Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 36


__ADS_3

"Bima, kembalilah pada Raina."


"Apa?!" Bima benar-benar terkejut mendengar permintaan Reno.


Reno terdiam, hanya menatap Bima dengan penuh harap. Dan s*alnya Bima melihat Reno bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Bima, aku benar-benar memintamu untuk kembali pada Raina." Ucap Reno lagi.


Bima tersenyum sinis sembari menggelengkan kepalanya. "Kamu gila. Kamu benar-benar sudah gila." Ucap Bima lalu beranjak hendak kaluar dari gazebo.


Reno yang melihat Bima tak menanggapi permintaannya dan hendak pergi, seketika emosinya mulai memuncak.


"Bima, aku sudah meminta dengan cara yang baik. Jangan sampai aku meminta dengan cara yang kasar." Ucap Reno sambil berusaha menahan emosinya. Ia harus bersabar demi adiknya.


Mendengar perkataan Reno, Bima menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Reno kembali.


"Aku menolak permintaanmu. Terus apa yang akan kamu lakukan ? Membu*uhku ?" Bima sudah mulai terpancing emosinya. Kali ini ia tidak ingin harga dirinya terinjak-injak lagi oleh Reno.


"Kenapa ?" Tanya Reno.


"Kenapa ?" Tanya Bima heran.


"Iya, kenapa kamu tidak ingin kembali pada Raina ? Apa kamu sudah tidak mencintainya lagi ? Apa wanita itu benar-benar sudah menggantikan adikku di hatimu ?" Reno bertubi-tubi memberikan pertanyaan pada Bima.


"Bukankah ini yang kamu mau ? Aku melakukannya atas permintaanmu." 


Reno mengernyitkan dahinya, "apa maksudmu ?"


"Jangan pura-pura lupa Reno. Bukankah kamu yang memintaku mencari wanita lain untuk aku nikahi ? Dan aku melakukannya. Aku menikah dengan wanita yang sudah membuatku jatuh cinta kembali dan bisa melupakan adikmu."


"Semudah itu kamu melupakan adikku ?" 


Kali ini Bima benar-benar kesal dengan pertanyaan Reno. Pertanyaannya membuat Bima merasa tersudutkan.

__ADS_1


Bima memejamkan matanya, menahan emosi yang mulai menguasai dirinya. 


"Apa yang kamu inginkan dariku ?" Tanya Bima lagi.


"Bukankah sudah kukatakan tadi? Aku ingin kamu kembali pada Raina."


"Aku sudah menikah, dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."


"Iya, aku tahu. Tapi aku tetap ingin kamu kembali pada Raina."


"Aku akan melakukan apapun, tapi tidak untuk yang itu."


"Aku juga akan melakukan apapun untuk kebahagiaan adikku."


Bima menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Reno. "Walau bagaimanapun, aku tidak akan pernah kembali pada adikmu." Lalu Bima pergi meninggalkan Reno.


Reno terdiam melihat Bima pergi. Namun ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk menghentikan Bima. Dan benar saja, kini Bima sudah dalam genggaman kedua anak buah Reno. Bima mencoba memberontak, melepaskan diri dari cekalan anak buah Reno. Namun usahanya sia-sia, kekuatannya kalah jauh dengan kedua orang tersebut.


Reno berjalan menghampiri Bima. "Sudah kukatakan, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan adikku."


"Pikirkanlah baik-baik, selagi aku masih berbaik hati padamu. Jangan sampai aku berbuat nekad."


"Apa yang akan kamu lakukan ? Jangan pernah menyentuh keluargaku!" 


Reno tersenyum, "semua itu tergantung padamu."


"Bre**sek kamu Reno!" 


Reno mendekati Bima, dan berbisik. "Kamu tahu Raina adalah segalanya buatku. Dan aku bisa melakukan apapun untuk kebahagiaannya, meski harus mengorbankan harga diriku."


"Kenapa dulu kamu memisahkan kami ? Padahal kamu tahu kami saling mencintai."


"Itulah keputusan yang sangat aku sesali. Maka dari itu, aku ingin menebus kesalahanku dengan menyatukan kalian kembali."

__ADS_1


"Keadaannya sudah tak sama lagi Reno. Tolong mengertilah! Aku dan adikmu tidak bisa bersama lagi."


