
*Gelap. Satu hal yang dapat ia jabarkan saat ini. Rasa pusing dan nyeri di sekujur tubuhnya juga, terasa di setiap inci kulit tubuhnya.
Rasa perih menjalari hatinya. Sepertinya ini adalah akhir dari hidupnya. Dia menyerah. Melupakan orang-orang, yang mungkin akan bersedih bila dia meninggal.
Tapi dia tidak akan bisa bertahan hidup, dengan menanggung rasa sakit yang teramat besar, yang telah menggerogoti kepercayaan dan hatinya.
Memikirkan hal itu saja sudah membuatnya ingin mati saja.
Saat ia sudah menyerah dengan hidupnya, dan ajalnya sudah mendekat, samar-samar dia mendengar dirinya di panggil.
Ia juga merasakan guncangan di tubuhnya.
"Kak! Kakak! Bangun, kak!"
Suaranya terdengar familiar di telinganya. Dengan susah payah ia berusaha membuka kelopak matanya. Suara anak perempuan yang memanggilnya, semakin keras kala ia sudah bisa membuka matanya sepenuhnya.
Tapi pandangannya masih buram. Perlahan-lahan, sosok yang ia lihat buram menjadi jelas. Menampakan sosok anak perempuan yang tengah menangis haru melihatnya telah sadar.
"Kakak." Lirihnya.
Oh, ya! Dia melupakan adik kembarnya. Auristella atau yang biasa di panggil Stella.
"Kak, kakak bertahan ya! Stella pasti bakalan bawa kakak keluar dari sini." Stella berusaha membuat posisi kakaknya menjadi duduk.
"Nggak Stella! Kakak nggak bakalan bisa bertahan. Kamu nggak lihat pisau yang menancap di dada kakak? Kamu pergi aja tanpa kakak." bisiknya dengan lemas. Sekujur tubuhnya terasa sakit ketika ia bicara.
Stella menggeleng dengan wajahnya yang sudah berlinang air mata. "Nggak! Kakak pokoknya harus bertahan. Aku nggak bakalan keluar dari sini tanpa kakak. Kakak nggak lupakan, sama janji kakak buat keluar dari sini bareng-bareng?"
"Kak Allisya jangan mati dulu. Kita belum nyari tahu nama teman-teman kita, kak! Kita semua juga udah buat janjinya tahun lalu, kan? Biar nanti bisa panggil nama asli mereka, bukan kode nomer." Ucap Stella. Berusaha membangkitkan semangat hidup kakaknya.
Allisya menggeleng. "Keluar bareng-bareng?" Allisya terkekeh sinis. Kekehannya itu membuatnya batuk darah.
Stella yang melihat itu semakin khawatir. Sebisa mungkin ia menutup luka Allisya, agar pendarahannya bisa di hentikan.
__ADS_1
"Kakak jangan banyak bicara dulu. Nanti lukanya tambah parah."
Allisya menatap lekat adik kembarnya itu, dengan pandangan sendu. "Kita nggak bakalan bisa keluar bareng-bareng, karna teman-teman udah mati." Ucapnya dengan amarah yang menyelimuti hatinya.
Ingatan tentang teman-temannya yang di bantai oleh orang yang paling di percayanya, di depan matanya sendiri, masih melekat dengan jelas di kepalanya.
Allisya sama sekali tidak pernah menyangka akan hal itu. Pisau yang menancap di dadanya, pun adalah ulah orang itu. Orang yang paling di percayainya. Orang teristimewa baginya. Dia adalah paket spesial dalam hidupnya.
Tapi orang itu malah mengkhianatinya. Kepercayaanya pada orang itu yang bagai laut, hilang seketika, ketika orang itu membunuh semua teman-temannya tanpa ekspresi dan belas kasihan.
Tatapan dingin itu masih tertanam dengan jelas di otaknya. Orang itu membisikan sesuatu sebelum dirinya tumbang. Tapi Allisya tidak ingat apa yang di bisikannya saat itu, karna fokusnya saat itu pada rasa kecewanya.
Tidak masalah jika orang itu membunuhnya. Tapi tidak dengan semua teman-teman seperjuangannya.
Hari ini Allisya tahu rasanya di khianati. Rasanya begitu sakit! Melebihi apapun.
"Dia bantai semua teman-teman kita, di depan mata kakak sendiri, Stella. Dia bunuh semuanya...." Lirih Allisya dengan suara yang bergetar. Matanya mulai mengeluarkan air mata.
