Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Angry


__ADS_3

Pagi ini matahari tidak menampakan dirinya. Awan mendung yang tebal menutupinya, dan hujan perlahan mulai turun membasahi tanah.


Ini adalah hujan pertama setelah musim panas beberapa bulan yang lalu. Tanah yang selalu panas, kini menjadi basah dan mengeluarkan aroma tanah yang khas, ketika rintik hujan sudah menyentuh tanah sepenuhnya.


Diangela yang sedang duduk di kursi, memandang keluar jendela dengan pandangan kosong. Ia sudah seperti itu selama beberapa hari ini.


Tatapannya beralih pada jam dinding yang menunjukan pukul 06.30.


"Sepertinya aku sudah terlalu lama berlarut-larut dalam pikiranku sendiri, dan sudah saatnya aku kembali ke dunia nyata." Ucap Diangela lalu berdiri dari duduknya.


Diangela mengurungkan niatnya yang hendak pergi ke kamar mandi, dan kembali duduk. "Aku akan menunggu sampai hujan reda."


____________________________________________________


Dingela mengerutkan dahinya, ketika melihat kerumunan orang di lapangan ketika dia baru sampai di sekolah pada pukul 09.00 tepat.


Awalnya Diangela menghiraukan kerumunan itu, hingga ia menghentikan langkahnya, ketika mendengar nama Stella di sebutkan dalam bisikan para murid perempuan di kerumunan.


"*Dia itu cabe tahu nggak?!"


"Maksudnya?"


"Ish! Lo tahu kan, kalau dia itu deket sama kak Diangela. Nah, saat kak Diangela nggak ada selama seminggu, eh! Dia malah nempel sama kak Ansell dong! Mereka bahkan sering makan bareng di kantin."


"Stella-stella itu kan, namanya?"


"Iya. Jadinya murid cewek lainnya kesel, dan beri hukuman sama dia."


"Hukuman? Maksudnya, pas Stella pingsan karna bola basket itu di sengaja?"


"Iya."


"Ih! Mereka nggak takut sama kak Diangela? Bukannya udah di kasih peringatan juga, biar nggak ganggu Stella?"


"Ck! Lagian kak Diangela juga nggak ada di sini! Dan Stella pun nggak tahu, kalau dia pingsan karna bola basket itu, di sengaja. Dia pasti mikirnya itu nggak sengaja. Dan nggak ada buktinya juga kalau dia nyadar, kejadian tadi itu di sengaja*."


Diangela menatap tajam ke arah kerumunan itu. Terutama pada kumpulan murid perempuan yang membicarakan Stella.


Baru beberapa hari ia tidak sekolah, dan tikus-tikus ini sudah berani melanggar peraturan yang ia buat? Sepertinya mereka ingin cepat-cepat bertemu dengan tuhan.


Diangela melangkah menuju kerumunan itu dengan kedua tangannya yang di masukan ke saku celana. Semua orang tersentak kaget dan ketakutan sekaligus, melihat kehadiran Diangela. Terutama kerumunan perempuan yang tadi membicarakan Stella.


Mereka gemetar ketakutan. Ketika Diangela melangkah, murid-murid langsung menunduk lalu menyingkir dan memberikan jalan untuk laki-laki itu.

__ADS_1


Rahang Diangela mengeras melihat Stella yang tergeletak tak sadarkan diri di tengah-tengah lapangan, dengan hidungnya yang berdarah. Apalagi saat ini lapangan basah dan kotor, karna air hujan.


Giginya bergemeletuk ketika tahu perbuatan itu di sengaja oleh murid perempuan lain.


Diangela melangkah menuju Stella, lalu menggendongnya seperti bridal style. Dan membawanya ke UKS.


"STELLAAA!!!" suara teriakan perempuan terdengar memecah kerumunan ketika Diangela sudah pergi.


"Mana Stella?!" tanya Tata panik ketika mendengar kabar bahwa Stella pingsan.


"Udah di bawa ke UKS." Celetuk salah satu murid. Tanpa pikir panjang, Tata segera berlari menuju UKS.


Setelah sampai di UKS, Tata tentunya berteriak heboh. "STELlllaa." teriakan Tata semakin mengecil kala menyadari kehadiran Diangela, Jazztin dan Ansell.


Tata membebelakan kedua matanya, melihat para malaikat maut sedang berkumpul di dekat Stella. Sepertinya ia harus pergi saja. "Maafin gue ya Stella. Apalah daya gue yang penakut." gumamnya lalu diam-diam berbalik.


"Hey, lo!" suara Diangela menghentikan pergerakan Tata, membuat gadis itu bertersentak kaget. Dengan kaku ia menoleh.


