
"Sahla! Kamu tidak kasihan melihat suamimu sakit seperti ini ?" Tegur Bu Marni. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya.
Sahla berhenti di ambang pintu. Ia berhenti bukan karena perkataan Ibunya, melainkan karena kehadiran seorang wanita yang hendak mengetuk pintu.
Perempuan itu tersenyum tatkala melihat Sahla di ambang pintu. Ia mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, karena mendengar kegaduhan dari dalam rumah. Namun saat ia akan berbalik, Sahla telah memergokinya terlebih dahulu.
"Maaf kalau mengganggu. Apa benar ini rumah Bima ?" Tanya wanita itu.
Sahla melihatnya dengan seksama, dari ujung kepala hingga kaki. Cantik.
"Maaf siapa ya ?" Tanya Sahla.
"Saya teman sekolahnya. Apa benar ini rumah Bima ?" Tanyanya lagi.
"Ia benar. Mari masuk!"
"Ada apa, Neng?" Tanya Bu Marni sambil berjalan menghampiri Sahla. Ia heran karena Sahla terdiam di ambang pintu dan seperti sedang berbicara dengan seseorang.
"Ada yang nyari Kak Bima." Ucap Sahla.
Bima tersentak mendengar ucapan Sahla. "Siapa yang mencariku ?" Tanya Bima dalam hati.
Sahla dan Bu Marni mempersilahkan wanita itu masuk.
"Marisa!!!" Ucap Bima dalam hati. Bima melebarkan matanya saking terkejut. "Untuk apa wanita itu datang kesini ?" Tanyanya lagi dalam hati.
"Silahkan duduk." Sahla mempersilahkan Marisa untuk duduk. Lalu ia pun ikut duduk.
"Ada perlu apa dengan suami saya ?" Sahla dengan sedikit ketus bertanya pada Marisa. Ada sedikit kecemburuan melihat suaminya dicari oleh seorang wanita. Walaupun ia mengaku sebagai temannya.
Kini bergantian, Marisa yang menatap Sahla dengan seksama, dari ujung kepala hingga kaki. "Boleh juga pilihan Bima." Ucap Marisa dalam hati.
"Saya ada perlu sedikit dengannya." Jawab Marisa.
Bima sedari tadi diam mematung karena keterkejutannya, kini sudah mulai menguasai diri. Ia pun bergegas menghampiri Marisa. Dan tanpa berkata apa-apa, ia langsung menyeret tangan Marisa keluar rumah. Ia tidak ingin kedatangan Marisa menambah keruh keadaan rumah tangganya.
Sahla dan kedua Ibunya terkejut dengan perilaku Bima. Sahla sontak berdiri dan mau mengikuti mereka keluar rumah.
"Diam di rumah! Jangan ikuti kami!" Ucap Bima dengan nada yang keras. Sahla pun terdiam, bibir dan kakinya seketika mematung. Namun matanya tak bisa terkontrol lagi untuk mengeluarkan cairan bening. Sahla tak menyangka Bima akan membentaknya seperti itu, apalagi ada wanita asing yang sedang bersamanya.
Bagai tersayat sembilu, hatinya begitu sakit dan perih. Kali ini Sahla merasa benar-benar dikhianati oleh Bima secara langsung. Ia juga merasa, dirinya sudah tak diinginkan oleh suaminya. Sahla tak kuasa menahan tangisnya. Ia pun berlari ke kamarnya. Lalu mengunci pintu.
Di dalam sana, Sahla menangis sejadi-jadinya. "Kenapa kamu memperlakukanku seperti itu ?" Gumam Sahla di tengah tangisnya. "Sepertinya kamu benar-benar tak mau memperjuangkanku."
"Neng! Neng!" Bu Marni dan Bu Ratih yang tak kalah terkejutnya terus memanggil Sahla yang mengunci diri di dalam kamar. Mereka semakin khawatir dengan rumah tangga anaknya.
"Ya Allah, ini kenapa lagi, Tih ?" Bu Marni bertanya sambil mengelus dadanya.
__ADS_1
"Belum kelar masalah yang satu, datang lagi masalah yang lain." Lanjutnya lagi.
Bu Ratih terdiam lemas. Ia enggan berkomentar apa-apa. Hatinya begitu syok dengan kejutan-kejutan masalah yang menimpa anaknya.
Sementara itu, Bima menyeret Marisa ke bawah pohon mangga yang ada di pekarangan rumahnya.
"Bima! Sakit! Lepaskan tanganku!" Marisa merintih kesakitan karena cengkraman tangan Bima yang begitu kuat.
"Kenapa kamu datang ke rumahku ?" Tanya Bima setelah melepaskan tangan Marisa.
Marisa mengusap pergelangan tangannya yang sakit. "Ada yang harus aku sampaikan kepadamu."
"Apa…" Bima menjeda omongannya sebentar sembari menatap tajam Marisa. Lalu Bima menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Baru beberapa hari kita melakukannya." Lanjut Bima.
