
"Aaaaa…!"
Tiba-tiba saja Dila berteriak histeris dengan deraian air mata.
"Pergi! Pergi!" Teriaknya lagi sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Bima langsung memeluk Dila. "Dila… Dila… tenang Dil. Ini Kak Bima." Bima mencoba menenangkan Dila.
Dari arah pintu Bu Ratih berlari dengan tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan dari kamar anaknya.
"Dila… Dila.. Kenapa Nak ?" Tanya Bu Ratih penuh kekhawatiran. Karena sudah cukup lama Dila tidak berteriak histeris lagi seperti ini. Sekarang tiba-tiba saja Dila berteriak histeris, tentu saja membuat Bu Ratih terkejut dan takut. Takut kalau trauma yang dialami Dila muncul kembali.
"Bima gak tahu, Bu. Tiba-tiba saja Dila berteriak seperti itu saat Bima menghampirinya." Jawab Bima.
Bu Ratih tak menanggapi Bima, ia hanya melirik ke arah putranya sebentar. Lalu kembali fokus pada putrinya, Dila. Bu Ratih memeluk Dila, mencoba menenangkannya.
"Pergi! Pergi!" Teriak Dila lagi.
"Dila, ini Ibu. Tenang ya. Jangan takut."
Mendengar suara Ibunya, Dila membuka kedua tangannya yang sedari tadi ia pakai menutup telinganya, lalu memeluk erat tubuh Ibunya.
"Pergi! Pergi!" Ucap Dila lagi dengan suara yang lebih pelan, namun matanya menatap tajam ke arah Bima. Bima melihat tatapan adiknya yang begitu tajam, seperti menatap seseorang yang tidak ia sukai. Bima menelan salivanya, ia merasa bahwa Dila sedang menyidangnya, seolah-olah tahu semua tentang kesalahannya yang baru ia perbuat. Ia pun memutuskan untuk keluar. Dan benar saja, setelah ia keluar, Dila tak berteriak kembali.
Bima semakin frustasi. Perasaan bersalahnya semakin membesar. Ia benar-benar marah dan kecewa dengan dirinya sendiri.
"Kenapa ? Kenapa harus terjadi seperti ini ?" Lirihnya. "Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa yang harus aku lakukan sekarang ?"
"Bu. Bagaimana Dila sekarang ?" Tanya Bima saat melihat Bu Ratih keluar dari kamar Dila.
"Duduk!" Bu Ratih bukannya menjawab pertanyaan Bima, tapi malah menyuruh Bima untuk duduk.
Melihat raut wajah Ibunya yang begitu serius, Bima pun menurut. Ia merasa bahwa Ibunya tahu ia telah berbuat salah, dan sekarang ia akan disidang.
"Kenapa semalam tidak pulang ?" Tanya Bu Ratih tegas. Belum pernah Bima melihat Ibunya seserius ini.
Bima tak langsung menjawab pertanyaan Ibunya. Kerongkongannya terasa mengering, sampai menelan saliva pun susah.
__ADS_1
"Bima, jawab!"
"Bima tidur di rumah teman, Bu." Jawabku, hanya itu alasan yang paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan Ibunya.
"Apa yang kamu lakukan semalam, sampai kamu lupa pulang ?"
Lagi-lagi pertanyaan yang menohok dari Ibunya. Bima tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada Ibunya. Tapi ia juga tidak tahu, harus menjawab apa. Yang pada akhirnya, Bima memilih diam.
"Bima! Kesalahan apa yang telah kamu buat sampai membuat Sahla pergi dari rumah ?" Tanya Bu Ratih lagi dengan suara yang bergetar menahan tangis dan amarah.
"Apa? Sahla pergi, Bu ?" Bima sangat terkejut mendengar bahwa istrinya pergi, pantas saja ia tak mendengar sama sekali suaranya dan tak kunjung melihatnya juga.
"Ya, Sahla telah pergi dari rumah begitu saja, tanpa berpamitan kepada Ibu." Akhirnya Bu Ratih tak bisa membendung lagi air matanya.
"Ada apa ini ? Apa yang sebenarnya terjadi ?" Ucap Bima dalam hati.
"Sahla pasti pergi ke rumah orang tuanya."
Bu Ratih dalam tangisnya mengangguk. Tiba-tiba saja Bima beranjak dari duduknya.
"Mau kemana ?" Tanya Bu Ratih.
Bu Ratih dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Jangan coba-coba kamu pergi kesana."
"Kenapa ? Bima harus bertemu Sahla."
"Sahla tidak mau bertemu denganmu." Ucap Bu Ratih pelan.
