Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Bab 43


__ADS_3

"Kak! Kapan Bima datang ?"


Entah yang keberapa kali Raina bertanya seperti itu. Reno pusing mendengarnya. 


"Kak! Kenapa diam saja ?"


Reno berpura-pura tertidur di sofa, agar Raina tak lagi bertanya. Namun suara dering Hpnya tiba-tiba berbunyi. Reno meraih Hpnya yang ia letakkan di meja, tertera nama si penelpon adalah Edo.


"Tuan, Pak Bima sudah saya antar ke gazebo belakang." Ucap Edo dari seberang telpon.


"Baik, aku akan segera kesana. Siapkan sarapan untuk kami." 


"Baik Tuan."


Lalu Reno mematikan telponnya dan memandang ke arah Raina.


"Ayo keluar." Ucap Reno, kemudian langsung berjalan keluar kamar.


"Kak tunggu. Mau kemana ?" Raina mengejar Reno. "Aku ingin Bima. Dimana Bima ?"


Reno hanya diam saja. Sebenarnya ia sudah muak mendengar nama Bima dari mulut adiknya. Kalau bukan adik kesayangannya, mungkin Reno telah menyumpal mulut Raina.


Meski tak dijawab pertanyaannya, Raina tetap mengikuti Reno.


"Kak. Kita dimana ?" Tiba-tiba saja Raina berhenti saat mendapati suasana rumah yang asing baginya.


Reno pun seketika berhenti mendengar pertanyaan Raina.


"Apa Raina sekarang sudah benar-benar sadar ?" Tanyanya dalam hati. Semenjak tinggal disini, Raina tidak pernah benar-benar hadir, tubuhnya memang berada disini, tapi pikirannya hanya tertuju pada seorang Bima saja. Dan baru kali ini, Raina seperti hadir seutuhnya. 


"Kak, ini bukan rumah kita ?" Tanya Raina lagi.


"Ini rumah kita, rumah kedua kita."


Raina mengernyitkan dahi, karena yang ia tahu, keluarganya hanya memiliki satu rumah saja.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Nanti Bima keburu pergi kalau kita tak segera menemuinya."


Sekali lagi, Raina seperti terhipnotis saat nama Bima disebut. "Bima ? Bima ada disini ?"


"Luar biasa sekali. Bima, kamu apakan adikku sampai tergila-gila seperti ini kepadamu?" Gumam Reno.


"Dimana Bima ?" Raina mulai sedikit histeris.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu Raina." Ucap Reno sambil memegang bahu Raina.


"Tenang ya, kita akan segera bertemu Bima."


Raina mulai terlihat tenang. Lalu mereka kembali berjalan sambil bergandengan tangan.


Saat tiba di belakang rumah, Raina langsung tertuju pada orang yang berada di gazebo. Ia hafal betul, siapa yang berada disana. 


"Bima." Ia terus melafalkan nama tersebut. Kemudian Raina langsung berlari menghampiri Bima. Sementara itu, Reno diam saja melihat Raina. Ia ingin tahu apa yang akan Raina lakukan saat bertemu Bima. Ia juga ingin memberi kesempatan kepada adiknya untuk melepaskan segala kerinduannya kepada Bima.


Raina menatap Bima begitu dalam, kini jarak mereka hanya beberapa jengkal saja. Bima terdiam melihat Raina sudah berada di hadapannya. Debar jantungnya tak seperti dulu lagi. Namun ingatannya akan Raina masih utuh ia simpan.


"Bima, kau benar-benar Bima." 


"Iya Raina, aku Bima. Lama tidak jumpa."


Lalu Raina langsung memeluk Bima. Tentu saja Bima sangat syok mendapat pelukan yang begitu tiba-tiba. Ingin hati melepaskan diri, tapi tidak tega. Ia biarkan Raina memeluknya, tanpa membalas pelukannya lagi.


"Aku sangat merindukanmu. Jangan pernah pergi lagi dariku."


Bima meringis mendengarnya, sungguh ia tidak tahu harus bagaimana.


Raina melonggarkan pelukannya. Dan kini tangannya mencoba memindai wajah Bima. Dan Bima membiarkannya, ia masih tak tega untuk menolaknya. Setelah puas memindai wajah Bima, Raina kembali memeluk Bima.


Sekali lagi Bima hanya terdiam.


"Ehem…" 


Suara deheman menyadarkan Raina hingga ia melepaskan pelukannya.


"Aku lapar, kita sarapan dulu." Rupanya Reno sudah berada di antara Bima dan Raina, ia langsung duduk di kursi bagian tengah. Bima dan Raina pun ikut duduk di kedua sisi Reno.


