
Diangela terbangun dari tidur panjangnya dengan nafas tersenggal-senggal. Mimpi itu datang lagi. Menerornya bagai hantu.
Mimpi buruk itu kejadian nyata. Itu terjadi saat ia masih kecil yang terbangun di ruangan serba putih tanpa mengingat apapun kecuali namanya.
Laki-laki itu sudah berusaha mencari tahu keluarga aslinya, tapi hasilnya nihil. Ia tidak mendapat satu petunjuk pun.
Ia melirik ke sofa. Sepertinya dia ketiduran. Suara berisik dari arah dapur terdengar, Diangela sudah menduga siapa yang berada di sana.
Ia beranjak lalu berjalan menuju dapur.
Terlihat seorang laki-laki seumurannya tengah berdiri di depan kompor, tubuhnya terbalut celemek.
Nishad Jazztin Anederea, namanya. Laki-laki itu berperawakan tinggi dengan rambutnya yang lumayan panjang. Iris matanya berwarna biru, hidungnya mancung dengan rahangnya yang kokoh.
"Masak apa?" Tanya Diangela lalu duduk di pantri. Laki-laki itu mengambil apel lalu memakannya. Diangela melirik minat pada Spaghetti buatan Jazztin yang baru saja di hidangkan di piring.
Laki-laki itu turun dari pantri, mengambil garpu hendak makan Spaghetti itu sebelum suara menyebalkan Jazztin terdengar.
"Sudah cuci tangan belum?" Tanyanya dingin.
Lagi. Pertanyaan membosankan itu terdengar lagi di telinga Diangela. Laki-laki itu mendengus sambil memutar kedua bola matanya.
"Tanganku bersih." Diangela mengangkat kedua tangannya, "Lagipula aku makan menggunakan garpu, bukan tangan."
"Kuman sama sekali tidak terlihat. Aku tidak tahu tanganmu bekas memegang apa. Aku tidak mau kuman di tanganmu menempel di barang-barang kesayanganku. Bisa saja tanganmu habis menggaruk 'Anu' mu sendiri."
Diangela hampir tersedak salivanya sendiri mendengar perkataan Jazztin, terutama di kata 'Anu.' Kata ambigu apa itu?
Diangela mendengus lalu berjalan menuju wastapel. "Dasar dewa kebersihan!" Cibirnya yang masih dapat di dengar oleh Jazztin.
"Lebih baik jadi dewa. Daripada kau, devil."
"Ya, ya terserah kau." Ucap Diangela malas sambil mencuci tangannya. Setelahnya dia kembali ke tempatnya tadi.
Jazztin mencekal pergelangan tangan Diangela, saat laki-laki itu hendak mengambil garpu. "Kau sudah pakai sabun?"
Diangela menatap datar laki-laki di depannya, "Belum."
"Sana cuci tangan pakai sabun."
Diangela berdekhem lalu berjalan malas menuju wastapel. Sedangkan Jazztin, laki-laki itu sedang membersihkan peralatan makan dengan tisu. Kedua tangannya terbalut sapu tangan.
Jazztin benar-benar membenci kuman. Ia bahkan membersihkan seluruh rumah ini 30 kali dalam seminggu, sampai-sampai lantainya dapat di pakai bercermin.
Mungkin saat malam tiba, ia tidak perlu menyalakan lampu karna rumahnya sendiri sudah berkilauan saking bersihnya.
Hanya orang-orang pilihan dan sudah lulus tes dari kumanlah, yang bisa masuk rumahnya. Sebenarnya ada dua curut yang tidak lulus tes tapi tetap tinggal di sini, karna perintah ayahnya.
__ADS_1
Mau tidak mau Jazztin harus menampung dua orang ini tinggal di rumahnya. Mereka sangat berisik, dan selalu mengotori rumahnya, bahkan sampai menghancurkan barang-barang kesayangannya, yang dia jaga seperti barang antik ini.
Seluruh barang di rumah ini, adalah barang kesayangannya.
Jazztin mendongak ketika Diangela sudah kembali, Laki-laki itu mencekal lengan Diangela yang hendak mengambil garpu.
"Apa lagi? Aku sudah cuci tangan pakai sabun."
"Nih. Keringkan pakai tisu." Jazztin menyodorkan selembar tisu pada Diangela. Laki-laki itu menerimanya sambil mengomel.
Setelah memakai tisu itu, Diangela menghempaskannya ke meja pantri.
Ia hendak mengambil garpu, dan lagi-lagi Jazztin mencekal lengannya. "Ada. Apa. Lagi. Sih!?" Geramnya dengan penekanan di setiap kata yang di ucapnya.
"Buang tisunya." Perintah Jazztin, lalu menarik tangannya. Ia melepas celemek dan sapu tangannya, kemudian meletakkannya di meja pantri. Tangannya menarik kursi dan duduk di sana.
Diangela mendengus lalu berdiri mengambil tisu lalu membuangnya. "Sekarang aku boleh makan?" Tanyanya yang di balas anggukan singkat oleh Jazztin.
Diangela langsung saja mengambil garpu lalu makan.
"Oh, ya. Kudengar kau mengklaim seorang gadis menjadi milikmu. Ada apa?" Tanya Jazztin heran.
"Dia mangsaku."
"Hah? Sejak kapan mangsamu masih bisa berdiri di kantin sekolah?"
"Woww. Kau kejam sekali." Itu bukan suara Jazztin. Sumber suara itu berasal dari pintu dapur.
