
Dorrr!!!
Suara tembakan pistol terdengar. "DIAMMM!!!!" teriak Aris membuat Stella berjengit kaget. Saat ini pria itu masih duduk, kemudian ia berdiri dan berjalan menuju anak-anaknya.
"Baris semuanya." Perintahnya. Semuanya lantas berbaris mengikuti perintah sang ayah.
"Kalian semua!!" tunjuknya pada anak-anaknya yang mengacaukan isi rumahnya. "Bereskan semua ini dalam waktu 30 menit! Kekasih baru ibu kalian, akan datang hari ini. Jadi bersikap baiklah!"
Stella yang sedang minum air putih guna menenangkannya dari rasa terkejut, tersedak mendengar perkataan Aris. "Kekasih?"
"Ya. Istri Aris terkadang membawa kekasihnya ke rumah." Jawab Stevano.
Stella menoleh kaget. "Dia tidak keberatan di selingkuhi?"
Stevano menggeleng. "Tidak. Karna yang paling penting bagi Aris adalah kebahagian Xia, istrinya. Jadinya ia membiarkannya karna hal itu membuat Xia senang. Terakhir kali dia melarang Xia selingkuh, dia menangis. Dan Aris sama sekali tidak sanggup melihat istrinya menangis. Jadinya ia membiarkannya saja, karna ia tahu Xia aka selalu kembali padanya saat bosan dengan selingkuhannya itu." Jelas Stevano membuat bola mata Stella seakan meloncat keluar dari tempatnya.
Gadis itu melotot kaget. "Sebucin itukah?"
"Ya. Sebucin itu." Ucap Stevano sembari tersenyum.
"Ekhem." Stella berdekhem pelan. "Apa jika sedang bersama selingkuhannya, istrinya paman Aris melakukan...... ekhem....... itu?"
"Itu? Maksudnya?"
Stella mengetuk-ngetuk jari telunjuk kanannya dengan jari telunjuk kirinya. "Ya.. Melakukan itu... berhubungan badan?" tanya Stella malu-malu.
Diangela menaikan sebelah alisnya mendengar itu.
"Hahaha. Pertanyaan yang bagus." Stevano terbahak. "Xia tidak pernah berhubungan badan dengan selingkuhannya. Dia bilang milik mereka tidak besar dan panjang seperti milik Aris."
Ansell segera saja menutup kedua telinga Stella. "Orang asing! Berhati-hatilah saat bicara! Kau mengotori otak sucinya Stella." Gerutunya.
Diangela mendelik melihat perbuatan Ansell. Laki-laki itu memalingkan wajah ke arah lain.
"Panggil aku daddy, sial4n!"
•••
"Kau kekasihnya Diangela?" tanya Xia pada Stella yang tengah fokus memakan makanannya.
Gadis itu mendongak lalu mengangguk. "Iya."
"Dia cantik bukan, sayang?" tanya Xia pada kekasihnya itu dengan manja.
"Iya dia cantik. Tapi tentu saja kau lebih cantik." Balasnya sambil mencolek hidung mancung Xia.
Aris hanya diam melihat itu dan kembali melanjutkan makannya.
Stella yang melihat itu merasa tak enak. Harusnya bibi Xia, kan yang merasa tak enak karna membawa laki-laki lain di depan suaminya sendiri. Kenapa malah jadi ia yang tak enak.
"Tenang saja." Stella menoleh pada Diangela yang berada di sebelahnya. "Uncle Aris akan membunuh selingkuhan nya aunty Xia, saat aunty Xia sudah bosan pada laki-laki itu." Ucap Diangela mengerti perubahan raut wajah Stella.
Stella mengangguk-ngangguk.
"Laki-laki yang kubunuh tadi juga, adalah selingkuhannya aunty Xia." Lanjut Diangela kemudian membuat Stella kembali mual ketika teringat adegan pembunuhan yang di lakukan kekasihnya itu dengan kejam.
"Ah, aku kesal sekali!" bisik Ethan pada Erlan.
"Ya. Setiap ibu membawa kekasih, kita harus bersikap baik dan pendiam! Ini sungguh menyiksa." Balas Erlan berbisik juga.
"Aku ingin mencabut kumis nya itu!" geram Ethan. "Kenapa selera ibu itu om-om semua?"
"Ya. Bukankah perbedaan usia ayah dan ibu itu 12 tahun?" ucap Erlan. "Tapi berkat semua itu, aku jadi punya cita-cita."
