
"Anak durhaka akhirnya datang juga." sapa seorang pria paruh baya, ketika Diangela masuk ke rumah.
Diangela memutar kedua bola matanya. "Untuk apa kau datang kesini, Stevano?" tanyanya lalu melangkah menuju sofa lalu duduk di sana.
"Panggil aku Daddy, Sial*n!" ucapnya lalu mendengus sebal.
"Oh, uncle Aris? Kau juga datang ke sini?" tanya Diangela.
Stevano membelalakan kedua matanya tak percaya, "kau memanggil si tua bangka ini dengan sebutan uncle, sedangkan pada daddymu kau hanya memanggil namanya saja?" ucapnya tak percaya sambil menunjuk Aris yang hanya diam dan memasang wajah datar saja.
"Ada apa gerangan Stevano datang ke sini?" tanya Jazztin yang sedang menutup pintu kamar mandi. Sepertinya dia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kau juga memanggil namaku? Dasar anak sial*n!" Stevano berdecak sebal, ia melangkah menuju sofa dan duduk di samping Diangela.
Ansell muncul dari arah dapur. "Musik Jazz, aku makan Potato Wedges mu." ucapnya sambil mengangkat piring berisi Potato Wedges buatan Jazztin.
Jazztin membebelak, "hey! Aku tidak mengijinkanmu makan Potato ku ya, kembalikan sana!" perintahnya.
"Ck! Kau yakin? Ini sudah aku sentuh, nanti ada kumannya. Apalagi aku belum cuci tangan."
"Sudahlah, buatmu saja!"
"Thanks."
Ansell berjalan ke sofa sambil tersenyum, ia berjengit kaget ketika melihat Stevano sampai membuat piringnya terlempar dam jatuh.
"Musik Jazz! Siapa pria jelek ini? Kenapa dia ada di sini? Kau membiarkan orang asing masuk?" tanya Ansell sambil menatap pada Jazztin meminta penjelasan.
Sedangkan di tempatnya, Stevano memijat pelipisnya. Kepalanya serasa mau meledak, "Pria jelek? Orang asing?" tanyanya pelan. "AKU INI DADDY MU, ANAK DURHAKA!!!!" Teriak Stevano kesal.
Walaupun anaknya yang satu itu memiliki penyakit Alzheimer, hingga membuatnya lupa, tapi tetap saja Stevano merasa kesal.
Ansell menoleh dengan wajah terkejut. "Apa? Daddy? Seingatku, daddyku itu pria tampan tidak seperti kau. Tua bangka!" Sangkal Ansell.
"Ah, paman ini lebih cocok jadi ayahku daripada kau." Ansell menunjuk Aris yang masih diam di tempatnya. Aris memang tidak banya bicara, tapi di keluarganya dia adalah psikopat terkejam dan tersadis.
Yap. Keluarga Diangela itu semuanya psikopat.
"Kalian berisik! Pintu keluar di sana." Diangela menunjuk pintu keluar yang belum di tutup.
Stevano menoleh dan tersenyum Sinis. "Kau memukuli orang lagi? Kenapa kau tidak langsung membunuhnya saja di tempat!"
Jazztin maju dan ikut duduk di sofa. "Bereskan piring yang kau pecahkan!" perintahnya pada Ansell.
Tanpa membantah, Ansell segera membereskannya.
"Uncle Aris, silahkan duduk." Jazztin berucap sambil menunjuk sofa single yang kosong.
__ADS_1
"Kau menawarkan dia duduk, sedangkan aku tidak?"
"Kau yang duduk duluan! Itu salahmu Stevano. Akuilah!" suara menyebalkan Diangela terdengar.
Stevano berdecih, "cih! Kalian ini memang anak durhaka."
Akhirnya setelah sekian lama terdiam, Aris melangkah maju dan duduk. "Sudahlah, Stevano! Jangan terus mengomel. Terima saja kenyataannya."
Stevano menoleh kesal, "kau juga tidak memanggilku kakak? Dasar Adik lakn*t!"
Ansell datang dari arah dapur setelah membuang pecahan piring. Dia berjalan menuju sofa. "Tunggu! Siapa kau? Kenapa pria jelek sepertimu ada di sini? Musik Jazz, kenapa kau membiarkan orang asing masuk?" tanya Ansell sambil menunjuk Stevano.
Stevano rasanya ingin meloncat ke kawah belerang, dan menghirup gas belerang sebanyak-banyaknya sampai dia mati. Kenapa dia harus punya nasib sejelek ini?
Stevano terdiam, tidak menjawab pertanyaan Ansell. Dia angkat tangan mengurusi anak-anak durhaka nya yang tidak tahu diri ini.
Jazztin menarik lengan Ansell untuk duduk. "Diam! Jangan banyak bertanya."
"Oh, ya. Kudengar kau mengklaim seorang gadis menjadi milikmu. Kenapa?" Tanya Aris mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya.
