
"Dek." Panggil Bima saat mereka hendak beranjak tidur.
"Iya, Kak ?"
"Teman-teman SMA mau ngadain reuni besok, tapi tempatnya jauh. Dan juga waktunya malam jam 8."
Sahla mengangguk. "Kenapa ? Kakak mau ikut ?"
Bima menggeleng. "Nggak lah. Ngapain juga ikut yang kayak gitu."
"Nggak apa-apa Kak, sesekali kumpul sama teman. Pasti bosan juga kan kalau rutinitasnya hanya toko-rumah, toko-rumah."
Bima terdiam. "Nggak sayang, aku harus menjadi suami siaga buatmu."
Sahla tersenyum. "Terima kasih suamiku, kamu yang terbaik. Tapi kalau besok berubah pikiran, aku tak masalah kamu ikut acara itu."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi."
"Baiklah, lebih baik kita tidur sekarang."
Malam yang hangat membawa mereka ke alam mimpi. Hingga suara alarm membangunkan Bima. Bima mengerjapkan matanya berkali-kali. Mengumpulkan nyawanya yang sudah melanglang buana ke alam mimpi. Dan kini saatnya kembali ke alam nyata.
Bima menengok ke arah samping. Namun sosok yang dicarinya tak ada.
"Kemana Sahla ? Tumben sekali sudah bangun ?" Tanyanya pada diri sendiri.
Lalu ia pergi ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk sholat subuh, karena sebentar lagi kumandang adzan subuh akan terdengar.
"Dari mana ?" Tanya Bima, saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Sahla telah ada di kamar mereka.
"Dari dapur. Pengen minum teh manis."
"Kenapa gak bangunin ? Biar nanti dibuatin."
"Gak apa-apa Kak. Jangan terlalu memanjakanku seperti itu."
"Ya nggak apa-apa Dek. Masa gak boleh manjain istri sendiri, apalagi sedang hamil."
"Kamu yang terbaik."
Bima tersenyum malu. "Sudahlah, aku mau ke masjid dulu." Dan dijawab dengan anggukan dari Sahla.
Sekembalinya dari mesjid, Bima langsung bersiap ke toko. Dan seperti biasa, Sahla telah tertidur kembali selepas sholat subuh. Bima mengecup kening Sahla dan keluar dari kamarnya. Mengeluarkan motornya, lalu memanaskannya.
"Bu. Bima berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Bima mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Ia tak terlalu suka kebut-kebutan jika tidak dalam keadaan darurat.
Sesampainya di toko, Bima cukup terkejut karena toko sudah terbuka dan tertata dengan baik. Bima memarkirkan motornya terlebih dahulu, lalu masuk ke dalam tokonya.
"Assalamu'alaikum." Bima memberi salam.
"Wa'alaikum salam."
"Buka jam berapa ?"
"Setelah subuh."
Bima mengernyitkan dahi. Ari yang paham dengan ekspresi Bima yang terheran menjelaskannya dengan seksama.
"Aku sholat di mesjid ini."
Bima mengangguk. "Kukira kamu tidur disini Ri ?"
"Emang nggak boleh kalau aku tidur disini ?"
"Ya bukannya nggak boleh, cuma disini kan tidak ada kasur. Nanti kamu mau tidur dimana ?"
"Aku jadi kepikiran sesuatu." Ucap Ari.
__ADS_1
"Apa ?"
"Bagaimana kalau aku tidur disini? Jadi kita bisa lebih lama buka tokonya."
Bima tampak berpikir. "Memangnya kamu mau seperti itu ?"
"Tentu saja. Aku terlalu suntuk di rumah."
"Kalau kamu mau, kita bisa kondisikan tempatnya, biar kamu nyaman tidur disini."
"Oke siap, Boss."
"Nanti aku beli kasur busa ukuran satu orang."
"Wah, baik banget Bossku."
Bima hanya tertawa mendengarnya.
Seperti yang mereka rencanakan. Siang harinya, Bima membeli kasur busa ukuran untuk satu orang. Dan mereka berdua, mendekor ulang sedikit tokonya agar nanti Ari nyaman tidur disini. Tak butuh waktu lama, semuanya selesai dilakukan.
"Gimana nanti malam, Bim ? Istrimu mengizinkan ?" Tanya Ari saat mereka tengah makan siang di toko.
"Istriku sih sudah ngasih izin. Tapi nggak lah. Kasian Sahal ditinggal sendiri."
"Ayolah Bim, kapan lagi kita bisa kumpul ?"
"Nanti lah."
Ari tak berkata lagi. "Baiklah."
Tepat jam 7 malam, Ari meminta izin kepada Bima untuk pergi ke acara reuni.
"Yakin gak mau ikut ?" Tanya Ari yang masih penasaran.
