
"Kita akan menginap disini." Ucap Bima.
Sahla hanya terdiam. Ia terlihat bingung. Ingin menolak, tapi tak mau mengecewakan Bima dan sudah terlanjur ada disini.
Melihat Sahla terdiam, Bima malah senang. Diamnya Sahla kali ini, sangat menguntungkan Bima. Karena ia tak perlu berdebat, ia bisa mengajak Sahla sesuka hatinya. Egois memang. Tapi Bima tak punya cara lain untuk mendekatkan diri pada Sahla. Di rumah, ada Ibu dan Dila yang bisa kapan saja menjadi pengganggu.
"Ayo." Bima sedikit memaksa Sahla agar mau berjalan. Dan tak punya pilihan, Sahla harus mengikutinya.
Bima menyewa tenda dan segala perlengkapan untuk bermalam disini. Dari mulai bantal, selimut, alat masak khusus buat kemping.
"Ayo masuk. Istirahatlah. Pakai selimut, biar lebih hangat."
Sahla menurut. Ia masuk ke dalam tenda. Lumayan nyaman. Lalu ia melepaskan jaket milik Bima.
"Kak, pakai jaketnya. Aku pakai selimut saja."
"Ok." Bima menerima jaket dan memakainya. Cuaca disini memang sangat dingin, apalagi waktu sudah menjelang malam.
Sahla duduk di dekat pintu tenda sambil melihat Bima yang sedang memasak mi. Ternyata Bima sudah mempersiapkannya. Membawa berbagai makanan ringan, mi, minuman, dan kopi.
Di tengah cuaca yang dingin memang enak makan mi panas dan pedas. Serta kopi panas sebagai pelengkapnya.
"Ayo makan." Bima membawa mi yang sudah matang ke hadapan Sahla.
Sahla sangat terharu dengan perlakuan Bima. Harusnya dia yang memasak, tapi malah sebaliknya.
"Banyak banget Kak mi nya ?" Tanya Sahla, memang terlihat banyak. Hampir memenuhi satu panci.
"Tidak apa. Ini buat kita berdua."
Sahla mengangguk.
Mereka berdua sangat lahap makan mi bersama. Sahla dan Bima terlihat tak canggung lagi.
"Mau kopi ?" Tanya Bima, setelah menghabiskan makan mereka.
"Boleh." Sahlan terus memandangi Bima yang sedang memasak air. Bima yang menyadarinya, sesekali melirik ke arah Sahla dan tersenyum. Sahla tentu saja salah tingkah. Senyumnya kini terus terkembang. Merasa sangat senang berdua dengan Bima dengan suasana yang sangat mendukung.
"Ini untukmu." Bima menyodorkan segelas kopi susu kepada Sahla.
"Terima kasih Kak." Sahla menerimanya.
Lalu Bima duduk di samping Sahla.
"Kamu suka ?" Tanya Bima.
Sahla mengangguk. "Iya, bagus tempatnya."
Mereka kembali terdiam, namun sesekali mereka saling melirik. Seperti dua orang yang sedang kasmaran, mungkin orang lain melihat mereka seperti itu. Malu-malu tapi mau.
"Sini tanganmu." Ucap Bima sembari mengambil tangan Sahla lalu menggenggamnya.
Sahla tentu saja kaget dengan ulah Bima, yang tiba-tiba saja menggenggam tangannya. Namun ia membiarkannya saja.
__ADS_1
"Tanganmu sudah hangat." Lalu tiba-tiba saja Bima mengecup tangan Sahla. Refleks Sahla menarik tangannya dari genggaman Bima. Namun tak berhasil, Bima semakin mengeratkan genggamannya agar tangan Sahla tak bisa lepas dari tangannya.
"Kenapa ?" Tanya Bima.
"Malu Kak, banyak orang."
"Ya sudah, ayo masuk." Bima malah mengajak Sahla masuk ke dalam tenda.
"Kakak?" Ekspresi wajah Sahla berubah ketakutan.
Bima yang melihatnya hanya tertawa. "Bercanda, Neng. Nggak usah takut gitu." Bima melepaskan genggamannya dan mengusap lembut kepala Sahla.
"Sama suami sendiri kok takut." Ucap Bima lagi.
Sahla hanya terdiam. Ia tak mau meresponnya.
"Ayo siap-siap, bentar lagi mau magrib."
Bima dan Sahla beranjak dari tenda menuju ke mushola yang ada di perkemahan tersebut. Setelah menunaikan 3 rakaat solat magrib. Mereka kembali ke tenda.
Sahla kembali membungkus tubuhnya dengan selimut. Pakaian yang ia kenakan tak membuatnya hangat.
"Kenapa ? Dingin ya?"
Sahla mengangguk. "Lain kali kalau mau pergi lagi, bilang ya. Biar ada persiapan." Ucap Sahla.
"Iya. Maaf ya. Mau minum sesuatu ? Atau makan ?"