"Cita-cita? Apa?"
__ADS_1
"Cita-cita ku ingin jadi sugar daddy yang punya 4 baby." Cengir Erlan membuat Ethan menabok kepala saudaranya itu dengan sendok.
Stella menutup kedua telingannya agar percakapan Ethan dan Erlan yang berada di sampingnya tidak terdengar. Bisa-bisanya anak berusia 9 tahun berbicara seperti orang dewasa?
"IBU...... AKU SUDAH MENEMUKAN PUTRI YANG ADA DI MIMPIKU ITU, BU!!! DAN AKU SUDAH MENIKAHINYA TADI." Teriak Max, anak ke-3 Aris begitu muncul dari arah pintu.
Ke sepuluh anak-anaknya Aris menoleh tajam pada kakaknya itu. Sudah jadi peraturan, jika ibunya membawa kekasihnya, maka mereka semua harus memanggil ibunya dengan sebutan kakak, untuk membantu merahasiakan identitas ibunya yang sudah menikah. Dan memudahkan perselingkuhannya dengan lelaki lain.
Jika mereka melanggar itu, maka Aris selaku kepala keluarga yang menulis peraturan itu akan menghukum mereka. Jelas saja mereka tidak mau kena hukum oleh ayahnya yang kejam sejagat raya ini.
Mereka akan memilih masuk neraka saja, dari pada melihat ayahnya marah.
Max yang menyadari adanya kehadiran kekasih sang ibu, tertawa. "Ibu tidak ada ya?" ucapnya lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ibu ada di mana kak?" tanyanya pada Xia, mulai menjalankan sandiwaranya.
Max masuk dengan seorang perempuan yang di panggul di bahunya bak karung beras itu. Perempuan bernama Putri itu terus memberontak minta di turunkan.
Karna tidak mau membuat sang ayah marah karna kebisingan yang di buat istrinya itu, Max pun menurunkan Putri.
"Lo-" Max membekap mulut Putri untuk diam.
"Protesnya nanti aja!" bisiknya dengan nada mengancam.
Putri yang memang pada dasarnya parnoan mengangguk cepat.
"Max? Ibu sedang keluar. Cepat duduk. Ikut makan siang dengan kita." Ajak Xia sembari tersenyum.
"Ni anak sama ibu pandai amat sandiwaranya." batin Stella.
"Ethan, Erlan minggir! Kakak ipar kalian akan duduk di sini." Perintah max yang langsung dituruti kedua kedua bocah itu.
"Kakak ip-" Max menatap tajam Putri kemudian mendudukkannya di sana.
Putri hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia pun duduk di samping Stella.
"Hai." Stella melambaikan tangannya pada Putri.
Putri menoleh. "O-oh. Ha-hai." Sapa nya canggung.
"Kenapa di panggul sama dia?" tanya Stella kepo.
Putri menghela nafas lega. Sepertinya Stella tidak berbahaya di lihat dari auranya yang berbeda dengan aura manusia-manusia lain di meja makan besar ini.
"Gue di paksa sama dia." Bisiknya.
"Di paksa?"
Putri mengangguk. Ia melirik ke samping di mana Max duduk, lalu kembali menoleh pada Stella. "Gue aja nggak tahu siapa nama dia, eh dia malah bawa gue ke KUA dong! Dia maksain gue nikah sama dia!!!!"
Stella mengerjap kan kedua matanya. "Hah?"
"Dia bilang gue itu Putri yang sama kayak Putri di mimpinya dia?! Gila aja!! Gue lagi kerja lagi waktu itu!" jelas Putri kesal. "Lihat baju yang gue pakek! Ini seragam kerja."
Stella melirik seragam kerja Putri. Gadis itu sepertinya bekerja di sebuah kafe di lihat dari pakaiannya.
Sepertinya Stella sekarang tidak terlalu terkejut, karna sudah tahu kalau keluarga paman Diangela ini tidak ada yang waras semua.
"Aku kasih peringatan ya?" ucap Stella mendekat. "Orang-orang di sini aneh semua. Bahkan yang anak kecilnya. Hati-hati ya!"
•••
"Dadah sayang. Muachhh" Xia melambaikan tangan pada kekasihnya yang sudah masuk mobil, seraya memberikan ciuman jauh untuknya.
