
"Dek!"
Sahla keluar dari kamarnya. Dengan masih terisak, ia menghambur ke pelukan Bu Ratih. Bu Ratih mengusap lembut punggung Sahla.
"Duduk dulu ya, Neng. Kita bicarakan baik-baik, apa sebenarnya yang terjadi di antara kalian." Bu Ratih memapah Sahla ke ruang tengah.
"Bima, ambilkan air hangat untuk minum Neng Sahla." Titah Bu Ratih. Bima langsung ke dapur, dan kembali dengan segelas air hangat di tangannya. Lalu menyerahkan pada Ibunya.
"Minum dulu, ya." Sahla menurut. Ia minum walaupun hanya seteguk saja. Kini Sahla terlihat agak tenang, namun sesekali ia masih terisak.
"Sekarang ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Bu Ratih.
Baik Bima dan Sahla masih terdiam. Bima bingung harus menceritakannya bagaimana. Sedangkan Sahla tidak ingin berkata apa-apa sebelum suaminya menjelaskan semuanya.
"Bima?"
Bima menelan ludah. Ia benar-benar bingung.
"Neng?"
"Sebaiknya Ibu bertanya pada anak Ibu, apa yang telah ia lakukan tadi malam." Sahla menjawab dengan terisak.
Bu Ratih semakin penasaran. "Bima?" Tanya Bu Ratih dengan menatap Bima tajam.
Sekali lagi Bima menelan ludahnya. Ia tidak siap menceritakan yang sebenarnya pada Bu Ratih. Ia hanya ingin menjelaskan pada istrinya saja. Tapi ternyata situasinya tidak seperti yang ia inginkan.
Bima langsung bersimpuh di hadapan kedua wanita tersebut. Yang sontak membuat Sahla dan Bu Ratih saling pandang. Lalu menggenggam tangan istri dan ibunya.
"Dek, Bu. Sungguh Bima sendiri tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Bima dijebak."
Bu Ratih mengernyitkan dahi, ia masih tidak paham apa yang dibicarakan anaknya. "Dijebak apa Bima ?" Tanya Bu Ratih.
Bima menghela nafas, lalu ia menceritakan semua kejadian yang menimpanya tadi malam. Yang dimulai dari acara reuni hingga sebuah foto yang tidak pantas yang terkirim ke nomor istrinya.
Bu Ratih sangat terkejut mendengar penuturan Bima. "Astaghfirullah!" Bu Ratih beristighfar beberapa kali sembari tangannya mengusap dada.
"Bu… Ibu tidak apa-apa ?" Tanya Sahla.
"Bima… kamu benar tidak melakukan apa-apa sama perempuan itu ?" Tanya Bu Ratih yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sampai-sampai menghiraukan pertanyaan dari menantunya.
"Bima yakin Bu, karna Bima tak ingat sama sekali kejadiannya setelah minum."
__ADS_1
"Dek, Bu. Kalian percaya kan sama Bima ?"
Sahla dan Bu Ratih saling pandang. Tentu saja mereka ingin mempercayai perkataan Bima, tapi masih ada keraguan di hati mereka.
"Tolong Bima. Tolong percaya sama Bima."
"Aku percaya, Kakak tidak mungkin berbuat seperti itu." Ucap Sahla, hati dan pikirannya mengharuskannya percaya pada Bima. Karena memang selama pernikahan mereka sampai saat ini, Bima menjadi suami yang baik yang benar-benar sesuai dengan yang diidamkannya.
"Ibu juga percaya, Nak. Kamu anak baik, tidak mungkin berbuat hina seperti itu."
Bima sangat lega mendengar penuturan dari kedua wanitanya. "Terima kasih Dek, Bu." Ucap Bima, lalu mengecup tangan mereka bergantian. Kepercayaan mereka menjadi kekuatan bagi Bima, sehingga ia pun bisa mempercayai keyakinannya sendiri, bahwa ia tidak berbuat dengan Marisa.
"Kak, kenapa Marisa berbuat seperti itu kepadamu ? Padahal kalian baru dipertemukan kembali ?" Tanya Sahla.
"Itu juga yang menjadi pertanyaanku, Dek. Untuk apa dia melakukan itu semua ?" Bima menyandarkan kepalanya di pangkuan Sahla. Otomatis Sahla mengusap kepala Bima.
"Apa dulu Kakak pernah menyakitinya hingga ia dendam ?"
Bima terdiam, menerawang jauh ke masa sekolahnya dulu. Lalu mengangkat kepalanya dan menatap Sahla. "Sepertinya tidak. Walaupun Kakak bukan siswa teladan, tapi tidak pernah membully orang lain. Ya, paling hanya menjadi penonton saja."
Sahla merengut mendengar perkataan Bima. "Jangan cemberut gitu, Dek. Wajarlah kenakalan masa remaja. Ya kan Bu ?" Bima meminta pembelaan pada Ibunya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.
