
"Kenapa munculnya penyakit ke****n semua ?"
Sahla membuka salah satu dari artikel tersebut. Dan betapa terkejutnya dia setelah membaca isi dari artikel tersebut.
"Innalillahi… tidak mungkin." Sangkalnya. Lalu ia pun membaca beberapa artikel lagi, berharap ada informasi yang berbeda. Tapi ternyata ia tak mendapati informasi yang berbeda.
"Dek! Lagi apa ?"
Tiba-tiba saja terdengar suara Bima bertanya. Sahla sangat terkejut, ia buru-buru menutup Hpnya.
"Gak ada apa-apa Kak." Jawab Sahla agak gelagapan, namun sebisa mungkin ia bersikap setenang mungkin.
Jawaban Sahla membuat Bima mengernyitkan dahi. Bima terus berjalan menghampiri Sahla. Gelagat Sahla membuatnya curiga. "Lagi apa ?" Tanya Bima lagi.
"Nggak lagi apa-apa."
"Sudah bersih-bersihnya ?"
"Hmmm…" Sahla kemudian menggeleng. Lalu dengan gerak cepat, ia bangkit. "Aku mau ke kamar mandi dulu."
"Bawa Hp ?" Tanya Bima heran.
Sahla menghentikan langkahnya. Lalu melihat ke arah tangannya yang ternyata masih menggenggam erat Hp.
Sahla tersenyum malu. "Iya, lupa." Lalu Sahla meletakkan Hpnya di atas meja rias.
"Semoga Kak Bima tidak mencurigaiku." Ucapnya dalam hati. Sahla pun masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Sahla keluar. Ia mendapati suaminya terbaring menghadap tembok.
"Tumben sekali Kak Bima tidur di pojok." Ucap Sahla pelan. Namun Sahla seketika terkejut ketika mendapati Hpnya sudah berganti posisi. Padahal barusan ia meletakkan Hpnya dengan sembarang, tapi kini Hpnya berbaris rapi bersanding dengan Hp suaminya.
"Semoga Kak Bima tidak membuka-buka Hpku." Ucapnya lagi dalam hati.
Perlahan Sahla mengambil Hpnya lalu membukanya. Tidak ada yang patut dicurigai dari isi Hpnya. Ia hanya takut Bima mengetahui bahwa dirinya sedang mencari tahu perihal penyakitnya.
Sahla memandang ke arah suaminya. "Kak, apa benar kamu mengidap penyakit itu ?" Tanya Sahla dalam hati. Sahla kemudian menggelengkan kepalanya, menyangkal semua asumsinya. "Semoga tidak benar." Ucapnya lirih. Lalu ia pun memilih untuk tidur.
***
Sepanjang malam, Sahla tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus tertuju pada artikel-artikel yang ia baca. Sesekali ia melirik suaminya yang tengah tertidur lelap.
"Apa aku harus bertanya langsung ?"
"Apa Kak Bima mau berkata jujur ?"
"Aduh! Apa yang harus aku lakukan ? Aku benar-benar penasaran."
"Bagaimana kalau ternyata Kak Bima benar-benar mengidap penyakit itu ?"
"Tidak, tidak. Semoga tidak benar."
Masih banyak pertanyaan dan penyangkalan lainnya yang terus mengerumuni alam pikirannya, hingga akhirnya ia lelah dengan sendirinya.
"Dek! Dek! Bangun." Bima membangunkan Sahla dengan menguncangkan tubuh Sahla perlahan.
"Dek! Bangun. Udah adzan subuh."
__ADS_1
Sahla menggeliat, mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa perih.
Sahla merasa baru saja terlelap, namun ternyata adzan subuh sudah berkumandang. Sahla bangun dengan perlahan. Kepalanya terasa berat, akibat dari semalam yang tak bisa tertidur nyenyak.
"Kenapa ? Sakit ?" Tanya Bima yang terus memperhatikan Sahla yang terlihat lesu.
Sahla menggeleng. "Masih ngantuk," jawab Sahla.
Bima tersenyum, lalu mengusap lembut kepala Sahla. "Shalat dulu, nanti bisa lanjut tidur."
"Iya." Sahla lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai mengambil wudhu, ia pun menggelarkan sajadahnya dan menunaikan shalat shubuh.
Sahla benar-benar masih mengantuk, ia pun melanjutkan kembali tidurnya. Entahlah, ia tak terlalu memikirkan pantangan-pantangan untuk wanita hamil.
***
Tok… tok… tok…
Bu Ratih yang sedang berada di dapur bergegas menuju pintu depan setelah mendengar suara ketukan yang cukup keras.
Bu Ratih terkesiap dengan kedatangan dua orang laki-laki yang berbadan besar.
"Ini benar dengan rumahnya Bapak Bima ?" Tanya salah satu dari mereka.
"I… iya." Tergagap Bu Ratih menjawabnya. "Ada perlu apa ?" Dengan sedikit takut, Bu Ratih bertanya maksud kedatangan mereka.
