
"Kakak mau kemana ?" Tanya Sahla saat melihat Bima tengah bersiap.
"Mau ke dokter."
"Biar aku temani."
"Tidak!"
"Kenapa ?"
"Rumah sakit jauh, kamu di rumah saja. Kakak bisa sendiri."
"Tapi kakak masih demam."
"Tidak! Tolong kali ini turuti permintaanku. Kamu diam di rumah saja."
"Baiklah."
"Kakak berangkat dulu."
"Hati-hati di jalan."
Bima mengangguk. Sengaja ia melarang Sahla ikut, ia tidak mau penyakitnya diketahui olehnya.
"Bima mau kemana Neng ?" Tanya Bu Ratih ketika Sahla menghampirinya di dapur.
"Mau ke dokter, Bu."
"Sendirian ?"
"Iya, dia gak mau ditemani Bu."
"Oh, ya sudah. Kamu mau minum teh ?"
"Boleh, Bu." Bu Ratih langsung membuat secangkir teh buat Sahla.
"Ibu senang sekali, kamu kembali lagi ke rumah ini." Ucap Bu Ratih sambil meletakkan teh manis di hadapan Sahla.
"Maafin Sahla ya, Bu. Sahla sudah membuat Ibu khawatir."
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu sudah kembali ke sini."
Sahla tersenyum. Mereka pun menikmati minum teh bersama dengan perasaan yang bahagia.
Sementara itu, setibanya di rumah sakit, Bima langsung memarkirkan motornya di halaman rumah sakit, Bima menuju poli bagian kulit dan ke****n. Beruntung tak memerlukan waktu yang lama, karena tidak banyak orang yang mengantri di bagian poli ini.
"Ada keluhan apa Pak ?" Tanya dokter.
"Begini Dok, saya telah berhubungan ba*** dengan wanita yang ternyata mengidap penyakit g*****." Dengan terang-terangan Bima menjelaskan kondisinya saat ini. Rasa canggung dan malu ia singkirkan jauh-jauh demi mendapatkan kesehatannya kembali.
"Ada gejala yang Bapak alami ?"
__ADS_1
"Demam dari kemarin, dan sakit saat buang air kecil."
Dokter mangangguk. "Baiklah. Bapak tes urine dulu, biar tahu hasilnya seperti apa." Ucap Pak dokter sambil mencatat di selembar kertas lalu menyerahkannya kepada Bima.
Bima menerima selembar kertas tersebut, lalu pergi ke bagian laboratorium.
Setelah mendapatkan hasilnya, Bima kembali ke ruangan dokter.
"Sepertinya Bapak benar-benar tertular penyakit tersebut."
Bima hanya mengangguk pelan. Ia sudah pasrah dengan hasilnya.
"Bapak sudah menikah ?"
"Sudah, Dok."
"Sebaiknya istri Bapak diperiksa juga."
"Sepertinya tidak perlu Dok. Istri saya bersih, tidak akan tertular penyakit ini."
Dokter terdiam. "Tapi penyakit ini mudah tertular lewat hubungan b****."
"Saya dan istri sudah lama tak melakukannya semenjak ia hamil. Dan saya tertular karena sebuah musibah, saya bertemu dengan perempuan yang ternyata mengidap penyakit ini." Bima sudah tak peduli lagi bagaimana tanggapan dokter mendengar itu semua. Dokter pasti mengira Bima adalah orang yang tidak baik, yang dengan mudahnya mencari wanita lain untuk memuaskannya ketika tidak mendapatkannya dari sang istri.
"Baiklah. Saya akan resepkan obat, dan habiskan obatnya meskipun gejala-gejalanya telah hilang. Nanti dua minggu lagi kontrol kesini. Kita akan cek ulang, apakah Bapak sudah sembuh atau masih butuh pengobatan lagi."
"Baik Dok, terima kasih."
"Kakak sudah pulang ?" Tanya Sahla setelah membukakan pintu untuk suaminya. Mendengar suara deru motor berhenti di depan rumah. Sahla langsung berjalan ke depan rumahnya. Dan tepat sesuai dugaannya, suaminya yang datang.
"Kakak ke kamar dulu ya. Kepala rasanya pusing." Bima langsung menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya. Sahla mengikutinya dari belakang. Rasa iba tumbuh di hatinya melihat suaminya seperti tak berdaya. Lalu ia selimuti Bima. Tak lupa ia mengecek suhu tubuh Bima dengan menempelkan tangannya di dahi Bima.
"Masih panas badannya." Gumamnya.
"Minum obatnya dulu Kak. Sebentar aku ambilkan minum dan obatnya."
"Nanti saja, Dek. Kakak mau istirahat dulu."
