
Tapi kemudian Diangela mengernyit ketika menyadari sesuatu. "Aishh!! Kenapa aku masih berbaring dijalan begini, seperti pengemis?" Diangela bangkit berdiri dengan kesal. Ternyata perkataan pria tadi benar! Dia itu bodoh!
Diangela kemudian berbalik dan berjalan dengan gerutuannya. "Kenapa aku bisa sebodoh itu?" desisnya kesal. Tapi kemudian, ia menghentikan langkahnya ketika teringat sesuatu.
"Stella!" Teriaknya dalam hati. Diangela kembali berbalik dan berjalan menuju rumah Stella. Ia khawatir kalau Stella kenapa-napa, mengingat stalker itu muncul dari arah yang menuju ke rumah Stella.
Setelah sampai dengan berlari, Diangela segera naik pohon mangga, melompat ke balkon, dan menerobos masuk lewat jendela kamar.
Kamar Stella gelap. Satu-satunya penerangan saat ini, hanyalah lampu yang cahayanya temaram, yang terletak diatas nakas. Diangela menghela napas lega, melihat Stella yang terlelap dan keadaannya terlihat baik-baik saja.
Dengan langkah ringan, ia berbalik.
"Tidak! Tidak! Jangan!!!" Diangela yang hendak keluar, menoleh mendengar suara gumaman. Laki-laki itu kembali berbalik, sambil mengerutkan dahi.
Ia menajamkan telinganya, berusaha memastikan kalau yang barusan didengarnya itu nyata, atau hanya halusinasinya saja.
"Jangan! Nggak mau!" Diangela segera mengalihkan tatapannya pada Stella. Dengan segera, ia berjalan menuju ranjang. Ternyata benar! Suara itu berasala dari Stella. Diangela duduk ditepi ranjang.
Sepertinya Stella tengah bermimpi buruk. Raut wajahnya terlihat ketakutan. Keringat bercucuran dari wajahnya. Perlahan, Diangela mengangkat tangannya. Hendak mengelus kepala Stella, untuk menenangkan gadis itu. Tapi kemudian gerakannya terhenti, membuat tangannya tergantung bebas di udara begitu saja.
Diangela kembali memajukan tangannya dengan ragu-ragu, kemudian ia kembali memundurkannya, lalu mengepalkannya. Laki-laki itu menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia merasa gugup.
"Aishh!! Kenapa aku merasa gugup?" gumamnya, mengernyit pelan dengan bingung. Diangela menelah salivanya susah payah.
Dengan gerakan kaku, Diangela membuka kepalan tangannya dan mengarahkan tangannya ke kepala Stella. Lalu ia menempelkan tangannga di sana, kemudian mengelusnya ragu-ragu.
Diangela mengerutkan dahi. Bola matanya bergerak tak beraturan. Kelopak matanya ikut mengerjap-ngerjap cepat. Si4l! Kenapa jantungnya malah berdetak kencang, hanya karna ia mengelus kepala gadis ini? Kenapa ketika melihat wajahnya yang sudah tidak ketakutan dan merasa senang, ada kelegaan dalam hatinya?
Dengan cepat, Diangela menarik tangannya. Ia kemudian berdiri, lalu berbalik dan segera pergi sebelum debarannya semakin menggila.
•••
Minggu, 23.00 WIB.
Diangela melirik sekilas arlogi ditangannya. Ia baru sadar, kalau ia telah berjalan tak tentu arah selama 3 jam lebih. Setelah pulang dari Italy, ia tidak segera pulang ke rumah, melainkan jalan-jalan menyusuri setiap jalan sepi dengan membawa segala beban pikirannya.
Diangela menghentikan langkah kakinya, ketika melihat mobil Jazztin terparkir di depan teras rumah. "Kenapa dia tidak memarkirnya di basement?" tanyanya pelan. Diangela berbalik sepenuhnya ke arah mobil, ketika melihat keretakan dikaca mobil. "Kacanya kenapa retak? Bukankah ini mobil kesayangan Jazztin?" tangannya terangkat untuk menyentuh kaca mobil.