"Kami ada perlu dengan Bapak Bima. Bisa kami bertemu ?"
Bu Ratih mengangguk ragu. "Sebentar, Ibu panggilkan dulu. Silahkan duduk." Bu Ratih mempersilahkan kedua tamunya duduk di teras depan.
Sahla terbangun mendengar sayup-sayup suara Ibu mertuanya memanggil Bima. Lalu bergegas membukakan pintu.
"Ibu. Ada apa Bu ?"
"Bima mana , Neng ?"
"Kak Bima masih tidur. Ibu kenapa ?" Sahla merasa heran dengan raut wajah Ibu mertuanya yang terlihat takut.
"Ada tamu yang nyari Bima. Dua orang laki-laki, badannya besar. Ibu ngeri lihatnya."
"Ini masih jam 6 pagi, sudah ada tamu. Siapa Bu ?"
"Ibu juga gak tahu. Apa Bima punya hutang pada rentenir, Neng ?"
Sahla malah melongo. "Rentenir ?"
"Iya, Ibu takut yang datang orang-orang yang suka nagih gitu."
Sahla menggeleng. "Setahu Sahla Kak Bima tidak pernah pinjam uang, Bu."
"Ada apa Neng, Bu ?" Tiba-tiba saja Bima sudah berada di belakang Sahla. Bima terbangun karena mendengar suara Sahla dan Ibunya.
"Ada yang nyari Kakak di depan." Jawab Sahla.
"Siapa ?"
__ADS_1
Kompak keduanya menggelengkan kepala.
Lalu Bima berjalan ke depan, diikuti Sahla dan Bu Ratih.
Bima menyalami kedua tamunya.
"Saya Bima. Ada perlu apa, Pak?" Tanya Bima sopan.
"Bos kami ingin bertemu dengan Bapak. Silahkan Bapak ikut kami." Jawab salah satu dari mereka.
Bima mengernyitkan dahi heran. "Kalau boleh tahu siapa Bos yang anda maksud ?"
"Bapak bisa ikut kami dulu."
"Kalau saya menolak ikut ?"
"Akan kami bawa paksa."
Bima terdiam. "Baiklah aku akan ikut kalian."
Mendengar persetujuan suaminya, Sahla tak bisa berdiam diri lagi. Dari tadi ia hanya menyimak saja.
"Kak, kita tidak kenal mereka. Kakak jangan ikut." Cegah Sahla. Ia takut mereka adalah orang yang tidak baik dan akan mencelakakan suaminya.
"Sebentar." Ucap Bima pada kedua tamu tersebut. Lalu membawa istri serta Ibunya ke dalam rumah.
"Kak. Pokoknya Kakak tidak boleh ikut dengan mereka. Mereka seperti orang jahat. Penampilan mereka sungguh menakutkan." Ucap Sahla setelah mereka berada di dalam rumah. Hatinya begitu risau melihat penampilan kedua tamu tersebut.
"Dek. Jangan berkata seperti itu."
"Ibu juga takut Bim, lihat penampilan mereka. Apalagi mereka akan memaksa jika kamu tidak mau ikut." Bu Ratih pun merasakan hal sama dengan Sahla.
"Bu, Dek. Doakan saja Bima kembali ke rumah dengan sehat dan selamat. Dan tidak terjadi sesuatu hal yang buruk." Bima mencoba menenangkan kedua wanita yang ada di depannya.
"Kamu tidak takut atau curiga kepada mereka ?" Tanya Bu Ratih.
"Tentu saja takut Bu. Tapi Bima harus ikut mereka. Bima juga penasaran ada hal apa yang mengharuskan Bima ikut mereka. Pastinya ada hal penting."
"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik." Ucap Bu Ratih.
"Kak." Sahla menggeleng, hatinya masih tak mengizinkan Bima ikut.
Bima memegang tangan Sahla. "Dek. Percaya sama Kakak. Tidak akan terjadi hal buruk." Bima sekali lagi menenangkan hati istrinya.
"Baiklah. Bila urusannya telah selesai, cepatlah pulang."
"Tentu saja, Kakak akan secepatnya pulang. Kakak pergi dulu." Lalu Sahla menc**m tangan Bima dan Bima membalas dengan menc**m keningnya. Tak lupa ia pun menyalami Ibunya.
Bima keluar rumah dan menghampiri kedua tamu yang masih setia menunggunya. "Maaf Pak, kalau menunggu lama."
"Tidak apa-apa. Mari Pak, kita jalan sekarang." Kedua orang itu pun hanya mengangguk saat melewati Sahla dan Bu Ratih. Diikuti Bima yang berjalan di belakangnya. Mereka menaiki motor mereka masing-masing.
"Saya naik di mana ? Atau saya bawa motor sendiri ?" Tanya Bima.
"Silahkan, Bapak ikut dengan saya." Ucapnya. Hanya satu orang ini yang sedari tadi berinteraksi dengan Bima, sedangkan yang satunya tak pernah berkata apa-apa. Mungkin tugasnya hanya menemani saja.
__ADS_1