Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Prolog


__ADS_3

"Yah. Rahasiaku terbongkar sudah." Diangela menatap dingin pada Stella yang menatapnya terkejut.


Di tendangnya korban kekejamannya yang entah ke berapa kalinya itu dengan enteng. Diangela memainkan palu berlumuran darah itu sambil melangkah maju menuju kekasihnya yang berdiri dengan gemetar.


bau darah menyeruak di indra penciuman Stella kala Diangela berjalan mendekat ke arahnya. Ia menunduk, memindai Diangela dari ujung kaki hingga kepalanya. Sekujur tubuh laki-laki itu tertutupi oleh darah.


Setelah sampai tepat di depan kekasihnya, Diangela menunduk lalu menatap Stella yang tingginya hanya sebatas dada bidangnya saja. Tatapan laki-laki itu kosong. Kemudian dia mengangkat dagu Stella dengan pisau lipat yang berlumuran darah korbannya.


"Kenapa? Kau takut?" Tanya Diangela kemudian tertawa sinis, melihat Stella yang memalingkan pandangannya ke bawah.


"Kau psikopat?" Tanya Stella. Iris matanya yang sebiru laut menatap iris mata Diangela yang hitam pekat.


Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya, ia menyunggingkan senyum miring. "Menurutmu?"


"Kau sudah pasti psikopat gila." mata Stella yang tadinya menunjukkan ketakukan, berubah menjadi tatapan menantang.


"Gila? Berarti kau punya kekasih orang gila?" Tanya Diangela memojokkan Stella ke tembok di belakangnya.


Stella memasang wajah tenang. " Yah. Sepertinya begitu. Mungkin aku akan merubahnya supaya dia tidak gila." ucap Stella yang di balas kekehan sinis oleh Diangela.


"Merubahku? Itu mustahil sayang." Diangela mengelus pipi Stella dengan pisau lipatnya hingga membuat pipi gadis itu berdarah.


"Upss. Maaf, aku sengaja." Kekehnya ketika mendengar ringisan Stella.


Diangela meletakkan palu di tangan kanannya ke samping tubuh Stella. "Kau tahu, sejak awal kau itu mangsaku. Aku memacarimu hanya untuk membunuhmu, sayang." bisik Diangela di telinga Stella.

__ADS_1


"Sejak awal kau hanyalah tikus yang sudah masuk perangkapku." lanjut Diangela lalu meniup wajah Stella membuat gadis itu memejamkan matanya.


"Jika kau memacariku hanya untuk kau bunuh, kenapa dari awal sejak kita menjadi sepasang kekasih kau tidak membunuhku?" tanya Stella setelah membuka kedua matanya.


Diangela terdiam mendengar itu. Ia memang selalu menunda untuk membunuh Stella. Aku akan membunuhnya sekarang, kemudian hasrat itu entah kenapa menghilang setiap melihat senyum Stella.


Pada akhirnya ia menundanya hingga esok harinya, tapi pada hari itu dia menundanya juga hingga esok hari. Menundanya esok hari, menundanya esok hari, esok hari, esok hari dan esok hari hingga berbulan-bulan ia tidak membunuhnya juga.


Diangela benci itu. Benci akan perasaan nyaman saat melihat wajah Stella. Dia ingin membunuhnya, tapi selalu ada tembok kasat mata yang menghalanginya setiap dia akan melakukannya.


Rahang Diangela mengeras mengingat hal itu. Garis wajahnya menunjukkan amarahnya yang meletup-letup, ia mengintimidasi Stella melalui tatapan tajamnya.


Sayangnya Stella tidak gentar di hadiahi tatapan mengintimidasi itu. "Cih! Tatapan tajam pak Syamsul, guru Matematika SMP, lebih serem dari tatapan kak Ian." ucap Stella sambil mengangkat dagunya tinggi. Ia tidak boleh terlihat lemah.


"Kenapa nggak sekalian, kak Ian tusuk ke mata aku kayak korban kakak yang itu." Tanpa gentar sedikitpun Stella menunjuk mayat laki-laki di belakang Diangela.


Diangela berdecih, "Cih! Little Sheep yang pemberani." Ejeknya. "Harusnya kau berterima kasih padaku karna aku tidak langsung mencabik-cabik wajah cantikmu itu sayang."


"Oh. Akhirnya kau mengakui juga kalau aku cantik." Stella tersenyum manis tanpa rasa takut sekalipun.


Diangela terdiam melihat senyuman itu. Sial! Perasaan hangat itu datang kembali merayapi hatinya. Membuat sekujur tubuhnya berteriak kesenangan.


Hanya karna satu senyuman, dia melanggar prinsipnya? Hanya karna itu? Jika teman-teman psikopatnya yang lain mengetahui itu, mereka mungkin sudah menertawakan dirinya.


Ia ingin membunuh Stella sekarang juga. Dan ya! Lagi-lagi rasa tidak rela untuk kehilangan senyum Stella kini kembali memorak-porandakan pertahanannya selama ini.

__ADS_1


Laki-laki itu mendengus sebal.


"Pergi dari hadapanku, sebelum aku membunuh mu." Diangela beranjak dari posisinya. Laki-laki itu mencabut pisau dan mengambil palu lalu berbalik dan berjalan menjauh.


"Bunuh saja aku sekarang." Tanpa di duga oleh Diangela, Stella malah menantang laki-laki itu.


Diangela berbalik menatap Stella, ia menyimpan palu berukuran sedang itu bahu kanannya. tangannya memainkan pisau itu dengan kekehan sinisnya.


"Membunuh mu? Baiklah." Diangela melempar pisau itu ke arah Stella. Sontak saja, gadis itu memejamkan kedua matanya.


"Yah. Sepertinya kau beruntung. Lemparanku meleset." Stella menatap dengan kaku ke arah pisau yang tertancap di samping kepalanya.


"Tidak!"


Diangela yang hendak berbalik, terhenti ketika mendengar teriakan Stella. Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya.


"Lemparan Kak Ian tidak meleset. Itu di sengaja oleh kak Ian sendiri."


Lemparan yang meleset itu memang di sengaja oleh Diangela. Laki-laki itu mau tak mau mengakuinya secara tidak langsung.


"Tidak. Itu tidak meleset." Sanggahnya kemudian kembali berbalik.


"Kak Ian udah jatuh cinta sama aku."


degh!

__ADS_1


__ADS_2