Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Pesan misterius


__ADS_3

Suara bisik perkelahian terdengar keras dari arah dapur. Diangela yang tengah minum secangkir kopi sambil berdiri, di depan jendela hanya bisa memutar kedua bola matanya mendengar suara itu.


Di sesapnya kopi itu sedikit demi sedikit. Matanya menyelidik keluar jendela yang menampilkan, kebun bunga yang indah.


Satu tarikan nafas panjang terdengar. Diangela beranjak dari tempatnya menuju sofa, dan menyimpan cangkirnya di meja. Ia lalu membaringkan dirinya di sofa panjang itu.


"Kau sudah pulang?" tanya Jazztin yang tiba-tiba muncul. "Tumben sekali kau mau menjalankan hukuman dari sekolah. Biasanya kau acuh tak acuh."


Diangela melirik sebentar pada Jazztin yang saat ini sudah duduk di sofa single sambil menopang pipi.


"Bukankah kau tidak suka barang-barang mu kotor? Darahmu menempel di sofa yang kau duduki." Ucap Diangela.


Jazztin menatap sekilas tubuhnya yang terdapat bercak-bercak darah. "Aku tahu." Sahutnya. "Aku sengaja tidak menggantinya untuk mengenang kemenanganku hari ini."


"Ansell kalah seperti biasanya?"


"Ya. Penyakitnya yang membuatnya selalu kalah saat bertarung denganku. Di saat aku sudah tahu segala macam gerak-geriknya dalam bertarung, dia justru tidak tahu apa-apa tentang gaya bertarungku karna dia selalu melupakannya."


"Ansell sekarang ada di mana?"


"Masih mengomel di dapur, karna kekalahannya."


Diangela menghela nafas panjang. "Apa menurutmu wajar jika pikiranku selalu di penuhi dengan wajah Stella?" tanyanya Diangela lugas.


Jazztin menipiskan bibir, ia menaikan sebelah alisnya sebelum akhirnya mengernyit pelan. Senyum miring terbit dari bibirnya, kakinya ia lipat. "Sepertinya kau sudah terjebak dalam permainan mu sendiri." Ucapnya dengan nada meremehkan.


Diangela berdecak sebal. Sudah tahu respon yang akan di berikan Jazztin jika ia bertanya pertanyaan itu. "Mana mungkin! Aku terbayang wajahnya karna ingin segera membunuhnya!" desis Diangela.


Jazztin mengedikan bahunya. "Jadi apa kau sudah membuatnya jatuh cinta?"


"Aku tidak tahu. Dia terlalu polos untuk tahu apa itu cinta."


Diangela bangkit dari tidurnya, ketika teringat sesuatu. "Kau tahu, keluarga Stella benar-benar misterius." Ucapnya.


"Misterius?" sebelah alisnya terangkat.


Diangela mengangguk, ia merubah posisinya menjadi duduk dan medekat pada Jazztin. "Ketika aku berusaha mencari data Stella bersama orang tuanya, itu sangat susah. Dan data-data yang kudapatkan pun sedikit dan datanya agak sedikit mengganjal."


Jazztin diam. Menyimak perkataan Diangela.

__ADS_1


"Stella tidak ingat masa kecilnya. Ibunya Stella bukanlah ibu kandung asli. Dan ayahnya Stella adalah seorang mafia dan ilmuwan ternama."


"Hah?" Jazztin mengernyit. Ia mengerjap pelan, lalu berdekhem berusaha menetralisir rasa kagetnya.


"Dan lagi. Gerak-gerik Zanna, dan cara bicaranya padaku seperti seorang agen kelas atas. Dia bahkan tahu kalau aku menyimpan pisau di sakuku."


Lagi-lagi Jazztin hanya bisa terdiam mendengar itu.


"Kalau begitu siapa ibu kandungnya Stella, dan siapa nama ayahnya Stella?" tanya Jazztin mulai melontarkan pertanyaan. Ia juga mendekatkan diri pada Diangela.


Diangela tersenyum kecil, ia menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku tidak dapat secuil data pun tentang orang tua asli Stella. Bahkan Marco pun tidak dapat menemukannya."


"Apa?!" teriak Jazztin kaget. "Bahkan Marco pun tidak dapat menemukan data dua orang saja?! Bagaimana bisa?"


