
Sepanjang perjalanan Sahla terus saja menangis. Rasa sedihnya itu mengalihkan perasaan takutnya menembus kegelapan di tengah malam. Bahkan kepalanya yang sudah terasa berat akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata dari kemarin malam, ia abaikan. Entah berapa banyak air mata yang telah ia tumpahkan.
Semakin dekat dengan rumah orang tuanya, Sahla pun mempercepat langkahnya.
Tok… Tok… Tok…
"Assalamualaikum. Bu, Pak! Ini Sahla. Tolong buka pintunya." Dengan sedikit berteriak Sahla memanggil kedua orang tuanya untuk membukakan pintu.
Tak butuh waktu lama, pintu terbuka oleh ayahnya. Yang memang jam segini, ayahnya belum tidur karena baru selesai menutup warungnya.
"Neng Sahla!" Pak Edi sangat terkejut dengan kedatangan anaknya yang tiba-tiba, apalagi tengah malam begini dengan wajah yang sembab dan basah oleh air mata. Pak Edi langsung merangkul Sahla.
"Bu, Bu… Neng Sahla pulang." Panggil Pak Edi.
Mendengar suaminya memanggil dengan suara yang keras. Bu Marni terbangun dari tidurnya yang baru saja terlelap.
"Ada apa Pak teriak malam-malam ?" Tanya Bu Marni sambari keluar dari kamarnya menghampiri suaminya. Namun Bu Marni sangat kaget, ternyata suaminya tak sendiri, ada anaknya yang sedang dalam dekapan suaminya. Bu Marni dengan cepat menghampiri suami dan anaknya. Tetapi tiba-tiba saja tubuh Sahla melemah dan luruh ke bawah. Pak Edi dengan sigap menahan tubuh Sahla.
"Ya Allah, Neng. Kenapa Neng ? Kenapa ini Pak?" Bu Marni sangat panik melihat Sahla yang tiba-tiba saja pingsan.
"Bu, bantu angkat. Bawa ke kamar." Titah Pak Edi. Dengan dibantu Bu Marni, Pak Edi menggotong Sahla ke kamar miliknya saat masih tinggal di sini.
"Bu, coba ambil minyak angin." Ucap Pak Edi setelah berhasil membaringkan Sahla di tempat tidur. Bu Marni dengan cepat keluar dari kamar Sahla menuju kamarnya untuk mengambil minyak angin yang Pak Edi minta. Setelah mendapatkannya, Bu Marni langsung kembali ke kamar anaknya dan menyerahkan minyak angin tersebut kepada suaminya. Pak Edi langsung membubuhkan minyak angin di hidung Sahla, berharap Sahla cepat sadar dari pingsannya.
"Apa yang terjadi pada anak kita, Pak?" Tanya Bu Marni dengan terisak. Bu Marni benar-benar sangat mengkhawatirkan anaknya. Ia menangis melihat keadaan Sahla yang datang seperti itu.
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada Sahla." Pak Edi juga sangat mengkhawatirkan anaknya.
"Kita bawa ke rumah sakit aja Pak." Saran Bu Marni.
"Rumah sakit jauh Bu, apalagi harus menggunakan mobil kesananya."
"Aduh, Pak. Terus kita harus bagaimana ?"
"Tenang Bu, kita berdoa saja. Semoga Sahla cepat sadar."
"Ibu mana bisa tenang Pak, lihat keadaan anak kita seperti ini."
__ADS_1
Pak Edi tak menyahut perkataan istrinya. Karena ia pun sama seperti istrinya, sangat khawatir dengan keadaan anaknya.
Dan tak lama kemudian, Sahla perlahan membuka matanya.
"Neng, alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga." Ucap Bu Marni sembari mengusap lembut kepala Sahla.
Sahla yang kembali mengingat keadaannya yang sedang tidak baik-baik saja, menangis kembali.
"Kenapa Neng ?" Bu Marni semakin khawatir dengan Sahla yang langsung menangis begitu sadar dari pingsannya.
"Sakit Bu, di sini rasanya sakit sekali." Ucap Sahla pelan sambil menepuk dadanya.
"Pak, Pak. Ambil minum, Pak." Ucap Bu Marni pada suaminya. Pak Edi dengan sigap langsung ke dapur mengambil segelas air hangat untuk anaknya. Lalu menyerahkannya pada Bu Marni.
"Minum dulu." Ucap Bu Marni sambil membantu Sahla meminumnya.
"Kenapa Neng ? Apa yang terjadi ?" Tanya Bu Marni lembut.
"Biarkan Sahla tinggal di sini, Bu, Pak. Sahla tidak mau bertemu dengan Kak Bima." Jawab sahla dengan deraian air mata.
Bu Marni dan Pak Edi saling pandang. Karena mereka tak mengerti apa yang tengah dialami oleh anaknya.
