
Marisa 9
Bima melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ia akan pergi ke warung untuk menemui Ari. Namun ternyata warungnya tutup.
"Kenapa warungnya tutup ? Kemana Ari ?" Batin Bima.
Bima mengambil Hpnya di dalam tas, lalu menghubungi Ari. Dan lagi-lagi Bima dibuat kecewa, karena Ari tak bisa dihubungi.
Akhirnya Bima kembali menaiki motornya, ia putuskan untuk pulang.
"Assalamualaikum." Bima memberi salam saat dirinya masuk kedalam rumah. Tak terdengar satu suara pun yang membalas salamnya. Namun ia tak mempermasalahkannya. Pikirannya sudah sangat stress dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Bima masuk ke kamarnya dan berbaring begitu saja. Tanpa melepaskan jaket dan tasnya berlebih dahulu. Bima menutup matanya dengan tangannya. Wajah istrinya terus membayanginya. Dan rasa bersalah semakin menumpuk. Jika bisa, ingin rasanya ia memutar waktu. Kembali ke waktu dimana ia pergi ke acara reuni. Ia tidak akan goyah oleh ajakan Ari untuk menghadiri reuni tersebut. Andai saja, dulu ia tak masuk dan memilih untuk pergi saja. Mungkin tidak akan berakhir seperti ini. Namun itu hanya angan-angan saja. Kin ia harus menghadapi dan menyelesaikan masalahnya secepat mungkin. Agar ia cepat berkumpul kembali dengan istrinya.
"Wa'alaikum salam." Jawab Bu Ratih pelan, saat mendengar Bima mengucapkan salam. Ia tak beranjak sama sekali dari duduknya. Sekembalinya dari rumah Sahla, Bu Ratih mengurung diri di kamar. Ia menumpahkan segala sesak yang ia rasa. Hatinya ingin menyangkal semua perbuatan yang Bima lakukan. "Nak! Apa benar kamu berbuat hina seperti itu ?" Batinnya.
Cukup lama keduanya berada di kamar. Bahkan perut yang lapar pun mereka abaikan. Mereka begitu larut dalam pikiran masing-masing.
Bu Ratih menghela nafas panjang. "Aku tidak boleh berdiam diri terus. Ratih! Ayo kuatkan dirimu. Bima adalah anakmu. Pasti ada alasan dibalik perbuatannya." Batin Bu Ratih, menyemangati dirinya sendiri. Sekali lagi, ia menghela nafas yang panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
Lalu Bu Ratih keluar kamar menuju kamar Bima.
"Bima, ini Ibu." Ucapnya sambil membuka pintu. Mendengar suara Ibunya, Bima seketika bangun dari posisi tidurnya.
"Iya, Bu." Ucap Bima pelan sambil melepaskan tas jaketnya.
Bu Ratih menghampiri Bima dan duduk di sebelahnya.
"Ibu hanya ingin bertanya sekali, maka jawablah dengan jujur."
Bima sedikit terkejut, ia merasa akan segera diinterogasi oleh Ibunya.
"Bisa ?" Lanjut Bu Ratih. Bima hanya mengangguk pelan.
"Baiklah. Sahla sudah memberitahu Ibu, mengapa ia sampai pergi dari rumah."
Bima tercengang mendengar pengakuan Ibunya.
"Ibu tidak akan menghakimimu sebelum kamu mengakuinya secara sadar."
"Jadi, apa benar tadi malam kamu telah berbuat z**a ?"
__ADS_1
Bima menunduk, tak berani menatap Ibunya. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Sementara Bu Ratih, sudah tak bisa lagi membendung air matanya, apalagi Bima tak kunjung menjawab.
"Jika kamu tak mau menjawab, Ibu anggap diammu itu sebagai jawaban iya."
Buma tak bisa mengelak, memang itu kenyataannya.
"Kenapa ?" Tanya Bu Ratih lagi.
Bima menggeleng. "Entahlah Bu, Bima juga tidak tahu."
"Bukankan butuh alasan yang kuat jika kamu mau melakukan perbuatan yang sehina itu ?"
"Alasan ?" Tanya Bima dengan suara pelan. Bima merasa bingung sendiri. "Bu, Bima memang benar melakukannya, tapi itu diluar kontrol Bima."
"Maksudnya ?"
Bima turun dari tempat tidur, lalu jongkok di hadapan Ibunya. Bima memegang tangan Ibunya. " Bu, tolong percaya sekali lagi sama Bima. Bima tak sengaja melakukannya."
