Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Mangsa


__ADS_3

Dentuman musik berdengung keras di ruangan penuh alkohol itu. Lampu disko mengerjap-ngerjap, mengiringi dentuman musik yang memekakan telinga.


Lautan manusia bergoyang-goyang meliukan tubuhnya mengiringi irama musik.


Di pojok, ketiga lelaki dengan setelan yang berwarna hitam di sekujur tubuhnya, nampak sedang memindai orang-orang yang sedang berjoget ria.


Seorang lelaki dengan potongan rambut yang jabrik, mendengus tak suka ketika seorang perempuan seksi mengedipkan mata menggoda, ke arahnya.


Perempuan itu berjalan ke arahnya, dengan lenggokan di pinggulnya ketika berjalan. Tangan perempuan itu memegang gelas berisi cairan alkohol.


"Sepertinya dia tertarik padamu." bisik seorang laki-laki sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi cairan berwarna ungu, pada orang di sebelahnya.


"Untukmu saja. Aku tidak tertarik." ucapnya sambil berbisik juga.


"Tapi aku tidak suka tanganku terkena noda." protesnya. "Aku ingin mengoleksi jari mungilnya itu."


"Suruh saja Ansell. Aku lebih suka berburu seorang pria, daripada perempuan." balasnya dengan nada jengkel.


"Kau tahu kan, dia itu pelupa. Aku malas meladeni penyakitnya itu."


"Hey, aku mendengarnya tahu!" Ucap seorang laki-laki yang di panggil Ansell itu. Laki-laki itu berdecih pelan, mendengar ejekan saudaranya.


"Hei, sayang." Suara manja dan menggoda itu terdengar menjijikan di telinga Diangela. Laki-laki itu memutar kedua bola matanya.


Perempuan tadi, tanpa tahu malu mendudukkan dirinya di pangkuan Diangela. Jari-jari mungilnya mengelus pelan rahang kokohnya.


Dengan senyum menggoda dia berbisik pelan, "kau mau menghabiskan malam denganku?" tanyanya. Perempuan itu meletakan gelas yang ia pegang ke meja bartender, lalu tangannya dengan lancang bergerilya di dada bidang Diangela.


Diangela hanya memasang wajah dingin. "Kau tidak membuatku bergairah." ucapnya tanpa nada.


"Oh, sungguhkah?" Tanyanya dengan senyum manis. Sentuhannya semakin ke bawah, hingga akhirnya Diangela bangun dari duduknya dan membuat perempuan itu terjatuh.


"Bersyukurlah karna kau tidak menjadi mangsaku malam ini." Ucapnya, "Jazztin! Untukmu saja. Bukankah kau menyukai jarinya?" Dengan senyum miring di wajahnya, Diangela lalu berjalan menjauh.


Perempuan yang terjatuh tadi, mengatupkan mulutnya tidak jadi mengumpat. Ia mendongak dan menatap wajah orang yang di panggil Jazztin itu.


Laki-laki itu tampan! Dan dia juga menyukainya. Tidak akan rugi juga bila dia menghabiskan malam dengan pria yang satu ini.


Perempuan itu perlahan bangkit dengan senyum manisnya.


"Kau menyukai jariku?" Kekehnya, ia hendak duduk di pangkuan Jazztin.

__ADS_1


"Kau dengannya saja. Sekarang aku tidak minat padamu." Ucapnya sambil menunjuk Ansell yang berada di sebelahnya dengan matanya.


Perempuan itu mengalihkan pandangannya pada Ansell. Ia tersenyum semakin lebar, ketika ia merasa tatapan laki-laki itu menginginkannya. Dia juga tidak akan rugi, karna wajah laki-laki itu tak kalah tampan dengan dua laki-laki tadi.


"Jadi?" tanyanya menaikan sebelah alisnya.


Ansell berdiri dari duduknya, ia menarik tangan perempuan itu dan mencium punggung tangannya di sertai senyum manis.


"Kau mau menghabiskan malam denganku?" Tanya Ansell sembari mengedipkan matanya menggoda.


Jazztin mendengus, sedangkan perempuan itu tersipu malu. Ia mengangguk dengan wajahnya yang memerah.


"Ayo. Kita ke rumahku." ajak Ansell lalu menarik perempuan itu untuk keluar.


"Kau ingat jalannya?" tanya Jazztin tanpa suara saat Ansell menoleh padanya. Laki-laki itu mengangguk.


20 menit kemudian, Ansell dan perempuan itu akhirnya sampai di sebuah rumah yang megah.


Ketika turun dari mobil, perempuan itu berdecak kagum. Jika dia berhasil menarik perhatian laki-laki ini, dia bisa menikmati kekayaannya.


