
Seharian Bima menemani Raina. Dan sekarang sudah lewat waktu isya, Bima masih berada disana. Hatinya sudah gelisah sedari sore, pikirannya sudah jauh berada di rumahnya. Namun ia tidak punya kesempatan untuk mengungkapkan keinginannya.
"Raina, istirahatlah. Aku ingin menemui Kakakmu dulu." Ucap Bima saat mengantar Raina ke kamarnya.
"Jangan lama-lama. Aku akan menunggumu disini."
Bima hanya tersenyum saja, tidak mengiyakan ucapan Raina.
Setelah memastikan Raina masuk ke dalam kamarnya, Bima mencari keberadaan Reno yang entah berada dimana.
Beruntung Bima bertemu dengan Edo yang sepertinya memang akan menghampirinya juga.
"Pak Bima, Tuan ingin bicara dengan anda." Ucap Edo sambil menyerahkan Hp yang sedang dalam panggilan masuk.
Bima menerimanya, "hallo Reno. Kebetulan sekali aku ingin bicara denganmu." Ucap Bima.
"Ada apa ?" Tanya Reno dari seberang telpon.
"Aku ingin pulang, dan Raina sedang istirahat di kamarnya."
"Maafkan aku Bima, sungguh aku sangat menyesal mengatakan ini. Kamu tidak akan pulang malam ini."
"Apa maksudmu ? Raina baik-baik saja dan dia sedang istirahat di kamarnya." Ucap Bima.
"Aku sedang berada di luar dalam beberapa hari, dan tidak ada yang menjaga Raina jika kamu pergi."
"Aku bisa kembali kesini besok pagi. Aku janji."
"Tidak Bima. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada Raina malam nanti.
"Aku punya keluarga. Kamu tidak bisa menahanku seperti ini."
"Maafkan aku Bima, aku hanya ingin menjaga adikku saja."
"Aku juga punya keluarga yang harus kujaga. Dan keluargaku sangat membutuhkanku."
"Raina lebih membutuhkanmu."
Bima merasa kesal kepada Reno. Rupanya sikap semena-menanya tidak pernah berubah.
"Aku kira kita bisa saling mengerti, tapi ternyata kamu tidak berubah. Hanya mementingkan dirimu saja. Aku menyesal telah membantumu kali ini."
"Maafkan aku Bima, aku tidak bisa mengubah keputusanku, apalagi ini menyangkut Raina." Dan tiba-tiba saja telpon dimatikan oleh Reno.
"Br***sek kau Reno." Teriak Bima kesal.
Edo terdiam dan hanya memperhatikan Bima yang sedang kesal karena ulah Tuannya.
"Silahkan Pak Bima kembali ke kamar Nona." Ucap Edo saat melihat Bima sudah agak tenang.
__ADS_1
"Apa ?" Bima terkejut tak percaya dengan ucapan Edo. Namun Edo hanya diam saja.
"Kenapa harus ke kamar Raina ? Apa tidak ada kamar lagi di rumah sebesar ini ?" Tanya Bima lagi dengan nada yang kesal. Kekesalan pada Reno kian bertambah.
"Ini perintah Tuan."
"Reno… Aku tak habis pikir dengan tuanmu itu."
"Tuan juga selalu tidur di kamar Nona. Dan kali ini Tuan sedang berada di luar, jadi Pak Bima yang akan menggantikannya."
Bima tersenyum sinis. "Apa dia tidak berpikir kalau aku bisa saja berbuat jahat pada adiknya ? Kenapa kali ini dia begitu percaya padaku ?" Gumam Bima.
Namun karena jarak yang dekat dengan Edo, Edo bisa mendengarnya.
"Tuan juga bisa berbuat jahat pada keluarga anda, jika anda berbuat macam-macam pada Nona."
"Iya… iya… semua bisa dilakukan oleh Reno." Ucap Bima masih dengan kekesalannya.
Lalu pergi meninggalkan Edo dan kembali ke kamar Raina.
Namun rupanya Edo mengikutinya dari belakang.
"Pergilah, aku tidak akan berbuat macam-macam pada Nonamu." Ucap Bima saat tiba di depan pintu kamar Raina.