Sontak ketika mobil kekasih ibunya hilang, ke-12 anak Aris yang memasang senyum Pepsodent langsung melunturkan senyum mereka. Mereka lalu melenggang pergi dari halaman rumah dan masuk ke dalam.
1, 2, 3. Stella menghitung dalam hati ketika ke-12 anak Aris sudah masuk rumah, dan seketika perang dunia ke-3 pun di mulai. Suara bising itu kembali terdengar, bersama suara teriakan dan umpatan lainnya.
__ADS_1
"Mana Xavier?" tanya Xia pada Aris.
"Di belakang rumah." Xia pun langsung melangkah menuju belakang rumah.
"Mau pulang." Rengek Stella dengan suara bengek pada Diangela. Gadis itu menarik-narik ujung baju Diangela.
Diangela mengangguk.
"XAVIER!!!!!!!!" teriakan Xia membuat Aris dan Stevano yang tengah berbincang tersentak kemudian segera berjalan menuju belakang rumah.
Ada apa lagi ini?! Batin Stella.
Mau tak mau Stella ikut melangkah menuju belakang rumah karna Diangela juga pergi ke sana.
"Ada apa?" tanya Aris.
"Ini Xavier nggak nurutin perintah ibu!"
"Orang perintah ibu nggak masuk akal, gitu?! Giman mau nurutin coba?!"
"Tuh, kan ayang!!! Dia ngelawan!!" rengek Xia.
"Emangnya perintah Xia apa?" tanya Stevano.
Xia menunjuk perempuan yang berada di sebelah Xavier. "Dia mau ngehamilin Felicia! Yaudah aku suruh Xavier nikah sama dia!"
"Siapa yang ngehamilin coba? Kenal aja nggak! Tadi itu dia mau jatuh, yaudah aku tolong, eh lantainya licin jadinya kita berdua jatuh dan aku posisinya ada di atas dia! Xavier nggak maksud buat ngehamilin dia!" jelas Xavier.
Stella hanya menyimak saja di samping Diangela.
"Nggak mau tahu! Pokoknya kamu harus nikah sama Felicia! Titik! Nanti aku ngomong sama Rani soal pernikahannya." Titah Xia mutlak.
"Nggak mau!" bantah Xavier.
Xia memasang wajah melas pada Aris. Ia mulai menangis. "Dia ngelawan, swetie!!!!"
Aris yang memang sangat-sangat bucin pada istrinya itu, langsung menatap marah pada Xavier putra ke-4 nya.
"Turutin, nggak?!" perintah Aris dingin.
Xavier menggeleng. "Nggak mau!" teriaknya.
"Huaaaa...." Xia mengeraskan tangisannya membuat Aris segera saja mengeluarkan pisau lipat di sakunya dan melayangkannya pada Xavier, yang berhasil di hindari oleh laki-laki itu.
Felicia, Stella, dan Putri yang melihat itu menganga tak percaya.
"Turutin nggak?!!" Aris terus melayangkan pisau itu pada Xavier. Dan Xavier juga selalu berkelit dan tidak melakukan serangan balik pada ayahnya karna ia tahu itu akan membuatnya semakin brutal saja!
"Nggak mau!" keukeuh Xavier. Ia sudah kelelahan menghindari tusukan Aris, hingga pada akhirnya Aris berhasil menusuk perut Xavier. Darah langsung merembes keluar membasahi pakaian yang di kenakan Xavier.
"Turutin!" perintah Aris menatap dingin Xavier.
"No!" bantah Xavier keras kepala.
Aris menusukkan pisau itu dalam-dalam membuat Xavier merintih kesakitan. "Turutin!" perintahnya sekali lagi.
"Iya, iya. Aku mau nikah sama dia!" pasrah Xavier. "Tapi ada syaratnya. Aku mau uang jajan ku sehari 100 juta!" ucapnya.
"Deal." Aris langsung mencabut pisau itu dengan keras lalu beranjak dari sana dengan Xia yang masih menangis palsu. Xia memang sengaja menangis agar Xavier menikah dengan Felicia. Xia dan Rani sebenarnya berencana menjodohkan putra putri mereka, dan Xavier tidak setuju.
Makanya ia melakukan ini agar Xavier setuju.
••••
Jangan lupa, like, comment, rate 5 dan vote (#^.^#) bagi yang belum Fav cerita ini, segera klik tombol Favorit di bawah ya 😉
__ADS_1