
"Tuan, kami sudah tiba."
"Bagus! Cepat masuk."
Edo merasa lega tuannya tidak mempermasalahkan kedatangannya yang terlambat.
Edo memberikan kode kepada Mira agar segera mengikuti Reno untuk masuk ke dalam kamar. Seketika Mira merasa takut untuk masuk ke dalam kamar. Ia takut kehadirannya akan disalahgunakan.
"Cepat masuk, dan selesaikan tugasmu. Lalu aku akan antarkan kamu pulang." Ucap Edo. Sepertinya Edo melihat Mira ketakutan.
"Baik." Mira menghela nafas yang panjang guna menenangkan ketakutannya. Lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar.
"Alhamdulillah." Gumam Mira merasa lega ketika ia melihat ada seorang wanita di atas kasur. Mira perlahan mendekati Reno dan Raina.
Mira menyapa mereka dengan senyuman dan sedikit anggukan. Namun Raina langsung memasang wajah cemberut ketika melihat Mira.
"Siapa dia ?" Tanya Raina.
"Dia yang akan meriasmu." Ucap Reno.
"Dia bukan orang dari salon langgananku." Protes Raina. Reno tak menyangka Raina masih mengingat orang-orang dari salon langganannya.
"Dia orang baru. Orang yang biasa kesini, sudah keluar." Reno terpaksa berbohong, agar Raina berhenti bertanya.
"Benarkah ?" Raina masih tak percaya.
"Tentu saja benar. Kamu tidak percaya pada Kakakmu ini ?"
Raina terdiam, namun sepertinya ia masih tak percaya dengan omongan Kakaknya.
"Bukannya kamu mau terlihat cantik di depan Bima ? Sebentar lagi Bima akan datang." Ucap Reno pelan.
Mendengar nama Bima disebut, Raina langsung terkesiap. Seperti terkena hipnotis, Raina langsung bersedia. "Aku ingin dicreambath, lulur, manucure, pedicure, pokoknya aku ingin perawatan dari ujung rambut sampai ujung kaki."
Kali ini Reno yang terdiam dengan keinginan adiknya. Villa tempat tinggalnya kini tak memiliki fasilitas seperti di rumahnya. Dimana tersedia salon kecantikan pribadi milik adiknya. Dan adiknya masih tak menyadari ia sedang tak berada di rumahnya.
Lalu Reno menengok ke arah Mira yang sedari tadi hanya terdiam saja. "Kamu bisa melakukannya ?"
Refleks Mira menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ?"
"Saya hanya bisa merias wajah saja."
Reno memejamkan matanya menahan kesal. Mira semakin ketakutan.
__ADS_1
Lalu Reno berjalan menjauh dari Raina dan Mira, mengeluarkan Hp dari saku celananya.
"Edo! Siapa yang kamu bawa ?" Reno bertanya pada Edo lewat Hp dengan setengah berbisik.
"Maaf Tuan. Dia seorang perias pengantin. Hanya itu yang bisa kami temukan. Sekali lagi maafkan saya Tuan."
Tanpa merespon ucapan Edo, Reno mematikan Hpnya begitu saja. Lalu kembali pada Raina dan Mira.
"Tolong lakukan apa yang adik saya minta. Sebisa mungkin." Bisik Reno pada Mira.
"Tapi, saya hanya membawa alat-alat make up saja."
"Tidak apa-apa. Sekarang bantu adik saya membersihkan diri, lau kamu rias dia secantik mungkin."
"Baik Tuan." Jawab Mira dengan terbata.
"Kak! Cepatlah! Nanti Bima keburu datang." Raina mulai merajuk. Karena permintaanya tidak cepat dilaksanakan.
"Nona, mari saya bantu ke kamar mandi." Ucap Mira memberanikan diri mengajak Raina.
Tanpa penolakan Raina beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi, diikuti Mira di belakangnya.
Di dalam kamar mandi, Mira tercengang melihat kamar mandi yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bahkan luasnya pun sepertinya melebihi luas kamarnya.
"Cepatlah, siapkan airnya." Titah Raina. Raina yang manja dan sangat suka dilayani sepertinya telah kembali. Meskipun pada orang yang baru ia temui, ia tidak segan memberi perintah.
"Nona, airnya sudah siap."
Raina yang sudah menanggalkan pakaiannya, masuk ke dalam bathup. Sentuhan airnya yang hangat, membuat tubuhnya menjadi rileks. Sudah lama ia tak merasakan nyamannya berendam di bathup.