Marisa mengernyitkan dahi, tak mengerti dengan apa yang Bima ucapkan. Namun seketika bola matanya membesar, menandakan bahwa ia mulai paham apa yang Bima maksud. "Ha… ha… ha…" Marisa malah tertawa.
"Bima… Bima… kamu polos atau b**o sih. Ya mana mungkin aku hamil." Ucap Marisa.
"Lalu apa yang mau kamu sampaikan padaku ?"
Marisa terdiam. Ia bingung mau memulainya dari mana.
"Kenapa diam ?" Tanya Bima lagi.
"Hmm… Apakah kamu merasa sakit akhir-akhir ini ?" Tanya Marisa.
Bima mengernyitkan dahi, ia tak mengerti mengapa Marisa bertanya seperti itu, apalagi sekarang ia memang sedang sakit. Kebetulan yang sangat pas sekali.
"Jawab saja dulu pertanyaanku, nanti aku jelaskan semuanya."
"Untuk apa ?"
"Jawab saja dulu. Ini sangat penting bagimu."
"Bagiku ? Memangnya kenapa ?"
Marisa menarik nafas. Kesal juga menghadapi sosok manusia seperti ini.
"Aku mohon Bima, jawab saja pertanyaanku." Marisa dengan lembut membujuk Bima.
"Kamu kenapa sih ? Kita tidak ada urusan apa pun! Mau aku sakit atau tidak, itu bukan urusanmu." Bima terlihat kesal dengan Marisa.
Marisa mengangguk. "Iya, aku paham. Aku bukan siapa-siapanya kamu. Dan aku juga tidak berhak apapun juga atas dirimu. Tapi…" Marisa menghentikan ucapannya.
"Tapi apa ?"
"Sekarang aku sedang sakit." Ucap Marisa pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Bima.
__ADS_1
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Aku terkena penyakit k*****n. Dan aku takut kamu tertular." Marisa menundukkan kepalanya. Ia tidak mau melihat reaksi Bima.
"Apa?!!" Bima sangat terkejut mendengar penuturan Marisa.
Marisa hanya bisa diam.
"Aku minta maaf. Sebaiknya kamu segera memeriksakan diri ke dokter."
Bima terdiam. Pikirannya terasa kacau. Badannya terasa lemas setelah mendengar itu semua.
Bima menggeleng. "Tidak mungkin." Ucapnya lirih.
"Maaf. Aku juga baru memeriksakan diri dan hasilnya seperti yang kamu dengar tadi." Marisa merasa bersalah pada Bima.
Bima masih terdiam.
"Tapi, penyakit ini masih bisa disembuhkan. Bukan penyakit H**/A***. Jadi segeralah pergi ke dokter."
Bima menatap Marisa, mencari pembenaran dari apa yang ia ucapkan barusan. Dan Marisa tidak menunjukkan bahwa dia sedang berbohong. Bima merasa sedikit lega.
"Beruntung, aku tidak terkena penyakit yang mematikan itu." Ucap Marisa sedikit menghibur dirinya dan Bima.
Bima mencibir mendengar ucapan Marisa. "Iya, beruntung kamu tidak terkena penyakit yang menj****kan itu. Jadi bertaubatlah, sebelum kamu benar-benar tertular penyakit itu."
"Tanpa disuruh pun aku akan bertaubat. Aku sudah lelah hidup seperti ini."
Bima terdiam. Di dalam hatinya ia merasa kasihan kepada Marisa.
"Bagus. Bertaubatlah."
Marisa tersenyum. "Baiklah, aku sudah menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan. Dan sekarang aku sudah merasa lega."
Bima menatap Marisa lekat.
"Sekali lagi aku minta maaf, kalau kamu ikut sakit sepertiku. Aku benar-benar minta maaf."
"Sudahlah. Tidak usah minta maaf seperti itu. Ini terjadi juga bukan karena kamu yang sengaja menularkannya."
"Mungkin yang patut disalahkan adalah Ari." Lanjut Bima.
Marisa mengangguk. "Betul. Aku setuju denganmu. Ini semua karena ulah Ari. Dia pasti sedang bersembunyi sekarang, dari kemarin nomornya tidak bisa dihubungi. Aku kesal sekali padanya." Marisa terlihat menyimpan kemarahannya pada Ari.
"Tentu saja dia sedang bersembunyi. Dia tidak akan berani menampakkan batang hidungnya setelah semua yang telah ia lakukan." Sama halnya dengan Marisa, Bima pun memendam amarahnya terhadap Ari.
Marisa sedikit terkejut dengan ekspresi wajah Bima yang terlihat sangat jelas penuh dengan amarah.
__ADS_1
"Baiklah. Aku harus segera pergi." Marisa sedikit takut dengan perubahan emosi Bima, jadi ia putuskan untuk pulang saja.
Bima hanya mengangguk. Lalu menatap Marisa yang berjalan menjauhinya sampai ia hilang dari pandangannya.