"Baiklah." Sahla pun keluar, membiarkan suaminya beristirahat.
***
"Kakak sakit apa ?" Tanya Sahla kepada Bima saat mereka makan malam.
"Sakit biasa." Jawab Bima pelan tanpa menoleh sedikitpun pada Sahla.
"Syukurlah kalau tidak ada yang serius." Ucap Bu Ratih.
"Iya Bu." Jawab Bima dengan tersenyum tipis. Bima makan tidak terlalu lahap, hanya beberapa suap saja yang mampu ia suapkan ke mulutnya. Sahla dan Bu Ratih ternyata memperhatikannya.
"Kak, kenapa ? Makanannya gak enak." Ucap Sahla.
__ADS_1
Bima menggeleng. "Tidak, Dek. Hanya kurang berselera saja. Rasanya hambar."
"Namanya juga lagi sakit, pasti gak enak makan." Timpal Bu Ratih.
"Aku buatkan bubur saja ya, biar Kakak gak susah buat nelennya."
"Tidak usah, Dek. Ini juga sudah cukup. Sepertinya Kakak sudah makannya. Kakak ke kamar duluan." Bima pun bangkit sambil membawa segelas air putih. Di dalam kamar, Bima langsung minum obat yang tadi diresepkan dokter. Lalu berbaring di tempat tidur. Sebenarnya Bima belum merasa ngantuk, namun ia ingin menghindari Sahla dan Ibunya. Ia takut mereka masih mempertanyakan masalah penyakitnya. Sudah cukup peristiwa kemarin membuat syok keluarganya, ia tidak ingin menambah lagi kekhawatiran mereka. Biarlah penyakit ini dia sendiri yang menanggungnya.
Satu minggu telah berlalu, Bima merasa sudah tak ada gejala yang ia rasakan lagi. Namun ia masih harus menghabiskan obat sebelum benar-benar dinyatakan sembuh. Bima selalu meminum obat di dalam kamar. Dan obat tersebut ia simpan di dalam tasnya. Ia sengaja melakukan hal itu, agar tak menimbulkan pertanyaan dari istri atau ibunya.
Namun, tanpa Bima sadari. Sahla sebenarnya terus memperhatikannya. Dan ia pun heran dengan kelakuan Bima yang bersembunyi saat ia minum obat.
"Kak, minum obat apa ? Bukannya sudah sembuh ?" Tanya Sahla saat memergoki Bima tengah meminum obat. Sudah lama ia ingin menanyakan perihal obat. Namun ia selalu teralihkan oleh sesuatu hal, entah disengaja oleh Bima atau pun tidak.
"Uhuk… uhuk…" Bima tersedak kaget dengan kedatangan Sahla yang tiba-tiba.
Sahla langsung menghampiri Bima dan menepuk punggungnya pelan. "Pelan-pelan minumnya, Kak."
Bima pun kembali minum dan menghabiskan air yang ada di dalam gelas.
"Obat apa kak? Kok masih diminum ?" Tanya Sahla lagi.
"Hanya vitamin saja, Dek. Harus dihabiskan."
"Oh."
"Ayo tidur, sudah malam."
"Jam 8 juga belum, Kak. Lagian kita baru selesai makan, masa mau langsung tidur."
"Oh iya. Ayo kita ke depan saja, temani Ibu nonton tv." Ajak Bima sambil merangkul bahu Sahla.
"Kakak duluan saja. Aku mau bersih-bersih dulu."
"Bersih-bersih apa ? Kamar kita sudah bersih begini."
"Aku mau ke kamar mandi, maksudnya Kak. Jadi nanti tinggal langsung tidur."
"Ya sudah." Lalu Bima keluar kamar meninggalkan Sahla sendirian.
Sahla menutup pintu kamar setelah memastikan Bima duduk bersama Ibunya. Lalu dengan bergegas Sahla membuka tas milik Bima. Dan mengeluarkan apa yang ia cari.
"Obat apa ini ? aku belum pernah lihat sebelumnya." Gumam Sahla.
Lalu ia membawa obat tersebut ke meja riasnya. Kemudian Sahla mengambil Hpnya.
Klik. Sahla mengambil gambar obat tersebut menggunakan lensa g***le. Lalu deretan artikel mengenai obat tersebut muncul. Tapi sebelum ia lanjut membaca artikel-artikel tersebut, Sahla mengembalikan obat milik Bima ke tempatnya semula. Setelah keadaanya aman, ia pun kembali duduk di depan meja rias dan meraih Hpnya.
Sahla mengernyitkan dahi setelah membaca judul-judulnya saja.
"Kenapa munculnya penyakit ke****n semua ?"
__ADS_1