Jazztin mendengus lalu memutar kedua bola matanya, ia malas bertemu dengan orang yang lebih sering berkonstribusi besar daripada Diangela, dalam mengotori rumahnya.
Sedangkan Diangela melirik ke belakang, dan mendapati seorang laki-laki yang tengah bersandar di pintu dapur dengan lengannya yang bersedekap.
Laki-laki itu berjalan maju, "Wah ada Spaghetti. Kebetulan aku sedang lapar." Laki-laki itu ikut menarik kursi dan duduk.
"Lapar? Bukankah tadi kau mengunggah status di Instragr*m, bahwa kau makan enak plus dengan fotonya?" Tanya Jazztin sinis.
"Kau ingat rumah? Kemana saja selama 3 hari ini. Kau tersesat?" Tanya Diangela.
Laki-laki bernama Ansell Arian Rendra itu mendengus. "Ya. Aku memang tersesat. Aku lupa jalannya."
"Hah?" Diangela menoleh pada Ansell.
"Aku serius. Aku lupa jalannya. Kau tahu kan, kalau aku ini pelupa? Bahkan terkadang aku lupa nama ayahku sendiri." Ansell ikut menoleh pada Diangela.
Di tempatnya Jazztin menatap jijik pada Ansell yang sekujur tubuhnya berkeringat. Ia lalu menyeret laki-laki itu ke kamar mandi, dan menguncinya di sana.
"Hey! Apa-apaan kau! Buka pintunya Sial*n!" Ansell mengedor-gedor pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Kau cepat mandi. Tubuh mu banyak keringat dan bau. Aku akan mengeluarkanmu dalam 30 menit." Ucap Jazztin lalu beranjak pergi dari sana dan mengabaikan teriakkan protes Ansell.
30 menit kemudian.
Ansell keluar dari kamar mandi mengenakan kimono berwarna putih. Dia menatap datar pada Diangela yang membuka pintu kamar mandi.
"Spaghettinya masih ada?" Tanyanya dingin.
"Ya."
"Kalau begitu, si musik Jazz itu masih makan?"
"Ya."
"Baiklah, akan ku balaskan dendam ini." Ansell berjalan ke dapur dengan amarahnya yang di tahan, dengan Diangela yang mengekori dari belakang.
Ansell berjalan menuju pantri, sedangkan Diangela berjalan menuju kulkas. Laki-laki itu membuka pintu kulkas dan mengambil es krim berukuran besar. Sepertinya akan ada pertunjukan menarik.
Ansell duduk berhadapan dengan Jazztin, yang cuek bebek dengan kehadirannya. Ansell melirik botol kecil berisi lada hitam.
Laki-laki itu dengan sengaja melemparkan lada hitam itu pada pudding Jazztin, hingga botol rempah menghancurkan pudding dan bumbunya tercampur.
Alhasil perbuatan Ansell, memicu amarah Jazztin. Laki-laki itu mendongak kemudian menatap tajam pada Ansell yang tengah mengangkat dagu lalu tersenyum sinis dan mengejek.
Rahang Jazztin mengeras melihat senyum mengejek itu. Tanpa pikir panjang, Jazztin mengambil pisau dapur lalu mengarahkannya dengan sekuat tenaga pada Ansell.
Sayangnya tusukan Jazztin berhasil di hindari oleh Ansell. Laki-laki itu sekilas tersenyum remeh, lalu mencekal lengan Jazztin dan memelintirnya.
Jazztin sama sekali tidak terpekik kesakitan. Laki-laki itu meloncat ke meja pantri, membuat piring dan barang-barang dapur lainnya berjatuhan. Satu tendangan dia layangkan pada ulu hati Ansell, hingga membuatnya terdorong ke belakang.
Jazztin melompat lalu berlari menghampiri Ansell, Ia melayangkan pisau itu ke arah wajah Ansell. Ansell masih bisa menghindarinya, tapi pipinya tergores sedikit.
"Beraninya kau melukai aset berhargaku." Geramnya lalu mengeluarkan pisau lipat di sakunya dan tanpa pertimbangan mengarahkan pisau itu ke arah perut Jazztin.
Walaupun tahu incaran Ansell pada perutnya, Jazztin tidak menghindar dan membiarkan perutnya tertusuk. Ia lalu mencengkram tangan Ansell agar tidak menghindar, kemudian menusuk bahunya berkali-kali.
Ansell yang tahu masuk jebakan menggeram marah, dengan sekuat tenaga ia melepaskan cengkraman Jazztin dan melompat mundur sambil memegangi bahunya.
"Cih! Kau pintar juga." Ucap Ansell.
Jazztin menatap datar darah yang berceceran, yang berasal dari luka Ansell. "Darah kotormu, mengotori lantai rumahku. Sudah untung aku menampungmu di sini, tapi tanpa tahu terima kasih, kau malah mengotori lantai cantikku?"
Ansell menggeram marah. Ia berlari ke arah Jazztin dan melayangkan pukulannya. Hingga akhirnya mereka berkelahi menggunakan barang tajam dan berbahaya.
Sedangkan Diangela, cowok itu sedang duduk santai di kursi sambil memakan es krimnya. Ia malah menikmati pertunjukkan live di depannya tanpa mau melerai.
Yah, lagipula itu sudah biasa. Mereka terkadang berkelahi dengan saling mengayunkan pisau.
__ADS_1
"Setidaknya, makan siang hari ini tidak membosankan." Gumam Diangela, lalu memasukan satu suapan besar es krim rasa coklatnya, ke dalam mulutnya.