
"Bersiaplah, aku akan meminta Edo untuk mengantarkanmu pulang."
Mira mengangguk, lalu segera membereskan peralatan yang tadi digunakan untuk merias Raina.
Tak berapa lama, Edo datang. "Antarkan dia pulang, dan sekalian kamu jemput kembali Bima." Titah Reno.
"Baik Tuan." Lalu Edo dan Mira keluar dari kamar Raina.
Kali ini, Edo mengantarkan Mira menggunakan mobil hanya seorang diri. Dan tak ada perbincangan diantara mereka, hingga tiba di rumah Mira.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya." Ucap Mira saat tiba di depan pintu rumahnya.
Edo hanya mengangguk. Lalu menyerahkan amplop berwarna putih kepada Mira. "Ini bayaran dari Tuan. Jika masih kurang, anda bisa bilang pada saya. Nanti saya akan sampaikan kepada Tuan."
Mira menerima amplop tersebut yang isinya cukup tebal. "Sepertinya ini sudah lebih dari cukup. Sekali lagi terima kasih."
"Baiklah. Bisa tolong ambilkan kartu identitasku ?"
"Oh iya, sebentar. Silahkan masuk dan duduk dulu. Apa mau saya buatkan kopi ?"
"Tidak perlu, saya masih ada urusan lagi."
"Baiklah, tunggu sebentar, saya ambilkan." Mira masuk ke kamarnya untuk meletakkan peralatan yang tadi ia bawa, lalu ia keluar dan pergi ke rumah Pak Ahmad yang tepat berada di samping rumahnya.
Setelah mendapatkan kartu identitas milik Edo, Mira segera kembali ke rumahnya.
"Ini kartu identitasnya." Mira menyerahkan kepada Edo.
Edo langsung menerimanya. "Terima kasih, saya permisi."
"Sama-sama, hati-hati di jalan." Jawab Mira lirih.
Lalu Edo masuk ke dalam mobi hendakl menuju rumah Bima.
Setelah kepergian Edo, Mira masuk ke dalam rumahnya kembali. Mira melihat jam, "Jam 6, pasti Bapak masih berada di mesjid." Mira masuk ke dalam kamarnya. Melihat amplop hasil tadi pagi, Mira penasaran dengan isinya yang cukup tebal. Segera ia buka dan menghitungnya.
"Hah! Apa tidak salah membayarku sebanyak ini ? Ini lebih dari yang seharusnya." Biasanya Mira memasang tarif merias pengantin dari Rp.300.000 - Rp.500.000, tergantung dari tingkat kesulitan yang diminta customer. Namun untuk make up seperti Raina, Mira hanya memasang tarif sekitar Rp.100.000, karena hanya memolesnya sedikit saja.
"Alhamdulillah, rejeki yang sangat tidak terduga."
Semetara itu, Edo telah tiba di depan halaman rumah Bima.
"Assalamualaikum. Permisi." Sapa Edo.
"Wa'alaikum salam." Bu Ratih membukakan pintu, dan betapa terkejutnya Bu Ratih melihat Edo datang kembali. Bu Ratih ingat betul dengan wajah Edo dan temannya yang datang kemarin.
"Pagi Bu."
Bu Ratih hanya mengangguk saja, lalu sedikit berteriak memanggil Bima. "Bima! Cepat kesini!"
Mendengar Bu Ratih berteriak, Bima dan Sahla saling pandang dengan wajah yang bertanya-tanya. "Ayo Kak kita ke depan." Ajak Sahla.
Mereka pun meninggalkan secangkir kopi dan teh yang belum mereka sentuh di meja makan.
"Ada apa Bu ?" Tanya Bima.
__ADS_1
Bu Ratih hanya mengisyaratkan lewat kepalanya untuk menengok ke arah luar.
Sama hal nya dengan Bu Ratih, Bima dan Sahla pun kaget dengan kedatangan Edo lagi. Bima langsung menghampirinya.
"Ada apa lagi ? Kenapa datang sepagi ini ?" Tanya Bima dengan setengah berbisik.
Sahla dan Bu Ratih hanya melihat mereka dari balik pintu.
"Maafkan saya Pak, ini perintah dari Tuan agar menjemput Pak Bima."
"Aku bisa datang sendiri, tidak perlu dijemput seperti ini. Apalagi ini masih pagi." Ucap Bima kesal.
"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan perintah."
"Kamu, pulanglah. Nanti aku akan kesana sendiri."
"Tidak Pak. Saya tidak akan pulang kecuali bersama Pak Bima."
Bima makin dibuat kesal. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bilang kepada tuanmu, aku tidak akan ingkar janji. Aku pasti akan kesana hari ini. Tapi tidak sepagi ini." Bima mencoba meluluhkan Edo.
