Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 35


__ADS_3

Motor yang dikendarai Bima berjalan cukup kencang. Bima yang duduk di belakang, harus berpegangan agar tak terjatuh. Cukup jauh perjalanan menuju ke tempat tujuan, yang Bima sendiri tidak tahu tempatnya. Bertanya pun tak pernah mendapatkan jawabannya, mereka menjalankan tugas tanpa banyak bicara.


Kedua motor yang membawa Bima telah meninggalkan perkampungan, dan kini mereka berjalan memasuki hutan, namun akses jalannya sangat bagus. Bima sendiri merasa takjub dengan pemandangannya. Seperti berjalan membelah hutan. Ia belum pernah ke daerah tersebut. Dan akhirnya mereka berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah yang dikelilingi pagar tembok yang tinggi. Hanya ada satu rumah saja. Selebihnya pohon-pohon yang menjadi tetangga rumah itu.


Tak butuh waktu lama, tiba-tiba saja pagar besi yang menjulang tinggi terbuka, dan tanpa aba-aba kami pun masuk dengan masih mengendarai motor. Bima memindai ke sekelilingnya, halaman yang begitu luas dan indah, sangat terawat. Bima penasaran siapa pemilik rumah ini. 


"Silahkan, anda boleh turun dari motor." Bima tersentak, ia tak menyadari bahwa ia sudah sampai di pintu depan rumah tersebut.


Bima dengan cepat menguasai dirinya lagi. "Baik," ucap Bima lalu turun dari motor tersebut.


"Mari, ikut saya." Ucap salah satu dari mereka.


Bima menurut, ia mengikuti mereka dari belakang. Masuk ke dalam rumah yang besarnya berkali-kali lipat dari rumahnya. Bima memandang takjub kepada rumah itu. Tak banyak perabotan yang terpajang, hanya lukisan dan guci yang menjadi penghias ruangan. Ditambah dengan cat yang serba putih, membuat ruangan terlihat lebih lapang.


Beberapa ruangan telah mereka lewati, hingga mereka kini sudah berada di belakang rumah. Bima begitu takjub dengan halaman depan rumah yang luas, dan sekarang dibuat lebih takjub lagi dengan bagian belakang rumah yang luasnya melebihi halaman depan.


Lalu mereka membawa Bima ke gazebo yang berada tepat di tengah taman belakang tersebut. Gazebo tersebut berada di tengah kolam ikan. 


"Siapa dia?" Tanya Bima dalam hati sembari memperhatikan sosok laki-laki yang sedang memberi makan ikan di gazebo tersebut.


"Tuan. Kami sudah datang." Ucap laki-laki yang sedari tadi memimpin perjalanan mereka. Laki-laki itu menghentikan tangannya dan membalikkan tubuhnya. Dan kini tepat berhadapan dengan Bima.


Melihat sosok laki-laki itu, Bima sangat terkejut. Seorang laki-laki yang menjadi penyebab Bima pulang ke kampung halamannya.


"Reno!" Ucap Bima. "Kenapa dia ada disini ?" Tanya Bima dalam hati. 


"Tinggalkan kami berdua." Titahnya pada anak buah yang membawa Bima.


Lalu kedua orang tersebut pun pergi meninggalkan Bima dan Reno.


"Makanlah, aku tahu kamu belum makan sama sekali." Reno menyuruh Bima untuk makan. Dan tidak Bima pungkiri, dirinya memang sedang merasa lapar. Namun ia tidak menurut begitu saja, ada hal yang aneh dalam diri Reno yang sedang berada di depannya saat ini. Seperti bukan Reno yang ia kenal. Bima benar-benar merasa heran.


"Tidak usah sungkan. Duduk dan makanlah. Aku tidak ingin tamuku pingsan karena kelaparan. Padahal disini banyak makanan yang tersaji." Lanjutnya, lalu menarik kursi dan duduk.


Bima masih terdiam. Ia tidak memikirkan perutnya yang sedari tadi berbunyi minta diisi. Pikirannya hanya terfokus pada sosok yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Aku lapar. Dan aku sengaja menunggumu agar bisa makan bersama." Ucap Reno lagi. 


Akhirnya Bima menurut, rasa laparnya menyadarkannya untuk segera makan. Bima menarik kursi dan duduk tepat di depan Reno.


