Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Menginap Si Rumah Sakit


__ADS_3

"Dek." Bima memanggil Sahla pelan. Sahla berkali-kali mengerjapkan matanya. Mungkin silau karena cahaya lampu yang menggantung di atas.


"Kak." Dengan suara parau, namun masih terdengar jelas. Bima berdiri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Sahla.


"Kamu haus ? Mau minum ?" Tanya Bima.


Sahla mengangguk pelan. Bima dengan sigap mengambil air minum yang sempat ia bawa dari rumah. Lalu meminumkannya.


"Gimana sekarang ? Ada yang sakit ?"


"Kepalaku terasa berat."


"Ya sudah, kamu istirahat saja."


"Kita dimana Kak ?"


"Di rumah sakit. Kamu pingsan."


Sahla terdiam. Lalu memindai ke sekeliling ruangan dan berakhir pada tangan kirinya yang terpasang selang infus.


"Kamu mau apa ?" Tanya Bima.


Sahla menggeleng. "Aku ingat sekarang, tadi aku mau keluar kamar, tapi saat berdiri, kepalaku terasa berat. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi."


"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Yang penting kamu baik-baik saja dan bayi kita juga sehat-sehat saja."


"Syukurlah. Tolong, Kak. Aku ingin duduk."


"Memangnya sudah kuat duduk ?" Sahla mengangguk. Lalu Bima membantu Sahla duduk dengan bantal dijadikan sandaran kepala dan punggungnya.


"Mau makan ? Atau mau sesuatu ?" Sahla tetap menggeleng.


"Ibu mana ? Gak ikut kesini ?"


"Ibu di rumah. Dianterin sama Bapak saja ke sini. Ibu gak boleh ikut sama Bapak. Bakal risih katanya."


"Kenapa ?"


"Ibu nangis terus. Nanti disini malah terus nangisin kamu. Ganggu orang lain."


Sahla mengangguk. "Ibu pasti khawatir ya, Kak ?"


"Tidak hanya Ibu yang khawatir, kita semua juga khawatir. Apalagi kamu cukup lama tidak sadarkan diri."


"Maaf ya, Kak. Sudah bikin kamu dan semuanya khawatir."


"Cukup sekali ini saja ya. Jangan kayak gini lagi. Kamu tahu ? Aku tak hanya sekedar khawatir, tapi lebih ke takut, takut terjadi apa-apa padamu dan calon anak kita." Bima menggenggam tangan Sahla lalu menciumnya.


Sahla tersenyum tipis, hatinya terenyuh mendengar perkataan Bima. "Terima kasih, karena selalu ada untukku."


"Itu sudah menjadi tugasku menjagamu dengan baik." Sekali lagi Bima mencium tangan Sahla.


"Toko gimana ? Tutup Kak ?"


"Oh iya, aku lupa belum menghubungi teman. Sebentar ya." Bima mengambil Hpnya yang ia simpan di atas nakas, lalu berjalan keluar ruangan.


Sahla mengernyitkan dahi, tak mengerti apa yang Bima omongin. Karena tak sesuai dengan pertanyaan yang ia ajukan.


Setelah berada di luar ruangan, Bima membuka Hpnya dan mencari kontak dengan nama Ari. Lalu melakukan panggilan kepadanya.


[Assalamualaikum.] Sapa Bima.

__ADS_1


(Wa'alaikum salam.) Jawab Ari dari seberang.


[Sorry nih, aku gak bisa ke toko lagi. Istriku harus dirawat di rumah sakit.]


(Gak apa-apa Bim. Santai saja. Biar toko aku yang urus.)


[Terima kasih, aku berhutang banyak padamu.]


(Tidak usah sungkan. Kamu fokus pada istrimu saja.)


[Baiklah. Aku sangat mengandalkanmu.]


Telpon pun ditutup. Bima kembali masuk ke ruangan Sahla.


"Telpon siapa, Kak?" Tanya sahla.


"Telpon teman, namanya Ari. Dia teman SMAku dulu." 


Sahla terdiam, terasa tidak asing mendengar nama Ari. "Oh. Kakak belum jawab pertanyaanku tadi." Protes Sahla.


"Iya, itu temanku, Ari sekarang yang jaga toko."


Sahla mengernyitkan dahi.


"Kenapa?" Tanya Bima yang heran dengan ekspresi Sahla yang meminta penjelasan.


"Kenapa? Kakak percaya sama temanmu itu ?"


"Tentu saja. Dia sudah satu bulan, bekerja di toko kita."


"Bekerja sudah satu bulan ?"


"Iya."


"Bukan tidak ingin ngasih tahu. Tapi, melihat keadaanmu seperti itu. Kakak gak ada kesempatan buat ngomongnya."


Sahla terdiam, wajahnya ditekuk sedemikian rupa.


"Kakak tidak ingin membebanimu dengan urusan toko. Karena kamu sendiri pun sedang kesulitan dengan kehamilanmu ini."