"Terima kasih Bu, Pak, masih mau menampung Sahla."
"Jangan berkata seperti itu. Kamu anak Ibu, anak Bapak. Mana mungkin kami membiarkanmu begitu saja. Sudahlah, jangan berbicara macam-macam lagi. Sekarang istirahatlah, tidur yang nyenyak. Jangan memikirkan apa-apa lagi. Atau mau makan sesuatu ?" Tanya Bu Marni.
Sahla menggeleng. "Baiklah, sekarang tidurlah. Ibu sama Bapak akan menemanimu di sini." Ucap Bu Marni.
"Bu, Pak. Tolong jangan kasih tahu Kak Bima, Sahla ada di sini. Sahla tidak mau melihatnya." Pinta Sahla.
Bu Marni semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada rumah tangga anaknya. "Kenapa Neng ? Kalian berantem ?" Tanya Bu Marni.
Sahla kembali berurai air mata. Ia belum siap menceritakan semuanya pada orang tuanya.
"Neng, kenapa menangis lagi ?" Tanya Bu Marni lagi.
"Bu, sudah. Biarkan Sahla tenang dulu." Ucap Pak Edi.
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kamu tidurlah. Jangan memikirkan apa-apa lagi." Uca Bu Marni.
Sahla mengangguk. Lalu Bu Marni dan Pak Edi keluar dari kamar Sahla, dan kembali ke kamar mereka.
"Ada apa ya Pak dengan anak kita, Ibu khawatir. Kita hubungi Nak Bima aja, Pak."
"Bu, tadi Ibu gak denger yang Sahla minta. Jangan beri tahu Bima."
Bu Marni menghela nafas. "Ibu khawatir Pak, apalagi Sahla lagi hamil."
"Bukan hanya Ibu saja yang khawatir, Bapak juga khawatir."
Bu Marni terdiam, pikirannya tengah menerka-nerka apa yang terjadi pada rumah tangga anaknya.
"Bu, lebih baik sekarang tidur. Besok baru kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi." Ajak Pak Edi. Bu Marni pun menurut.
Sementara di kamar sebelah Bu Marni dan Pak Edi. Sahla tak bisa memejamkan matanya. Air matanya masih saja keluar, meski tak sederas tadi. Berkali-kali ia menghela nafas panjang, berharap hatinya sedikit lebih tenang. Tak ketinggalan juga bibirnya selalu beristighfar. Lambat laun, akhirnya ia terpejam juga, mungkin karena efek kelelahan menangis.
Seperti biasa kumandang adzan membangunkan insan-insan yang tengah terlelap. Bu Ratih pun demikian, ia akan segera bangun saat telinganya menangkap suara adzan.
Bu Ratih bergegas ke kamar mandi, mengeluarkan sisa-sisa makanan dan minuman yang telah menumpuk saat ia tidur. Kemudian mensucikan diri sebelum bertemu Sang Khalik di dua rakaat subuh.
Setelah selesai bermunajat, Bu Ratih siap dengan segala rutinitasnya di pagi hari. Pertama yang ia lakukan adalah membuka gorden di semua jendela ruang tamu dan kamar.
"Kenapa suasana rumah serasa sepi sekali ? Neng Sahla sudah bangun belum ?" Tanyanya dalam hati. Ia merasa janggal dengan suasana rumahnya yang lengang. Biasanya akan terdengar suara gemericik air dari kamar anak dan menantunya. Dan kali ini tidak terdengar sama sekali.
"Bima semalam pulang jam berapa ?" Tanyanya lagi. Ia langsung mengedarkan pandangannya, ternyata motor Bima tidak ada. "Apa masih di luar ? Lupa untuk dimasukkan ?"
Bu Ratih langsung membuka pintu depan, ingin mengecek motor Bima. Namun ia terkejut karena pintu dalam keadaan tidak terkunci.
"Kenapa sampai lupa mengunci pintu ? Gegabah sekali." Bu Ratih keluar dan sama, ia pun tak menemukan motor Bima. "Apa Bima tak pulang lagi ?"
Bu Ratih langsung teringat pada Sahla. Lalu bergegas masuk menemui Sahla. Ia khawatir dengan kondisi menantunya, karena Bima tak pulang lagi.
Bu Ratih mengetuk pintu kamar Sahla dan mencoba memanggilnya. Namun tak ada sahutan sama sekali dari dalam. Lalu ia mencoba membuka pintunya, dan ternyata tak dikunci.
"Neng, ini Ibu. Ibu masuk ya." Lalu Bu Ratih masuk ke dalam kamar Sahla. Sekali lagi ia terkejut, karena tak menemukan seorangpun di dalam kamar. Bu Ratih langsung menengok ke kamar mandi, dan ternyata hasilnya sama, ia tak menemukan menantunya.
__ADS_1
"Ya Allah, Neng. Kamu kemana ?"