"Jika Pak Bima mau berganti baju, semua kebutuhan Pak Bima ada di kamar Nona. Semua sudah dipersiapkan oleh Tuan."
Bima menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Ternyata Reno sudah merencanakannya dari awal. Kenapa aku seperti dijebak dalam situasi ini ?" Pikirnya.
"Ya sudah, silahkan pergi. Aku bisa masuk sendiri."
Namun tidak ada pergerakkan dari Edo. Sepertinya Edo menunggu Bima untuk masuk terlebih dahulu.
Bima akhirnya mengalah, ia masuk ke dalam kamar. Dan benar saja, Edo langsung mengunci dari luar kamar.
"S***an Edo." Umpat Bima. Bima langsung duduk di sofa. Ia memijat pelipisnya. Memikirkan keluarganya di rumah. Alasan apa yang harus ia berikan pada istrinya ? Ia tidak mungkin berkata jujur dengan situasi yang dialaminya.
Bima menatap ke arah Raina yang sedang tertidur. Lalu seketika ia memalingkan wajahnya. "Tidak-tidak. Seharusnya aku tidak di sini. Ini tidak benar." Ada ketakutan tersendiri saat melihat Raina. Bayang-bayang masa lalunya saat bersama Raina terus bermunculan. Ia takut, rasa yang telah susah payah ia kubur hadir kembali. Ini tidak adil bagi Sahla.
Lalu Bima memutuskan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Namun terlebih dahulu, ia mencari letak pakaian yang Edo sebutkan tadi.
"Benar-benar telah dipersiapkan." Ucap Bima saat menemukan sebuah ruangan yang berisi baju-baju. Tak hanya baju wanita, baju pria pun ada.
"Ah tidak, aku tidak boleh terlalu berburuk sangka. Ini mungkin baju milik Reno." Lirihnya. Lalu Bima mengambil baju tidur berbahan kaos dan berlengan panjang.
Tak butuh waktu lama Bima berada di kamar mandi. Setelah mengganti baju, Bima keluar dari kamar mandi.
"Pak Bima, silahkan makan malamnya sudah siap." Ucap Edo tiba-tiba saat Bima keluar dari kamar mandi.
"Edo. Bikin kaget saja." Ucap Bima.
__ADS_1
"Maafkan saya Pak. Silahkan makan malamnya." Ucap Edo kembali mempersilahkan.
"Keluarlah. Aku tidak ingin diawasi saat makan." Ucap Bima ketus.
"Saya akan menunggu di luar. Permisi." Pamit Edo.
Bima menikmati makan malam seorang diri, karena Raina masih tertidur.
"Edo, kamu masih di luar ?" Tanya Bima setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Iya Pak, saya masih disini."
"Masuklah, aku sudah selesai makan."
"Baik." Lalu Edo masuk ke dalam kamar dan langsung membereskan bekas makan Bima.
"Edo, tolong bantu aku membalikkan sofa ini." Ucap Bima.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti ?"
"Membalikkan sofa menghadap ke tembok."
"Kenapa ?"
"Aku takut jatuh jika hanya tidur di sofa ini."
"Baiklah."
Bima dan Edo mengangkat sofa menghadap ke tembok.
"Terima kasih, ini akan nyaman untuk tidur." Ucap Bima dengan tersenyum puas.
"Di dalam ada selimut, jika Pak Bima membutuhkan akan saya ambilkan."
"Tidak usah, saya bisa ambil sendiri."
"Kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya permisi."
Bima hanya mengangguk saja.
"Tunggu!" Ucap Bima saat Edo hendak membuka pintu.
"Apa sekarang kamu mau mengunci lagi kamar ini ?" Tanya Bima.
"Iya Pak, ini perintah Tuan."
"Ya-ya. Aku tahu semua yang kau lakukan atas perintah Tuanmu. Pergilah!"
Edo mengangguk, lalu keluar dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Bima kembali ke ruangan baju, untuk mengambil selimut. Setelah mendapatkan selimutnya, Bima keluar dan berbaring di atas sofa yang sudah dirubah posisinya. Sengaja Bima lakukan itu agar masih ada sekat di antara ia dan Raina, walaupun hanya sebuah sandaran dari sofa saja. Bima ingin menghindari pemandangan yang tak seharusnya ia lihat.