
"Lo yakin mau ke sana?" tanya Tata mencekal lengan Stella.
Stella mengangguk yakin.
Tata maju selangkah di depan Stella. Gadis itu memegang kedua bahu Stella. "Stella!" panggilnya lirih sambil tersenyum. "Lo inget nggak, apa yang gue omongin sama lo tadi malem!"
Stella mengangguk. "Inget kok!"
Tata menggeram sebal sembari memutar kedua bola matanya. "Udah tahu, ngapain masih mau makan Cheesee cake di base camp nya kak Dian!" sentak Tata.
Stella mengangkat dagunya dengan pandangan ke samping. "Aku nggak percaya sama kata-kata Tata. Masa sih kak Ian itu psikopat!" keukeuh Stella mencoba mempertahankan argumennya.
Tata menghela nafas frustasi. "Ya ampun! Gini-gini amat gue punya temen! Di bilangin juga." Keluh Tata.
Stella menurunkan kedua tangan Tata yang masih bertengger manis di bahunya. Ia pun berjalan mendahului Tata.
"Eh, Stella! Tungguin dong!" Tata mengejar Stella. "Gue temenin deh! Nanti kalau dia macem-macem, gue yang lindungin lo!" katanya sambil menunjukan kepalan tangannya.
Stella tersenyum kecil melihat itu. "Katanya kemarin ketemu kak Ansell aja nangis!" ejek Stella.
Tata menoleh cepat. "Lo percaya cerita gue yang itu! Kenapa lo nggak percaya kalau kak Dian itu psikopat Stella!" geramnya.
Stella terdiam. Ia berpikir sebentar, lalu menoleh pada Tata. "Tata kan cuman denger itu dari kak Ansell, bukan lihat langsung. Secara kan kak Ansell itu punya penyakit Alzheimer, bisa aja waktu itu dia lupa dan malah ngomong kak Dian itu psikopat."
Tata mengernyit sebentar. "Iya, juga ya!" gumamnya.
"Tapi untuk jaga-jaga, aku mau tes psikopat sama kak Ian."
"Tes psikopat?"
"Heem." Stella mengangguk. "Aku udah siapin soalnya."
•••
"Kak Ian." Panggil Stella saat menerima potongan kue dari Diangela.
Diangela mendongak lalu menaikan sebelah alisnya. "Apa?"
Stella melirik pada Tata yang sedari tadi mencoba menghindari kontak mata dengan Diangela.
"Ekhemm." Stella berdekhem. "Aku mau ngasih pertanyaan sama kak Ian, dan kak Ian harus jawab!"
Diangela mengangguk.
"Wihh!! Pertanyaan apa nih?!" Ansell muncul di pintu masuk, membuat Tata berjengit kaget. Gadis itu memejamkan kedua matanya sambil menggigit bibir bawahnya.
Stella menoleh. "Eh, kak Ansell!"
Ansell duduk di samping Tata, membuat gadis itu semakin mengkeret ke arah Stella.
__ADS_1
Aduh! Nasib gue sial banget sih! Kenapa harus ketemu kak Ansell sih! Tata membatin kesal. Ia pun menunduk sambil memakan Cheesee cakenya dengan tidak nafsu.
"Siapa?" tanya Ansell pada Stella.
"Stella." Jawab Stella.
"Stella?"
"Heem." Stella menunjukan gelang yang terbuat dari benang rajut berwarna biru yang melingkar di tangannya, lalu menarik lengan Ansell yang juga memakai benang berwarna yang sama dengannya.
Stella melakukan itu, agar jika Ansell lupa padanya, maka gelang itu akan membuat Ansell kembali ingat padanya.
Karna Stella menarik lengan Ansell, posisi laki-laki itu semakin dekat dengan Tata. Tata menahan nafasnya, rasanya ia ingin menangis saja.
Ansell mengerjap pelan, lalu menjentikan jarinya. "Oh, iya! Auristella, kan?" tanyanya.
Stella mengangguk. Kemudian mereka berbincang-bincang sendiri, melupakan Tata yang ketakutan dan Diangela yang tengah menggeram marah di tempat duduknya.
"Jika kau hanya membuat ke berisikan di sini, pergi sana!" Ucap Diangela yang sudah kesal.
Ansell memutar kedua bola matanya. "Iri bilang boss!"
Stella menoleh pada Diangela. Ia menepuk jidat nya. "Oh, iya lupa! Aku kan mau nanya sama kak Ian!"
"Tanya saja sama Ansell!" ketus Diangela.
"Tapi, kan pertanyaan untuk kak Ian, bukan kak Ansell."
"Eh, Stella! Jangan ninggalin gue." Panggil Tata kesal. Ia meletakan piring kecil berisi cheesee cake ke meja, sambil memasang sikap waspada pada Ansell yang terus menatapnya.
Saat Tata berdiri dan hendak melangkah, Ansell mencekal lengannya lalu menariknya agar kembali duduk.
Tata merapatkan bibirnya sembari mengumpat dalam hati. "A-ada apa kak?" tanya Tata dengan gemetar sambil menunjukan senyum paksanya, saat Ansell menatapnya penuh selidik.
