Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 40


__ADS_3

Edo bersama anak buahnya terbagi menjadi 3 kelompok, dengan 2 orang anggota. Sisanya tetap berjaga di villa. Mereka akan berpencar mencari salon kecantikan yang dipesan Nonanya.


Dengan mengendarai sepeda motor, mereka menembus pekatnya malam dan tidak menghiraukan dinginnya malam. Mereka harus selalu siap sedia apapun tugas yang diberikan tuannya.


Sudah hampir 1 jam mereka berkeliaran mencari salon. Namun tak ada satupun yang berhasil mereka temukan. Memang ada salon yang mereka temukan, tapi pemiliknya tak bermalam disana. Mereka terlihat sangat frustasi.


"Kita ke arah sini. Sepertinya kemarin aku lihat ada papan nama semacam perias pengantin." Ucap Edo pada rekannya. Edo masih ingat betul, saat diperjalanan menuju rumah Bima, ia melihat papan nama yang ia maksud.


"Itu bukan salon Bang." Ucap Dani, rekan setim Edo. Ia juga yang menemani Edo ke rumah Bima kemarin.


"Sama saja, yang penting bisa mendandani orang." Ucap Edo frustasi.


"Nanti kalau tidak sesuai yang diinginkan Nona bagaimana ?"


Edo menyugar rambutnya. "Daripada tidak dapat sama sekali. Ayo kita kesana."


Mereka pun melajukan motornya ke arah rumah Bima. Dan tak butuh waktu lama, mereka sampai di tempat yang ia maksud.


"Cepat ketuk pintu!" Titah Edo.


Dengan ragu Dani mengetuk pintu. 


"Tok… tok… tok…"


Tak ada yang menyahut dari dalam. Dani mencoba mengetuk kembali. "Tok… tok… tok… Permisi Pak! Bu!" Sapa Dani. Berharap dengan suaranya, orang akan percaya bahwa ada orang yang akan bertamu. Karena bukan hal yang lumrah bertamu di waktu dini hari, dimana jam segitu kebanyakan orang sedang terlelap tidur.


Dan kali ini berhasil. Ada langkah yang mendekati pintu dari dalam rumah. Lalu seseorang menyibakkan sedikit gorden jendela yang ada di samping pintu.


"Kalian siapa ?" Dari suaranya terdengar seperti suara laki-laki yang sudah berumur.


"Maaf Pak, kami mengganggu malam-malam begini. Kami butuh orang yang bisa merias." Ucap Dani sopan.


"Kenapa tidak datang saat matahari sudah terbit ?"

__ADS_1


"Kita sangat membutuhkannya sekarang juga. Tolong kami Pak!"


"Tidak! Itu pasti hanya akal-akalan kalian saja. Kalian akan berbuat jahat kan ?"


"Tidak Pak! Kami bukan orang jahat. Kalau kami punya niatan jahat pada kalian, mana mungkin kami mengetuk pintu terlebih dahulu. Tolong percayalah."


"Siapa Pak ?" Tanya seorang wanita pada Bapak tersebut.


"Tidak tahu. Katanya mereka mencari orang yang bisa merias." Ucap Bapak tersebut.


Lalu wanita itu melakukan hal yang sama dengan sang Bapak. Mengintip dari balik gorden.


"Tolong Mba ! Kami bukan orang jahat. Kami hanya sedang mencari jasa perias saja. Hanya itu." Dani sedikit memohon, ia mengenyampingkan harga dirinya demi misi yang ia emban.


Edo menahan tawa melihat rekannya memohon pada seorang wanita. Sangat berbanding terbalik dengan penampilannya yang sangar. Namun ia pun sebenarnya tak tahu harus melakukan apa. Yang ia tahu hanya dengan cara memaksa dengan sedikit kekerasan. Apakah mungkin harus dilakukan dengan cara seperti itu ?


Edo melangkah mendekati pintu menggantikan posisi Dani. "Bagaimana caranya agar kalian mau membantu kami ?" Tanya Edo lantang. "Haruskah kami mendobrak pintu ini dan membawa paksa kalian ?" 


"Bagaimana kami akan percaya kepada orang yang bertamu di tengah malam begini ? Bahkan kalian menyalahi adab bertamu." Wanita itu tidak gentar mendapat ancaman dari Edo.


"Maaf Bapak-bapak sekalian. Ada kepentingan apa tengah malam begini kesini ?" Tanya seorang Bapak yang tiba-tiba datang menghampiri Edo dan Dani. 