"Gadis itu mangsa Diangela. Dia berusaha membuat gadis itu jatuh cinta padanya, lalu setelah dia jatuh cinta, dia akan membunuhnya." jelas Jazztin.
Sedangkan Diangela hanya diam dan menyesap kopi yang di bawa oleh Jazztin.
Dan Ansell hanya celingukan ke kanan dan ke kiri. Dia kebingungan. "Musik Jazz membicarakan apa? Gadis apa? Dan maksudnya membuat gadis itu jatuh cinta apa?" tanyanya sambil menggaruk pelipisnya.
"Sudah kubilang, diam! Dan jangan banyak bertanya!" ucap Jazztin.
"Dia ingin melihat ekpresi gadis itu, saat di bunuh oleh orang yang di cintainya."
"Aku bertaruh, Dian pasti akan jatuh cinta juga pada gadis itu." Ucap Stevano membuat semua pasang mata di sana menoleh padanya. Termasuk Diangela. Laki-laki itu meletakkan gelas berisi kopinya ke meja.
"Tidak akan!" Diangela dan Aris kompak bersuara.
"Kau bertaruh apa?" tanya Stevano.
"Aku bertaruh dengan tangan kanan ku. Kau boleh memotongnya, jika ucapanmu benar." ucap Aris sambil menunjukan lengan kanannya yang kekar.
Stevano tersenyum miring. "Baiklah! Aku bertaruh dengan ginjal kiriku. Jika perkataanmu benar, aku akan memberikan mu ginjalku."
"Wahh. Lumayan. Aku bisa menjualnya. Apalagi kau ini tidak merokok, minum kopi, minum alkohol, dan barang terlarang, seperti narkoba. Ginjalmu harganya akan mahal."
Stevano melipat kedua tangannya di dada. Ia menumpukan kaki kanannya ke kaki kirinya. "Aku akan memberikan lengannya padamu." ucap Stevano pada Jazztin. "Bukankah, sudah lama kau menginginkan tangan unclemu untuk koleksimu?"
Jazztin menggeleng. "Sekarang aku tidak mau. Aku lebih memilih lengan gadis itu. Dan juga bola matanya yang berwarna biru."
Stevano mendengus. "Oh, iya. Aku ingat, kau sangat menginginkan mata biru untuk koleksimu."
__ADS_1
Sedangkan Ansell sedari tadi hanya diam dan menyimak. Mau ikut nimbrung juga, dia sama sekali tidak mengerti dengan percakapannya.
Diangela kembali menyesap kopinya.
"Jadi, apakah kau sudah membuat gadis itu jatuh cinta?" tanya Aris pada Diangela.
Diangela menoleh. "Tadi siang, dia sudah menjadi kekasihku." ucapnya.
Jazztin menoleh kaget, "secepat itu?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
Senyum Stevano luntur mendengar itu. Dan senyum Aris kian mengembang, "sepertinya kau harus cepat-cepat panggil dokter bedah, untuk mengeluarkan ginjalmu.
"Tapi aku tidak akan membunuhnya."
"Wahahaha. Kau yang harusnya memanggil algojo untuk memotong lenganmu. Dia sudah jatuh cinta hahaha." Stevano tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak jatuh cinta." ucap Diangela membuat tawa Stevano berhenti.
"Jadi, mana yang benar?" tanya Jazztin bingung.
"Dia memang sudah jadi kekasihku. Tapi dia belum mencintaiku."
"Lalu bagaimana bisa dia jadi kekasihmu?" tanya Aris penasaran.
"Aku memaksanya." Diangela berucap tenang.
"Bod*h!"
"Tol*l!
"B*go!
"Bagaimana kau akan membuatnya jatuh cinta, jika kau memaksanya begitu?" tanya Stevano tidak mengerti dengan jalan pikiran anaknya yang satu itu.
"Pokoknya aku akan membuatnya jatuh cinta!"
Stevano menghela nafas. "Terserah. Bulan depan kita ke Itali. Pertemuan keluarga."
"Aku tidak mau ikut."
"Aku juga."
"Malas sekali harus melihat wajah menyebalkan Regis! Dia selalu mengatakan kalau kita orang luar." Kali ini Ansell mengerti dengan jalan pembicaraan mereka.
"Yah, faktanya kita memang bukan anak kandungmu, kan!" Ucap Jazztin.
"Kami akan bicara pada kepala keluarga, agar nama Landegre di sematkan di nama kalian juga." Ucap Aris mewakili Stevano.
__ADS_1
"Cih! Aku tidak sudi memiliki nama yang sama dengan si tua bangka itu." Desis Diangela.
Stevano bangkit dari duduknya. Ia memasukan kedua lengannya di saku celana. "Itu terserah kalian. Yang pasti, kalian harus pergi ke pertemuan itu." Setelah mengucapkan itu, Stevano dan Aris pergi berlalu ke pintu keluar.