Separuh Hati Milik Sahla

Separuh Hati Milik Sahla
Marisa 5


__ADS_3

"Ya Allah, Neng. Kamu kemana ?" 


Bu Ratih sangat syok karena tak menemukan menantunya. Lututnya terasa lemas. Lalu Bu Ratih duduk di tepi ranjang. Ia melihat Hp milik Sahla tergeletak begitu saja di atas kasur. Ia meraih Hp tersebut.


"Bukannya ini milik Neng Sahla ? Kenapa tidak dibawa ?" Gumamnya.


Bu Ratih cukup lama terdiam. Ingin membuka Hpnya, tapi ia tak mengerti cara memakainya. Tiba-tiba saja teringat dengan sahabatnya yang sekaligus menjadi besannya.


"Apa Sahla pulang ke rumah orang tuanya ?" Tak berpikir lama lagi, Bu Ratih langsung beranjak pergi ke rumah orang tuanya Sahla.


"Assalamualaikum. Mar, cepat buka pintunya." Sapa Bu Ratih dengan setengah berteriak. Ia sengaja melakukannya, agar terdengar jelas dan cepat dibukakan pintunya.


Dan benar saja, pintu dibuka dari dalam. "Ratih ?" 


"Mar, Sahla ada di sini kan ?" Tanpa berbasa-basi, Bu Ratih langsung menanyakan keberadaan Sahla.


"Ayo masuk dulu. Tak enak di dengar tetangga." Bu Marni mengajak Bu Ratih untuk masuk.


"Sahla mana, Mar ?" Tanya Bu Ratih lagi, suaranya bergetar menahan tangis.


"Duduk dulu, Rat. Tenangkan diri dulu." 


"Aku ingin ketemu Sahla." Air mata Bu Ratih sudah tak bisa terbendung lagi. "Hatiku tidak tenang kalau belum melihat keadaan Sahla secara langsung." Lanjutnya lagi.


"Tenanglah Rat. Sahla ada di sini. Dia sedang tidur."


"Aku ingin melihatnya."


"Baiklah. Tapi hanya melihatnya saja. Biarkan dia tidur. Sepertinya semalam tidak bisa tidur, tadi habis subuh, dia tidur kembali."


"Terima kasih Mar." Bu Ratih langsung menuju ke kamar Sahla. Dibukanya pintu sedikit dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara. Terlihat Sahla tengah tidur membelakangi pintu. Melihat Sahla yang tertidur dengan tenang, Bu Ratih merasa lega. Lalu ia menutup kembali pintu kamar Sahla.


Tiba-tiba saja Bu Marni menarik tangan Bu Ratih menuju ruang makan.


"Ratih, sebenarnya apa yang terjadi ?" Tanya Bu Marni.

__ADS_1


"Aku juga gak tahu pastinya gimana, Mar. Bima semalam tidak pulang ke rumah. Entah dia tidur dimana."


Bu Ratih dan Bu Marni saling diam sesaat. "Sahla belum ada cerita apa-apa ?" Tanya Bu Ratih. 


Bu Marni hanya menggeleng. "Sahla cuma berpesan untuk tidak memberitahukan keberadaannya pada Bima, ia tidak mau bertemu dengannya."


Bu Ratih menghela nafas. "Bima, kamu bikin ulah apa sampai membuat Sahla seperti ini." Ucap Bu Ratih penuh kekecewaan.


"Sudah Rat, lebih baik kamu pulang dulu. Nanti kita bicarakan lagi." Saran Bu Marni.


"Baiklah. Aku pamit pulang. Tapi kalau ada apa-apa dengan Sahla, jangan kamu tutupi dariku, Mar."


"Tidak usah khawatir, aku pasti akan memberi kabar kalau terjadi apa-apa."


Bu Ratih pun pulang dengan hati yang sedikit lega. Kini ia hanya tinggal menanti kepulangan anaknya.


***


Bima mengerjapkan matanya berkali-kali saat ia bangun di pagi hari. Badannya terasa lemas dan lelah. Kepalanya terasa berat, dan kerongkongannya kering.


Bima mengernyitkan dahi, karena suara wanita itu tak sama dengan suara istrinya. Lalu menengok ke arah sumber suara. "Marisa ?" Bima benar-benar terkejut saat melihat Marisa yang ada di depannya.


Bima langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan benar saja, ia tidak sedang berada di kamarnya. Lalu kejadian tadi malam, mulai merasuki memorinya kembali. Bima terlihat kesal dan frustasi, ia mengusap-ngusap kepalanya dengan kasar. Kekesalan terlihat jelas telah menguasainya.


Marisa yang melihat Bima seperti itu, merasa tidak enak hati. "Jangan salahkan aku. Aku tidak sedikitpun menggodamu, dan aku juga tidak berniat untuk menggodamu." Ucap Marisa membela diri, ia tidak ingin dipersalahkan oleh Bima. Karena memang ia juga tak menyangka akan berakhir seperti ini.


