Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 46


__ADS_3

"Hallo Dek. Kamu habiskan saja uang yang tadi Edo kirim. Nanti Kakak akan minta yang lebih banyak lagi."


"Apa maksudnya ?" Tanya Sahla heran, tiba-tiba saja Bima berkata seperti itu.


"Belilah apa saja menggunakan uang itu. Jangan takut kehabisan."


"Kakak makin aneh ngomongnya."


"Sudah, turuti saja apa yang Kakak bilang tadi."


"Gimana nanti." Sahla malas meladeni Bima yang ngelantur dari tadi.


"Oh ya sekarang kamu pengen apa ? Lagi ngidam apa ?"


"Gak ada, aku lagi tidak ngidam apa-apa."


"Coba pikir-pikir lagi, kamu mau apa ? Makanan atau minuman ? Atau barang-barang ?"


"Kakak kenapa maksa seperti itu, aku lagi gak ingin apa-apa."


"Sudah sebutkan saja. Martabak, ketoprak, bakso, mi ayam, nasi goreng ? Apa Dek ayo sebutkan saja ?"


"Kalaupun aku ingin sesuatu, tidak akan ada yang membelikannya."


"Itu urusan Kakak, tinggal kamu sebutkan saja."


"Sudahlah Kak, jangan bicara yang aneh-aneh. Aku mau tidur. Assalamualaikum." Lalu Sahla mematikan telponnya.


"Wa'alaikum salam."


Bima melihat jam yang tertera di Hpnya, jam 21.00. "Ternyata memang sudah malam." Lirihnya. Bima tak langsung menuju sofa, ia malah mondar-mandir dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dan tak berapa lama ia berhenti dan membuka Hpnya kembali. Lalu ia melakukan panggilan lagi.


"Hallo, Edo." Sapa Bima saat panggilannya sudah masuk.


"Iya Pak Bima, ada yang bisa saya bantu." Jawab Edo dari seberang telpon.


"Tentu saja. Untuk apa saya menghubungimu kalau tidak ada yang saya butuhkan." Ucap Bima dengan senyum yang mencurigakan.


"Baik Pak, apa yang anda butuhkan sekarang ?" Tanya Edo.


"Kamu pasti tahu kalau istriku sedang hamil muda. Dan kamu juga pastinya sudah tahu, kalau wanita yang sedang hamil muda suka mengalami ngidam." Ucap Bima bertele-tele.


"Iya Pak saya tahu."


"Sekarang istriku menginginkan ketoprak. Dan aku sebagai suaminya tidak bisa membelikannya, karena aku terkurung disini. Sungguh kasihan sekali istriku." 


"Akan saya belikan."


"Benarkah ?" Ucap Bima.


"Tentu saja, akan saya belikan dan mengantarkannya langsung."


"Maafkan aku Edo, aku jadi merepotkanmu. Padahal jika kamu membukakan pintu ini, aku sendiri yang akan membelikannya."

__ADS_1


"Pak Bima tidak perlu kemana-mana, biar saya yang belikan."


"Sungguh aku tidak enak hati padamu Edo."


"Tidak apa-apa Pak Bima."


Lalu Bima menyudahi panggilannya kepada Edo. Ia tersenyum puas karena telah berhasil mengerjainya. Sebenarnya ia kesal kepada Reno, tapi ia tidak bisa melampiaskan kepada orangnya, karena memang orangnya tidak ada di tempat. Maka dari itu, ia limpahkan kekesalannya kepada anak buahnya, Edo.


Bima tidak bisa memejamkan mata, ia tengah menunggu seseorang menghubunginya, entah itu istrinya, atau Edo.


Dan benar saja, tepat pukul 22.30 suara dering telponnya berbunyi. Bima langsung melihat siapa yang menelponnya.


"Edo." Ucap Bima sambil tersenyum usil.


"Hallo Edo." Sapa Bima saat menerima telepon dari Edo.


"Pak Bima, saya sudah mendapatkan ketoprak yang istri Pak Bima minta. Tapi, sepertinya istri Bapak sudah tidur. Bagaimana saya membangunkannya ?"


"Benarkah ? Pasti ia tertidur karena lama menunggu ketopraknya datang. Kasihan sekali istriku, andaikan aku disana, mungkin istriku tidak harus menahan keinginannya."


"Maafkan saya Pak. Saya sudah berusaha secepat yang saya bisa." Ucap Edo merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu. Kamu sudah cukup berusaha."


