
"Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu, siapa Bima sesungguhnya."
"Siapa kamu ? Ada hubungan apa kamu sama Bima ?" Tanya Sahla heran, yang semula ia terlihat ramah, namun kini berubah sedikit ketus.
"Kami teman lama. Dan aku tahu Bima bukanlah orang yang tepat untukmu."
Sahla semakin heran. "Maksud kamu ?"
"Bukankah kamu pergi dari rumah setelah melihat video itu ?"
Sahla bertanya-tanya dalam hatinya. "Video ? Kenapa dia tahu ?"
"Jangan bingung seperti itu. Tentu saja aku tahu, karena aku yang telah mengirim video itu."
Sahla terperangah, antara percaya dan tidak.
"Kenapa ? Kamu tidak percaya ?"
Sahla masih terdiam. Ia juga tak tahu harus menanggapinya seperti apa.
"Apa aku harus menceritakan dulu isi dari video itu, supaya kamu percaya ?"
Sahla dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin Ibunya mendengar cerita yang sebenarnya, karena itu merupakan sebuah aib.
"Bagaimana kamu memiliki video itu ?" Tanya Sahla heran.
"Tadi malam, kita bertemu di rumah Marisa."
"Marisa ? Siapa dia ?"
"Perempuan itu bernama Marisa, ia adalah teman kami saat sekolah dulu. Kamu tahu? Marisa adalah primadona sekolah, dan banyak yang memujanya. Termasuk Bima."
"Langsung saja ke intinya." Ucap Sahla sedikit ketus.
"Hmm. Jadi saat aku bertamu ke rumah Marisa, Bima datang. Entah dia punya masalah apa dengannya. Wajahnya terlihat tegang. Dan suasana di rumah mendadak tidak enak. Jadi aku putuskan untuk pulang saja. Tapi di tengah jalan, ada barangku yang ketinggalan di rumah Marisa, aku pun putar arah menuju rumahnya. Dan kamu pasti bisa menebak apa yang aku lihat di rumah Marisa. Ya! Mereka sedang melakukannya." Paparnya.
Sahla memejamkan matanya mendengar cerita dari laki-laki itu. Pikirannya tidak sepenuhnya menerima cerita yang baru saja ia dengar, tapi hatinya sakit saat memorinya kembali teringat akan video itu.
"Kenapa kamu tidak menghentikan mereka ?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin mendapatkan bogem mentah dari Bima."
"Lalu, untuk apa kamu merekam dan mengirimnya padaku ? Kita tidak saling mengenal."
Lelaki itu terdiam, ia terlihat bingung menjawabnya. "Kita memang tidak saling kenal, tapi aku peduli padamu."
"Kenapa?"
"Tunggu-tunggu. Sepertinya Ibu ingat laki-laki ini." Tiba-tiba saja Bu Marni berbisik pada Sahla, ternyata diam-diam ia memperhatikannya dengan seksama.
"Ibu mengenalnya ?" Tanya Sahla dengan berbisik juga.
"Tidak, Ibu ingat dia pernah datang kesini untuk meminangmu." Bisiknya lagi.
Sahla terkejut. "Benarkah?" Bu Marni mengangguk pasti.
"Kenapa bisik-bisik ?" Tanya lelaki itu.
"Tidak ada apa-apa. Jadi kenapa kamu peduli padaku ?" Tanya Sahla kembali.
"Akan sayang rasanya jika wanita sepertimu mendapatkan lelaki yang tidak baik seperti Bima."
"Apa maksudmu menyebut Bima lelaki yang tidak baik ?" Tiba-tiba saja suara Bu Ratih terdengar dari pintu depan. Lalu ia bergegas masuk ke dalam.
"Mungkin Ibu bisa tanyakan langsung pada Sahla atau pada anak Ibu sendiri. Apa yang telah ia lakukan sampai membuat Sahla pergi dari rumah dan menangis terus menerus." Lelaki itu bangkit dari duduknya.
"Saya hanya orang lain yang peduli pada Sahla. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum." Kemudian laki-laki itu keluar dari rumah, meninggalkan tanda tanya besar bagi ketiga perempuan itu, terutama bagi Bu Ratih.
"Wa'alaikum salam." Jawab mereka bertiga pelan.
Setelah memastikan lelaki itu telah benar-benar pergi, Bu Ratih mendekati Sahla.
"Neng, tolong beritahu Ibu, apa yang telah bima lakukan padamu ?" Bu Ratih sangat berharap Sahla mau berbicara.