Bima masih terdiam. Hatinya sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri. Wajah istri dan ibunya langsung membayanginya. Ia tidak tahu harus bagaimana berhadapan dengan mereka berdua. Sekarang ia sudah jelas, telah mencoreng kepercayaan keduanya. 


"Aku juga tidak menyangka kita akan berakhir seperti ini." Ucap Marisa lagi. Bima masih tetap terdiam. Marisa mulai kesal karena Bima tak berkata apa-apa.


"Cepat bangun, dan pulanglah. Anggap saja tidak ada yang terjadi di antara kita berdua." Dengan kesal Marisa berkata seperti itu, sambil beranjak keluar kamarnya.


Bima menghela nafas. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya. "Dek, Bu. Maafkan aku." Lirihnya.


Dengan gontai Bima bangun, dan mengambil bajunya yang berceceran di sembarang tempat. Lalu pergi ke kamar mandi. 

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Bima keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang lengkap. 


"Minum dulu. Aku sudah buatkan kopi untukmu." Ucap Marisa saat melihat Bima keluar dari kamar.


"Tidak usah, aku mau langsung pulang."


"Lalu kopi ini harus kuapakan ? Tidak mungkin aku meminumnya."


Bima sedikit geram dengan perkataan Marisa barusan. Terpaksa ia mengambil cangkir kopinya dan meminumnya dalam sekali teguk. 


Marisa tersenyum melihat tingkah Bima seperti itu. "Sepertinya kamu haus sekali, Bim. Padahal kopi itu enaknya diminum pelan-pelan."


Sekali lagi Bima tak menanggapi ucapan Marisa. "Aku tahu, kamu pasti lelah karena pertempuran kita semalam memang sangat menguras tenaga." Ucapnya lagi.


Marisa benar-benar tidak bosan membuat Bima geram. Namun Bima sebisa mungkin menahan amarahnya. Setelah habis kopi di cangkirnya, Bima langsung beranjak keluar rumah. Namun saat di pintu keluar, Bima berbalik menghampiri Marisa.


"Kenapa ?" Tanya Marisa heran.


"Kalau kamu hamil, aku akan bertanggung jawab. Aku tidak akan lari meninggalkanmu begitu saja." Ucap Bima. "Tapi, aku tidak berjanji untuk menikahimu." Lanjut Bima lagi.


Mendengar perkataan Bima, Marisa terdiam. Ia begitu terkejut mendengar perkataannya. Ia juga tak menyangka Bima akan berpikir sampai sejauh itu.


Tanpa menunggu jawaban Marisa, Bima beranjak pergi. Marisa masih terdiam. Antara haru dan tak percaya berbaur di hati Marisa. Belum pernah ia diperlakukan seperti itu oleh seorang lelaki. Bahkan lelaki yang dulu ia cintai, tak pernah berkata seperti itu setelah merenggut kehormatannya.


Selama perjalanan, Bima berpikir keras. Mencari alasan yang tepat untuk diberikan kepada istrinya, karena ia tak pulang lagi.


Bima menghentikan motornya setelah sampai di pekarangan rumahnya. Jantungnya berdetak kencang. Dalam pikirannya, ingin sekali ia bersembunyi, sampai masalahnya terlupakan begitu saja. Namun, hati kecilnya tidak mengijinkan. Ia harus menghadapinya, apapun resiko yang harus ia tanggung.


Bima menghela nafas cukup dalam sebelum masuk ke rumahnya. Keadaan rumahnya begitu lengang, tak ada suara orang atau suara apapun yang memperlihatkan adanya aktivitas di dalam. Namun Bima tak menyadarinya, karena ia sibuk menata hati dan pikirannya.


"Assalamualaikum. Dek, Bu."  Bima masuk dengan perlahan, tapi tak ada orang yang menjawab salamnya.


"Dek! Bu!" Panggil Bima lagi dengan suara yang lebih keras. Namun, tetap tidak ada yang menyahut. Lalu Bima membuka pintu kamarnya perlahan, ternyata kosong, tak ada seorangpun di dalam sana. 


Kemudian, Bima masuk ke kamar Dila, berharap istrinya ada bersama Dila. Namun, orang yang dicari tak ada juga. Bima menghampiri Dila yang tengah duduk menghadap ke jendela. Kemudian berjongkok di sampingnya. Tangannya meraih tangan Dila, namun ia sangat terkejut karena mendapatkan respon yang tak terduga dari Dila. Sebelumnya, Dila tak pernah memberikan respon apapun. Namun kali ini, Dila menghindar saat Bima ingin menggenggam tangannya. 

__ADS_1


"Aaaaa…!"


__ADS_2