
"Bima."
Raina terbangun dari tidurnya, dan pandangan pertamanya langsung tertuju pada Bima yang tengah tertidur di sofa. Rupanya Bima kelelahan setelah membereskan kamar yang seperti kapal pecah, hingga ia tertidur di sofa.
"Bima." Lirih Raina lagi. Lalu ia tersenyum memandang wajah pria yang sangat ia dambakan. Lalu perlahan Raina turun dari ranjangnya menghampiri Bima.
"Bima, kenapa kali ini kau terlihat begitu nyata ?" Ucap Raina. Lalu Raina mencoba mendekatkan tangannya untuk menyentuh wajah Bima. Namun dengan cepat ia menarik tangannya kembali sebelum menyentuhnya.
"Tidak, tidak, itu bukan Bima. Ini hanya halusinasiku saja. Bima mana mungkin berada di sini. Bima sedang berbahagia dengan istrinya." Raina terus menggelengkan kepalanya sambil terus memegang tangannya sendiri, lalu perlahan berjalan mundur menjauhi Bima.
Sepertinya Raina belum sepenuhnya sadar akan kehadiran Bima yang benar-benar nyata, bukan sekedar halusinasinya saja.
Raina kembali memandangi Bima dan mencoba mendekatinya lagi. Kemudian ia berjongkok di depan wajah Bima.
"Bima, apa kau benar-benar Bimaku ?" Ucapnya lagi. Lalu dengan jari telunjuknya ia berhasil menyentuh Bima. Namun dengan cepat ia langsung menarik tangannya lagi. Matanya seketika berbinar.
"Kau benar-benar nyata, kau adalah Bimaku." Ucap Raina lagi sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Ada kegembiraan yang terpancar dari wajah Raina saat tahu Bima ada di hadapannya.
Namun dalam sekejap matanya yang berbinar berubah redup. Raut wajahnya begitu gelisah, ada ketakutan yang tiba-tiba saja menghinggapi dirinya.
"Bima ? Bima ada disini ? Apa yang harus aku lakukan ?" Raina terus mengulangi ucapannya, sambil berjalan bolak-balik. Kedua tangannya terus ia remas, menandakan bahwa ia benar-benar berada dalam ketakutan.
"Raina!"
Suara yang sangat Raina rindukan langsung membuatnya terdiam.
"Raina, kamu sudah bangun ?" Tanya Bima sambil menghampiri Raina. Rupanya Apa yang dilakukan Raina membuat Bima terbangun.
Raina menunduk, ia tidak berani menatap Bima. Namun hatinya sangat ingin menatapnya.
"Raina, kamu baik-baik saja ?" Tanya Bima lagi. Ia terlihat khawatir dengan kondisi Raina.
"Bima." Ucap Raina terbata dengan suara yang nyaris pelan.
"Raina." Bima kembali memanggil Raina karena sedari tadi ucapanannya tidak ditanggapi.
Lalu perlahan Raina mengangkat wajahnya dan menatap Bima. Kini mereka tengah saling berhadapan.
"Bima, Bimaku." Hanya itu yang keluar dari mulut Raina.
Hati Bima seperti teriris melihat kondisi Raina seperti itu. Rambut yang berantakan, wajah tirus, seperti bunga yang layu. Bima langsung teringat pada adiknya, Dira, saat awal mengalami depresi. Kondisinya tak berbeda jauh dengan Raina saat ini.
"Raina. Apa yang telah terjadi padamu ? Kenapa kamu bisa seperti ini ?" Tanya Bima.
__ADS_1
"Bima, kamu benar Bima ? Bimaku ?" Sekali lagi Raina bertanya seperti itu.
Bima mengangguk. Lalu Raina mencoba kembali menyentuh wajah Bima dengan tangannya. Namun tangannya berhenti sebelum menyentuh wajah Bima.
"Tidak, tidak, aku tidak boleh menyentuh Bima. Aku tidak boleh menyentuh Bima." Ucap Raina sambil menggelengkan kepalanya. Lalu perlahan mundur dan duduk di tepi ranjang.
Raina tertunduk, dan terus bergumam. " Tidak boleh menyentuh Bima, Bima bukan milikku. Tidak boleh menyentuh Bima, Bima bukan milikku." Rain terus merapalkan kalimat itu.
Bima tak kuat menahan perasaannya melihat Raina. Dadanya begitu sesak, hingga akhirnya air matanya meluncur begitu saja. Kemudian Bima mendekati Raina dan berlutut di hadapan Raina.