Sahla menunduk. Ia berada dalam kebimbangan, antara berterus terang atau menutupinya rapat-rapat.
"Neng. Ini menyangkut anak Ibu. Jika dia memang salah, Ibu tidak akan tinggal diam. Jangan kamu pendam sendiri." Sekali lagi Bu Ratih memohon kepada Sahla.
"Iya Neng, lebih baik kamu bicarakan kepada kami. Nanti kita cari solusinya bersama-sama." Ucap Bu Marni, mendukung keinginan Bu Ratih. Karena ia juga penasaran apa yang tengah terjadi.
__ADS_1
Sahla sesenggukan. Sebenarnya ia juga tidak tahu harus berbuat apa. Pikirannya masih dikuasai rasa amarah dan kekecewaan, jadi tidak bisa berpikir jernih.
"Baiklah, Ibu tidak akan memaksamu untuk bercerita. Mungkin kamu butuh waktu lebih lama, untuk siap bercerita." Ucap Bu Ratih.
Sahla menatap Bu Ratih, lalu menggenggam tangannya. "Bu, ini adalah sebuah aib suamiku." Ucap Sahla.
"Suamimu adalah anakku. Aibnya, aibku juga." Sebelum orang lain menghujatnya, aku yang akan lebih dulu menghujatnya."
Sahla terdiam. Ia tak menyangka Bu Ratih akan berbicara seperti itu. Kini, ia lebih yakin untuk menceritakan apa yang terjadi.
"Baiklah. Kita bicarakan di kamar saja ya Bu. Tidak enak jika di dengar orang lain." Ucap Sahla. Lalu mereka bangkit dan masuk ke kamar Sahla. Tak lupa Bu Marni menutup pintu depan terlebih dahulu.
Sahla menggenggam tangan Bu Ratih saat mereka sudah duduk di tepi ranjang milik Sahla. Sementara Bu Marni duduk di bangku meja rias menghadap ke arah Sahla dan Bu Ratih.
Sahla menghela nafas, mempersiapkan diri untuk mulai bercerita. "Bu, tadi malam, Kak Bima keluar ke rumah wanita itu. Untuk menanyakan kebenarannya. Namun ternyata ia tak kunjung pulang. Dan, saat tengah malam, ada yang mengirimkan sebuah video kepadaku, yang isinya…" Sahla terdiam. Ia tidak kuat untuk tidak menangis.
"Video apa, Neng ?" Tanya Bu Marni penasaran.
Sahla mendekatkan wajahnya ke telinga Bu Ratih. "Kak Bima sedang berhubungan b**** dengan wanita itu." Bisik Sahla. Bu Ratih tak bergeming sama sekali saking terkejutnya. Ia berharap telinganya salah mendengar.
Bu Marni yang tidak mendengar bisikan Sahla, langsung mendekat. Sahla pun membisikannya lagi kepada Ibunya. Tak berbeda dengan Bu Ratih, Bu Marni pun sangat terkejut. Kini mereka saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
Tanpa disadari, air mata jatuh begitu saja di pipi Bu Ratih. Tiba-tiba saja Bu Ratih menunduk di pangkuan Sahla sembari memegang kedua tangannya.
"Neng, Ibu minta maaf. Ibu sudah gagal mendidik Bima." Ucapnya sambil menangis.
Sontak saja Sahla terkejut dengan apa yang Bu Ratih lakukan. Begitupun dengan Bu Marni.
"Ratih, sudah. Bukan salahmu Bima berbuat seperti itu." Bu Marni mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Lalu salah siapa Mar ?"
Bu marni terdiam.
"Andai aku tahu Bima seburuk itu kelakuannya. Tidak akan aku kenalkan kepadamu, Neng." Bu Ratih semakin kencang menangis.
"Bu, sudah. Tidak ada yang menyalahkan ibu. Mungkin Kak Bima hanya sedang khilaf saja." Kali ini Sahla yang mulai menenangkan Ibu mertuanya, meskipun dirinya sendiri masih merasakan sakit.
Bu Ratih menggelengkan kepalanya. "Tidak, Neng. Ini salah Ibu." Ucap Bu Ratih.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Ini sudah takdirku harus mengalami ujian seperti ini."
"Ibu merasa bersalah padamu, Neng. Gara-gara Ibu, kamu harus mengalami hal seberat ini. Tolong! Maafkan Ibumu ini, karena tidak becus mendidik suamimu."