Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Sahla Hamil


__ADS_3

"Hamil ?"


"Iya. Bulan ini sudah datang bulan belum ?" Tanya Bu Ratih.


Sahla terdiam, mencoba mengingat kembali tanggal menstruasi bulan lalu. Lalu ia berjalan ke ruang tengah untuk melihat kalender yang tergantung di dinding. Bu Ratih pun mengekor di belakangnya.


"Oh iya Bu. Sahla udah telat 2 minggu."


"Alhamdulillah. Akhirnya Ibu akan punya cucu." 


"Bu, jangan senang dulu. Ini belum pasti hamil. Takutnya hanya telat biasa saja, kayak dulu juga pernah kan, Sahla telat tapi ternyata tidak hamil." Sahla mencoba menenangkan mertuanya, agar tak terlalu berlebihan menanggapinya, karena masih belum pasti.


"Kamu udah telat 2 minggu, Neng. Ibu yakin kamu beneran hamil."


"Aamiin ya Bu, semoga benar." Sahla merasa sedih melihat raut wajah mertuanya yang terlihat senang. Ia takut mengecewakannya lagi.


Sahla masuk ke dalam kamarnya, mengambil Hp dan duduk di tepi ranjang. Lalu mengirimkan pesan singkat kepada suaminya.


(Kak. Nanti pulang sekalian beli tespek.)


Tak berapa lama, panggilan masuk dari Bima. Sahla langsung menerima panggilan itu.


[Assalamu'alaikum]. Sapa Bima dari seberang.


(Wa'alaikum salam. Kak tolong beliin ya.)


[Buat siapa?]


(Buat istrimu.)


[Serius?]


(Nggak tahu juga Kak. Biar tahu, harus dicek dulu.)


[Memangnya sudah telat berapa hari?]


(2 minggu. Tapi aku takut Kak ?)


[Takut kenapa ?]


(Takut tidak sesuai harapan. Apalagi tadi liat Ibu, kayak yang seneng banget aku telat. Padahal belum tahu beneran hamil nggaknya.)


[Jangan terlalu dipikirin. Kita positif thinking saja. Semoga benar kamu hamil. Kalau masih negatif, kita berusaha lagi.]


(Baik Kak. Sekarang jadi lebih tenang.)


[Ya sudah, Insya Allah nanti dibeliin. Sudah dulu ya. Assalamu'alaikum.]


(Wa'alaikum salam.)


Malam hari, Bima pulang dari toko. Tak lupa di perjalanan mampir ke apotek untuk membeli pesanan istrinya. Ia juga mampir ke toko buah, membeli beberapa buah-buahan untuk istrinya. Entah kenapa, ia sangat yakin kali ini istrinya benar-benar hamil.


"Nih pesananmu." Ucap Bima sesampainya di rumah dan langsung menyerahkan bingkisan yang dibawanya. Sahla menerimanya dengan senang hati.


"Beli buah-buahan juga ?" Tanyanya heran, karena ia tak memesannya.


"Iya, buat calon ibu."


Sahla yang awalnya senang saat menerima bingkisan itu, seketika cemberut mendengar Bima menjawab seperti itu.


"Kenapa ? Kok malah cemberut ?"


"Kan belum pasti. Kalau ternyata nggak gimana ?" Sahla langsung berbalik dan pergi ke kamar, meninggalkan Bima yang bengong karena sikap Sahla barusan. "Sensitif sekali", pikirnya.


Bu Ratih yang melihatnya, hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Bima hanya tersenyum kecil, ketika tatapan Ibu dan anak itu bertemu.


"Perasaan Ibu hamil itu memang lebih sensitif. Kamu harus sabar menghadapinya." Ucap Bu Ratih.

__ADS_1


"Ibu yakin sekali kalau Sahla hamil ?"


"Harus yakin Bima. Apalagi sudah terlihat tanda-tanda Sahla ngidam."


Bima terperangah mendengarnya. "Ngidam ?"


"Tadi pagi muntah-muntah nyium wangi ikan goreng, padahal biasanya juga nggak. Sampai gak makan."


Bima mengangguk. "Sahla kok gak cerita tadi pagi muntah-muntah sampai gak jadi makan ?" Ucapnya dalam hati.


"Ya sudah Bu, Bima mau mandi dulu."


Sehabis mandi, Bima menghampiri istrinya yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan menghadap ke tembok. 


Bima naik ke atas ranjang, dan merangkul istrinya dari belakang.


"Dek. Sudah tidur ?" Ucap Bima pelan.


Sahla tak bergeming. Hanya helaan nafasnya saja yang terdengar.


"Tadi pagi katanya muntah-muntah, kok gak cerita ?" Bima tetap berbicara meski tak ada respon dari Sahla.


"Sekarang gimana ? Udah mendingan ?" Lanjut Bima. Sahla tetap tak bergeming. Bima pun heran karena Sahla tak menanggapinya sama sekali.


Lalu ia melihat Sahla dengan seksama, dan ternyata Sahla benar-benar sudah tidur. 


"Bisa-bisanya ninggalin suami tidur." Bima tersenyum geli. Karena dari tadi ia berbicara pada orang yang sudah tidur. Lalu ia pun mengecup kening Sahla dan ikut tidur di sampingnya.