__ADS_1
Tak mau pusing memikirkannya, Diangela memilih mengedikkan bahu kemudian kembali berjalan menuju rum—mansionnya. Keheningan dan kegelapan menyambut dirinya saat memasuki mansion—selalu saja seperti ini.
Kakinya yang hendak melangkah menuju undakan tangga, terhenti tatkala telinganya mendengar kebisingan dari arah dapur. Diangela memundurkan langkahnya, lalu menelengkan kepala—mengintip ke arah dapur yang terang, tidak seperti ruangan lainnya yang gelap.
Batinnya bertanya-tanya. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan ke dapur, demi menuntaskan rasa penasarannya. Dahinya semakin mengenyit bingung, ketika rungunya mendengar suara perempuan yang samar-samar. Ini telinganya yang salah dengar, ataukah dirinya hanya sedang halusinasi?
Suara samar-samar itu, perlahan membesar kala ia hampir mencapai pintu dapur. Langkahnya semakin cepat, lalu dengan segera ia segera membuka pintu dapur.
Diangela melebarkan mata melihat pemandangan didepannya.
Whatt the hell?
Tapi yang membuatnya lebih terkejut adalah, saat tubuh seorang perempuan dengan teriakannya, menubruknya begitu keras—tepat di detik ke-5 ia membuka pintu.
"Hei! Siapa kau? Kenapa memelukku, sembarangan!" Diangela berusaha melepaskan kedua lengan mungil yang melingkari tubuhnya dengan erat.
"Kau mengenal Quin?" tanya Ansell, terkesiap pelan—mengingat Diangela sama sekali benci berdekatan dengan perempuan yang tak di kenal. Kadang, dekat dengan perempuan yang dia kenal, saja dia benci.
"Mana mungkin, Diangela mengenalnya! Si aneh itu pasti cuma SKSD saja!" cebik Jazztin.
Mata Diangela terangkat menatap Ansell dan Jazztin. Sorot matanya jelas menunjukan kebingungan. "Siapa gadis ini? Kalian membawanya ke sini?"
Jazztin mendelik sebal. "Dia yang ikut aku!!! Aku bahkan tidak sudi menatap wajahnya."
Quin yang masih mendekap Diangela, berdecak sebal. Ia melepaskan pelukannya, lalu melangkah mundur. Ia kemudian merogoh saku roknya, untuk mengambil sesuatu.
"Ini!" Quin menunjukan sesuatu di depan mata Diangela. "Kau ingat ini apa?!" ujarnya lalu mengusung senyum manis.
Diangela mengernyit bingung. Beberapa kali, ia berusaha membenarkan penglihatannya dengan mengerjap-ngerjapkannya, atau mengucek-nguceknya pelan.
Tepat di depan matanya saat ini, ia melihat seuntai gelang besi yang berbentuk rantai, di tengah-tengahnya terdapat besi berbentuk persegi panjang dengan coretan, 057!
Diangela meremas kuat, gelang yang sama di sakunya ini, dengan gelang yang ada di hadapannya. Gelang itu, adalah gelang yang tak sengaja Zanna jatuhkan saat di hutan itu.
"Aku......," Quin melepaskan gelang itu dari tangannya, lalu dengan gesit kembali menangkapnya. Ia maju satu langkah—mengikis jarak di antara mereka. "057!" bibir Quin terangkat, menciptakan lengkungan di bibirnya, hingga senyum manisnya pun terlihat.
Jazztin yang tengah minum, seketika terbatuk hebat. Di tolehkannya kepalanya itu pada Quin dengan pandangan tak percaya. Diangela pun sama! Menunjukan mimik wajah bingung, kaget, tak percaya—semuanya bercampur aduk.
__ADS_1
Ansell di tempatnya hanya bisa celingukan bingung, dengan situasi yang mendadak hening ini. Ia tidak mengerti. "Ada apa? Ada apa?" tanyanya, sambil menatap Jazztin dan Diangela bergantian.