"Lalu bagaimana dengan ketopraknya ?"


"Makanlah."


"Tapi Pak, bagaimana dengan istri Bapak ?"


"Sekali lagi maafkan saya."


"Tidak apa-apa." Lalu Bima menutup telponnya. Ia tersenyum puas sekali, karena telah berhasil mengerjai Edo.


"Sepertinya aku akan tidur nyenyak malam ini. Setidaknya walau sedikit, kekesalanku agak berkurang." Ucap Bima pelan. Lalu ia pun berbaring di sofa.


Namun, belum sempat ia memejamkan mata. Terdengar suara Raina memanggil namanya.


"Bima… Bima…" 


Bima langsung duduk dan menoleh ke arah Raina, namun Rupanya Raina tengah mengigau. Matanya masih terpejam, namun bibirnya terus menyebut nama dirinya, dan wajahnya terlihat begitu gelisah.


"Bima…!" Kali ini Raina berteriak dan langsung duduk. Nafasnya terengah-engah, seperti telah melakukan lari cepat. 


Raina melihat sejenak ke sisi kanan dan kirinya. Tak ada siapa pun. "Lagi-lagi aku bermimpi." Lirihnya. "Aku sudah tidak kuat lagi." Raina kemudian menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Kini ia menangis. "Bima… aku minta maaf, aku salah… hu…" ucap Raina di sela tangisnya.


Bima tertegun melihat keadaan Raina sekarang seperti saat pertama kali bertemu. "Ada apa dengan Raina ?" Tanya Bima dalam hati. "Kenapa perubahan sikapnya begitu cepat ?"


Tak tega melihat Raina yang terus menangis, Bima pun menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Raina, kamu tidak apa-apa ?"


Tangis Raina seketika berhenti mendengar suara yang tak asing lagi baginya. Lalu ia menoleh dan tertegun cukup lama menatap Bima.


"Bima ?" Tanya Raina terkejut, seperti baru bertemu saja.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa ?" Tanya Bima lagi.


"Kamu ada disini ?" Tanya Raina seperti tak percaya dengan penglihatannya.


"Iya, tentu saja aku ada disini."


"Kapan kamu kesini ?"


Bima terdiam, heran dengan sikap Raina.


"Sejak pagi tadi. Dan sudah seharian kita bersama."


"Benarkah ?"


Bima mengangguk. "Kamu tidak ingat ?"


"Untuk apa kamu kesini ?" Raina tidak menjawab pertanyaan Bima, ia tidak ingin menjawabnya. Dan langsung mengalihkan dengan pertanyaan lain.


Bima terdiam, "untuk apa ?" Ucap Bima pelan. Bima semakin bingung dengan Raina. Sangat berbeda dengan keadaannya tadi pagi. 


Raina terlihat sedang ketakutan, entah apa yang membuatnya takut. 


"Kenapa kamu tahu aku disini ? Apa kamu sengaja menyelidiki ku ?"


Bima semakin bingung dengan pertanyaan Raina. Dan kenapa Raina berkata dengan ketus ?


"Kamu pasti lapar, kamu belum makan malam. Tunggu sebentar." 


Raina hanya diam, namun ia seperti tengah memproteksi dirinya sendiri, dan menganggap Bima adalah sebuah ancaman.


Bima kemudian menghubungi Edo dengan teleponnya.


"Hallo Edo. Kamu sudah kembali ?"


"Saya baru sampai Pak. Ada perlu apa ?"


"Bawakan makan malam buat Raina. Ia sudah bangun."


"Baik Pak."


Bima menutup teleponnya. Dan kembali pada Raina.


"Tenanglah, makan malammu akan segera datang." Bima mencoba menenangkan Raina yang masih terlihat ketakutan dan gelisah.


Tak butuh waktu lama, terdengar suara kunci pintu dibuka. Dan Edo datang dengan membawa makan malam untuk Nonanya.


"Nona, anda sudah bangun? Silahkan, ini makan malamnya." Ucap Edo.


"Letakkan saja. Aku tidak lapar." Ucap Raina.


"Baiklah, saya akan letakkan di meja. Barangkali nanti Nona akan memakannya. Saya permisi." Pamit Edo.


"Tidak Edo, kamu tetap disini. Jangan keluar dari kamar ini. Aku tidak ingin berdua saja dengan Bima."

__ADS_1


Bima dan Edo saling pandang, kaget dengan ucapan Raina.


"Atau usir saja dia, aku tidak ingin melihatnya." 


__ADS_2