"Dek bangun." Bima mengguncang tubuh Sahla. Namun Sahla tak bergeming sama sekali.


"Udah adzan subuh," lanjutnya lagi.


"Hmm…" hanya itu yang keluar dari mulut Sahla. 


"Katanya mau tes kehamilan ?"


"Oh iya. Jam berapa sekarang ?" Tanya Sahla.


"Jam setengah lima."


Sahla turun dari atas ranjang langsung menuju kamar mandi. Tak lupa tespek yang dibeli Bima, ia bawa.


10 menit sudah Sahla berada di kamar mandi. Bima pun masih tak beranjak dari kamarnya. Penasaran juga dengan hasilnya.


"Ceklek." Suara pintu kamar mandi terbuka. Sahla keluar dengan tespek di tangannya, dan berjalan menghampiri  Bima. 


"Lihat Kak." Sahla memperlihatkan tespek tersebut.


"Garis dua, kamu beneran hamil Dek." Sahla mengangguk. Bima langsung memeluk Sahla. Sahla membalas pelukan Bima. Mereka terlihat sangat bahagia, karena yang ditunggu-tunggu akhirnya hadir juga. 


Cukup lama mereka berpelukan, meluapkan kebahagiaan mereka. Bima melepaskan pelukannya. Lalu berjongkok di depan Sahla. Kini Bima tepat berhadapan dengan perut Sahla.


"Terima kasih, Nak. Sudah mau hadir di perut mamahmu." Bima mencium perut Sahla. Sahla merasa terharu melihat adegan suaminya berbicara dengan calon anaknya.


"Jaga diri dan mamahmu baik-baik ya. Hingga nanti kamu lahir sehat dan selamat," lanjut Bima.


"Aamiin," balas Sahla.


Bima bangkit, lalu mengajak Sahla duduk di tepi ranjang. "Mulai sekarang, kamu di rumah saja. Biar toko urusanku. Jaga calon bayi kita, dan dirimu juga. Jangan terlalu banyak pikiran."


"Iya. Ayah."


Bima tertawa. "Ayah… ya bolehlah ayah. Kalau kamu mau apa-apa bilang saja. Insya Allah akan aku usahakan."


"Baiklah. Sekarang aku ingin tidur lagi. Mataku berat banget."


Bima tersenyum. "Jangan lupa sholat dulu."

__ADS_1


"Baik ayah."


"Ya sudah, berangkat dulu." Sahla menyalami Bima, dan Bima mengecup kening Sahla. "Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku ya."


"Iya ayah."


Bima pun keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Melihat ibunya yang sedang membuat kopi, Bima menghampirinya dan memeluk ibunya dari belakang.


"Pagi Nenek." Sapa Bima. Ibunya tentu saja kaget dengan tingkah anaknya yang tak biasa. Sontak langsung memukul tangan Bima.


"Apa-apaan sih kamu, Bim ?" 


Bima melepaskan tangannya. "Nggak ada apa-apa Nek." 


Bu Ratih mengernyitkan dahi, karena merasa heran dipanggil Nenek.


"Nenek ?"


"Iya Nenek. Emang nggak mau dipanggil Nenek ?"


"Neng Sahla hamil ?"


Bima mengangguk. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya. "Alhamdulillah, akhirnya Allah mengabulkan doa kita semua."


"Alhamdulillah. Kabar ini harus segera disampaikan pada besan." Bu Ratih terlihat sangat berantusias. "Sahlanya mana ?"


"Masih di kamar. Katanya mau tidur lagi, matanya tak bisa dikontrol."


"Ya sudah biarin aja. Sekarang Ibu mau ke rumah besan dulu."


"Ayo Bima anterin, sekalian jalan."


Bima dan Bu Ratih melaju menggunakan motor menuju rumah Ibunya Sahla. Hanya hitungan detik, mereka sampai di rumah Bu Marni. Bu Ratih langsung turun, sementara Bima meneruskan perjalannya ke toko.


"Assalamu'alaikum. Marni"


Tak butuh waktu lama, seseorang dari dalam membuka pintu.


"Wa'alaikum salam, Ratih. Tumben, pagi-pagi udah nyambang ke rumah." Bu Marni mempersilahkan masuk Bu Ratih. "Ada apa Rat ? Ada hal penting ?"


"Tentu saja Mar. Mulai hari ini kita resmi menjadi nenek."


"Maksudnya ?"


"Sahla anakmu hamil."


"Benarkah ?"


"Iya Mar. Tadi Bima yang ngomong sendiri."


"Sahlanya mana ?"


"Ada di rumah, lagi tidur."


"Masa masih tidur sih Rat ? Bikin malu ibunya saja."


"Yang bikin malu siapa ? Biarin aja, mungkin bawaan janinnya." Bu Marni mengangguk.


"Ya sudah, aku pulang dulu."


"Ikut Rat."


"Jangan sekarang! Biarkan anakmu istirahat. Nanti siang saja kalau mau ketemu."


"Kamu kok belain terus Sahla. Dia kan anakku."


"Anakku juga Mar. Sudahlah aku pamit. Assalamualaikum."

__ADS_1


Bu Marni tersenyum. "Wa'alaikum salam."  Lalu masuk ke dalam rumah dan menghampiri suaminya tentang kabar kehamilan Sahla.


__ADS_2