"Ini rumahmu?" tanyanya, lalu bergelayut manja di lengan Ansell.


Ansell menoleh, "ya." ucapnya lalu tersenyum manis.


"Tidak ada siapa-siapa di sini? Kemana para pelayan?" Tanya si perempuan sambil celingukan ke kanan dan ke kiri, ketika mendapati ruangan utama itu kosong dan gelap.


"Kau tidak perlu tahu. Lebih baik kita sekarang ke kamar, aku sudah tidak sabar." ucap Ansell membuat si perempuan tersipu malu.


"Ayo. Di mana kamarmu?"


"Di atas." Ansell dan perempuan itu melangkah maju menuju tangga.


Sesampainya di kamar, Ansell mengunci pintu, dan si perempuan duduk di tepi ranjang. Perempuan itu membusungkan dadanya, dan mengigit bibir bawahnya yang semerah buah Ceri, untuk menggoda.


Ansell berjalan menghampiri perempuan itu, dia mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya. Dia berbisik menggoda, "aku menginginkan mu malam ini." ucapnya.


Si perempuan dalam hati memekik senang, tangannya tidak bisa diam. Ia menelusuri wajah Ansell, elusannya perlahan turun ke dadanya.


Tanpa di ketahui oleh si perempuan, Ansell mengeluarkan pisau lipat di sakunya, dan detik itu dia menusuk bahu si perempuan yang terekspos.


"Aaaaaaa." perempuan itu menjerit kesakitan, matanya mulai berair. Ia menatap ngeri psikopat di depannya.

__ADS_1


"Upss. Maaf, aku sengaja." kekehnya yang terdengar menyeramkan di telinga si perempuan.


"Kau mau apa? Berhenti! Jika tidak aku akan melaporkannya ke Polisi." Ancamnya dengan suara yang bergetar ketakutan.


Ansell menaikan sebelah alisnya, "oh, ya? Kalau begitu silahkan lapor. Tapi setelahnya, aku akan menghancurkan kepala cantik ini. Dan kau perlu tahu satu hal." Ansell mendekat. "Polisi tidak akan mampu menangkapku, sayang." bisiknya.


Perempuan itu mulai menangis, ia beringsut mundur. "Biarkan aku pergi." mohonnya, ia semakin ketakutan melihat Ansell yang ikut maju, hingga akhirnya punggung perempuan itu menyentuh kepala ranjang.


"Kenapa? Bukankah kau ingin menghabiskan malam denganku? Kenapa sekarang mau pergi? Aku sedih kalau kau pergi." suara Ansell yang sedih, tidak membuat perempuan itu tenang.


Ansell mencabut pisau yang tertancap di bahu mulus itu dengan keras, hingga menciptakan lengkingan keras yang memekakan telinga.


"Ck! Teriakan mu hampir membuat gendang telingaku pecah. Apa kau tidak bisa berbisik dengan suara menggodamu lagi, seperti tadi? Suara itu membuatku semakin ingin membunuh mu." Ansell mengelus pipi si perempuan yang berlinang air mata.


Perempuan itu menggelengkan kepalanya sembari sesenggukan. "Biarkan aku pergi. A-aku tidak akan melapor ke Polisi." suara bergetar si perempuan malah membuat Ansell tertawa.


"Hahaha. Setelah menggodaku, kau malah ingin pergi? Kau harus bertanggung jawab karna membangunkan hasrat membunuhku ini." Ansell tersenyum iblis. Senyum lebar yang mampu membuat siapapun bergidik ngeri.


Ansell hendak menusuk mata coklat perempuan itu, hingga suara dering telpon menghentikannya.


Ansell beranjak dari ranjang membuat si perempuan menghela nafas lega. Laki-laki itu merogoh hapenya yag berada di saku dan tanpa pikir panjang mengangkat telpon.


"Halo."


"......."


"Aku sudah sampai di rumah."


"......"


"Aku tidak tersesat sial*n!"


"....."


"Ok, baiklah. Aku akan menyisakan jarinya untukmu."


Ansell memutuskan sambungan telpon dengan kesal. Ia menoleh pada mangsanya yang sudah tidak ada di ranjang. Perempuan itu berada di depan pintu, sedang berusaha membukanya.


"Itu di kunci sayang." Suara Ansell membuat perempuan itu bergetar hebat, ia berbalik dengan derai air matanya.


"Jangan bunuh aku. Kumohon."

__ADS_1


"Ah, sial*n! Suara itu malah semakin membuatku ingin membunuhmu." Ansell berjalan perlahan pada mangsanya dengan senyum devil yang seramnya melebihi hantu mana pun.


Akhirnya malam itu, suara teriakan kesakitan dan tawa keras mengiringi hujan deras yang baru saja turun.


__ADS_2