Tak lama kemudian, para pelayan menghidangkan sarapan untuk mereka.


Sesekali Reno melirik Bima bergantian dengan Raina. Dan Reno semakin muak kepada Raina yang terus tertuju pada Bima. Sementara Bima hanya fokus pada makanannya.


Sebenarnya, rasa tidak suka kepada Bima masih tersimpan di hati Reno. Namun demi adiknya, ia tekan perasaannya. Dan mencoba menerima Bima. Karena perbedaan status sosial, Reno tak merestui Raina bersama Bima. Ia takut Bima hanya memanfaatkan dan mencintai Raina hanya untuk mengincar harta.


"Raina makanlah." Reno terlihat kesal karena Raina tak menyentuh sama sekali makanan yang ada di depannya, pandangannya hanya tertuju pada Bima.


Bima pun langsung menoleh ke arah Raina, dan tatapan mereka bertemu. Bima hanya bisa tersenyum kecut saja.


Ditegur Kakaknya, Raina mulai melirik makanannya. Satu suap, dua suap, dan selesai. "Aku sudah kenyang." Ucap Raina sambil meletakkan sendoknya.

__ADS_1


"Raina, habiskan makanmu." 


"Aku sudah kenyang Kak."


Lalu Reno melirik kepada Bima, dan mengisyaratkan sesuatu kepadanya. Dan Bima pun mengerti apa yang dimaksud Reno.


"Raina, makanlah lagi. Aku senang jika kamu menghabiskan makananmu." Ucap Bima.


"Benarkah ?" Tanya Raina dengan mata yang berbinar. Bima mengangguk.


"Baiklah, aku akan habiskan."


Reno yang melihat tingkah adiknya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Tak habis pikir dengan tingkah Raina. Begitukah orang yang sedang jatuh cinta ? Tapi Raina bukan lagi jatuh cinta biasa, tapi jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya. Dan Reno tak mau seperti itu, maka dari itu sampai sekarang ia masih betah dengan kesendiriannya. Ia tidak ingin seperti adiknya menjadi budak cinta.


Reno dan Bima sudah menyelesaikan sarapannya, begitupun dengan Raina, ia benar-benar menuruti perkataan Bima untuk menghabiskan makanannya.


Reno meregangkan tubuhnya, setelah sarapan ia sedikit merasa ngantuk, akibat dari kurang tidur semalam.


"Aku ada urusan. Kalian bersenang-senanglah." Ucap Reno sembari bangkit dari duduknya.


"Mau kemana ?" Bima mencoba menahan Reno, agar dirinya tidak berdua saja dengan Raina. 


"Sudahlah, nikmati waktu kalian. Mumpung aku berbaik hati." Ucap Reno sambil berjalan. meninggalkan Raina dan Bima.


Ia mengerti bagaimana perasaan Bima saat ini, namun apa boleh buat. Reno tidak ingin kehilangan lagi sosok Raina, meskipun ada yang harus dikorbankan.


Setelah kepergian Reno, Bima tidak tahu harus berbuat apa. Ia seperti kehilangan akal untuk memulai pembicaraan, bahkan hanya sekedar basa basi saja terasa begitu sulit. Seperti ada dinding sekat yang menghalanginya dengan Raina. Dan tiba-tiba saja wajah Sahla muncul di pikirannya. 


"Sahla." Gumam Bima dalam hati. Seketika rasa bersalah mulai menelusup masuk ke dalam hatinya. "Sepertinya aku telah mengambil keputusan yang salah. Kenapa aku tidak diskusikan dulu dengan Sahla ?" Gumamnya lagi.


Sementara Raina sedari tadi hanya memandangi Bima. Dan itu membuat Bima merasa tidak nyaman.


"Kenapa ? Sepertinya kamu sangat gelisah." Tanya Raina.


Bima tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Kamu apa kabar ? Sepertinya kamu lebih segar dari yang kemarin aku lihat ?"


"Berarti Kakakku tidak bohong, kemarin kamu benar-benar ada disini." Ucap Sahla.


"Kamu tidak ingat ?" Tanya Bima heran.


"Entahlah, aku hanya takut semua itu hanya mimpi belaka. Sudah terlalu sering aku memimpikanmu, dan saat terbangun semuanya lenyap begitu saja. Aku tidak mau lagi seperti itu, aku mau setiap kali bangun, kamu selalu ada di sampingku."


Kali ini Bima yang menatap Raina begitu dalam, hatinya teriris kembali mendengar penuturan Raina. "Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang ?" Ucap Bima dalam hati. Dan kini rasa bersalah yang mulai bersarang di hatinya kian bertambah, tak hanya lagi pada Sahla, tapi pada Raina juga.

__ADS_1


__ADS_2