"Kakak nggak tahu yang sebenarnya. Dia ngelakuin itu terpaksa, kak! Dia punya alasan kenapa dia ngelakuin hal itu. Dan aku tahu apa alasannya." Stella berucap sambil menyeka darah yang tadi keluar dari mulut kakaknya.
Allisya mendengus. "Alasan? Apapun alasannya, kakak nggak bakalan pernah denger."
"Kak! Kakak jangan kayak gitu. Dia itu punya alasan kuat melakukan pembunuhan itu. Dan alasannya adalah—"
Lima peluru langsung menembus punggung Stella dengan cepat. Membuat pakaian berwarna putih yang di kenakan Stella berubah menjadi merah.
Kejadiannya Terjadi begitu cepat. Bahkan, Allisya saat itu baru berkedip dan adiknya sudah di tembak di depan matanya sendiri, dan ia tidak bisa melakukan apapun.
Sedetik kemudian mulut Stella mengeluarkan darah. Stella tersenyum sambil membisikan sesuatu. "Stella sayang kakak." Setetes air mata turun dari mata kirinya. Setelahnya ia tumbang.
Allisya menangis keras melihat adiknya ambruk tepat di sebelahnya dengan kedua matanya yang masih terbuka. Kejadian itu terasa begitu lambat baginya.
"Aaaaaaaaaaaaa—" Allisya tidak bisa melanjutkan teriakannya karna dia memuntahkan darah dari mulutnya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Perlahan kesadarannya di renggut. Ketika matanya tertutup, air matanya mengalir keluar*.
"Aaaaaaaaaaa." Stella terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah. Bisa dia rasakan pipinya basah oleh air mata. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.
"Cuma mimpi." Ucapnya lalu melihat jam yang menunjukan pukul 23.49.
Stella mengusap air matanya. Ia meremas dadanya yang terasa sakit. Mimpi itu lagi! Stella selalu bermimpi itu setiap tahun di bulan kesembilan, tepatnya tanggal 18.
Awalnya Stella pikir itu hanya mimpinya saja. Tapi ini selalu berulang setiap tahun. Atau terkadang dia juga bermimpi hal yang sama setiap minggu, tapi mimpi itu tidak jelas dan berpotong-potong.
Mimpinya menampilkan kilasan cepat. Ada beberapa hal yang diingatnya dari mimpi itu. Pertama, dua saudara kembar yang tengah asik bercanda gurau.
Wajah anak laki-laki yang tersenyum, dan wajah anak lainnya yang biasa di panggil dengan kode nomer.
Stella sama sekali tidak mengerti dengan semua mimpi-mimpi itu. Mimpinya yang terjadi setiap tahun dan setiap minggu, sepertinya saling berhubungan.
Di mimpi itu Stella merasa bahwa dirinya ikut serta, dan ia di panggil dengan Allisya. Bukannya Stella, seperti namanya sekarang. Justru yang di panggil Stella di mimpi itu, adalah perempuan yang selalu memanggilnya kakak.
Hal yang paling janggal di mimpi itu adalah, wajah Stella yang selalu memanggilnya kakak, sama persis dengan wajahnya.
Karna mimpi itu, Stella beropini bahwa kemungkinan dirinya punya saudara kembar yang tidak ia ingat, karna ia hilang ingatan.
Kalau di pikir-pikir, Allisya adalah nama panjangnya. Apa mungkin, nama aslinya Allisya? Dan nama Auristella di sematkan di namanya, untuk mengenangnya?
Tapi kenapa di mimpi itu, Allisya juga meninggal? Jika memang Stella yang berperan sebagai Allisya di mimpi itu meninggal, dan ternyata mimpi itu adalah sepotong ingatannya, kenapa dia masih hidup?
Stella menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha mengenyahkan pikiran itu yang selalu berputar di kepalanya.
"Mending lanjut tidur aja deh." Stella kembali berbaring dan menarik selimut sampai ke bahunya.
Sekeras apapun Stella berusaha tidur, dirinya sama sekali tidak tertidur. Pikirannya masih berkecamuk tentang mimpi tadi.
Ia akan menanyakan hal itu pada ibunya besok.
__ADS_1
••••
Maaf ya baru bisa up sekarang. Aku sebenarnya udah nulis sekitar 4 chap! Tapi malah ke hapus karna kecerobohanku sendiri 😭 Apalagi itu tiap chapter isinya masing-masing 1000 kata. Kesel banget! Rasanya pengen rusakin semua perabotan yang ada di rumah. Tapi aku nggak bisa apa-apa, toh itu juga karna salahku sendiri :(