Bu Ratih terdiam.
"Bima tahu, Ibu pasti kecewa sama Bima. Tapi Bima benar-benar tak sengaja melakukannya. Bima dijebak, Bu."
"Kemarin kamu juga bilang dijebak ?"
"Bima benar-benar dijebak, Bu." Bima menunduk lalu menangis sesenggukan dengan kepala bersandar dipangkuan Ibunya.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu, Nak ?"
Bima mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Tidak pernah terlintas sedikitpun di pikiran Bima, untuk selingkuh. Apalagi berbuat itu dengan wanita lain."
"Jika benar kamu dijebak, siapa yang menjebakmu dan kenapa ?"
"Bima belum mencari tahu, Bu. Cuma ada satu orang yang Bima duga."
"Siapa ?"
"Teman sekolah Bima yang sekarang bekerja di warung."
"Teman ?" Tanya Bu Ratih memastikan. Dan seketika ia teringat lelaki yang tadi pagi bertemu di rumah Sahla.
"Oh iya, Ibu baru ingat. Tadi saat Ibu ke rumah Sahla, ada laki-laki yang sedang bertamu. Kira-kira seumuran denganmu. Dan Ibu dengar dia menjelek-jelekanmu."
"Siapa Bu ?"
"Entahlah, Ibu tidak mengenalnya. Sepertinya dia tidak menyukaimu."
__ADS_1
"Siapa yang bertamu ke rumah sahla ? Siapa yang membenciku ?" Tanya Bima dalam hati.
"Bim, masalah video itu. Siapa yang mengirimnya ke istrimu ?"
Tiba-tiba saja Bima seperti tersentak. "Iya betul! Video. Kenapa aku tak kepikiran kesana ?" Batinnya.
"Bim, Bima ?" Bu Ratih merasa heran karena tingkah Bima yang terlihat kaget.
"Bentar Bu. Ada yang harus Bima lakukan dulu." Lalu Bima bangkit dan meraih telepon selular milik Sahla. Ia membuka aplikasi pesan berwarna hijau. Bima membuka pesan yang berisi video tersebut. Lalu mencocokan nomor pengirimnya dengan nomor temannya, Ari.
"Hmm. Tidak sama." Lalu Bima mencoba membuat panggilan ke nomor tersebut. Dan berhasil memanggil. Tapi, Bima tak meneruskan panggilannya. Karena ia hanya memastikan apakah nomor tersebut aktif atau tidak. Lalu Bima mengetikan sesuatu dan mengirimnya ke nomor tersebut.
Aku ingin bertemu denganmu. Datanglah ke rumah orang tuaku malam ini. Sahla.
Begitulah pesan yang dikirim Bima untuk nomor tersebut. Sengaja ia menggunakan nama istrinya, agar ia datang.
"Bu, doakan Bima. Doakan masalah ini biar cepat selesai. Agar kita bisa berkumpul lagi seperti dulu."
"Tanpa diminta pun, Ibu akan mendoakanmu."
"Terima kasih, Bu. Ibu sudah mau percaya pada Bima."
"Tentu saja. Ibu tahu kamu tidak akan melakukannya dengan sengaja."
Bima memeluk erat Ibunya. Merasa haru, karena sumber kekuatannya selalu ada untuknya. Tidak terpengaruh dengan faktor luar.
Malam tiba, selepas Isya, Bima tengah bersiap pergi keluar.
"Bu, Bima keluar dulu. Ada sesuatu yang harus Bima lakukan." Pamitnya.
"Tidak pakai motor ?" Tanya Bu Ratih heran.
"Dekat, Bu. Jalan kaki sebentar juga sampai."
Bu Ratih mengernyitkan dahi dan menatap tajam anaknya. "Mau menemui Sahal ?" Selidiknya.
Bima agak terkejut, tak menyangka Ibunya bisa menebak. Namun dengan cepat, Bima menguasai diri, agar tak terlihat gugup karena harus berbohong. "Tentu saja tidak, Bu. Bima mau ada perlu sebentar saja."
"Awas ya! kalau kamu diam-diam ke rumah Sahla. Biarkan dia tenang dulu. Kasian dia, lagi hamil malah mendapatkan masalah sebesar ini."
Raut wajah Bima seketika berubah sendu. "Baik, Bu." Jawabnya.
"Baiklah. Hati-hati, jangan gegabah lagi."
"Iya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam."