Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Babak Baru Bima Dan Sahla


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu dari semenjak Sahla dan Bima menikah. Dan hari ini adalah hari yang penting bagi mereka, terutama Bima. Karena mereka akan memulai usaha mereka, yaitu toko sembako. Beruntung Bima mendapatkan tempat yang cukup strategis, dekat sekolah dan masjid. 


Jarak antara rumah dan toko hanya berkisar 15 menit menggunakan motor. Dan setiap harinya mereka akan buka dari pukul 5 pagi sampai pukul 8 malam. 


Bima dan Sahla mengadakan syukuran untuk pembukaan perdana toko mereka. Hanya acara sederhana dan mengundang beberapa tetangga terdekat saja. Acara berlangsung dengan lancar. 


"Alhamdulillah ya, Dek. Semuanya berjalan lancar." Ucap Bima, ketika mereka hanya tinggal berdua.


"Iya, Kak. Semoga usaha kita lancar."


"Aamiin. Rencana apalagi yang harus kita persiapkan ?" Tanya Bima.


"Maksudnya?" Sahla tak mengerti apa yang dimaksud suaminya.


"Tujuan yang harus kita capai. Sekarang kita sudah punya usaha, terus apa lagi yang harus kita gapai ?"


"Hmm… mungkin anak ?"


"Oh iya, kenapa aku tak kepikiran masalah anak."


Sahla tersenyum. "Kalau masalah anak, aku tidak mau menundanya. Bagaimana denganmu ?"


Bima mengangguk. Lalu merangkul pinggang Sahla. Dan kini mereka saling berhadapan. "Terserah kamu saja, karena kamu yang akan lebih banyak bersama anak-anak. Jika kamu belum siap, tidak masalah kita menundanya. Tapi jika kamu sudah siap, kita tak perlu menundanya lagi. Ibu juga bakal senang mendapatkan cucu pertamanya." Bima hendak mengecup kening Sahla. Tapi, pelanggan pertama mereka datang tanpa permisi.


"Permisi Pak!


Bima bergegas melepaskan tangannya dari pinggang sang istri. Lalu berjalan ke depan untuk melayani.


"Iya, Pak. Mau beli apa ?"


>>>>><<<<<


Hari pertama, membuat mereka kelelahan terutama Bima. Karena hal yang baru bagi Bima, tidak demikian dengan Sahla. Sahla lebih berpengalaman, karena orang tuanya juga berjualan di depan rumahnya. Sehingga bukan hal yang baru bagi Sahla. Meskipun ia hanya sesekali saja melayani pembeli, yaitu ketika Sahla pulang berlibur mengunjungi orang tuanya.


Meski rasa lelah melanda mereka, tapi ada kebahagiaan tersendiri bagi keduanya. Bahagia bisa bekerja dengan seseorang yang dicintai. 


Tepat jam 8 malam, Bima menutup tokonya. Lalu pulang bersama Sahla ke rumah.


"Dek. Besok di rumah aja. Biar toko urusan Kakak." Ucap Bima, setelah mereka berada di kamar dan bersiap untuk tidur.


"Tidak apa-apa Kak. Sahla seneng kok bantuinnya."


"Capek Dek. Kakak aja sekarang terasa capek banget."


"Ga apa-apa Kak. Lagian bosen kalau di rumah gak ngapa-ngapain."


"Ya sudah, tapi jangan capek-capek ya. Di toko kamu tugasnya hanya nemenin aja."


"Iya."

__ADS_1


"Tidur yuk." Ajak Bima. Sahla mengangguk. Bima merentangkan tangan kirinya untuk dijadikan bantal bagi Sahla. Sahla yang sudah tak canggung lagi, langsung merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan lengan Bima. Semenjak mereka bermalam di perkemahan, kecanggungan diantara mereka mulai mencair. Hingga akhirnya mereka  bisa merasakan juga nikmatnya surga dunia.


Satu tahun telah berlalu. Toko yang dikelola Bima berjalan dengan baik. Sahla dengan setia menemani suaminya di toko. Tetapi ada satu hal yang tidak berjalan sesuai keinginan mereka, yaitu menghadirkan seorang anak. Allah belum mau mempercayakan mereka seorang anak. 


Hingga suatu pagi, Sahla berlaku tak seperti biasanya. Ia masih tertidur pulas saat Bima sudah siap pergi ke tokonya. Bima sudah mencoba membangunkannya, tapi tak berhasil. Matanya seakan memakai lem, sehingga sulit untuk terbuka.


"Istrimu mana Bim ?" Tanya Ibu, karena biasanya Bima dan Sahla selalu bersama.


"Masih tidur."


"Tumben sekali, tak biasanya Sahla tidur lagi sehabis subuh."


"Nggak tahu. Tadi udah Bima coba bangunkan. Tapi Sahla tak bangun-bangun."


"Apa Sahla sakit ?"


"Hmm… badannya sih nggak panas. Tapi gak tau juga sih."


"Ya sudah, biar nanti Ibu lihat."


"Bima berangkat, ya Bu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Setelah Bima pergi. Bu Ratih langsung ke kamar Bima. Dan benar apa yang dikatakan Bima, Sahla masih tertidur dengan pulas.


"Neng." Panggil Bu Ratih. Tangannya ia tempelkan ke dahi Sahla. "Tidak panas," gumam Bu Ratih.


Tak berhasil membangunkan Sahla, Bu Ratih memutuskan keluar dan membiarkannya. 


Tepat pukul 7 pagi. Sahla membuka matanya. Dia terlonjak kaget karena mendapati di luar sudah terang benderang.


 "Jam berapa ini ?" Sahla melihat ke arah jam dinding. 


"Hah! jam 7 ?" Sahla tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengecek jam sekali lagi, kali ini ia mengambil Hp yang ada di meja rias.


"Ternyata benar jam 7. Kenapa tak ada yang membangunkanku ?" Gumamnya. Lalu ia pun menelpon suaminya. Tapi alangkah terkejutnya Sahla, ternyata ada 7 kali panggilan tak terjawab dari suaminya. Berarti dia benar-benar tertidur pulas, sampai-sampai suara dering telepon tak bisa ia dengar.


["Hallo. Assalamu'alaikum."] Sapa Bima dari seberang telpon.


("Wa'alaikum salam. Kak! Kenapa tak membangunkanku ?")


["Kakak tidak tega membangunkanmu. Kamu pulas banget tidurnya. Kamu sakit, Dek ?"]


("Tidak.")


["Syukurlah kalau kamu gak sakit. Kakak khawatir kamu sakit, soalnya telepon Kakak tak ada yang diangkat."]


("Iya, maaf Kak. Aku benar-benar tak mendengarnya sama sekali.")

__ADS_1


["Ya sudah, kamu di rumah saja. Tidak usah ke sini. Istirahat yang benar. Mungkin kamu kecapean."]


("Tapi, aku malu Kak.")


["Malu kenapa ?"]


("Aku baru bangun. Malu pada Ibu.")


["Gak apa-apa, Dek. Kayak gak kenal Ibu saja."]


("Ya sudah, aku mau mandi dulu. Assalamualaikum.")


["Wa'alaikum salam."]


Sahla beranjak dari tempat tidur. Sebelum mandi, ia membereskan bekas tidurnya dulu. Setelah semuanya beres, ia bergegas mandi. Dan tak membutuhkan waktu yang lama, Sahla telah kembali segar. 


Ia keluar kamar dengan rasa malu. Malu pada Ibu mertuanya, karena jam segini ia baru keluar dari kamar. Meskipun ia tahu bahwa Bu Ratih sangat baik, dan tidak akan berbicara ketus kepadanya. Tapi tetap saja ia merasa malu.


"Neng." Panggil Bu Ratih yang sedang duduk bersantai di ruang tengah bersama Dila.


"Ibu."


"Syukurlah, akhirnya kamu bangun juga. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa, kamu susah sekali dibangunkan."


Sahla tersenyum malu. Ia menghampiri Bu Ratih dan duduk di sebelahnya.


"Nggak tahu Bu. Abis subuh, Sahla gak kuat matanya, ngantuk banget."


"Kamu sakit ?"


Sahla menggeleng. " Nggak. Sahla baik-baik saja."


"Ya sudah, sana makan dulu. Pasti kamu lapar. Ibu sudah masakin kamu ikan goreng."


"Makasih ya, Bu. Sahla ke dapur dulu."


Sahla berjalan ke dapur. Lalu ia membuka pintu rak, tempat penyimpanan makanan. Namun, belum sempat ia ambil ikannya, tiba-tiba saja sesuatu yang ada di dalam perut mendesaknya untuk keluar. Sahla tak kuat menahannya. Ia pun berlari ke wastafel, dan menumpahkan semua yang ada di dalam perut.


Mendengar suara orang muntah di dapur. Bu Ratih langsung menuju dapur, dan menghampiri Sahla yang masih muntah.


"Ya Allah Neng, kamu kenapa ?" Tanya Bu Ratih.


"Nggak tahu, Bu. Tadi mau ambil ikan, tapi malah ingin muntah. Masuk angin kayaknya, Bu."


"Bulan ini udah datang bulan belum ?" Tanya Bu Ratih.


Sahla mencoba mengingatnya. "Kayaknya belum, Bu."


"Mungkin kamu hamil, Neng."

__ADS_1


"Hamil ?"


__ADS_2