
"Menangislah sepuasnya."
Mendengar perkataan Bima, Raina dengan erat membalas pelukan Bima dan menangis sepuasnya, seperti yang disuruh Bima.
Cukup lama Raina menangis, dan Bima membiarkannya. Ia merasa bersalah. Bagaimanapun juga ia turut andil dengan sakit hati yang Raina rasakan.
Raina masih dalam dekapan Bima meskipun ia telah berhenti menangis. Namun Bima sudah mulai gelisah, karena Raina tak kunjung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangnya.
"Biarkan seperti ini." Ucap Raina, saat Bima hendak melepaskan tangan Raina.
"Kamu sudah cukup tenang."
"Tidak Bima, ketenanganku tidak bisa dilihat dari berhentinya air mata. Lagi pula, kamu sendiri yang memulainya."
Bima terdiam. Benar apa yang dikatakan Raina, Bima yang terlebih dahulu memeluk Raina. Tapi Bima hanya sekedar menenangkannya saja, tidak ada niat yang lain. Dan Bima tidak bisa mengakhiri apa yang telah ia mulai.
"Sudah cukup lama aku tidak merasa senyaman ini. Bahkan Kakakku sendiri tidak bisa memberikan kenyamanan seperti ini." Ucap Raina tanpa melepaskan Bima sedikit pun.
"Sejak bertemu denganmu, aku yakin kamu adalah sandaran hidupku. Bahkan saat kita berpisah pun, aku tetap yakin kamu adalah sandaran hidupku. Dan kini kamu hadir kembali untukku, aku semakin yakin kamu adalah sandaran hidupku, kamu ditakdirkan untukku."
Bima menggelengkan kepalanya. "Tidak Raina, kamu salah. Aku bukan takdirmu, aku sudah mempunyai takdirku sendiri. Kamu salah Raina." Jawab Bima, namun hanya terungkap di dalam hatinya saja.
"Dan kamu harus tahu, cintaku untukmu tidak ada yang berubah." Lanjut Raina.
Bunyi dering telepon mengalihkan perhatian Bima dan Raina. "Maaf Raina, aku harus mengangkat telepon dulu."
Raina melonggarkan tangannya, "dari siapa ?" Tanya Raina.
"Sebentar." Bima mengambil Hp yang ia letakkan di atas meja lalu berjalan menjauhi Raina.
Raina melihat sekilas nama si pemanggil tersebut. Seketika saja perasaan marah merasukinya. Ia pun berjalan mengikuti Bima, dan dengan cepat merebut kemudian membanting Hp yang dipegang Bima.
Bima tersentak dengan kelakuan Raina yang tidak terduga.
"Kamu ?! Apa yang kamu lakukan ?" Tanya Bima lantang.
"Aku tidak suka ada yang mengganggu waktu kita berdua." Ucap Raina.
Bima memandangi Hpnya yang hancur berantakan. "Kamu tidak pernah berubah dari dulu." Ucap Bima sembari mengambil Hpnya yang telah hancur.
"Aku akan meminta Kakakku untuk mengganti Hpmu." Ucap Raina dengan suara gemetar, menahan rasa takut dan benci.
"Sudahlah. Lebih baik kamu mandi, agar badan dan pikiranmu lebih fresh." Lalu Bima beranjak keluar kamar.
"Kamu mau kemana ?" Tanya Raina dengan terbata.
Bima berhenti. "Tenang saja, aku tidak akan pergi meninggalkanmu sampai Kakakmu datang." Ucap Bima, lalu benar-benar keluar kamar meninggalkan Raina.
"Kenapa aku bersikap bodoh seperti itu ?" Rutuknya pada diri sendiri.
"Sepertinya Bima benar-benar marah padaku. Apa yang harus aku lakukan ?" Raina terlihat gelisah.
"Bodoh, bodoh, bodoh. Harusnya aku tahan rasa cemburuku."
"Edo. Benar. Aku harus minta tolong pada Edo." Raina langsung mencari sesuatu di kamarnya.
"Hp ? Mana Hpku ? Kenapa tidak ada ?" Raina terlihat sangat frustasi kerena tak menemukan Hpnya. Lalu ia memutuskan untuk menyegarkan badannya.
Cukup lama Raina berada di kamar mandi. Hampir satu jam ia habiskan waktunya untuk berendam. Hingga telapak tangannya mengkerut, baru ia menyudahi berendamnya.
__ADS_1
"Lama sekali di kamar mandi ? Kakak sampai bosan menunggumu."
"Kak Reno! Sejak kapan di sini ?" Tanya Raina terkejut mendapati Kakaknya yang tiba-tiba saja sudah ada di kamarnya.
"Sejak dari tadi."
Raina menghampiri Reno yang sedang duduk di sofa.
"Kenapa ?" Tanya Reno heran melihat raut muka Raina yang terlihat malu-malu.
"Terima kasih ya Kak, sudah membawa Bima kesini."
"Bukan masalah. Kamu bahagia sekarang ?"
Raina mengangguk sembari tersenyum malu.
"Maafkan Kakak, karena dulu telah memisahkan kalian berdua."