"Raina, maafkanlah aku. Karena aku, kamu menjadi seperti ini." Ucap Buma sambil terisak.
"Maafkan aku, maafkanlah aku." Sekali lagi Bima mengucapkan maaf pada Raina.
Raina terdiam, lalu menatap Bima yang tengah terisak. Dan tanpa ia sadari, air matanya pun ikut menetes.
Lalu tiba-tiba saja Raina menutup kedua telinganya dan bergumam, "tidak, aku salah. Maaf Bima, aku salah. Maaf Bima, aku salah."
Bima pun langsung menoleh ke arah Raina. Sekali lagi, Raina membuat Bima semakin bersalah.
"Tidak Raina, tolong hentikan, tolong hentikan." Ucap Bima sambil memegang kedua lengan Raina.
Bukannya tenang, Raina semakin menjadi, isaknya semakin histeris.
"Raina, aku mohon tenanglah." Bima panik dengan Raina yang histeris.
Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan masuk 3 orang perempuan. Lalu salah satu dari mereka langsung menyuntikan sesuatu pada Raina. Hingga beberapa saat, Raina mulai melemah dan tak sadarkan diri. Lalu ia membetulkan posisi tidur Raina, dan menyelimutinya.
"Apa yang terjadi pada Raina, dok ?" Tanya Bima pada orang yang menyuntik Raina.
"Maaf Pak, saya bukan dokter. Saya hanya bertugas merawat Nona Raina saja." Jawabnya. "Saya permisi dulu." Lalu ketiganya meninggalkan kamar Raina.
Bima terus memandang Raina dengan seksama. Rasa sesak masih saja menghinggapi hatinya.
"Sejak kepergianmu, Raina mengurung diri dan tak mau keluar sama sekali. Bahkan makan pun tak pernah ia sentuh."
Bima langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata Reno sudah berada di sampingnya. Bima benar-benar tidak menyadari kedatangan Reno, ia terlalu fokus menatap Raina.
"Dan keadaanya semakin parah, sejak ia kabur dan ditemukan di kampung halamanmu." Lanjut Reno.
"Raina ke sini ?" Tanya Bima heran.
"Kamu tidak bertemu dengannya ?" Reno malah balik bertanya.
__ADS_1
Bima menggeleng. Lalu keduanya terdiam.
"Pulanglah. Anak buahku akan mengantarmu." Ucap Reno.
Bima tak menyangka Reno menyuruhnya pulang begitu saja.
"Bagaimana dengan Raina ?"
Reno menghela nafas panjang. "Entahlah."
Lalu keduanya kembali terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Aku ingin dia kembali seperti dulu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap Reno. "Dengan mempertemukanmu, aku berharap bisa membawa perubahan pada Raina. Ternyata…" Reno menggelengkan kepalanya. Terlihat jelas keputus asaan tergambar di wajahnya.
"Kenapa Raina terus berbicara, aku jahat, aku salah ?" Tanya Bima.
"Sejak kabur, ia terus berbicara seperti itu. Aku jahat, aku salah, maaf Bima. Entahlah apa maksudnya ?" Ucap Reno.
"Apa Raina telah berbuat jahat padamu atau pada istrimu dengan diam-diam ?" Tanya Reno.
Bima mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Reno. "Raina tidak seperti itu." Sangkal Bima.
Reno dan Bima kembali terdiam.
"Reno, jika masih diperkenankan. Aku akan membantumu merawat Raina." Ucap Bima. Rasa bersalahnya membuat Bima mengambil keputusan seperti itu.
"Benarkah ?"
"Aku akan berusaha sebisa mungkin."
"Aku sangat berterima kasih kepadamu. Apa pun yang kamu minta, aku akan berikan." Reno merasa lega mendengar Bima bersedia membantunya menyembuhkan Raina.
"Bagaimanapun juga, Raina pernah menjadi bagian hidupku. Aku tidak kuat melihatnya seperti ini."
Reno langsung memeluk erat Bima. Entah dengan apa ia harus berterima kasih. Harapan melihat Raina sembuh masih ada. Dan ia yakin Bima adalah penyembuhnya.
"Sudah, lepaskan aku. Aku sesak." Reno terlalu erat memeluk Bima, hingga Bima merasa sesak.
"Maaf, maafkan aku. Aku terlalu senang." Ucap Reno tersipu malu.
Bima hanya tersenyum melihat sikap Reno yang tersipu malu.
__ADS_1