
"Nih, mobil-mobilan titipan kamu." Stella menyodorkan mobil-mobilan itu pada Tata. Teman sekaligus tetangga barunya.
Yap. Stella baru saja pindah rumah, seminggu yang lalu. Dan Jovanka Lovata atau yang biasa di panggil Tata, merupakan satu-satunya teman Stella.
"Makasih banget! Kalau nggak, nanti gue di omelin ama adek gue gara-gara rusakin mainan dia!" Tata menerima mainan itu sambil meringis pelan.
Stella berdecak, "siapa suruh naikin mobil-mobilannya. Kan jadi rusak! Nggak sadar apa, kamu itu besar!" ucapnya sambil berkacak pinggang.
Tata menyengir kuda, "gue kan bosen. Yaudah gue coba-coba naikin mobil-mobilan adek gue yang pakek remot kontrol. Kirain bakal maju pas gue naek, eh tahunya penyok." ringisnya sambil tertawa pelan.
"Yaudah, Stella pulang dulu ya." Stella melambaikan tangan lalu berbalik, dan berjalan menuju rumahnya yang berada di sebrang rumah Tata.
Gadis itu ingat ingin menceritakan kejadian tadi pada Tata, ia kembali berbalik, tapi sayangnya pintu gerbang sudah di tutup. Stella jadi mengurungkan niatnya, toh ada hari esok untuk bercerita.
•••
Stella menatap ngeri ke arah gerbang sekolah yang menjulang tinggi di depannya. Ini masih pukul 06.00, dan gadis itu sudah berada di sekolah.
Bahkan satpam sekolahnya pun belum sampai di sini.
Stella memindai setiap inci gedung itu di balik pagar sekolah. Tidak ada apa-apa di sana, sekolah masih sepi.
Seketika sekelebat ingatan film horor bertema sekolah terlintas di kepala Stella, membuat gadis itu bergidik ngeri.
Gadis itu pun akhirnya memilih berbalik dan menunggu di halte bus, sampai suasana sekolah sudah ramai. Hingga suara lantunan musik klasik yang menyayat hati terdengar.
Stella menghentikan langkahnya, ia menatap sebuah rumah kecil yang letaknya tak jauh dari sekolah. Ia ingat, Tata sering mewanti-wantinya untuk tidak masuk ke sana.
Semakin di larang, semakin penasaran. Itulah Stella.
Akhirnya dengan berbekal rasa penasaran itu, Stella memberanikan diri menghampiri rumah itu. Suara musik klasiknya terdengar semakin keras, itu yang artinya suara musik itu memang berasal dari sana.
Stella mencoba mengintip dari jendela, tapi jendelanya tertutup gorden. Akhirnya ia mencoba lewat pintu. Stella mencoba membukanya, dan pintu terbuka.
__ADS_1
"Sepertinya pintunya nggak di kunci." batin Stella.
Saat Stella masuk, gadis itu di sambut dengan ruangan berinterior klasik. Suara musik klasik yang bergema, semakin menambah kesan ketenangan tersendiri.
Stella berdecak kagum, ia menelusuri dinding rumah yang di hiasi oleh lukisan-lukisan indah. Sampai akhirnya ia sampai di dapur.
"Ini rumah siapa ya? Walaupun kecil, tapi bagus." Stella berucap sambil tersenyum senang. Ia kembali berjalan dan menemukan kamar mandi.
Gadis itu mengernyit ketika melihat dua pintu berwarna coklat. Ia pun membuka satu pintu itu dan ternyata itu adalah ruangan untuk bermain game.
"Ada ruangan khusus main gamenya?" tanyanya lalu menutup pintu ruangan itu.
Tatapan gadis itu beralih pada ruangan di sebelahnya, suara musik klasik itu sepertinya berasal dari sana. Dengan hati-hati dia membuka pintu itu.
Suara decitan pintu terdengar. Stella mengernyit ketika mendapati ruangan itu kosong. Tidak ada apapun di sana kecuali Gramofon dengan piringan hitamnya yang berputar, di tengah ruangan.
Tembok ruangan itu bercat hitam. Lampu tidak ada di sana, hingga membuat ruangan itu gelap, di tambah suara musik klasik membuat suasana semakin mencekam.
"Halo..." Sapaan Stella bergema di sana. Ia berusaha memanggil pemilik rumah.