"Kau..........," Diangela tak bisa mengendalikan laju napasnya. Tenggorokannya tercekat. Entah kenapa rasa kecewa melingkupi hatinya, mengetahui Stella bukanlah 'dia.' Dia yang selalu ia harapkan kedatangannya.
"Ya! Aku Stella!" potong Quin, karna tidak tahan melihat Diangela yang hanya bengong. "Tapi sekarang namaku berubah jadi Quin, karna si tua bangka itu!"
Mata Diangela yang awalnya melebar, kini berubah menyipit—nyaris tertutup. Ia menatap curiga pada Quin. "Apa kau punya nama lain?"
Quin mengernyit heran. "Nama....... lain? Maksudnya?"
"Kau punya nama lain?" ulang Diangela berusaha memastikan. Pertanyaan ini sangat penting. Hanya dia dan teman-temannya yang lain, yang mentahui hal ini.
"Nama lain? Aku tidak punya! Seta—maksudku, seingatku, aku dan kakakku mempunyai nama yang sama. Sama-sama bernama, Auristella, karna kita kembar. Oh, iya aku lupa!! Wajahku sudah berubah! Aku tidak tahu apa yang terjadi, Saat aku terbangun, wajahku sudah seperti ini. Mungkin si tua bangka itu melakukan transplasi wajah padaku. dan aku juga tiba-tiba ada di tempat yang bising dan banyak orang itu." Jelas Quin panjang lebar.
Jazztin juga ikut memicingkan mata curiga. "Dia selalu bersikap polos dan tidak tahu apa-apa di hadapanku! Tapi kenapa dia sekarang banyak bicara?!" gumamnya.
"Bukankah tadi dia juga banyak bicara?" ucap Ansell yang mendengar suara lirih Jazztin.
"Ini berbeda." geramnya. "Aku merasakan keanehan pada si aneh itu, sejak pertama kali kita bertemu."
"Kau merasakan keanehan pada si aneh itu, karna kau itu aneh!" Ansell hampir saja terbahak jikalau tidak ingat situasi saat ini.
Jazztin berdecak, meringis sebal, dengan matanya yang menyorot jengkel pada Ansell yang tengah menahan tawa.
"Kita sparring nanti." Ucap Jazztin tanpa suara, sambil mendelik tajam.
"Apa buktinya, kalau kau itu 057?" tanya Diangela masih tak percaya. Matanya masih menyipit—menunduk, menatap Quin curiga.
Quin memutar kedua bola matanya malas. "Panggilan mu Ian. Kau suka pancake dan....... tiramisu. Kode nama mu, 056. Kita pernah berjanji untuk mencari tahu nama asli teman-teman kita, yang tidak bisa mengingat namanya. Terus apalagi ya?" Quin mengembungkan pipinya, dengan pandangan ke atas dan jari telunjuk yang mengetuk-getuk dagunya.
"Ah, iya! Kau juga—"
"Stop it! Aku percaya." Diangela melebarkan matanya yang menyipit— seperti semula. "Tapi kenapa kau bisa bahasa Indonesia?"
Quin mengernyit bingung. "Iya juga ya? Kenapa aku bisa bicara pakai bahasa ini?" monolognya dengan bingung. Ia mengangkat pandangannya, "aku tidak tahu!" ucapnya jujur setelah sebelumnya ia mengedikkan bahu.
Apa yang sedang kau rencanakan, d.r Crombell sial4n?!!! Desis Diangela dalam hati. Sejujurnya, ia tidak percaya perkataan Quin sepenuhnya. Ada satu hal penting yang tidak diketahui oleh gadis itu, yang membuat argumennya semakin kuat. Yaitu, semua keanehan dan kejanggalan yang akhir-akhir ini muncul, adalah perbuatan d.r Crombell.
__ADS_1
•••
Eh, btw kalau ada yang pernah baca cerpen aku yang judulnya For You, pasti tahu kalau nama Quin sama kayak nama pemeran utama cewek di sana. Sama² Quinsha Qiana Qalesha. Author nggak kepikiran nama lain. Jadinya pakek itu aja. Hehe