Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Marisa 7


__ADS_3

"Tidak mungkin. Siapa yang merekam ini semua ?"


"Jangan berpura-pura tidak tahu. Aku tahu, ini semua adalah bagian dari rencanamu untuk menghancurkan rumah tanggaku."


Marisa menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak. Aku benar-benar tidak tahu. Lagipula, aku tidak akan membahayakan diriku sendiri hanya untuk sebuah sandiwara. Apalagi hanya untuk menghancurkanmu."


"Jika video ini tersebar, ini akan membuat masalah. Tidak hanya dirimu, aku juga bisa terseret-seret." Lanjut Marisa.


Bima memikirkan apa yang dibicarakan Marisa. Sepertinya, dia memang tidak tahu menahu masalah video ini.


"Kenapa bisa jadi begini ?" Tanya Marisa kesal. Lalu Marisa masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu.


"Br*****k!


"S****n! Kenapa kau melibatkanku sampai sejauh ini?" Suara Marisa terdengar samar dari dalam kamarnya.


"Aku tidak mau tahu, kau bereskan ini semua. Jangan sampai video ini tersebar luas. Atau aku akan membeberkan semuanya." Lanjut Marisa.


Bima mendengarkan semua pembicaraan Marisa yang entah dengan siapa. "Ada seseorang yang merencanakan ini semua ? Siapa ?" Batin Bima.


Ceklek. 


Pintu kamar terbuka. Marisa keluar dengan setenang mungkin. Ia tidak ingin memperlihatkan kegelisahannya pada Bima.


"Siapa orangnya ?" Tanya Bima tanpa basa basi.


Terlihat Marisa menelan salivanya. "Apa Bima mendengarkan semua pembicaraanku tadi di kamar ?" Ucap Marisa dalam hati. "Oh bodoh sekali, kenapa sampai gegabah seperti ini ?" Ucapnya lagi dalam hati.


"Siapa orangnya, Marisa ?" Bima bertanya sekali lagi dengan suara yang lebih tinggi.


 "Orang apa ? Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud?" 


"Jangan pura-pura bodoh! Aku mendengar semua ucapanmu di kamar."


"Kamu salah paham. Aku tidak sedang membahas masalah ini." Marisa mencoba menghindar dari permasalahan ini.


"Aku tidak sebodoh itu, Marisa! Cepat katakan! Siapa orangnya ?" Bima benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Namun ia tetap menahan diri untuk tidak memukul Marisa.


Marisa sedikit gentar dengan amarah Bima. "Si b******k itu, awas saja kalau nanti bertemu. Dia tidak tahu bagaimana takutnya aku melihat Bima semarah ini." Ucap Marisa dalam hati. 


"Aku juga tidak tahu. Lebih baik kamu pergi sekarang! Dan jangan pernah kesini lagi!" Marisa mengusir Bima. Ia tidak ingin berlama-lama dengan Bima yang sedang dikuasai amarah. Sungguh Marisa sangat takut.


Bima tak bergeming. Ia bertekad tidak akan pergi sebelum Marisa berkata yang sebenarnya.


Bima menggelengkan kepalanya. "Sebelum aku mendapatkan jawabannya, jangan harap aku pergi dari sini."

__ADS_1


Marisa semakin kelabakan. Ia terus berpikir bagaimana caranya mengusir Bima.


"Bima! Jika kamu tak mau pergi juga, aku akan meneriakimu maling." Ancam Marisa.


Bima masih tak bergeming, ia tidak takut akan ancaman Marisa.


"Tidak ada maling yang datang bertamu di pagi hari, Marisa."


Marisa menghela nafas.


"Lebih baik, kamu cepat katakan siapa orangnya, agar aku cepat pergi dari sini. Dan aku tidak akan mengganggumu lagi." Lanjut Bima.


"Jika aku jadi kamu, aku sudah bisa menebak siapa dalang dari ini semua?"


Bima menatap tajam Marisa. "Maksudnya?"


Marisa menarik nafas dengan kesal. "Coba saja kamu ingat kembali kejadian tadi malam. Bagaimana kita bisa sampai berakhir di tempat tidur."


Bima terdiam, memorinya mulai berputar ke belakang. Dimana dia datang hendak menginterogasi Marisa, namun malah berakhir di tempat tidur, yang tentu saja menimbulkan masalah baru yang lebih besar lagi.