"Tidak Pak. Saya harus kembali dengan Pak Bima." Edo masih dengan pendiriannya yang teguh. Loyalitasnya kepada Reno memang harus diacungi jempol.
"Aku belum makan, belum mandi, bahkan kopiku masih belum aku sentuh. Tega sekali kamu menyuruhku untuk pergi sekarang."
"Maafkan saya Pak. Nona Raina sudah menunggu anda."
"Apa ?"
Bima semakin bingung. "Raina, apa dia sudah sadar ?"
Edo malah mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Bima.
Bima yang merasa pertanyaannya sedikit aneh langsung meralatnya. "Tidak, maksudku, apakah Raina sudah bangun ?"
"Nona sudah bangun dari jam satu dini hari, dan belum tidur kembali. Karena ingin bertemu dengan Pak Bima."
"Baiklah. Aku bersiap dulu." Bima kembali ke dalam rumah dan langsung menuju dapur, diikuti Sahla dan Bu Ratih. Ia meneguk kopi yang sudah tidak panas lagi.
"Kenapa Kak ?" Tanya Sahla saat Bima sudah meminum kopinya.
"Kakak akan ke rumahnya lagi."
"Sepagi ini lagi ?"
"Iya."
"Makanlah dulu, ajak juga temanmu itu." Ucap Bu Ratih.
Bima menggeleng, "dia bukan temanku Bu."
"Sama saja."
"Dia tidak akan mau. Aku mau mandi dulu." Lalu Bima beranjak masuk ke dalam kamarnya. Sahla mengikuti Bima masuk ke dalam kamar dengan hati yang tak karuan. Entah kenapa ia begitu cemburu pada temannya Bima, seperti dia akan mengambil Bima dari dirinya. Wajarkah ia mempunyai perasaan seperti itu ? Padahal ia sendiri tahu, Bima hanya sedang membantu temannya saja, hanya itu. Dan itu adalah suatu kebaikan.
__ADS_1
Sahla menyiapkan baju untuk Bima pakai. Hanya kemeja lengan panjang berwarna khaki dengan celana jeans berwarna hitam. Lalu duduk di tepi ranjang sambil menunggu Bima.
Tak berapa lama Bima keluar dari kamar mandi. "Makasih ya Dek bajunya." Ucap Bima sembari memakai baju.
"Aku hanya sedang mencari surgaku." Ucap Sahla.
Bima tersenyum lalu mencium kening istrinya. "Kenapa cemberut seperti itu ?" Tanya Bima.
"Kenapa berat sekali melihatmu pergi kali ini ?"
"Jangan berpikir macam-macam. Aku tidak akan pergi jauh."
"Aku tahu. Tapi kenapa seolah aku tidak ingin kamu pergi ?"
Bima berlutut di depan Sahla, lalu memegang tangannya. "Membantu orang yang memang sedang membutuhkan, bukankah itu baik ?"
Sahla menghela nafas. "Memang baik, tapi kita juga sedang dilanda kesulitan."
"Insya Allah kita bisa menyelesaikannya nanti. Dan siapa tahu dengan kita membantu orang lain, Allah sendiri yang akan membantu masalah kita, tanpa kita bersusah payah, Insya Allah ya Dek."
"Baiklah."
"Jangan berpikir macam-macam. Anggap saja suamimu ini sedang bekerja."
"Bekerja tapi tak menghasilkan uang ?"
"Kalau begitu, anggap saja sedang menjadi sukarelawan yang membantu di daerah yang sedang terkena musibah."
Sahla tersenyum tipis. "Baiklah-baiklah."
"Ayo keluar! Antarkan suamimu menuju medan perang." Kelakar Bima.
Sahla memukul pelan lengan Bima dan tertawa kecil mendengar gurauan Bima.
"Bu, Bima pergi dulu." Bima menyalami Bu Ratih yang sedari tadi menunggu di ruang tamu.
"Tidak sarapan dulu ?"
"Bima sudah ditunggu."
"Ya sudah hati-hati ya."
"Kakak pergi dulu ya." Pamitnya pada Sahla, Sahla mencium takzim tangan suaminya, dan Bima mencium kening Sahla.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Lalu Bima memasuki mobil yang di dalamnya sudah ada Edo yang siap dengan kemudinya. Dan mobil pun melaju keluar meninggalkan rumah Bima.
Bu Ratih dan Sahla memandangi mobil tersebut sampai hilang dari pandangan mereka.
"Kita makan yuk Neng!" Ajak Bu Ratih, saat mereka kembali memasuki rumah.
"Ayo Bu, Sahla juga sudah lapar dari tadi."
__ADS_1