"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar penolakan lagi darimu. Bawa dia!" Reno menyuruh kedua anak buahnya membawa Bima ke sebuah ruangan. Ia sudah tidak tahan mendengar ocehan dari Bima. Lalu ia pun pergi ke ruang kerjanya.


Mereka membawa Bima ke sebuah kamar. Lalu mengurungnya di sana. Bima mencoba menggedor-gedor pintu, berharap seseorang menolongnya. Dan tentu saja itu hal yang mustahil. Bima mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sangat berantakan. Segala benda yang ada di kamar tak pada tempatnya. Seperti ada seseorang yang telah mengobrak-abrik isi kamar tersebut. 


Kemudian Bima mencoba berjalan perlahan, memindai setiap inci kamar tersebut. Dan betapa terkejutnya Bima, ada sepasang kaki yang menjuntai ke bawah dari atas tempat tidur. Dari badan hingga kepala tertutup selimut.


Bima perlahan mendekat. Penasaran, siapa orang yang ada di balik selimut ? Dan yang paling membuat Bima heran, kenapa mereka membawanya ke kamar yang sudah berpenghuni ? Kenapa tidak mengurungnya di ruangan yang gelap dan sempit ?


Bima menyingkap selimut tersebut. Dan saking kagetnya ia menjatuhkan kembali selimut tersebut. Jantungnya seketika berdetak kencang. 


"Raina ? Apa dia benar-benar Raina ?" Tanya Bima pada dirinya sendiri.


Perlahan, Bima kembali menyingkap selimut tersebut. Dan benar, ternyata Raina yang ada di balik selimut tersebut.


Bima menatap Raina. Ada sedikit kerinduan di matanya. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Lalu Bima mengangkat kaki Raina, membetulkan posisi tidurnya. Tak lupa ia menyelimuti kembali tubuh Raina. Lalu sedikit merapikan rambutnya yang sedari tadi menutupi wajahnya. Raina begitu terlelap, tidak terganggu dengan apa yang dilakukan Bima.


"Raina, apa yang telah terjadi padamu ? Sebegitu menyakitkannyakah perpisahan kita ? Kenapa tubuhmu begitu kurus ? Dan wajahmu ?" Bima menghentikan ucapannya, ia tidak sanggup lagi mengamati wajah Raina dengan kantung hitam yang menghiasi matanya. 


Tiba-tiba saja rasa bersalah menghinggapi hatinya melihat kondisi Raina seperti itu. 


"Andai dulu aku teguh mempertahankanmu, mungkin kamu tidak akan seperti ini."


"Tidak, tidak! Ini semua bukan salahku. Semua salah kakakmu. Iya, salah kakakmu."


Bima menghela nafas panjang. Mencoba melapangkan hatinya yang begitu sesak melihat kondisi Raina.


"Apa rencanamu Reno ? Kenapa kamu membawaku pada Raina ?" Gumam Bima.


Tak mau larut dalam pertanyaan yang tak ia ketahui jawabannya, Bima mulai memungut satu persatu barang-barang yang tergelatak begitu saja. Butuh waktu lama dan menguras cukup energi untuk membereskan kamar tersebut.


Bima kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, menilai hasil usahanya membereskan kamar. "Lumayan." Ucapnya. Bima kemudian duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Tanpa sadar, Bima menatap Raina begitu dalam. Perasaannya kini sudah tak seperti dulu lagi. Tidak ada rasa cinta, kini yang ada hanya rasa bersalah dan kasihan.

__ADS_1


"Bima, benarkah sudah hilang rasa cintamu pada adikku ?" Gumam Reno di meja kerjanya. Ia terus fokus pada layar komputer yang sedang menampilkan Bima yang tengah duduk memperhatikan Raina. Bima tidak tahu, di kamar tersebut ada cctv. Sengaja Reno memasangnya, agar bisa memantau pergerakkan adiknya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada adiknya yang tengah mengalami depresi setelah dipisahkan dari Bima. Bahkan ia sempat kabur mencari keberadaan Bima. Karena Raina ditemukan di kampung halaman Bima. Tapi, entah apa yang dialaminya lagi hingga depresinya semakin parah.


Hingga akhirnya, Reno mengalah. Ia redam harga dirinya yang begitu tinggi, dan meminta Bima untuk kembali pada adiknya. Ia berharap dengan membawa Bima, Raina bisa pulih kembali


__ADS_2