"Halo." sekali lagi Stella bersuara. Kali ini lebih keras.
Dan kali ini juga ia tidak mendapat jawaban. Jika tidak ada orang di sini, lalu siapa yang menyetel musik itu? Bulu kuduk Stella langsung meremang. Ia melangkah mundur lalu menutup pintu, hingga.....
"Aku bertanya-tanya siapa yang berani masuk ke territory ku? Ternyata hanya seekor tikus kecil." Suara dingin itu membuat Stella berjengit kaget. Ia langsung berbalik dan mendapati seorang laki-laki berpakaian serba hitam.
Matanya tidak terlihat karna tertutupi oleh rambut jabriknya, di tambah pandangan laki-laki itu ke bawah, dan mulutnya tak terlihat karna terhalang oleh kerah hoodie yang di gunakannya.
Sampai akhirnya laki-laki itu mendongak dan menatap tajam Stella yang terpojok di pintu.
Stella meneguk ludahnya susah payah. Mata elang laki-laki itu seolah menguliti Stella. Gadis itu ingin menghindar tapi terlambat. Laki-laki di depannya sudah mengurung dirinya dengan kedua lengan kokohnya, memagari di masing-masing sisi tubuh Stella.
Stella memalingkan wajah. Sebisa mungkin ia tidak ingin terjadi kontak mata, dengan tatapan tajam yang menghunus si laki-laki.
__ADS_1
Laki-laki itu adalah Diangela.
Ketika mendekati wajah gadis di depannya, aroma citrus yang menenangkan menyeruak di indra penciumannya. Sepertinya itu berasal dari parfum yang di kenakannya.
Diangela mengernyit ketika ia merasa familiar dengan wajah bulat gadis itu. Ia mengangkat dagu lancip gadis itu dan mengarahkannya ke depan.
Di tempatnya, Stella hanya bisa memejamkan matanya saat dagunya di tarik. Ia menahan nafas.
"Oh, ternyata kau gadis kemarin malam itu." ucapan Diangela lantas membuat Stella membuka kedua matanya.
Stella menghela nafas lega, ketika tahu bahwa laki-laki itu sama dengan laki-laki tak tahu terimakasih malam tadi. Setidaknya ia mengenalnya, walau sedikit.
"Aku kira siapa. Ternyata laki-laki tak tahu terima kasih itu ya." ucap Stella. Sorot matanya sekatang menunjukan keberanian.
Diangela menaikan sebelah alisnya, "tak tahu terimakasih? Harusnya kau yang berterima kasih padaku, karna kau tidak menjadi mangsaku."
Dahi Stella mengernyit, "mangsa apaan sih?" tanyanya bingung. "Selain tak tahu terima kasih, ternyata kau juga aneh." sarkas Stella tanpa rasa takut sedikitpun, walaupun Diangela masih menatapnya tajam.
"Aneh?" Diangela begumam pelan. "Kau gadis tak tahu sopan santun."
Stella melebarkan matanya, "aku punya attitude yang baik tahu!" sanggahnya sambil mengembungkan pipinya.
"Hobby mu mengembungkan pipi ya?" Kedua tangan Diangela menepuk pipi mengembung Stella, hingga pipi itu tidak lagi mengembung. Diangela lalu menarik wajah Stella mendekat.
Laki-laki itu berbisik pelan, "kalau kau gadis yang punya attitude, kenapa kau masuk terrtory orang lain seenaknya?"
Stella melepas dengan paksa, kedua tangan Diangela yang membingkai wajahnya. Ia mencuatkan bibir ke depan, "ya aku minta maaf. Karna penasaran aku masuk ke sini." ucapnya sambil menunduk.
"Permintaan maaf mu tidak di terima." ucap Diangela cepat membuat Stella mendongak sebal.
"Yaudah kalau nggak mau maafin. Sana minggir! Aku mau ke sekolah." ucap Stella ketus, lalu mendorong dada bidang Diangela.
Diangela membiarkan Stella pergi. Laki-laki itu mendengus pelan, ia hendak berbalik tapi terhenti ketika mendapati name tag Stella tergeletak di lantai.
__ADS_1
Ia mengambil name tag itu dan membaca pelan tulisan di sana.
"Jadi namamu, Auristella Allisya Lesham Shaenette, ya." Diangela menyeringai. "Ok! Sudah ku tetapkan, kau adalah targetku selanjutnya."