"Udah sana, nanti keburu bubar acaranya."
"Ok. Aku berangkat dulu." Ari pun melajukan motornya.
[Assalamu'alaikum]. Bima memberikan salam.
(Wa'alaikum salam). Jawab Ari dari seberang.
[Kenapa Ri ?]
(Motorku mogok. Bisa minta tolong kesini ?)
[Dimana ?]
(Di jalan baru. Bisa tolong ke sini ?)
[Baiklah. Tunggu ya, aku tutup toko dulu.]
(Terima kasih, Bim.)
[Sama-sama.]
Setelah menutup telponnya. Bima membuka aplikasi chat, hendak mengirimkan pesan kepada istrinya.
[Dek. Malam ini Kakak pulang telat. Tiba-tiba saja motor temanku mogok, jadi Kakak harus menolongnya.]
Tak berapa lama, ada pesan balasan dari istrinya.
(Baiklah, hati-hati di jalan.)
Setelah selesai menutup tokonya. Bima bergegas melajukan motornya ke tempat dimana Ari berada. Namun cukup lama Bima menyisir jalan baru, tak ia temukan keberadaan Ari. Hingga tiba di ujung jalan baru, sosok yang dicari ditemukan juga.
"Aku kira jalan baru yang masih deket-dekat toko." Ucap Bima setelah bertemu dengan Ari.
Ari malah tertawa. "Sorry Bim, yang penting kamu udah disini."
"Mogok kenapa ?"
__ADS_1
"Biasalah motor tua."
"Ya sudah, kita cari bengkel yang deket."
"Gak usah Bim."
Bima mengernyitkan dahi.
"Kamu antar aku ke tempat reuni saja, keburu acara selesai."
"Motor kamu gimana ?"
"Kita tinggalin di sini saja."
"Baiklah, terserah kamu saja."
Lalu Ari menitipkan motornya ke warung kopi terdekat. Dan ia bersama Bima melanjutkan perjalanan ke tempat reuni berlangsung.
Ari turun dari motor, setelah tiba di tempat reuni.
"Aku langsung pulang ya." Pamit Bima pada Ari.
"Sudah terlanjur kesini. Ayo, masuk." Ajak Ari.
Bima tak bergeming.
"Kamu kenapa sih gak mau ikut ? Takut ketemu mantan ?"
"Aku kan gak pernah pacaran waktu sekolah, Ri."
"Lah terus, kenapa ?"
Bima kembali terdiam, ia juga bingung dengan dirinya.
"Hai, kalian berdua. Ayo masuk!" Panggil seseorang dari dalam kepada Ari dan Bima.
Dan kini Bima tak bisa beralasan lagi. Ia turun dari motornya menyambut panggil tersebut.
"Nah gitu dong. Aku jadi semangat ikut renuninya."
Bima hanya tersenyum lalu mengekor Ari yang sudah berjalan terlebih dahu.
Suasana di dalam cukup ramai. Ada banyak orang ya hadir di acara tersebut.
"Ramai juga ya." Ucap Bima.
"Iya, tak menyangka banyak yang hadir." Balas Ari.
"Hai, Ari, Bima. Apa kabar ?" Doni sang penyelenggara menyambut mereka berdua dan menyalaminya.
"Baik. Bagaimana kabarmu ?" Ucap Ari.
"Baik juga. Ayo cari tempat duduk yang masih kosong. Acara akan segera dimulai."
"Siap. Makasih ya." Ucap Ari.
Lalu Ari mengajak Bima mencari tempat duduk yang kosong.
"Bim, lihat! Siapa yang duduk disana ?" Tanya Ari sambil menunjuk ke arah perempuan yang sedang duduk sendiri di meja paling pojok. Bima langsung memfokuskan pandangannya ke arah orang yang Ari tunjuk. Namun Bima masih belum mengenali siapa orang tersebut.
"Yuk, kita kesana." Ajak Ari. Bima pun menurut.
"Hai, sendirian aja Non ?" Tanya Ari sambil duduk di sebelahnya. Sedangkan Bima, sedikit tersentak setelah melihat jelas siapa orang yang ada di depannya. Namun ia cepat-cepat menguasai dirinya sebelum ada yang tahu ekspresi terkejutnya.
Yang ditanya langsung menatap Ari. "Kamu! Baru datang ?"
Ari mengangguk, lalu berpaling ke arah Bima. "Duduk, Bim! Kamu ingat siapa dia ?"
Bima duduk perlahan. "Bagaimana mungkin aku lupa pada wanita yang telah menjadi cinta pertamaku, meski tak pernah menjadi milikku." Jawabnya dalam hati.
"Tentu saja ingat. Wanita paling populer di sekolah." Jawab Bima.
__ADS_1