
"Bima! Akhirnya kamu pulang juga."
Terlihat di teras rumah Bu Ratih tengah menunggu anak laki-lakinya. Sontak ia berdiri ketika melihat Bima datang diantar oleh orang yang tadi pagi membawa Bima.
"Assalamu'alaikum, Bu." Sapa Bima sembari mencium tangan Ibunya.
"Wa'alaikum salam. Kamu tidak apa-apa ? Tidak ada yang terluka ?" Tanya Bu Ratih sembari menelisik tubuh Bima, ia terlihat begitu khawatir dengan anaknya.
Bima tersenyum melihat tingkah Ibunya. "Sudah Bu, Bima baik-baik saja. Tidak ada yang hilang dari badan Bima. Semuanya masih utuh."
"Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu."
Bima kembali tersenyum. "Sahla mana Bu ?" Tanya Bima.
"Ada di kamar. Ibu suruh dia istirahat. Sedari pagi, Sahla terus di luar nungguin kamu. Sama seperti Ibu, dia juga sangat mengkhawatirkanmu. Ibu suruh nunggu di dalam saja."
"Kalau begitu, Bima ke kamar dulu ya, Bu."
Bu Ratih mengangguk, lalu memandangi Bima hingga masuk ke kamar.
"Alhamdulillah Ya Allah, Engkau beri keselamatan kepada anak hamba. Lindungilah anak hamba selalu Ya Rabb."
Lalu Bu Ratih pun masuk ke dalam rumah, karena adzan magrib akan segera berkumandang.
"Dek." Panggil Bima ketika sudah berada di dalam kamar.
Sahla terperanjat, sontak berdiri mendapati suaminya sudah ada di dalam kamar.
"Kakak tidak apa-apa ?" Tanya Sahla. Pertanyaan yang sama yang dilontarkan Bu Ratih.
"Suamimu pulang dengan selamat dan tanpa kekurangan apapun. Jadi tenanglah. Semua baik-baik saja." Ucap Bima sambil tersenyum.
"Syukurlah." Lalu Sahla langsung memeluk Bima. "Aku takut mereka berbuat jahat padamu." Ucap Sahla tanpa melepaskan pelukannya.
Bima mengusap punggung Sahla dan mengecup kepalanya, lalu melepaskan pelukan istrinya. Kini mereka saling berhadapan. "Dia temanku, teman lamaku. Hanya ingin bertemu saja."
"Benarkah ?" Tanya Sahla tak percaya.
"Tentu saja benar. Kamu tidak percaya ?"
Sahla terdiam sejenak, "hmm… orang yang membawamu sangat menyeramkan. Bagaimana aku bisa percaya ? Apalagi mereka sedikit kasar."
Bima tersenyum geli. "Mereka hanya menggertak saja. Tidak bersungguh-sungguh."
__ADS_1
"Mereka benar-benar teman ?" Sahla masih tidak percaya dengan ucapan Bima.
"Mereka bukan temanku. Yang menyuruh mereka itu temanku."
Kembali Sahla terdiam.
"Aneh temanmu itu, masa mau bertemu harus menyuruh orang lain untuk membawamu ke hadapannya."
"Kakak tahu? Saat orang-orang itu membawamu, Kakak seperti orang pesakitan yang banyak berbuat jahat." Lanjut Sahla.
"Kamu ini ada-ada saja. Sudah adzan, Kakak ke masjid dulu."
Sahla mengangguk. "Tidak mandi dulu ?" Tanya Sahla, karena sedari tadi Sahla mencium bau yang tidak sedap dari tubuh suaminya. Mengingat juga, Bima pergi dalam keadaan belum mandi.
"Baunya memang tidak enak ?" Bima malah balik bertanya.
Sahla hanya mengangguk..
"Ya sudah, Kakak shalat di rumah saja. Tidak keburu juga berjemaah di mesjid. Sekarang mau mandi dulu."
Sahla kembali hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Namun sebelum Bima ke kamar mandi, Sahla terlebih dahulu mengambil wudhu untuk shalat magrib. Lalu dia duduk di tepi ranjang menunggu Bima. Sahla ingin shalat di belakang suaminya.
"Dek, uang kita ada berapa ?" Ucap Bima ketika mereka hendak tidur. Semenjak mereka menikah, Sahla mengambil alih semua keuangan Bima, termasuk hasil keuntungan dari warung. Bima percaya sepenuhnya pada istrinya. Sahla bisa mengelolanya dengan baik. Terbukti, selama pernikahan mereka, tidak ada pengeluaran sekecil apapun tanpa meminta ijin terlebih dahulu padanya. Dan Sahla tidak pernah berfoya-foya.
