Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 45


__ADS_3

Bima memposisikan dirinya berbaring senyaman mungkin di atas sofa. 


"Astagfirullah, kenapa aku sampai lupa mengabari Sahla. Ia pasti tengah khawatir sekarang." Lirihnya.


Lalu Bima mengambil Hpnya yang sedari pagi belum pernah ia keluarkan dari dalam tas. Terdapat lebih dari 20 panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari istrinya.


"Maafkan aku Dek, bukan maksud untuk mengabaikanmu. Hanya saja tidak ada waktu yang tepat untuk berkirim kabar padamu." Lirihnya lagi. Memang seharian ini Raina tidak membiarkan Bima hilang dari pandangannya. Hingga membuat Bima tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menemaninya saja.


Bima melakukan panggilan kepada istrinya. Dan tak berapa lama, telponnya diangkat.


"Assalamualaikum, Dek." Sapa Bima dengan suara yang pelan. Ia takut suaranya akan membangunkan Raina. 


"Wa'alaikum salam. Kenapa suaranya Kak ?" Sahla merasa aneh, Bima berbicara dengan berbisik.


"Tidak apa-apa. Hanya takut mengganggu saja."


"Kalau mengganggu, mending gak usah telpon saja." 


"Jangan ngambek Dek."


"Iya. Ada apa ?"


"Kakak gak bisa pulang sekarang."


"Iya tahu."


"Tahu ? Tahu dari mana ?" Tanya Bima heran.


"Tadi orang itu datang lagi kesini." Ucap Sahla. Lalu menceritakan kejadian tadi sore.


"Assalamualaikum. Permisi."


Wa'alaikum salam." Bu Ratih menjawab salam sambil berjalan ke arah pintu depan.


"Kamu lagi ?" Tanya Bu Ratih heran, lalu ia melihat ke sekelilingnya untuk mencari sesuatu. "Bima mana ?" 


"Maaf Bu, saya kesini tidak untuk mengantar Pak Bima pulang." Ucap Edo.


"Lalu untuk apa kamu kesini ?" Tanya Bu Ratih semakin heran. 


"Saya hanya ingin mengabarkan bahwa Pak Bima tidak bisa pulang dalam beberapa hari. Dan…". 


"Apa ? Tunggu sebentar. Eh… silahkan duduk." Bu Ratih memotong ucapan Edo, lalu masuk ke dalam rumahnya. Edo pun duduk di kursi teras depan. 


Dan tak berapa lama, Bu Ratih keluar bersama Sahla.


"Ada apa Pak ?" Tanya Sahla. Lalu ikut duduk di kursi sebelahnya.


"Saya kesini ingin mengabarkan bahwa Pak Bima tidak bisa pulang untuk beberapa hari." Ucap Edo.


"Kenapa ?"


"Ini sesuai perintah Tuan."


"Tuan ? Berarti itu temannya Kak Bima kan ?" Tanya Sahla dalam hati.


"Dan ini dari Tuan untuk Ibu dan Nyonya Bima." Edo mengeluarkan amplop putih yang isinya cukup tebal. "Mohon diterima." Ucap Edo sambil meletakkan amplop tersebut di atas meja. Sahla dan Bu Ratih hanya saling pandang dan terdiam saja.

__ADS_1


"Tunggu sebentar." Ucap Edo lagi. Lalu berdiri dan berjalan ke arah mobilnya. Ia membuka bagasi mobil, dan mengeluarkan beberapa barang yang sepertinya berbagai sembako.


"Tuan juga memberikan ini semua." Ucap Edo setelah meletakkan semua barang yang ia bawa. Terdapat beras 2 karung ukuran 10kg, minyak goreng, gula, dan berbagai sembako lainnya. Berikut makanan ringan dan berbagai jenis buah-buahan.


"Apa ini semua ?" Tanya Sahla.


"Ini dari Tuan untuk keluarga Pak Bima." Jawab Edo.


"Sebentar." Lalu Sahla masuk ke dalam kamarnya, ia hendak menghubungi Bima. Namun, Bima tidak kunjung mengangkat telponnya. Entah apa yang tengah dilakukan Bima, hingga sulit sekali dihubungi. Bahkan sedari siang Sahla sudah mencoba menghubungi Bima, hanya sekedar bertanya kabar, dan Bima tak sekalipun mengangkat atau membalas pesannya.


Sahla kembali keluar dengan rasa kecewa.


"Saya permisi dulu. Kalau ada kebutuhan lain, silahkan menghubungi saya." Pamit Edo, dan menyerahkan selembar kartu nama miliknya.


"Tunggu sebentar. Kenapa Tuanmu memberikan ini semua ?" Tanya Sahla penasaran.


"Maaf Nyonya, saya hanya sekedar menyampaikan apa yang diperintahkan Tuan."