"Tapi tetap saja, harusnya Kakak ngomong sama aku. Bukannya diam aja." Sahla menghela nafas. "Kamu sudah tak menganggapku lagi. Padahal kita mengawalinya bersama-sama."


"Iya, maaf. Kakak salah."


Sahla terdiam. Tak merespon maaf dari Bima. Karena terdengar tidak tulus meminta maaf.


"Dek. Kakak benar-benar minta maaf. Kakak janji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi."


"Baiklah. Kali ini aku maafkan. Lain kali kalau ada apa-apa bilang padaku."


"Iya, sayang." Bima mencium tangan Sahla. "Kok masih cemberut ? Senyum dong."


Sahla malah memajukan bibirnya. "Katanya sudah memaafkan." Ucap Bima.


Akhirnya Sahla tersenyum. Lalu Bima mendekatkan bibirnya ke kening Sahla. 


"Ehem." Pak Edi berpura-pura batuk untuk membatalkan kelakuan Bima pada Sahla. Ia tidak ingin melihat sesuatu yang tak boleh ia lihat.


"Eh Bapak. Bima kira sudah pulang." Bima terlihat salah tingkah.


"Mana mungkin Bapak pulang begitu saja tanpa melihat Sahla terlebih dahulu."

__ADS_1


Bima terlihat malu. Sementara Sahla hanya tersenyum geli melihat Bima yang salah tingkah.


"Gimana sekarang ?" Tanya Pak Edi.


"Masih sedikit pusing kepalanya, Pak."


"Ya sudah tidak apa-apa. Kamu istirahat di sini dulu. Biar tubuhmu cepat pulih."


"Iya, Pak.


"Bapak pulang dulu ya. Nanti sore kesini lagi bareng ibu-ibu. Pasti mereka ingin sekali melihatmu di sini."


"Iya, Pak. Sekalian bawa baju ganti ya, Pak."


"Iya. Ya, sudah Bapak pulang sekarang. Bima, jagain Sahla, jangan kemana-mana."


"Baik, Pak." Jawab Bima.


Sore hari. Seperti yang Pak Edi bilang tadi pagi, akan menjenguk Sahla dengan para ibu, yaitu Bu Ratih dan Bu Marni.


"Neng, Ibu sangat mengkhawatirkanmu." Ucap Bu Marni, setelah mencium kedua pipi Sahla dan keningnya. Bu Ratih pun mengikuti Bu Marni, mencium kedua pipi Sahla dan keningnya.


"Iya, Neng. Ibu juga khawatir. Takut kenapa-kenapa sama Neng juga sama Dede bayinya." Ucap Bu Ratih.


"Alhamdulillah Bu, Sahla sama Dede bayi baik-baik saja.


"Syukurlah. Ibu senang mendengarnya." Ucap Bu Ratih.


"Maafin Sahla ya Bu, Bu. Kalau Sahla sudah bikin kalian khawatir." Sahla menatap kepada kedua ibunya bergantian.


"Jangan minta maaf seperti itu, Neng. Kamu gak ada salah apa-apa. Semua Ibu pasti akan khawatir." Ucap Bu Marni.


"Iya, Neng. Yang penting kamu sama Dede bayi baik-baik saja." Lanjut Bu Ratih.


"Iya, Bu."


"Tapi Bapak sama 2 ibumu ini tidak bisa nginep disini. Gak apa-apa ya, Neng ?" Tanya Bu Marni.


"Gak apa-apa Bu. Sahla ngerti kok."


"Tenang aja Bu, Bima akan selalu menjaga Sahla." Ucap Bima.


"Oh ya, Bim. Ibu bawakan makanan kesukaan kamu." Ucap Bu Ratih.


"Wah, terima kasih Bu. Padahal gak usah repot bawain makanan."


"Ibu khawatir kamu makan sembarangan. Nanti kamu sakit."


"Aku udah gede, Bu. Bisa jaga diri." Bima terlihat malu dengan tingkah ibunya yang mengkhawatirkannya, menurut Bima terlalu berlebihan.


"Kamu gak boleh sakit, Nak. Ada yang harus kamu jaga selalu." Ucap Bu Ratih lagi.


"Iya, Bu. Bima paham."


Hampir mendekati adzan magrib, Pak Edi dan para ibu pamit pulang. 


"Neng, Ibu pulang dulu ya. Kamu yang sehat, makan yang banyak. Biar nanti cepat pulih, cepat pulang." Ucap Bu Marni.


"Bima, jaga baik-baik istrimu." Ucap Bu Ratih.


"Iya, Bu. Doain aja biar Sahla gak muntah-muntah lagi, jadi bisa makan yang benar."

__ADS_1


"Pasti akan Ibu doakan. Ibu pulang dulu. Assalamualaikum." Pamit Bu Ratih. Bima dan Sahla menyalami mereka bertiga. 


"Waalaikum salam. Hati di jalan Pak, Bu.


__ADS_2