kembalikan." Lalu Marisa masuk ke dalam rumahnya, dan membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar.


Bima masih tak beranjak dari motornya. Kebimbangan masih berkecamuk di hatinya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti Marisa. Akhirnya, Bima turun dari motornya dan masuk ke dalam rumah Marisa.


"Duduklah." Ucap Marisa setelah Bima berada di dalam rumahnya. Di atas meja sudah tersaji dua cangkir kopi. Bima pun duduk.


"Diminum kopinya." 

__ADS_1


Bima terdiam. Ia sedikit ragu untuk menuruti Marisa.


"Tenang saja, tidak ada racun di dalamnya." Ucap Marisa lagi sambil mengambil kopi miliknya dan menyesapnya sedikit.


Bima mengambil cangkir kopi miliknya dan meminumnya perlahan. Marisa tersenyum melihat Bima meminum kopinya. Tak ada yang mereka bicarakan. Hingga akhirnya kopi milik Buma telah habis.


"Baiklah. Kopinya sudah habis. Jadi aku harus segera pulang." Ucap Bima, meletakkan cangkir kopi di atas meja lalu berdiri hendak pulang.


"Santai saja, Bima. Tak usah buru-buru pulang. Masih banyak waktu untuk kita berbincang. Aku bebas malam ini."


Bima menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku harus segera pulang. Tak baik juga kita berduaan di sini."


Marisa tak bisa menahan Bima lagi. "Baiklah. Aku tidak bisa memaksamu untuk tinggal lebih lama."


Bima berjalan keluar rumah. Namun belum sampai langkahnya menuju pintu. Tiba-tiba saja kepalanya pusing. Bima menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap rasa pusingnya menghilang. Namun ternyata makin menjadi. Bima mencoba meminta tolong pada Marisa, namun ia kesulitan menggerakan bibirnya dan akhirnya Bima pun ambruk, tak sadarkan diri.


Marisa berdiri dari duduknya setelah Bima benar-benar terjatuh ke lantai. Ia terlihat bagitu santai. Berjalan menghampiri Bima.


"Bima." Marisa mencoba memanggil Bima dan menggoyangkan tubuhnya.


"Sepertinya sudah benar-benar tak sadarkan diri." Ucapnya. Lalu ia mengambil Hp yang ia letakkan di atas meja dan menghubungi seseorang untuk segera datang ke rumahnya.


Cukup lama Marisa menanti seseorang yang ia hubungi. Sampai ia benar-benar kesal menunggunya.


"Bren***k! Lama banget datangnya!" Umpatnya. Marisa merasa gelisah, ia berjalan mondar mandir di depan rumahnya. Pintu rumahnya sengaja ia tutup, agar tak ada yang melihat bahwa di dalam ada seseorang yang sedang tak sadarkan diri. Bima masih dalam posisi semula. Marisa tak memindahkan tubuh Bima, karena bobot Bima yang berat ditambah lagi sedang tak sadarkan diri.


Marisa masih terlihat mondar mandir di depan rumahnya, kedua tangannya saling meremas. Menandakan bahwa ia benar-benar sedang dalam kegelisahan dan ketakutan.


Suara deru motor terdengar berhenti di depan rumahnya. Marisa pun langsung berhenti mondar-mandir.


"Lama banget! Nanti keburu sadar. Ucap Marisa menyambut kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu. Marisa langsung membuka pintu dan menyuruhnya masuk.


Tak banyak bicara, orang itu langsung membawa Bima ke dalam kamar yang telah disiapkan Marisa sebelumnya. Membaringkannya di atas kasur. Lalu melucuti semua pakaian yang dikenakan Bima, tak sehelai pun yang ia sisakan di tubuh Bima dan menutupinya dengan selimut. Setelah selesai, ia memberi kode agar Marisa masuk ke dalam kamar tersebut. Dan ternyata Marisa pun telah siap dengan baju tidur kimononya. 


Marisa naik ke atas ranjang dan masuk ke balik selimut. Tatapannya penuh hasrat, ia menempelkan bibirnya yang merah merona di beberapa bagian tubuh Bima yang mudah terlihat. Lalu Ia pun menanggalkan semua bajunya. Tak lupa ia mengacak-ngacak rambutnya agar terlihat berantakan. Kemudian ia sandarkan kepalanya di atas dada bidang milik Bima dan memejamkan mata.

__ADS_1


"Cekrek." Terdengar beberapa kali suara fhoto diikuti cahaya kilat yang berasal dari kamera.


"Jika sudah selesai, tolong tinggalkan kami. Aku ingin bersenang-senang dengannya." Ucap Marisa tanpa mengubah posisinya sama sekali. Ia terlihat nyaman bersandar pada Bima.


__ADS_2