"Maaf Pak kalau kedatangan kami mengganggu. Saya Dani dan teman saya itu Edo." Ucap Dani ramah.


"Saya Ahmad, saya tinggal di sebelah rumah ini. Dan saya terbangun saat mendengar ada keributan di sini. Jadi apa masalahnya ?"


"Kami hanya sedang mencari jasa perias saja. Dan kami memerlukannya sekarang juga. Ini sangat darurat. Kami sudah mencari kemana-mana, dan pastinya Bapak bisa menebaknya, kami tidak menemukannya di tengah malam begini."


"Bagaimana kami bisa percaya pada kalian ?" Tanya Pak Ahmad.


Edo dan Dani saling pandang. Benar apa yang dikatakan Pak Ahmad, bagaimana caranya agar mereka bisa percaya pada orang asing ini ?


Lalu Edo mengambil dompet dari saku belakang celananya. Lalu mengeluarkan sesuatu yang berbentuk persegi panjang.

__ADS_1


"Ini kartu identitas saya. Bapak bisa simpan sebagai jaminan. Jika dalam 24 jam kami tak kembali, Bapak bisa melaporkan saya ke kantor polisi." Ucap Edo sambil menyerahkan kartu identitas miliknya.


"Bapak akan diskusikan pada Mira. Kalian tunggulah sebentar."


Lalu Pak Ahmad mendekati pintu. "Mira, ini Bapak. Tolong buka pintunya." 


Dan tak menunggu waktu lama, pintu terbuka dari dalam rumah. Lalu Pak Ahmad masuk dan menjelaskan apa yang telah ia bicarakan dengan Edo dan Dani.


"Bagaimana Mira ? Mau membantu mereka ?" Tanya Pak Ahmad. 


Yang ditanya hanya diam saja. Hatinya masih sedikit ragu terhadap Edo dan Dani.


"Menurut Bapak, mereka bisa dipercaya." Pak Ahmad mencoba meyakinkan Mira. Pak Ahmad merasa kasihan kepada mereka, yang terlihat sangat putus asa.


"Baiklah. Mira akan bersiap-siap dulu." Lalu Mira masuk ke dalam kamarnya, menyiapkan alat-alat tempur yang menjadi andalannya. Setelah semuanya siap, ia keluar dari kamarnya.


"Bapak, Mira berangkat dulu. Doakan Mira selamat sampai kembali ke rumah." Mira berpamitan pada Bapaknya dan mencium tangannya dengan takzim.


"Bapak percaya kalian orang baik. Kembalikan Mira dengan selamat." Pak Ahmad mengultimatum pada Edo dan Dani. 


"Terima kasih Pak atas bantuannya. Setelah semuanya selesai, kami janji akan mengembalikan Mira dengan selamat." Ucap Edo sambil menyalami Pak Ahmad dan Bapak Mira. Disusul Dani menyalami mereka semua.


Lalu Edo dan Dani naik motor mereka, sementara Mira naik di belakang Edo. "Dani, hubungi yang lain untuk kembali ke villa." 


"Siap bang." Ucap Dani tersenyum. Ia merasa lega telah menyelesaikan tugasnya. Setelah mengabari rekan-rekannya yang lain, Edo dan Dani melajukan motor mereka dengan kecepatan yang tinggi. Mengejar waktu yang diberikan oleh tuan mereka, meskipun tak akan tiba tepat waktu, tapi setidaknya tidak terlalu molor dari waktu yang ditentukan. Melihat sekarang sudah menunjukan waktu jam 3 pagi, dimana jam tersebut adalah batas waktu yang diberikan.


Karena jalannya yang masih lengang, mereka tiba di villa hanya memerlukan waktu 45 menit. Dan rekan-rekan mereka sudah tiba di villa.


Edo langsung mengajak Mira bertemu dengan tuannya di kamar Nona Raina. Mira tergopoh-gopoh mengikuti langkah Edo yang panjang dan cepat, Sambil sesekali mengedarkan pandangannya di setiap ruangan yang ia lewati.


"Tok… tok… tok… Tuan kami sudah datang." Ucap Edo.


Tak begitu lama, Reno muncul dari balik pintu. "Kamu dapatkan orangnya ?" Tanya Reno.

__ADS_1


"Iya Tuan." Jawab Edo sambil menunjuk kepada Mira. 


"Bagus! Cepat masuk." 


__ADS_2