Ansell mendekat. "Gelagat mu dari tadi sangat aneh! Kau seperti takut padaku."
Tata memalingakan wajahnya ke samping. Ah, sial4n! Tata kembali menoleh pada Ansell. "Nggak, nggak takut kok." Elak Tata dengan wajahnya yang sudah berkeringat.
Ansell menyipitkan matanya. "Sungguh!"
Tata mengangguk cepat.
Ansell memindai wajah Tata dengan teliti. Ia seperti pernah bertemu dengan Tata. Tapi ia tidak ingat. "Apa kita pernah bertemu?"
Tata melebarkan mata. M4mpus!
•••
"Kak Ian tunggu!" Stella berteriak sambil mengejar Diangela yang sudah hilang di belokan tangga. Gadis itu berhenti, lalu menetralkan nafasnya yang tidak beraturan. Setelahnya, ia kembali mengejar Diangela.
__ADS_1
Stella mengernyit ketika melihat sebuah pintu usang di ujung tangga. Ia berjalan pelan ke sana dan membuka pintunya ketika sudah dekat.
Stella berdecak kagum melihat pemandangan di depannya ketika ia sudah membuka pintu. Dengan senang ia berlari kecil kesana.
"Di roooftop sekolah kok ada kebun bunga gini?" ucap Stella. Gadis itu dengan senang, menyentuh bunga Mawar dan bugenvil yang tumbuh di pot itu. Ia semakin berlari dengan semangat ke pembatas rooftop.
Diangela yang melihat itu mendengus, lalu berlari menghampiri Stella. Ketika sampai, ia menarik Stella menjauh dari sana. "Kau tidak lihat pegangan rooftop ini pendek? Bagaimana kalau jatuh?" tanyanya kesal.
Stella agak tersentak oleh tarikan Diangela. "Aku mau berhenti tadi, tapi keburu di tarik sama kak Ian. Emangnya aku anak kecil, sampai tidak tahu kalau pegangannya pendek?" ketus Stella.
Diangela memutar kedua bola matanya. Ia menarik kursi yang terbengkalai di sebelahnya, lalu duduk di sana. "Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Oh, iya!" Stella celingukan lalu berlari mengambil kursi plastik di dekat pintu, kemudian membawanya ke hadapan Diangela lalu duduk di sana dan mendekat pada Diangela. "Kak Ian wajib jawab pertanyaan ini."
Diangela mengangguk.
"Misalkan nih, ya. Ada satu toko yang kebakaran, dan masih ada tiga orang yang terjebak di dalam sana." Stella menunjukan tiga jarinya. "Nah, yang terjebak itu aku, kak Ansell, dan kak Jazztin." Stella melipat satu persatu jarinya saat menyebut kan nama.
"Kak Ansell dan kak Jazztin terjebak di bagian toko yang dekat pintu keluar. Sedangkan aku, terjebaknya di bagian dalam toko, dan akan susah untuk keluar."
"Jadi?" Diangela menaikan sebelah alisnya.
"Siapa yang akan kak Ian tolong?" tanya Stella. Jika kak Ian psikopat, dia akan milih kak Ansell dan kak Jazztin. Soalnya psikopat itu mengandalkan logika. Mereka pasti akan memilih menolong orang yang jumlahnya banyak! Batin Stella dalam hati.
"Tentu saja aku akan menolongmu." Ucap Diangela spontan.
Stella mengerjap, ia tersenyum kecil. Jadi kak Ian bukan psikopat kan?
"Aku tidak menolong Jazztin dan Ansell karna mereka sudah pasti bisa menyelamatkan diri mereka sendiri." Lanjut Diangela.
Stella memasang wajah bingung. Diangela menjawab akan menolongnya, karna tahu Ansell dan Jazztin bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi tes psikopatnya ini berhasil atau tidak? "Bagaimana jika yang terjebak di dalam toko 5 orang laki-laki asing, sedangkan di bagian yang dekat pintu keluar 3 orang anak kecil. Siapa yang akan kak Ian tolong?
"Mereka orang asing, kan?"
Stella mengangguk.
"Dan aku tidak mengenalnya?"
Stella mengangguk lagi.
"Sudah jelaskan! Aku tidak akan menolong mereka, karna aku saja tidak mengenal mereka. Untuk apa aku susah-susah membahayakan nyawaku untuk orang yang tak di kenal?" ucap Diangela datar.
Stella menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia jadi bingung sendiri. "Bagaimana jika di antara kelima orang laki-laki itu ada aku. Siapa yang akan kak Ian tolong?" tanya Stella.
"Itu tidak usah di pertanyakan lagi, bukan?" ucap Diangela lalu bangkit dari duduknya dan berjalan.
Stella ikut berdiri. "Maksudnya?"
"Tentu saja aku akan menolongmu."
__ADS_1
"Tapi kenapa?" pertanyaan Stella membuat Diangela yang hendak membuka pintu berhenti. Ia menoleh ke kanan.
"Karna aku tidak akan membiarkan milikku terluka."