Bima menggeleng.
"Lalu buat apa ?"
"Coba dilihat dulu." Titah Bima.
Tanpa bertanya lagi, Sahla langsung bangkit dan berjalan ke arah lemari. Lalu mengambil dompet yang selama ini dibuat untuk menyimpan uang hasil warung sembako sebelum dimasukkan ke rekening bank. Sengaja Bima menyimpannya dulu di rumah, agar tak terlalu sering ke bank meskipun jaraknya tak terlalu jauh.
Selain uang, di dalam dompet tersebut ada satu buah buku rekening.
"Di rekening ada 20 juta." Ucap Sahla sambil menyerahkan buku tersebut pada Bima. Lalu ia mulai menghitung uang yang ada di dompet.
"Ada 5 juta." Lanjut Sahla.
Bima mengangguk. Lalu terdiam sambil menatap uang yang ada di hadapannya.
Sahla pun ikut diam dan hanya memperhatikan Bima. Ia menunggu Bima yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Dan pastinya Ia akan selalu mendukung setiap keputusan yang Bima ambil.
Bima menghela nafas panjang.
"Kenapa Kak ?" Tanya Sahla tatkala melihat Bima tengah pusing memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Aku rasa ini cukup untuk memulai berjualan kembali. Apalagi masa kontrak warung kita masih lama." Ucap Sahla.
Bima menggelengkan kepalanya. "Bukan itu yang sedang Kakak pikirkan."
"Lalu apa ?"
"Dek. Cukupkah Rp.100.000 untuk satu hari ?"
"Tentu saja cukup."
"Jika 100.000 satu hari, satu bulan 3 juta. Dan uang ini cukup untuk 8 bulan."
"Maksud Kakak apa ? Bukankah lebih baik uang ini kita gunakan untuk membuka warung kembali ?"
Sekali lagi Bima menggelengkan kepalanya.
"Dek. Teman Kakak sedang membutuhkan bantuanku. Dan Kakak ingin menolongnya. Jadi Kakak belum bisa membuka warung untuk saat ini."
Sahla terdiam. Ada perasaan kecewa yang menelusup begitu saja ke dalam hatinya.
"Apa harus Kakak yang menolongnya ? Apa tidak ada orang lain yang menolongnya ?" Tanya Sahla pelan.
"Sayangnya belum ada orang lain yang bisa membantunya. Bahkan Kakak sendiri ragu bisa benar-benar membantunya atau tidak. Kakak hanya ingin mencobanya saja. Berharap bantuan yang Kakak berikan berhasil."
"Baiklah. Aku mengerti." Sahla mencoba menjadi istri yang selalu mendukung setiap keputusan suaminya, meskipun tak sejalan dengan pemikirannya.
"Jika uang ini dipakai untuk biaya hidup sehari-hari, untuk modal warung kita bagaimana ? Lalu untuk biaya persalinan anak kita juga bagaimana ?" Tanya Sahla.
"Itu yang sedang Kakak pikirkan." Jawab Bima sambil memijat pelipisnya.
"Kita kembali buka warung lagi. Nanti biar aku yang jaga ?"
"Kakak tidak setuju, sangat-sangat tidak setuju."
"Lalu harus bagaimana ? Kalau uang ini tidak kita putar, akan habis begitu saja."
"Mungkin kita harus menjual tanah yang Ibu beri." Ucap Bima.
Mendengar ucapan Bima, Sahla melebarkan matanya tak percaya.
"Aku tidak setuju. Itu tanah peninggalan Bapak, tidak patut rasanya menjual hanya untuk urusan perut saja. Padahal masih banyak cara untuk menyelesaikan masalah ini."
Bima kembali berpikir. Benar apa yang dikatakan istrinya. Tidak sepantasnya ia menjual tanah warisan ayahnya begitu saja. Padahal masalahnya masih bisa diselesaikan dengan cara yang lain. Namun Bima masih belum menemukan solusi yang tepat. Ini membuat Bima frustasi. Bima tidak berpikir panjang ketika dia bersedia membantu Reno merawat adiknya. Padahal masalah yang tengah ia alami belum terselesaikan sama sekali.
"Sepertinya teman Kakak begitu penting ?"
__ADS_1