Mira hanya melihat Raina yang sedang berendam. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Hingga tak terasa sudah hampir 30 menit Raina di dalam bathup.
"Nona, anda sudah terlalu lama berendam." Mira memberanikan diri mengingatkan Raina.
"Hmm. Kamu keluarlah, siapkan baju untukku." Ucap Raina tanpa membuka matanya.
"Baik Nona, saya permisi."
Lalu Mira keluar dari kamar mandi.
"Raina sudah selesai membersihkan diri ?" Tanya Reno saat melihat Mira keluar dari kamar mandi.
"Sebentar lagi. Hmm… Nona Raina meminta saya menyiapkan bajunya."
"Oh iya. Kamu pilihkan yang paling cocok di sana." Ucap Reno sambil menunjuk ke arah pintu samping kamar mandi.
__ADS_1
Mira mengangguk. Kemudian berjalan ke arah yang ditunjuk Reno.
Berkali-kali Mira dibuat takjub dengan rumah ini. Dan kali ini, Mira takjub dengan deretan baju-baju yang terbungkus dan tersusun rapi di lemari kaca. Dan juga deretan sepatu-sepatu berhak tinggi. Dan masih banyak aksesoris-aksesoris lainnya.
Namun Mira makin bingung dengan banyaknya pilihan baju, dan semuanya cantik-cantik. Lalu ia keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf Tuan, saya bingung harus mencari baju yang seperti apa ?" Tanya Mira pada Reno. Sementara Raina masih belum keluar dari kamar mandi.
"Cari baju yang casual, tidak terlalu terbuka, dan nyaman dipakai di dalam rumah."
"Untuk warnanya bagaimana Tuan ?"
"Warnanya jangan terlalu terang dan jangan terlalu gelap."
"Baik Tuan." Mira kembali ke ruangan baju. Ia memilih yang sekiranya sesuai dengan yang diinstruksikan Reno.
"Semuanya bagus-bagus. Pasti harganya sangat mahal." Gumam Mira.
Lalu Mira keluar dengan membawa 2 pasang baju dengan warna dan model yang berbeda. Di sana sudah ada Raina yang kini hanya mengenakan handuk kimono.
"Tuan, Nona. Saya bingung harus memilih yang bagaimana." Ucap Mira sembari memperlihatkan kedua pasang baju yang ia bawa. Mira membawa kaos berwarna coklat susu, dipadukan dengan rok sebatas lutut berwarna hijau botol. Dan dress dengan kancing depan, berlengan panjang dan sebatas lutut, berwarna putih tulang.
"Pilihan yang pertama. Sekarang cepat rias Raina. Aku ingin riasannya terlihat natural, tidak berlebihan." Ucap Reno.
"Baik Tuan." Lalu Mira mengeluarkan alat makeup miliknya.
Dengan hati-hati Mira merias Raina. Tak terlalu banyak yang ia pakai pada Raina, namun hasilnya membuat Raina terlihat segar. Dan untuk rambutnya, Mira hanya merapikannya saja.
Setelah selesai dirias, Raina memakai baju yang tadi ditunjuk Reno. Kaos coklat susu dan rok hijau botol.
Reno tersenyum melihat Raina yang terlihat cantik.
"Nona, apakah anda suka memakai bando ? Sepertinya akan sangat cocok dipakai oleh anda." Mira melihat bando diantara berbagai aksesoris.
"Boleh."
Lalu Raina memakai bando yang senada dengan baju atasannya.
"Kakak senang kamu seperti ini. Kamu seperti hidup kembali." Gumam Reno melihat Raina yang terlihat sangat bahagia.
"Bagaimana Kak ? Aku cantik ?" Raina memutar tubuhnya di depan Reno.
Reno mengangguk lalu menghampiri Raina. "Teruslah seperti ini, jangan lagi hilangkan senyummu di wajah cantikmu ini. Sungguh, Kakak sangat terluka jika tidak melihat senyummu walau sehari saja."
Raina tersipu malu mendengar gombalan Kakaknya. Lalu memeluk Reno. "Aku sayang Kakak." Lalu melepaskan pelukannya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih ya, aku puas dengan pekerjaanmu." Ucap Raina sambil menoleh pada Mira.
"Sama-sama Nona. Saya juga senang jika Nona puas dengan hasilnya."