Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Marisa 3


__ADS_3

"Apakah kau merindukanku ?"


Bima tersenyum sinis mendengar Marisa bertanya seperti itu. 


"Atau kau masih penasaran bagaimana rasanya ber***ta denganku ?"


Bima begitu geram mendengarnya, namun sebisa mungkin ia tahan amarahnya. "Aku tahu kita tak melakukannya." Bantah Bima.


"Jadi… apa yang membuatmu datang kemari selarut ini ?"


Bima tersenyum sinis, "jadi kita benar-benar tak melakukannya." Ucap Bima pelan, namun masih terdengar jelas oleh Marisa.


"Baiklah. Aku mengaku sekarang, kemarin malam kita tidak melakukan apa-apa. Kita hanya berbaring tidur begitu saja."


Sekarang Bima benar-benar lega setelah mendengar  pengakuan Marisa yang sebenarnya. Namun ia masih penasaran alasan dibalik perbuatan Marisa kepadanya.


"Lalu, untuk apa kamu lakukan itu semua?" Tanya Bima. Marisa terdiam.


Hati Bima kembali memanas, karena Marisa tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Kita tidak ada hubungan apa-apa, kita juga baru dipertemukan kembali. Lalu alasan apa yang membuatmu berbuat seperti itu ?" 


"Aku hanya ingin bersenang-senang saja denganmu. Itu saja." Jawab Marisa tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Apa? Bersenang-senang ?" Bima tak habis pikir dengan jawaban yang Marisa utarakan. 


"Iya, hanya untuk bersenang-senang saja. Tidak ada alasan lain." Jawab Marisa lagi.

__ADS_1


"Kamu tahu? Perbuatanmu itu bisa merusak rumah tanggaku." Lanjut Bima dengan suara yang mulai meninggi.


"Oh… sungguhkah ? Maafkan aku Bima. Aku tidak berpikir efeknya sampai sejauh itu." Sekali lagi Marisa berkata tanpa merasa bersalah sama sekali, yang membuat hati Bima semakin memanas. "Tapi kita tidak melakukan apa-apa, Bima. Kita hanya tidur bersama, hanya berbagi tempat tidur dan selimut saja. Itu saja, tidak lebih."


Enteng sekali Marisa berkata seperti itu. Andai Bima tak melihat Marisa adalah seorang wanita, ingin sekali Bima menampar mulutnya. Namun ia tak mungkin melakukan kekerasan seperti itu, apalagi terhadap seorang wanita. 


"Ada apa ini? Kenapa kalian begitu tegang ?" Tiba-tiba saja Ari sudah berada di tengah mereka berdua. "Pas sekali, aku belikan minuman yang dingin." Ari membuka tutup kaleng, lalu membagikannya kepada Bima dan Marisa. Marisa menerimanya dan langsung menenggaknya perlahan. Namun Bima, masih terdiam. Terlihat sekali amarah masih menguasai hatinya.


"Bima, minum dulu. Kalau ada masalah dengan Marisa, bicarakan dengan hati yang dingin." Ucap Ari.


Akhirnya Bima meminum minuman pemberian Ari dengan sekali tenggak. Membuat Ari tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tega sekali kamu Sa, tak menyuguhkan minuman sedikitpun pada tamu. Lihatlah, dia sangat kehausan." Ucap Ari, Marisa hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Ari.


"Walaupun kusuguhkan berbagai makanan dan minuman pun, dia tak akan sudi menyentuhnya."


Ari terheran mendengar jawaban dari Marisa. "Sepertinya aku harus pulang. Marisa, Bima aku pamit. Kalian berdua, baik-baiklah. Selamat bersenang-senang." Ari beranjak dari duduknya dan keluar rumah Marisa, meninggalkan mereka berdua.


"Jika kamu hanya ingin bersenang-senang, kenapa harus aku ? Kenapa tidak mencari laki-laki lain saja ?" Tanya Bima. 


"Sudahlah Bima, jangan terlalu dibesar-besarkan. Toh, kita tidak berbuat apa-apa." Ucap Marisa, kali ini Marisa terlihat gelisah. Pandangan dan gerak tubuhnya tak setenang tadi. "Kenapa hawanya mendadak menjadi panas." Ucap Marisa pelan sambil mengikat rambutnya yang tergerai.


Ternyata apa yang Marisa rasakan, dirasakan juga oleh Bima. Bima merasa gerah dan gelisah. Ia pun membuka jaket yang sedari tadi ia pakai. Sama halnya dengan Marisa, Bima pun heran dengan perubahan hawa tubuhnya yang tiba-tiba. 


"Kenapa aku mendadak ber*****h?" Tanya Bima pada dirinya sendiri. Bima sibuk bertanya-tanya tentang perubahan suasana ditubuhnya, hingga tanpa ia sadari, Marisa menghampirinya dengan tubuh yang hampir t*******g. Tentu saja Bima terkejut melihatnya, namun ia tidak dapat menolak pesona Marisa dengan kondisi tubuhnya yang berada di mode ****.