"Itulah yang jadi pertanyaannya. Dan belakangan ini aku baru tahu kalau Stella selalu di ikuti oleh seseorang."


Jazztin kembali bersandar pada sofa. Ia menyipitkan mata sambil berpikir keras. "Semisterius itu kah?" tanyanya.


"Ya. Semisterius itu."


"Lalu bagaimana dengan masa kecilnya Stella? Walaupun dia tidak mengingatnya, apa kau menemukannya di data miliknya?" tanya Jazztin mulai tertarik.


Diangela mendengus pelan. "Tidak di temukan! Masa kecilnya benar-benar misterius. Dia tidak terdaftar di TK, SD, dan SMP di semua sekolah Indonesia. Ku pikir Stella menghabiskan masa kecilnya di luar negeri. Tapi tidak ada catatan kalau mereka itu warga imigran!" jelas Diangela membuat Jazztin terkejut juga terheran-heran.


Diangela memejamkan matanya ketika bayangan masa lalunya kembali terlintas di benaknya. Ia menoleh pada Jazztib. "Jangan pura-pura tidak tahu Jazztin." Diangela berdiri dari duduknya. "Kau pun tahu kalau aku sudah membunuhnya." Ucap Diangela dingin lalu melangkah keluar rumah.


Jazztin di tempatnya menatap punggung Diangela dengan perasaan sedikit bersalah. Tapi tidak ada salahnya juga mengira-ngira hal itu. Sebab Diangela sendiri tidak melihat langsung, teman masa kecilnya itu mati. Dia hanya bilang, kalau dia sudah menusuk dadanya dengan pisau.


Ada kemungkinan kalau dia masih hidup, kan? Iya kan?


•••


Tanpa di sadari, langkah kaki Diangela membawanya ke jalanan sepi, di mana itu adalah tempat pertama kalinya ia bertemu dengan Stella.


"Kenapa aku malah ke sini?" tanyanya agak mengernyit. Diangela berdecak pelan, dan akan melangkahkan kakinya menjauh dari jalanan sepi itu.


Ting!


Ting!

__ADS_1


Ting!


Ting!


Ting!


Suara notif pesan yang beruntun terdengar. Menghentikan langkah Diangela. Ia segera merogoh sakunya dan lekas mengambil handphonenya.


Dahinya terlipat sempurna ketika ia mendapat pesan dari nomor tak di kenal, dan lagi itu adalah nomor asing. Diangela membaca pesan itu.


+00139 035 604XXXX


*Hai, apa kabar?


Bagaimana kehidupanmu bersama Stevano dari keluarga Landegre itu?


056 Ku sudah besar sekarang.


Kau datanglah ke Itali minggu depan, untuk mengunjungi pertemuan keluargamu yang konyol itu. Kau akan mendapatkan sedikit petunjuk atas pertanyaanmu hari ini.


Berjuanglah 056*!


Diangela meremas handphonenya. Wajahnya mengeras. Ia menggertakkan giginya dengan ekspresi marah yang sangat kontras, saat si pemberi pesan menyebutnya dengan kode nomer sialan itu!


Diangela tahu betul siapa yang mengirim pesan tersebut. Apalagi nomer itu berasala dari negara Itali, dan sudah bisa di pastikan kalau si pengirim pesan adalah si ilmuwan gila, yang telah menyekapnya sewaktu kecil. Dan dia adalah orang yang membuatnya membunuh semua teman-temannya.


Aku bersumpah akan membunuhmu dr. Crombell, sial4n!


•••


"Kau sudah mengirim pesan itu?" tanya seorang pria baya pada bawahannya.


"Sudah tuan."


"Lalu bagaimana reaksinya?" tanyanya sambil mengetuk-ngetuk meja kerjanya.


"Seperti dugaan anda. Dia marah."


Pria itu tersenyum miring. Tangannya mengusap-ngusap dagunya. "Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan 056? Ah, objek eksperimen ku ternyata sudah besar. Aku ingin sekali tahu bagaiman reaksinya ketika mengetahui kalau teman masa kecilnya itu masih hidup." Ucapnya sambil terkekeh licik.

__ADS_1


Ia memutarkan kursinya ke samping, dan menatap seorang gadis remaja yang tengah berbaring tak sadarkam diri, di ranjang.


Seringai kecil terbit dari bibirnya. "Aku akan segera mempertemukanmu dengan Diangela, 057."


__ADS_2