"Iya?"


"Lo temennya Stella, kan?"


"Iya." Tata mengangguk dengan ekspresi takut.


"Lo jagain dia dulu. Gue mau hukum orang yang telah buat Stella kayak gini." Tanpa persetujuan dari Tata, Diangela bersama Jazztin dan Ansell, langsung keluar dari UKS.


•••


Saat ini di lapangan sekolah tengah ramai. Dia tengah-tengah terdapat beberapa murid perempuan, yang tengah berdiri di sana menggunakan lututnya. Mereka semua menunduk.


Dan di depan mereka ada Diangela, bersama satu murid perempuan. Diangela memutar-mutar bola basket di jari telunjuk kanannya.


Sebelum melakukan keributan ini, Diangela sudah membuat para guru sibuk dengan rapat, yang ia buat.


"DENGAR INI BAIK-BAIK! Kalian lihat perempuan yang ada di sampingku? Dia menaati peraturan dari ku dengan benar! Oleh karna itu aku akan memberinya penghargaan dengan menghukum, cecunguk-cecunguk di depannya." Teriak Diangela.


Perempuan itu adalah orang yang mengatakan ini, "Ih! Mereka nggak takut sama kak Diangela? Bukannya udah di kasih peringatan juga, biar nggak ganggu Stella?"


Kini perempuan itu tengah menunduk ketakutan.


"Nih." Diangela menyodorkan bola basket ke perempuan itu yang langsung di terimanya dengan tangan gemetar.


"Aku harus mulai dari yang mana dulu, ya?" tanya Diangela menatap kelima murid perempuan yang menjadi penyebab Stella pingsan.

__ADS_1


"Menurutmu?" tany Diangela pada perempuan dan belakangnya yang masih menunduk.


Karna takut di bentak, perempuan itu menunjuk murid perempuan di sebelah kanan.


Diangela menaikan sebelah alisnya. "Ok, baiklah! Aku akan menghandle bagian kiri, dan kau bagian kanan."


Kelima perempuan itu, mendongak kaget. "Tapi, kak! Kita nggak sengaja." Celetuk satu murid perempuan yang berada di tengah.


"Kita emang benera—" bola basket langsung melesat dan mendarat dengan keras di wajah perempuan itu, membuat semua orang kaget akan serangan yang tiba-tiba itu.


Ansell dan Jazztin hanya diam menyaksikan dari atas pohon. Mereka tengah duduk di salah satu dahannya.


"Upsss! Maaf aku sengaja." Kekeh Diangela. Laki-laki itu menoleh ke belakang. "Apa boleh aku mengambil bagian mu? Tanganku gatal sekali ingin memukul mereka semua."


Tanpa pikir panjang perempuan itu mengangguk cepat.


"Hey kau! Ke sinikan bola basketnya." Perintah Diangela pada murid laki-laki yang posisinya dekat dengan bola basket.


Laki-laki itu langsung mengambil dan melempar bola basket itu pada Diangela, yang langsung di tangkap oleh Diangela.


Diangela mendribble bola basket terlebih dahulu sebelum mendaratkan bola itu dengan keras ke kepala para cecunguk di depannya.


Bukk


Bukk


Bukk


Bukk


Bukk


Tanpa rasa kasihan sedikit pun, Diangela terus memukulkan bola basket dengan sengaja pada kelima perempuan itu secara bergantian dan terus menerus, hingga wajah mereka babak belur dan hidungnya berdarah.


Tidak ada yang berani menghentikan perbuatan Diangela. Mereka hanya menyimpan niat mereka dalam hati. Semuanya nampak menatap ngeri, pada Diangela yang tak pernah memandang bulu, dalam hal menghajar orang.


Sepertinya mereka tidak perlu pergi ke neraka untuk melihat iblis, karna laki-laki yang saat ini tengah menjadi pusat perhatian se-antero sekolah, adalah iblis berwujud manusia.


"KAK IANNNNNN!!!!!!" suara teriakan perempuan membuat semua orang menoleh pada sumber suara yang tengah berdiri di tepi lapangan sambil berkacak pinggang.


Tatapan marahnya tertuju pada Diangela yang masih saja memantulkan bola basket pada kelima perempuan tadi, dan menghiraukan teriakan Stella.


Stella melangkah cepat pada Diangela dan bermaksud menghentikan perbuatan gila laki-laki itu, sebelum Ansell menghentikan pergerakannya.

__ADS_1


"Apaan sih kak Ansell?! Jangan hentiin aku!" protes Stella ketika tangannya di cekal oleh Ansell.


"Tidak boleh! Diangela kalau marah tidak akan bisa membedakan lawan dan kawan."


__ADS_2