Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Teman Bima (Ari)


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan berlalu. Sahla benar-benar sedang menikmati masa ngidamnya. Meski tak meminta hal-hal yang aneh, namun ia  cukup mengalami kesulitan. Morning sickness hampir terjadi di setiap paginya. Mencium aroma amis ikan dan ayam membuatnya muntah juga. Hanya sayuran dan buah-buahan yang tak membuatnya mual. Dan tidur setelah subuh masih ia alami juga. 


Beruntung Bu Ratih sangat memahami apa yang dialami Sahla. Begitu pun Bima. Ia mencoba memaklumi apa yang sedang dialami istrinya. Bahkan ia merasa kasihan melihat istrinya yang terlihat lemas.


"Dek. Kita ke dokter aja ya ?" Bima mencoba membujuk Sahla. Sepulangnya dari toko, Bima melihat Sahla terbaring lemas di atas kasur. Menurut penuturan Ibunya, seharian ini tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh istrinya. Setiap apa yang Sahla makan, akan dikeluarkannya kembali.


"Udah malam, Kak. Waktunya tidur."


"Baru jam 9, Dek."


Sahla menggeleng. Ia tidak ingin pergi kemana-mana. Ia hanya ingin berbaring dan tidur di atas kasurnya.


Bima menghela napas. Merasa kesal sendiri, karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong istrinya. Hanya bisa pasrah menuruti segala keinginan istrinya.


"Baiklah. Tidurlah. Mudah-mudahan besok kamu bisa kembali sehat. I miss you." Bima mengecup kening Sahla. Lalu ikut berbaring di samping Sahla.


>>>>><<<<<


"Permisi A', beli rokok sebungkus." 


"Sebentar." Bima lalu mengambil rokok yang dimaksud oleh pria tersebut.


"Ini rokoknya, 35.000." Bima menyerahkannya pada pria tersebut.


"Bima! Kamu Bima kan ?" Teriak pria tersebut. Bima pun kaget, karena pria itu tepat memanggil namanya. 


"Hmm siapa ya ?" Tanyanya, sambil memindai wajah pria  tersebut.


"Ari ?" Bima mulai menemukan titik terang dari ingatannya  yang tiba-tiba saja muncul.


"Rupanya kamu masih ingat padaku."


"Ayo masuk, kita ngobrol dulu. Sudah lama kita tidak berjumpa."


Ari pun menyambut ajakan Bima.


"Duduk. Sebentar ya." Bima mengambil minuman dingin untuk tamunya, yaitu teman semasa SMA.


"Apa kabar?" Tanya Bima sambil meletakkan minuman di depan temannya, Ari.


"Yah seperti yang kamu lihat."


Bima mengangguk-ngangguk. "Tak menyangka kita bisa bertemu disini."


"Iya. Ini toko milikmu ?"


"Bukan, aku hanya penyewa saja. Maklumlah, baru mulai merintis usaha."


"Sejak kapan pulang kesini ? Pulang kok gak ngabarin sama sekali.


"Sudah setahun lebih. Biasalah anak rumahan, jadi ga bisa ke luar rumah." Canda Bima.


"Alah, anak rumahan apaan." Bima hanya bisa tertawa.


"Sekarang dimana ?" Tanya Bima.


"Masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah. Kamu sekarang semakin hebat aja ya. Pulang-pulang langsung buka toko. Hebat kamu."


"Ah, biasa aja. Jangan terlalu memuji. Kamu kerja apa ?"


"Aku kerja serabutan. Kalau ada kerjaan, ya aku kerjain. Kalau tidak ada ya hidup seadanya saja."

__ADS_1


"Sekarang gimana ? Lagi ada kerjaan ?"


"Kalau ada kerjaan, mana mungkin ada disini."


"Iya juga ya. Kalau mau, kamu bisa kerja disini."


"Disini ?"


"Iya. Dulu ada istri yang ngebantuin disini. Sekarang lagi hamil muda, jadi tidak bisa diharapkan untuk membantu disini."


"Serius kamu Bim ?" 


"Iya. Kewalahan juga ngelayanin sendiri."


"Boleh juga. Mulai kapan kerjanya ?"


"Mulai sekarang juga bisa."


"Siap Boss."


"Jangan panggil Bos lah. Panggil seperti biasa saja.


Pria tersebut mengangguk.


"Kita buka pukul 5 pagi, dan tutup pukul 8 malam. Jadi kamu berangkat sebelum jam segitu.


"Baik, aku paham. Terima kasih Bim. "


"Terima kasih juga, kamu mau kerja di sini."


"Kamu banyak berubah, Bim."


"Belum. Mana ada yang mau sama orang yang tidak jelas kerjaannya."


"Jangan merendah seperti itu. Belum ketemu jodohnya aja kali Ri."


"Faktanya memang seperti itu, Bim."