Seperti terkena sihir, Bima tak dapat menolak Marisa. Ia pun menginginkannya juga. Hingga akhirnya, kejadian yang tak terjadi di malam kemarin, kali ini benar-benar terjadi. Mereka benar-benar melakukannya, meski sebelumnya tak ada niat di antara mereka untuk berbuat sampai sejauh itu.

__ADS_1


Sementara itu, di balik kamarnya. Seorang wanita yang tengah mengandung terlihat sangat gelisah. Sesekali ia melihat ke arah jam dinding, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. 


"Kenapa Kak Bima lama sekali ?" Tanyanya pada diri sendiri. Berkali-kali ia menghubungi nomor hp suaminya, namun tak sekali pun diangkat. Sahla sangat mengkhawatirkan suaminya. Ia sudah mencoba untuk tidur. Tapi debar jantungnya tidak mengijinkan untuk tidur. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya. Dan pikirannya selalu tertuju pada Bima.


Tiba-tiba saja terdengar suara notifikasi pesan yang masuk. Sahla buru-buru meraih hp yang ia letakkan di meja rias. Ia berharap sekali pesan itu dari Bima. Namun ternyata tak sesuai dengan harapannya. Pesan itu dikirim dari sebuah nomor baru. Namun begitu, ia tetap membukanya. Isi dari pesan itu, hanya sebuah video yang berdurasi 5 menit. Tanpa menaruh curiga apa-apa, ia membuka video tersebut.


"Astaghfirullahal'adzim… Astaghfirullahal'adzim." Beberapa kali Sahla beristighfar. Kaki dan tubuhnya tiba-tiba saja melemas. Dan air matanya jatuh begitu saja tanpa bisa dikontrol setelah ia menonton video tersebut. 


Terekam jelas, dua orang insan sedang memadu kasih. Sepertinya tidak ada unsur paksaan saat mereka melakukannya. Karena mereka saling memberi, saling menerima, dan saling menikmati satu sama lainnya. Dan sangat jelas sekali, pemeran pria di video itu sangat ia kenal, yaitu Bima, suaminya sendiri.


Sahla sangat terpukul dan kecewa oleh kelakuan suaminya. Ia sudah menaruh kepercayaan yang begitu besar, tapi ternyata suaminya benar-benar telah mengkhianatinya. Sungguh siapa yang tidak sakit melihat suaminya sendiri sedang bermain api dengan wanita lain.


Sahla duduk terdiam di tepi ranjang. Bayangan suaminya di video itu terus bermain di ingatannya. "Astaghfirullah…" hanya kata-kata itu yang terus keluar dari mulut Sahla. Ia mencoba menenangkan diri dan mencoba mengumpulkan kembali tenaganya. 


Setelah cukup lama terdiam, Sahla beranjak dari duduknya. Ia mengenakan kerudung dan jaketnya lalu ia keluar kamar diam-diam. Berjalan ke kamar Ibu mertuanya, ternyata sudah terlelap dalam tidurnya. Lalu beranjak ke kamar adik iparnya. Rupanya Dila masih terjaga. Dila tengah duduk di tempat tidurnya dengan bersandar pada papan tempat tidurnya. Sahla masuk ke dalam kamar Dila. Lalu duduk di hadapan Dila. Meraih tangan Dila yang kurus, dan tanpa ia bisa tahan, air matanya meluncur begitu saja mengenai tangan Dila. 


Dila menatap lurus ke arah Sahla. Dahinya sedikit mengerut.


Sahla tidak berkata apa-apa, dia tidak tahu harus bercerita apa pada Dila. Apalagi air matanya terus saja turun dengan derasnya. Sahla mulai menepuk-nepuk dadanya. Sungguh hatinya begitu amat sakit.


Dila masih menatap Sahla. Dan tanpa ia sadari, air matanya ikut jatuh membasahi pipinya. Rupanya Sahla telah menularkan kesedihannya kepada Dila. Walaupun ia tak menceritakan penyebab kesedihannya, namun ternyata Dila ikut larut dalam suasana yang Sahla bawa ke hadapannya.


"Maafkan Kakakmu ini yang telah berbagi air mata kepadamu. Terima kasih sudah mau menerimanya." Sahla mengusap lembut pipi Dila yang basah karena air mata, lalu ia mencium keningnya. 


"Baik-baik ya. Apa pun yang terjadi kamu adalah adikku yang tersayang." Setelah berkata itu, Sahla keluar dari kamar Dila. Namun ia tak kembali ke kamar tidurnya, melainkan berjalan terus ke arah pintu keluar. Perlahan ia membuka kunci pintunya, lalu berjalan keluar rumah. Tak lupa ia menutup pintunya dengan sangat hati-hati, agar tak menimbulkan suara.

__ADS_1


Sahla berjalan menembus pekatnya malam, hanya seorang diri. Karena memang sudah tengah malam, orang-orang sudah terlelap di rumahnya masing-masing. Rasa takut ia tepis jauh-jauh. Yang ada dipikirannya saat ini adalah, pergi ke rumah orang tuanya, demi menghindar dari Bima. Ia tidak ingin melihatnya.


__ADS_2