Bima mengingat, ketika datang ada Ari yang ternyata sedang berkunjung. Lalu Ari memberikan minuman, yang ternyata sehabis meminum minuman tersebut, Bima merasa tubuhnya menjadi panas dan berg****h. Hasrat s*****lnya tiba-tiba memuncak, dan Bima tak bisa mengendalikannya. Hingga akhirnya sesuatu yang tidak disangka terjadi antara dirinya dan Marisa.


Bima mengepalkan tangannya dengan erat. Rasa kesal dan marah semakin menguasai dirinya. "Benarkah dia orangnya ?" Batin Bima.


"Ehem." Suara deheman Marisa membuyarkan pikiran Bima.


"Benarkah dia orangnya ?" Tanya Bima memastikan.


"Jika kamu masih ragu. Lebih baik kamu tanyakan langsung kepada orangnya."


"Kenapa dia melakukannya ?" Tanya Bima lagi.


Marisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Tanyakan langsung padanya. Aku tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak mau tahu juga. Paham ?" 


Bima masih tak bergeming, ia tidak percaya akan semua sangkaannya.


"Kenapa diam saja ?" Marisa terlihat sangat kesal dengan Bima yang belum beranjak juga dari duduknya.


"Aku tidak percaya kalau dia orangnya." Ucap Bima. 


"Terserah kamu. Yang pasti, aku tidak terlibat sama sekali. Disini juga aku menjadi korban, karena ini di luar sepengetahuanku."


Akhirnya Bima menyerah, ia keluar dengan gontai. Pikirannya terus berkecamuk. Di atas motor, Bima termenung. "Apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Tanya Bima pada dirinya sendiri.


***

__ADS_1


Sementara itu, di rumah orang tuanya. Sahla terus berada di kamarnya. Ia enggan keluar sama sekali. Sesekali air matanya menetes tanpa ia bisa bendung.


Ceklek. Suara pintu kamar Sahla dibuka.


"Neng, ini Ibu." Ucap Bu Marni sembari berjalan menghampiri Sahla yang tengah berbaring. Sahla buru-buru mengusap wajahnya dengan tangan. "Di luar ada laki-laki yang mau bertemu denganmu." Lanjut Bu Marni.


"Siapa Bu ? Kak Bima ?" Tanya Sahla. Ia kemudian bangun dan duduk masih di tempat tidurnya.


Bu Marni menggeleng. "Bukan. Ibu juga tidak tahu siapa. Mau menemuinya ?"


Sahla menggeleng. "Sahla tidak ingin bertemu siapa-siapa dulu, Bu."


"Baiklah. Ibu keluar dulu ya."


Sahla menjawab dengan anggukan saja.


Namun tak berapa lama, Ibunya masuk lagi ke kamar Sahla.


"Neng, dia kekeh mau ketemu kamu."


"Memangnya dia mau apa ?"


"Katanya ada sesuatu yang mau dia sampaikan menyangkut suamimu."


"Kak Bima ?" 


"Iya. Lebih baik kamu temui dia sebentar ya. Siapa tahu ada informasi yang penting yang ingin dia sampaikan."


"Baiklah." Sahla pun turun dari tempat tidurnya. Dengan ditemani Ibunya, Sahla menemui lelaki tersebut.


"Maaf siapa ya ? Apa kita saling kenal ?" Tanya Sahla saat melihat lelaki itu. Ia sungguh tak mengenalnya.


Laki-laki itu tersenyum ramah. "Kita memang belum pernah bertemu. Tapi aku pernah bertamu ke sini jauh sebelum kamu menikah." Jawabnya dengan tenang.


Sahla dan Bu Marni saling pandang, Bu Marni hanya menggendikan bahunya saja sebagai tanda bahwa ia pun tidak tahu akan hal itu.


"Maksudnya ?" Tanya Sahla penasaran.


Sekali lagi lelaki tersebut tersenyum. "Bu Marni, apakah masih mengingatku ?"


Bu Marni menatap lelaki tersebut, "tidak. Ibu tidak ingat kita pernah bertemu, bahkan di rumah ini."


"Baiklah, tidak apa-apa. Mungkin karena aku bukanlah orang yang penting bagi kalian, sehingga mudah untuk dilupakan."


"Jangan berbelit-belit. Sebenarnya apa maksud kedatanganmu menemui putriku ?" Tanya Bu Marni mulai terlihat kesal.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu, siapa Bima yang sesungguhnya."


__ADS_2