Bima pun tak bisa berkata-kata lagi.


"Pak, beli." 


"Sebentar ya Ri, ada yang mau beli." Bima pun beranjak dari duduknya dan melayani pembeli yang barusan datang. Ia merasa lega juga karena datangnya seorang pembeli. Karena ia merasa tidak enak jika harus meneruskan obrolannya dengan Ari.


Setelah pembeli tersebut pergi, lalu datang lagi pembeli yang lain. Bahkan tak hanya satu yang datang. Melihat Bima yang kewalahan, Ari yang sedari tadi memperhatikan Bima, langsung bergegas membantu Bima melayani pembeli.


"Rame juga Bim." Ucap Ari setelah kepergian para pembeli.


"Alhamdulillah."


Semenjak itu, Ari bersungguh-sungguh bekerja di toko Bima. Dan Bima merasa puas dengan keuletan Ari. Hingga tak terasa sudah satu bulan Ari bekerja bersama Bima.


Suara dering telpon mengagetkan Bima yang sedang melayani seorang pembeli. Tertera nama istrinya yang melakukan panggilan tersebut.


"Tumben sekali, jam segini Sahla nelpon." Waktu di jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi. Biasanya Sahla menghubunginya ketika jam mendekati jam pulang, karena ingin menitip sesuatu pada Bima.


[Assalamualaikum.] Sapa Bima.


(Wa'alaikum salam.) Ternyata bukan suara Sahla yang menjawab, tapi suara Ibunya.


[Ada apa Bu ?]

__ADS_1


(Cepat pulang, Nak. Neng Sahla pingsan.) Suara Bu Ratin terdengar panik.


[Iya, Bu. Bima akan segera pulang.]


Bima menutup telponnya. Ia terlihat bingung.


"Ri. Istriku pingsan. Aku harus pulang sekarang."


"Sudah, sana pulang, biar toko aku yang jagain." Ucap Ari.


"Terima kasih banyak, Ri. Kamu memang bisa diandalkan."


"Sudah, buruan pulang. Kasian istrimu."


Bima pun bergegas pulang. Tak lupa menyerahkan kunci tokonya pada Ari. Selama di perjalanan, pikiran Bima tertuju pada Sahla. Ia takut terjadi apa-apa pada istri dan calon anaknya.


Tanpa salam terlebih dahulu, Bima langsung menuju kamarnya. Disana ada Ibu dan ibu mertuanya. Terlihat sekali mereka habis menangis. Mata keduanya terlihat sembab.


"Sahla kenapa Bu ?" 


"Ibu juga gak tahu, Ibu masuk ke kamar, Sahla sudah tergeletak di lantai." Bu Ratih bercerita sambil menangis.


"Kita bawa ke rumah sakit saja, Bu."


"Iya, Bapak mertuamu lagi cari mobil buat bawa Sahla ke rumah sakit."


Tak berapa lama, suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah Bu Ratih. Bima langsung keluar. Dan benar saja, Bapak mertuanya bersama sang supir keluar dari mobil tersebut.


"Ayo Bim, bawa Sahla ke mobil." Ucap Pak Edi, Bapaknya Sahla.


Bima langsung kembali ke dalam kamar, dan membopong Sahla yang masih dalam keadaan pingsan masuk ke dalam mobil. 


"Mar, kamu gak usah ikut ke rumah sakit. Temenin Ratih saja. Biar Bapak sama Bima yang nganternya." Ucap Pak Edi. Bu Marni dan Bu Ratih mengangguk, menurut pada omongan Pak Edi. Padahal dalam hati mereka, ingin ikut menemani Sahla ke rumah sakit.


"Ayo jalan, Pak." Perintah Pak Edi.


Mobil pun melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Perjalanan ke rumah sakit membutuhkan waktu sekitar satu jam.


Tiba di rumah sakit, Sahla langsung ditangani oleh dokter yang berjaga.


"Silahkan Bapak melengkapi administrasinya dulu, sementara pasien kami tangani." Ucap sang dokter.


"Biar Bapak saja. Kamu temenin Sahla saja."


Bima pun menurut, karena ia juga enggan meninggalkan Sahla.


"Keadaan Bu Sahla sangat lemah. Sebaiknya dirawat beberapa hari disini." 


"Bagaimana dengan bayinya, Dok?"


"Bayi dalam perutnya baik-baik saja."


"Alhamdulillah."


Sahla pun dipindahkan ke ruang perawatan. Dan Bima tak beranjak sama sekali dari sisi Sahla.


"Dek. Kamu kok belum sadar-sadar. Bangun Dek." Ucap Bima pelan, tangan Sahla terus ia pegang.


Dan tak berapa lama, Sahla mulai mengerjapkan matanya. Bima yang melihatnya langsung mendekat.


"Dek." 

__ADS_1


__ADS_2