Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 32


__ADS_3

Bima duduk di teras rumah, setelah kepergian Marisa. Ia telah melupakan sesuatu yang sebenarnya harus segera ia luruskan. Pikirannya sedang tak berjalan dengan baik setelah masalah datang secara bertubi-tubi. 


"Bima…" panggil Bu Ratih.


Bima menoleh kepada Ibunya yang ternyata sudah ada di sampingnya. Ia benar-benar tak menyadari kedatangannya.


Bu Ratih lalu duduk di samping Bima. "Wanita itu siapa ?" 


"Marisa. Teman SMA dulu."


Bu Ratih mengangguk. "Ada perlu apa dia datang malam-malam begini ?" 


Bima terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan Ibunya. Ia bingung apa harus menceritakannya atau tidak pada Ibunya. 


"Hanya kebetulan lewat saja, Bu."


Bu Ratih tahu Bima sedang berbohong. Tapi ia tidak akan memaksa untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Baiklah. Sekarang lebih baik kamu masuk dan bujuk istrimu untuk keluar kamar. Ia sedang mengunci diri di kamar." Bu Ratih lalu bangkit dan kembali masuk ke dalam rumah.


Bima menyugar rambutnya. Menahan kekesalannya. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting, yaitu istrinya sendiri. 


"Bagaimana aku bisa lupa Sahla sedang ada disini ?" Gumamnya pelan. Lalu ia pun bangkit dan masuk ke dalam rumah.


Terlihat kedua Ibunya sedang duduk di depan televisi yang sedang tidak dinyalakan. Bima hanya melirik mereka sekilas tanpa ingin menegurnya. 


"Dek! Buka pintunya." Bima mencoba membujuk istrinya. Namun tak mendapatkan respon dari dalam.


Bima mencoba beberapa kali membujuknya, namun hasilnya tetap sama. Sahla tak kunjung keluar dari kamarnya. Bima kemudian duduk bersama kedua Ibunya.


"Biarkan saja dulu, Bu. Biarkan amarahnya mereda dulu." Ucap Bima.


"Kamu yang sabar ya menghadapi anak Ibu." Ucap Bu Marni merasa iba terhadap menantunya.


"Iya Bu. Sahla begini juga karena ulah Bima."


"Itu kecelakaan Bima. Kita gak ada yang tahu bakal ada kejadian seperti ini. Jadi jangan salahkan dirimu."


"Baik, Bu. Terima kasih sudah mau percaya sama Bima.


"Tentu saja Ibu percaya sama kamu. Ibu tahu kamu tidak akan macam-macam orangnya."


Bima hanya tersenyum. Dalam hatinya ia sangat bersyukur mendapatkan mertua yang sangat baik. Bisa menghadapi masalah dengan hati dan pikiran yang tenang. Tidak mengedepankan emosi yang sesaat.


"Ya sudah, kamu tidur di kamar Ibu saja." Ucap Bu Ratih.


Bima menggeleng. "Nanti Ibu tidur dimana ?"


"Ibu sama mertuamu tidur disini saja."


"Kalau begitu Bima juga tidur disini saja."


"Kamu lagi sakit, Nak. Tak baik tidur di luar."


"Nggak apa-apa Bu, sambil nunggu Sahla keluar."


"Ya sudah kalau kamu maunya begitu."


"Ibu aja berdua tidur di kamar."

__ADS_1


"Ya nggak lah, Ibu mana tega tidur di kamar sementara kamu yang lagi sakit malah tidur di luar."


Bima mengangguk dan tersenyum saja.


"Ya sudah biar ibu gelar kasurnya dulu."


Setelah semuanya rapi. Bima dan kedua Ibunya berbaring. Bu Ratih mengambil tempat di antara Bima dan Bu Marni.


"Mar, kamu beneran mau tidur di sini ?" Bu Marni hanya mengangguk.


"Suami kamu gimana ?"


"Tidak masalah. Jangan terlalu menghiraukan dirinya. Tadi aku sudah mengirim pesan kepadanya."


"Ya sudah."


Mereka bertiga pun tertidur. Dan tepat pada tengah malam. Pintu kamar yang ditempati Sahla terbuka. Dari tadi ia sudah menahan rasa hausnya. Ia keluar menunggu suami dan kedua Ibunya tertidur. Ia malu untuk keluar dan bertemu mereka.


Sahla membuka kamar perlahan-lahan, agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan mereka.


Lalu ia menyembulkan kepalanya keluar, mengamati keadaan di luar kamarnya. Aman. Ia melihat suami dan kedua Ibunya sudah terlelap. Lalu, Sahla keluar dan berjalan ke dapur dengan perlahan.


"Alhamdulillah." Sahla mengucap syukur setelah menghabiskan segelas besar air putih.


"Dek!"


Sontak Sahla terkejut dengan suara panggilan tersebut. "Kakak! Bikin kaget aja." Ucap Sahla sambil mengelus dadanya.


"Lagi apa ?" Tanya Bima sambil menghampiri Sahla yang sedang duduk di meja makan.