Sekali lagi Raina mengangguk. "Tapi…?"
"Kenapa ?" Tanya Reno lagi.
"Bagaimana dengan istrinya ?"
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang kamu ambil kembali hati Bima."
"Kenapa lagi ?" Tanya Reno, karena melihat Raina yang tidak merespon perkataannya.
"Sepertinya aku tidak yakin bisa merebut kembali hati Bima." Ucap Raina.
"Tentu saja kamu bisa. Kakak yakin, Bima tidak semudah itu untuk melupakanmu."
"Tentu saja, Kakak akan melakukan apapun agar Bima bisa bersamamu lagi."
"Iya aku tahu, sama seperti waktu itu, Kakak melakukan berbagai cara untuk memisahkan aku dan Bima." Ucap Raina ketus.
"Dan sekarang Kakak sangat menyesalinya. Kakak sungguh-sungguh menyesalinya." Ucap Reno.
"Aku mau ganti baju."
"Baiklah, Kakak akan keluar menemui Bima. Pasti dia sedang menungguku." Lalu Reno beranjak keluar kamar Raina.
Kemudian Reno mengeluarkan Hpnya dan melakukan panggilan.
"Hallo Edo. Bima dimana ?" Tanya Reno setelah Edo mengangkat panggilan dari Tuannya.
"Pak Bima ada di gazebo belakang rumah." Jawab Edo.
Setelah mendapat jawaban dari Edo, Reno langsung menutup telepon dan bergegas ke gazebo menemui Bima.
"Aku mau pulang." Ucap Bima tiba-tiba setelah Reno ada di hadapannya.
"Tidak bisa."
"Kamu sudah pulang, dan Raina sudah baik-baik saja."
"Aku hanya pulang sebentar, ada berkas yang tertinggal. Jadi kamu harus tetap disini menemani Raina."
"Berapa hari ?"
__ADS_1
"Satu bulan."
Bima tertawa sinis. "Kamu gila. Tidak, aku tidak mau." Tolak Bima.
"Kenapa ?"
"Aku punya istri yang sedang hamil. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu lama."
"Aku yang akan menjamin hidupnya selama kamu disini. Beserta Ibu dan adikmu."
"Ini bukan masalah uang."
"Lalu apa ? Lagi pula warungmu sudah bangkrut. Dan kamu tidak bisa menghidupi keluargamu lagi." Ucap Reno.
Bima terdiam. Benar apa yang dikatakan Reno, ia sudah bangkrut, sudah tidak punya penghasilan lagi. Dengan apa ia akan menghidupi keluarganya, apalagi istrinya sedang hamil.
"Hanya satu bulan. Aku pastikan keluargamu tidak akan kekurangan apapun. Dan aku akan memberikan juga uang untuk modal kamu usaha dan untuk biaya lahiran istrimu. Bagaimana ? Hanya satu bulan ?"
Lagi-lagi Bima terdiam, memikirkan tawaran yang diberikan Reno. Sangat menggiurkan. Apalagi di tengah kondisinya yang sedang dilanda musibah.
"Setidaknya izinkan aku pulang satu minggu sekali." Ucap Bima.
"Tidak masalah."
"Baiklah, hanya satu bulan. Tidak lebih." Bima luluh dengan tawaran yang diberikan Reno. Entah keputusannya benar atau tidak. Ia hanya berpikir realistis saja dengan melihat kondisinya sekarang ini.
"Tentu saja. Aku orang yang menepati janji." Ucap Reno.
"Baiklah. Aku harus segera pergi." Pamit Reno.
"Tunggu sebentar." Bima menahan kepergian Reno, karena ada sesuatu yang masih ingin dibicarakan.
"Aku ada permintaan." Ucap Bima.
"Apa ?"
"Tolong carikan orang yang bernama Ari, dia yang sudah menipu dan merampok warungku."
"Ari?" Reno mengernyitkan dahi. Ia seperti tidak asing lagi dengan nama Ari.
"Iya Ari. Aku mohon, bantu aku untuk menemukannya."
"Kenapa tidak lapor kepada pihak yang berwajib ?" Tanya Reno.
"Tidak sempat, keburu dibawa kesini."
"Maksudnya ?"
"Mana bisa aku pergi ke kantor polisi, sementara kamu mengurungku disini."
"Oh. Baiklah-baiklah. Aku akan membantumu. Kamu disini saja, fokus pada Raina. Biar Ari aku yang urus." Ucap Reno sedikit tidak enak hati. Awalnya ia tidak mau menolong Bima mencari sosok Ari, tapi karena ulahnya sendiri, akhirnya mau tidak mau ia harus menolong Bima.
"Tidak ada permintaan lagi ?" Tanya Reno.
Bima menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku pergi sekarang. Jaga Raina, seperti dulu kamu menjaganya." Lalu Reno pergi meninggalkan Bima.
"Dulu dan sekarang sudah berbeda. Semuanya sudah berubah. Kenapa kamu tidak pernah mau mengerti?" Lirih Bima menatap punggung Reno yang semakin menjauh.
__ADS_1