"Setidaknya harus ada alasan kenapa Tuanmu memberikan ini semua ?"


"Alasannya sudah jelas, karena Pak Bima sudah membantu Tuan."


"Jika tidak ada pertanyaan lagi, saya pamit. Permisi. Assalamualaikum." Pamit Edo.


"Wa'alaikum salam." Jawab Bu Ratih dan Sahla bersamaan. Lalu menatap kepergian Edo dengan mobilnya.


"Bagaimana ini Bu ? Apa kita harus menerimanya begitu saja?" Tanya Sahla. Sahla dan Bu Ratih masih duduk di kursi teras depan sembari memandangi barang-barang pemberian temannya Bima.


"Sebaikanya kita tanyakan dulu pada Bima. Ibu takut menerimanya."


Sahla mengangguk. "Iya Bu, Sahla juga berpikir seperti itu. Tapi Kak Bima belum bisa dihubungi. Sepertinya sangat sibuk sekali." Ucap Sahla.


"Iya Bu."


Lalu keduanya bekerja sama mengangkat sembako ke dalam rumah.


"Amplopnya bagaimana Bu ?" Tanya Sahla setelah semua barang masuk ke dalam rumah. "Sepertinya ini cukup banyak isinya." Ucap Sahla sembari menimbang-nimbang amplop tersebut.


"Ibu takut membukanya Neng."


"Sama Bu, Sahla juga takut. Kita tunggu Kak Bima saja ya Bu."


"Iya Neng."


"Coba Dek hitung uangnya." Pinta Bima setelah Sahla selesai bercerita.


"Tidak apa-apa dibuka ?"


"Iya. Coba buka saja." 


"Tunggu sebentar." Sahla langsung mengambil amplop yang dimaksud di dalam lemari. Lalu kembali duduk di atas kasur. Dengan hati-hati Sahla membuka dan menghitung isinya. Terdapat uang pecahan 100.000 berjumlah 50 lembar.


"Banyak juga. Ada 5 juta Kak." Ucap Sahla.


"5 juta ?" Tanya Bima tak percaya.


"Iya. Jadi gimana Kak ?" Tanya Sahla bingung.

__ADS_1


"Coba kirim nomor Edo Dek. Nanti Kakak tanyakan dulu."


"Sebentar." Sahla mengambil kartu nama yang Edo berikan lalu membidiknya dengan kamera Hp. Setelah itu, ia kirim ke nomor Bima.


"Sudah aku kirim Kak."


"Baiklah. Kakak tutup dulu. Nanti Kakak hubungi lagi."


"Baiklah."


Lalu Bima mematikan panggilan telpon istrinya. Dan kini ia menghubungi nomor Edo yang diberikan istrinya barusan.


"Hallo, Edo. Ini Bima."


Edo terkejut karena Bima menghubunginya. "Pak Bima ? Bagaimana dia tahu nomorku ?" Tanyanya dalam hati. Namun ia teringat kartu nama yang ia berikan pada istrinya Bima.


"Iya ada perlu apa Pak ?" Tanya Edo.


"Aku ingin bicara, aku tunggu di kamar Raina."


"Baik Pak, says segera kesana."


Tak butuh waktu lama untuk tiba di kamar Raina. Suara kunci dibuka terdengar sangat jelas. Lalu muncul sosok yang ditunggu oleh Bima. 


"Kita bicara dil luar." Ucap Bima.


Lalu mereka berdua keluar kamar Raina.


"Ada apa Pak ?"


"Aku minta nomor Reno. Aku ingin bicara dengannya." Ucap Bima.


"Untuk apa Pak Bima meminta nomor Tuan ?"


"Tentu saja untuk bicara padanya."


"Anda bisa menghubunginya menggunakan ponsel saya."


"Kenapa hidupmu ribet sekali sih. Apa susahnya kamu memberikan nomornya ?"


"Maaf Pak, saya hanya menjalankan perinta saja."


"Lagi-lagi kamu sembunyi dibalik kata-kata itu." Ucap Bima ketus. "Aku sampai muak mendengarnya."


"Maafkan saya Pak Bima."


"Untuk apa Reno memberikan istriku uang dan barang-barang sembako ?"


"Untuk membalas kebaikan Pak Bima karena mau membantunya."


"Bukan untuk menebus rasa bersalahnya karena telah menahanku disini ?" 


"Maaf Pak Bima, saya tidak tahu ada alasan seperti itu."


"Cih! Kamu memang benar-benar tangan kanannya yang setia." Entah Bima memuji atau malah menyindir. Keduanya memang berbeda tipis.


Dengan kesal Bima masuk kembali ke dalam kamar. Lalu menghubungi kembali istrinya.

__ADS_1


"Hallo Dek. Kamu habiskan saja uang yang tadi Edo kirim. Nanti Kakak akan minta yang lebih banyak lagi."


__ADS_2