Sahla hanya menggeleng. Bima merasa bersalah pada Sahla. Lalu ia pun masuk ke dalam tenda dan memeluk Sahla dari belakang. Sahla kaget karena tiba-tiba saja Bima berbuat seperti itu.
"Kamu tahu, kenapa aku ajak kamu kesini ?" Tanya Bima. Sahla menggeleng.
"Agar aku bisa lebih dekat denganmu seperti ini."
"Bukannya di rumah juga bisa?"
"Tentu bisa, jika kita berada di kamar terus sepanjang hari, tanpa keluar sama sekali."
Mana bisa begitu ? Apa nanti kata Ibu kalau kita hanya berada di kamar saja ?"
"Itu kamu ngerti. Di rumah, kamu bukan seutuhnya milikku. Tapi di sini kamu milikku seutuhnya."
Mendengar perkataan Bima, wajah Sahla memanas. Dan hatinya meletup-letup seperti sedang memasak popcorn. Lalu Bima menyandarkan dagunya di atas pundak sebelah kanan Sahla. Kini wajah keduanya saling bersisian.
Bima dan Sahla saling diam. Menikmati kebersamaan mereka.
"Gimana sekarang? Sudah tidak dingin lagi ?" Tiba-tiba saja Bima bertanya dan melepaskan pelukannya.
"Eh… i iya." Jawab Sahla gelagapan.
"Ayo keluar. Pakai jaket ini."
"Kakak aja yang pakai jaket, biar aku pakai selimut aja."
__ADS_1
Bima menggenggam tangan Sahla, menikmati pemandangan perkampungan di malam hari. Seperti lautan yang penuh dengan lampu. Indah sekali. Suara orang yang bernyanyi dengan diiringi petikan gitar, menambah hangatnya suasana malam ini. Tak ketinggalan, bintang-bintang pun hadir dengan gemerlapnya di langit yang cerah.
"Sahla."
Sahla menengok pada Bima. "Iya Kak ?"
"Mungkin sudah terlambat mengungkapkannya di sini. Tapi… aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali bertemu."
Sekali lagi, kata-kata Bima membuat Sahla melambung. Mungkin kalau siang hari, akan terlihat betapa merahnya wajah Sahla. Dan ia tak tahu harus membalas apa ucapan Bima barusan.
"Kamu sendiri bagaimana? Apakah sudah ada cinta untukku?" Tanya Bima.
Sahla menggeleng, "tidak tahu."
Bima menghela nafasnya, sedikit kecewa dengan jawaban Sahla.
"Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan menunggumu."
Sahla mengernyitkan dahi. "Menungguku untuk apa ?" Tanya Sahla heran.
"Menunggumu jatuh cinta padaku."
"Untuk apa ? Bukankah sekarang aku sudah menjadi istrimu ?"
"Iya, kamu memang sudah menjadi istriku.
Tapi aku tak mendapati cinta di hatimu untukku."
"Apakah penting?"
"Tentu saja."
"Bukankah tanpa cinta, seorang istri masih bisa melayani suaminya ?"
"Begitukah ? Kalau menurutmu seperti itu, mari kita coba."
"Coba apa?" Sahla semakin tak paham arah pembicaraan Bima.
Tanpa memperdulikan pertanyaan Sahla. Bima sedikit memaksa Sahla untuk masuk ke dalam tenda. Kini mereka sudah ada dalam tenda. Tak lupa, Bima menutup pintu tenda.
Raut wajah Sahla seketika berubah ketakutan.
"Kakak mau apa ?" Sahla memberanikan diri bertanya. Bima menatap tajam Sahla dengan senyum nakalnya. Sedikit kasar, Bima mendorong tubuh Sahla hingga terlentang, dan mendekatkan wajahnya pada wajah Sahla. Sahla langsung memalingkan wajahnya dan menutup matanya. Ia tidak mau melihat Bima yang seperti itu.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu. Tapi tak ada yang terjadi. Bima menahan dirinya untuk tak melakukan apapun pada diri Sahla. Ia hanya sedikit bergurau saja.
Lalu Bima pun menarik wajahnya menjauhi Sahla, dan duduk di sebelahnya. Menyadari Bima telah merubah posisinya, Sahla memberanikan diri membuka mata, dan melihat ke arah Bima. Tatapan Bima tak lepas dari Sahla.
"Kenapa? Takut?" Tanya Bima.
Sahla langsung bangkit dan duduk. Ia menelan ludahnya, menetralkan perasaan yang sedang berkecamuk.
"Dasar bodoh. Mana mungkin aku melakukannya disini." Cukup kasar Bima berucap pada Sahla.
__ADS_1
Sahla menatap tajam Bima, tak terima diperlakukan seperti itu. Tanpa membalas ucapan Bima, Sahla langsung berbaring membelakangi Bima dan menyelimuti tubuhnya sampai kepala.
Bima melihat tingkah Sahla, cukup kaget. Karena tak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu dari Sahla. Yang ia inginkan, Sahla mengungkapkan semua isi hatinya, bukan mendiamkannya seperti ini. Bima menyugar rambutnya, merasa frustasi menghadapi kerandoman sifat wanita.