
"Hah...." Stella menghela nafas panjang sambil mengelap peluh di pelipisnya, lalu kembali membersihkan pinggiran kolam.
Semua gerakan Stella tak luput satu pun dari mata Diangela. Fokus laki-laki itu terus tertuju pada lengan kanan Stella yang di perban. Mengingat kejadian tadi membuatnya mendengus pelan.
Stella dengan nekatnya mengiris-ngiris lengannya agar ia berhenti untuk menghukum para cecunguk itu, setelah sebelumnya berbagai cara di kerahkan untuk menghentikan Diangela, dan itu semua tidak berhasil.
"Kak Ian. Ini masih kotor! Jangan ngelamun terus. Cepat di bersihin, biar cepet pulang." Ucap Stella.
Saat ini mereka berdua di hukum untuk membersihkan kolam renang, dan sepertinya Diangela tidak terlalu senang akan hal itu. Di saat Stella beberapa kali menghela nafas, laki-laki itu justru mendengus.
"Hm." Dehem Diangela, menjawab perkataan Stella dengan tidak semangat. Ia membersihkan pinggiran kolam dengan asal.
Stella hanya bisa berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat sikap Diangela. Ia kembali membersihkan pinggiran kolam dengan semangat dan agak cepat, agar ia bisa segera rebahan di ranjang empuknya.
Karna terlalu semangat, Stella sampai tidak memperhatikan jalannya hingga membuatnya terpeleset ke arah kolam.
"Kak Ian!" teriak Stella yang sedang menggatur keseimbangannya. Kepalanya yang sebelumnya menoleh ke arah kolam, di arahkan pada Diangela untuk meminta bantuan laki-laki itu. Tapi Stella tertegun ketika melihat Diangela hanya berdiri dan menatapnya dengan ekspresi dingin, tanpa ada niatan untuk menolongnya.
Sedetik kemudian, tubuh Stella tercebur ke kolam. Bahkan saat di air pun, Stella masih tertegun. Stella begitu terkejut dengan ekspresi dingin Diangela yang berbeda dari biasanya. Ekspresi tadi menurutnya menyeramkan.
Gelembung air mulai keluar dari mulut Stella. Gadis itu terus menggeliat, berusaha naik ke atas permukaan kolam. Tapi tidak berhasil. Stella sama sekali tidak bisa berenang, dan kedalaman kolam ini lebih dari 2 meter di mana tinggi Stella saja tidak mencapai 2 meter.
"Kak Ian." Panggil Stella dalam hati. Gadis itu terus menggerak-gerakan tangannya, berusaha untuk tidak tenggelam lebih dalam.
Stella sampai menangis ketika merasakan nafasnya sudah habis. Ia merasakan sesak yang begitu menyakitkan di dadanya, sebelum kehilangan kesadaran, mulutnya mengeluarkan gelembung udara yabg cukup banyak.
__ADS_1
Tubuh Stella perlahan turun mencapai dasar kolam. Di tempatnya, Diangela menghela nafas. Laki-laki itu membuang sembarang wiper lantai di tangannya, lalu ia berjalan mendekat ke arah kolam.
Diangela berjongkok di tepi kolam, dan menatap Stella yang sudah pingsan.
"Sepertinya sudah cukup lama." Ucap Diangela. Laki-laki itu lalu melompat masuk ke kolam, dan berenang ke bawah menuju Stella.
Diangela lalu membawa Stella berenang ke permukaan. Setelah di baringkan di tepi kolam, laki-laki itu menekan-nekan dada Stella beberapa kali untuk mengeluarkan air yang masuk ke paru-parunya.
"Uhuk uhuk." Stella mulai sadar bersamaan dengan air yang keluar dari mulutnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, sosok Diangela yang menatapnya datar adalah pemandangan pertamanya ketika ia membuka mata.
Stella bangun lalu memeluk Diangela. "Huwaaaa." Gadis itu menangis karna rasa shok yang menimpanya. Stella mengira dirinya sudah mendekat pada ajal, saat ia mulai kehilangan kesadaran di kolam.
"Kenapa nggak di tolong dari awal sih!" rengek Stella sambil sesenggukan.
Diangela melepas pelukan Stella dengan paksa. Ia meraih lengan Stella yang di perban dan mengangkatnya di depan wajah gadis itu.
"Kau tahu kesalahan yang telah kau buat?" tanya Diangela dengan sebelah alis yang terangkat.
Stella menggeleng pelan.
"Ini." Diangela menunjuk perban yang melingkar di pergelangan tangan Stella. "Kau ingat perkataan ku di kantin satu bulan yang lalu?"
Stella mengangguk.
"Kau tidak punya mulut untuk menjawab?" tanya Diangela tajam. Stella tidak tahu apa yang menjadi penyebab kemarahan laki-laki itu.
__ADS_1
"Punya." Cicit Stella sambil menunduk.
Diangela mengangkat dagu Stella dengan kasar. "Jangan menunduk! Kau ingat perkataan ku saat itu?"
Stella mengangguk. "Iya."
"Apa kalimat terakhir yang ku katakan saat itu?"
"Emmm. Kak Ian bilang, kalau Stella itu miliknya kak Ian. Dan hanya kak Ian yang boleh memaki dan melukai Stella. Dan jika ada yang melakukan itu, mereka akan di pastikan menghilang dari bumi. Yang itu, kan?"
Diangela meraih tengkuk Stella dan menariknya mendekat ke wajahnya. "Peraturan itu juga berlaku untukmu," bisik Diangela. "Kau melukai dirimu sendiri, dan aku menghukummu. Kau tahu kenapa aku tadi tidak menolongmu? Itu untuk menghukummu. Aku sudah memperkirakan kalau kau akan jatuh ke kolam."
Mata Stella mengerjap pelan. "Tapi hukumannya bukannya menghilang dari bumi, ya?" tanya gadis itu polos.
Diangela tersenyum miring. "Oh! Jadi kau mau menghilang dari bumi?" tanya Diangela.
Stella sontak menggeleng cepat.
Diangela mengangkat sebuah papper bag berisi baju ganti untuk Stella. "Ini, baju ganti untukmu. Cepatlah pakai dan setelahnya aku akan mengantar mu pulang."
"Tapi hukumannya belum selesai."
"Perset4n dengan hukuman ini. Toh, tidak akan ada yang menegurku karna sekolah ini milik stev- ayahku."
Stella membelalak. "Sekolah ini milik ayah kak Ian?" tanyanya kaget.
__ADS_1
Diangela mengangguk. "Cepatlah pakai. Nanti kau kedinginan." Perintahnya lalu meletakan papper bag itu di samping Stella, kemudian ia beranjak dari sana dan menuju ruang ganti laki-laki untuk mengganti pakaiannya yang basah.
Stella mengambil papper bag itu dan berjalan menuju ruang ganti.