"Minum." Jawab Sahla dengan sedikit ketus.


"Sudah minumnya ?"


"Dek!" Panggil Bima pelan sambil mendekatkan tangannya ke tangan Sahla. Namun Sahla langsung menjauhkan tangannya dari jangkauan Bima.


"Dek! Kamu nggak mau maafin Kakak?"


Sahla terdiam.


"Dek! Seperti yang Ibumu bilang, bahwa ini hanya sebuah kecelakaan. Bukan kemauan diriku sendiri." Ucap Bima. "Maafin aku Bu, telah bersembunyi di balik namamu." Lanjut Bima dalam hati.


"Kak! Sebenarnya aku sudah memaafkanmu. Aku juga tahu bahwa semua ini bukan karena sengaja kamu lakukan. Tapi, aku belum bisa melupakan video itu."


Lalu Sahla dengan tiba-tiba menatap tajam Bima. "Lalu wanita tadi siapa ? Kenapa aku tidak boleh tahu apa yang kalian bicarakan?"


Bima membelalak. Ia lupa belum mencari alasan yang tepat untuk urusan tadi sore. Ia juga bimbang untuk menceritakan semuanya atau tidak.


"Itu bukan sesuatu yang penting, Dek!"


Sahla tak percaya, ia terus menatapnya hingga Bima merasa terintimidasi dengan tatapannya.


"Baiklah, baiklah. Dia hanya menanyakan keberadaan Ari saja.


"Ari ? Apa hubungannya ?"


Bima tercekat. 


"Apa hubungan wanita itu dengan Ari ? Tanya Sahla lagi.

__ADS_1


"Dia… dia.."


"Dia apa ?"


"Dia adalah wanita yang ada di video itu."


Sahla mengernyitkan dahi. " Pantas saja aku seperti pernah melihatnya."


Bima melongo. Ia tak menyangka reaksi Sahla seperti itu. Tidak sesuai dengan dugaannya.


"Kenapa dia mencari Ari sampai ke rumahmu ?"


"Dia kehilangan kontak dengannya. Semua nomornya sudah tidak aktif lagi."


"Untuk apa dia mencari Ari ?"


"Entahlah. Mungkin dia marah juga kepada Ari, sama seperti kita."


"Marah ? Marah kenapa ?" Sahla semakin tidak mengerti dengan jalan ceritanya.


"Sama sepertiku, dia juga dijebak oleh Ari. Agar kita melakukan hal itu."


"Sebenarnya untuk apa Ari melakukan semua itu ?"


"Mungkin dia mau merebutmu dariku. Jadi ia membuat skenario yang seolah-olah aku adalah lelaki bejat yang suka main perempuan."


Sahla menggeleng. Kata-kata Bima tak masuk di logikanya. "Tidak mungkin. Pasti ada alasan lain yang lebih besar dari sekedar dia sakit hati karena telah ditolak."


"Sudahlah, kita jangan bahas ini lagi ya."


Sahla terdiam.


"Sebaiknya kita tidur lagi. Masih terlalu malam untuk bangun." Lanjut Bima. 


Sahla menurut. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar, diikuti oleh Bima.


"Aku harap mulai malam ini, kamu mau mengisi kamar ini lagi. Lihatlah, kamar ini menjadi dingin sejak kepergianmu." Ucap Bima ketika mereka sampai di ambang pintu kamar.


Sahla hanya mengangguk.


"Terima kasih. Sekarang tidurlah."  Bima membalikan badannya, hendak kembali tidur di sisi Ibunya.


"Kak, mau kemana ?" Tanya Sahla heran.


"Tidur."


"Tidak tidur di kamar ?"


Bima terdiam, mempertimbangkan pertanyaan isterinya. Lalu Bima menggeleng dan berucap, "tidak", sambil tersenyum.


"Kenapa ?"


"Aku takut…" jawabnya dalam hati. 


"Kakak sedang sakit, lebih baik tidur di kamar."


"Bagaimana denganmu ? Memangnya kamu sudah mau tidur…" Bima tidak melanjutkan ucapannya, ia hanya menunjuk dirinya sendiri sebagai tanda isyarat.


"Ya sudah kalau Kakak tidak mau tidur di kamar." Sahla terlalu gengsi untuk mengatakan 'iya'. Lalu ia naik ke atas ranjang dan berbaring menghadap tembok tanpa menutup pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


Bima menghela nafas melihat kelakuan istrinya yang serba tak jelas. Bima masih terdiam di ambang pintu. Ia ragu untuk masuk dan tidur di sebelah istrinya. Namun ia juga takut kalau ia kembali tidur di luar, akan menambah kesal istrinya.


Cukup lama ia terdiam dalam kebimbangan. Namun akhirnya ia memutuskan memilih masuk ke kamar dan tidur di sebelah istrinya. Ia juga lihat, Sahla sudah terlelap. Jadi mungkin ia tak akan menyadari kehadiran Bima di sebelahnya.


__ADS_2