Reno tersenyum melihat Bima sudah duduk. Lalu mereka makan dalam diam.


Setelah melihat Bima sudah selesai dengan makannya, dan dirinya pun sudah selesai. Reno memberikan kode kepada pelayannya yang berada di teras belakang rumah.


Melihat kode dari tuannya, dua orang pelayan perempuan datang dengan setengah berlari. Dan tanpa menunggu perintah lagi, mereka dengan sigap membereskan meja tempat makan Bima dan tuannya. Setelah beres, mereka pun pergi meninggalkan Bima dan tuan mereka berdua.


Bima dan Reno masih berada di tempatnya masing-masing.


"Kenapa kamu ada disini ?" Tanya Bima memulai pembicaraan. 


"Ini villa milikku." 


Jawaban yang diberikan Reno, membuat Bima seperti orang bodoh. Tentu saja ini miliknya, dan ia berhak tinggal disini. 


Bima menghela nafas, mencoba menepiskan kejengkelannya atas jawaban Reno barusan.


"Lalu… Raina ?" Lanjut Bima bertanya dengan terbata.


"Kamu tahu ? Aku belum pernah menyesal setiap keputusan yang kuambil, walaupun hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi kali ini, aku benar-benar menyesal dengan keputusanku sendiri."


Bima terdiam, menelaah apa maksud dari perkataan Reno. Apa ada kaitannya dengannya dan Raina?


"Raina sakit." Lanjut Reno. Wajahnya terlihat begitu sedih. Tentu saja ia akan sedih, jika terjadi apa-apa pada adik kesayangannya.


"Raina sakit ?" Tanya Bima dalam hati.


"Lalu, kenapa orang suruhanmu memaksaku untuk ikut ke sini ?"


Reno tersenyum tipis. "Aku minta maaf, kalau anak buahku sedikit kasar."


Reno menatap Bima yang tak menanggapi perminta maafannya. Ia tahu, bahwa bukan itu jawaban yang dinanti Bima.

__ADS_1


"Tentu kamu tahu betapa sayangnya aku pada Raina. Akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaannya."


Bima masih terdiam, terus memperhatikan Reno. Terlihat jelas kesedihan tergambar di matanya.


Reno berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati kolam. Menatap ke atas langit dan memejamkan matanya sesaat. 


Bima terkejut dengan sikap Reno. Tak seperti Reno yang ia kenal. Angkuh dan arogan. Tapi kini, Bima melihat sisi Reno yang berbeda. Begitu rapuh. Apa terjadi sesuatu yang buruk pada Raina ? 


"Ada apa dengan Raina ?" Tanya Bima.


Reno masih terdiam, tak menjawab pertanyaan dari Bima. Dan Bima semakin penasaran.


"Apa terjadi sesuatu pada Raina ?" Bima bertanya kembali pada Reno, kali ini dengan nada sedikit tinggi.


Reno masih belum mau menjawabnya.


Bima yang sudah tidak sabar langsung berdiri dan menggebrak meja.


"Brak!"


"Reno! Jawablah pertanyaanku! Ada apa dengan Raina ?"


Gebrakan Bima berhasil mengalihkan perhatian Reno padanya. 


"Raina sakit, dan ia sakit karena ulahku. Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan kepadanya, tapi aku malah memberikan penderitaan kepadanya."


"Jangan berbelit-belit. Sungguh aku tidak mengerti apa yang kamu ucapkan." Bima tidak ingin menebak-nebak arah pembicaraan Reno.


"Seandainya dulu aku merestui kalian. Mungkin sekarang Raina sedang berbahagia dengan keluarga kecilnya, mungkin ia juga sedang mengandung, sama seperti istrimu."


Bima sedikit terkejut Reno tahu dengan pernikahannya. Namun, Bima dengan cepat menguasai dirinya. Tentu saja sangat mudah bagi Reno untuk mendapatkan informasi tentang apapun. 


"Jadi sekarang apa masalahnya ? Kita sudah tidak punya hubungan apapun. Dan semua yang terjadi pada Raina sekarang, tidak ada hubungannya denganku." Ucap Bima.


"Tidak Bima, tidak ada yang menyalahkanmu. Semua yang terjadi karena salahku. Semua salahku."

__ADS_1


"Jadi untuk apa kamu mau bertemu denganku ?"


"Bima, kembalilah pada Raina."


__ADS_2