Bu Ratih hanya tersenyum saja dan mengangguk. Lalu mengusap lembut kepala Bima. "Kamu anak yang baik bagi Ibu." Tanpa terasa air mata jatuh begitu saja dari mata Bu Ratih.
"Bima, kamu anak Ibu yang baik. Ibu yakin kamu tidak berbuat seperti itu."
"Iya Bu, Bima anak Ibu yang baik. Bima akan buktikan bahwa Bima tidak berbuat seperti itu."
Sekali lagi Bu Ratih mengangguk. "Ibu percaya, andaikan tak ada bukti pun, Ibu akan selalu percaya padamu."
Mereka bertiga hanyut dalam air mata kesedihan. Masih tak menyangka, kenapa terjadi begitu tiba-tiba dan tak terduga sama sekali.
Malam hari, tepat pukul 8.00. Bima tengah bersiap untuk keluar, setelah seharian beristirahat dan memikirkan langkah yang akan ia ambil untuk mencari kebenaran peristiwa yang sedang ia alami.
"Kak, kenapa harus malam-malam sih ?" Tanya Sahla yang terlihat tidak mengijinkan Bima pergi.
"Kalau siang gak ada orangnya, Dek."
"Kata siapa ?"
"Dia kerja, pulangnya sore."
__ADS_1
Sahla terdiam tak menyahut lagi. Namun masih memasang wajah cemberut. Bima memeluk Sahla. "Aku akan selesaikan masalah ini secepat mungkin."
"Baiklah. Tapi ingat, jangan minum atau makan dari pemberian wanita itu."
"Baik, Nyonya Bima. Percayalah padaku, karena kepercayaanmu adalah sumber kekuatanku."
Sahla tertawa geli mendengar perkataan Bima. Lalu Bima pun mencium kening Sahla sebelum keluar pergi.
Dengan mengendarai sepeda motor. Bima melaju menembus pekatnya malam yang dingin. Agak sedikit gerimis. Namun tak menyurutkan tekad Bima untuk mencari tahu kebenarannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah yang tiba-tiba saja menimpanya. Tanpa ia duga, tanpa ia sangka.
Suasananya sangat sepi ketika Bima tiba rumah Marisa. Namun ada sebuah sepeda motor yang terparkir di depan rumah Marisa. Dan Bima sangat mengenali pemilik motor tersebut.
"Bukannya motor ini milik Ari ? Sedang apa Ari di sini?" Tanya Bima terheran-heran.
Dan benar saja, Ari dan Marisa berhambur keluar karena mendengar suara motor yang berhenti tepat di depan rumah Marisa.
Marisa tersenyum senang saat tahu yang datang adalah Bima. Ia tak menyangka Bima akan datang menemuinya secepat ini. Sementara Ari, terlihat terkejut dengan kedatangan Bima.
"Bima." Sapa Ari ketika Bima menghampiri mereka berdua. "Ada perlu apa datang kesini ?" Tanyanya lagi.
"Aku ada perlu penting sama Marisa." Jawab Bima.
Marisa tersenyum terus, terlihat sekali ia sangat senang dengan kedatangan Bima.
"Aku senang, akhirnya kamu kembali lagi ke rumahku." Sambut Marisa. "Masuklah." Marisa mempersilahkan Bima untuk masuk. Marisa masuk terlebih dahulu diikuti Ari di belakangnya. Sementara Bima agak sedikit ragu untuk masuk. Tentu saja karena kehadiran Ari. Ia tidak ingin, masalahnya diketahui oleh temannya tersebut.
"Jangan sungkan begitu. Masuklah." Sekali lagi Marisa mengajak Bima untuk masuk, karena Bima masih tak beranjak. Bima pun akhirnya memaksakan diri untuk masuk, sudah kepalang tanggung juga ia datang ke rumah Marisa. Dan tak mungkin langsung pulang kembali tanpa hasil apa pun.
"Mau minum apa?" Tanya Marisa.
"Tidak usah, tak perlu repot-repot." Tolak Bima.
"Baiklah. Aku tidak akan menyuguhkan apapun untukmu."
"Benar, lebih baik seperti itu."
"Ehem. Bagaimana kalau aku yang traktir minum. Kalian tunggu di sini. Aku akan keluar untuk membeli minum." Tanpa menunggu jawaban dari Marisa dan Bima, Ari beranjak keluar. Entah kemana ia akan pergi membeli minuman.
Kini tinggal Bima dan Marisa. Tak menunggu lagi, Bima mengambil kesempatan itu untuk memulai bertanya pada Marisa tentang kejadian malam kemarin.
"Aku tidak akan berbasa basi, dan tentunya kamu sendiri bisa menebak maksud dari kedatanganku kali ini." Ucap Bima dingin.
__ADS_1
Marisa tersenyum dan mengangguk. "Apakah kamu merindukanku ?"