"Apa?"
"Sahla tidak mau melihatmu, Bima."
Bima terdiam, ia syok mendengar perkataan Ibunya. Ia juga masih belum mengerti kenapa Sahla berbuat seperti ini, membuat Bima semakin pusing.
Lalu Bima mengeluarkan Hpnya, ia mencoba menghubungi Sahla. Berharap Sahla mau berbicara dengannya.
Namun dering telepon terdengar dari kamarnya. Bima bangkit dan berjalan ke kamarnya. Dan benar saja, ia mendapati Hp milik Sahla ada di meja rias.
__ADS_1
"Kenapa sampai Hpnya pun tidak kamu bawa. Ada apa denganmu, Dek ?" Gumamnya dalam hati. Bima duduk di tepi ranjang, memikirkan segala kemungkinan yang telah terjadi.
"Ibu juga tidak mengerti, Sahla benar-benar keluar tanpa membawa apa-apa. Bahkan dompetnya pun tidak ia bawa." Ucap Bu Ratih yang mengikuti langkah Bima menuju kamarnya. Bima langsung melihat meja rias, dimana Sahla selalu meletakkan Hp dan dompetnya di sana. Dan benar apa yang dikatakan Ibunya, Sahla tak membawa apa-apa saat keluar rumah.
"Ibu akan ke rumah orang tuanya sahla. Ibu sangat khawatir dengan kondisinya. Kamu diamlah di rumah, jangan kemana-mana." Setelah berkata seperti itu, Bu Ratih langsung pergi meninggalkan Bima yang termenung di kamarnya.
Bima menatap Hp milik Sahla. Lalu ia membukanya. Berharap ada sedikit petunjuk tentang alasan Sahla pergi.
Bima masuk ke aplikasi pesan berwarna hijau. Lalu membuka setiap pesan yang masuk. Dan alangkah terkejutnya Bima, saat membuka pesan video dari nomor tak dikenal. Sebuah video yang menayangkan adegan dirinya bersama Marisa tadi malam. Seketika saja amarah menguasai hatinya. Bima memejamkan matanya, menahan amarahnya yang siap meledak.
Segala sumpah serapah sudah tak bisa ia ucapkan lagi, saking kesalnya. Bayangan wajah Marisa langsung muncul begitu saja. "Aku harus menemuinya. Dan meminta penjelasan semua ini. Ini sudah sangat keterlaluan," lirihnya.
Bima segera bangkit dan pergi keluar rumah, ia tidak mengindahkan pesan Ibunya untuk tidak pergi kemana-mana. Pikirannya terus tertuju pada satu orang, yaitu Marisa. Marisa pasti punya penjelasan tentang semua yang tengah terjadi padanya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Marisa. Karena Bima mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dor… Dor… Dor…
Bima dengan keras menggedor pintu rumah Marisa. "Marisa! Cepat buka pintu!" Teriak Bima. Namun Marisa tak kunjung membukakan pintu.
Dor… Dor… Dor…
Sekali lagi Bima menggedor pintu dengan lebih keras. "Marisa! Buka Pintu!" Teriaknya, Bima seakan sudah tak peduli dengan para tetangga yang terganggu karena teriakannya.
Ceklek.
Pintu dibuka dari dalam. Marisa menghela nafas panjang, guna menetralkan kekesalannya karena telah diganggu oleh Bima saat ia sedang asyik membersihkan diri.
"Hei! Wanita j****g! Apa yang telah kamu lakukan padaku ?" Bima berbicara dengan suara yang bergetar menahan amarah.
Marisa mengernyitkan dahi, tak mengerti kenapa tiba-tiba saja Bima berkata seperti itu. "Jaga bicaramu, Bima! Aku memang wanita ******, tapi setidaknya aku tahu adab ketika bertamu. Tidak sepertimu, yang tiba-tiba saja datang dan langsung memarahiku."
Bima tersenyum sinis, "jangan bawa-bawa adab, jika perilakumu sendiri tidak beradab."
Marisa merasa tersinggung dengan ucapan Bima. "Jika kamu kesini hanya untuk menghinaku, kau telah berhasil. Jadi sekarang kamu pergi dari rumahku." Ucap Marisa kesal.
Bima menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan pergi sebelum kamu menjelaskan ini semua." Dengan sedikit kasar, Bima menyerahkan Hp milik Sahla dan memperlihatkan video adegan mereka berdua tadi malam.
__ADS_1
Marisa terperangah melihat video tersebut, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, "tidak mungkin, siapa yang merekam ini semua ?"