Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Masa kecil kurang bahagia


__ADS_3

"Sedang apa dia di sana?" kesal Diangela ketika melihat Stella sedang mandi bola bersama anak kecil, di tempat bermain anak-anak.


Ia pusing mencarinya, dan ternyata........ tikus kecil ini malah tengah bersenang-senang? Rasanya ia ingin menghancurkan apapun yang di lihatnya. Tapi untungnya kali ini ia bisa menahan amarahnya.


Diangela mendengus ketika melihat wajah Stella yang berbinar. Gadis itu tak henti-hentinya tersenyum.


Laki-laki itu berdiri lalu masuk ke tempat bermain anak-anak. Ibu-ibu yang tengah menunggu anaknya bermain, melongo melihat ketampanan Diangela yang di luar batas wajar.


Para anak remaja perempuan sepertinya juga ada, melihatnya dengan tatapan kagum. Sepertinya mereka sedang menunggu adik-adik mereka.


Diangela mengabaikan berbagai tatapan dari orang-orang, ia menghampiri tempat mandi bola dengan kedua tangan yang di masukkan ke saku celana.


"Stella!" panggil Diangela, berusaha agar suaranya tidak terdengar marah.


Stella menoleh, lalu mendelik. Gadis itu kembali bermain seolah kehadiran Diangela ia anggap sebagai angin.


Diangela memejamkan matanya berusaha menahan kemarahannya. Baru kali ini ada seekor tikus kecil, yang memaksanya menahan amarah. Biasanya jika ia marah, maka ia akan melampiaskannya. Tapi sekarang? Ia harus menahan siksaan dari menahan amarah, karna mangsanya?


Diangela menghela nafas. "Stella. Pulang! Ini udah malem!" ucap Diangela selembut mungkin.


Stella melirik sinis. "Nggak mau! Pulang aja sendiri! Stella masih mau main di sini!" Stella kembali melempar-lempar bola kecil di sekitarnya.


Diangela memutar kedua bola matanya. Sekarang mereka berdua jadi pusat perhatian. "Stella... ini udah malem! Nanti bunda kamu nyariin."


"Bunda kan nggak tahu! Jadi buat apa nyariin." Gadis itu sepertinya masih marah perihal masalah 'keimutannya' tadi.


"Pulang! Nanti besok ke sini lagi. Terus makan cheesee cake yang banyak! Ini malem, nanti berangkat sekolah kesiangan."


"Kesiangan apaan! Orang besok hari Sabtu."


"Iya. Besok libur, kan? Nanti besok sepuasnya main. Ayo pulang." Diangela mengulurkan tangannya.


Stella menepis kasar uluran tangan Diangela. "Pulang aja sendiri! Tadi aja main ninggalin. Kenapa sekarang malah peduli?"


Diangela tersenyum paksa. "Tadi itu papasan sama temen. Dia ngajak ngoborol aku, masa ada yang ngajak ngobrol di cuekin. Kan nggak baik! Tadi, kan aku ter— manggil Stella. Tapi Stellanya nggak denger! Kalau emang niatnya ninggalin, aku nggak mungkin nyari kamu......" ucapnya geram. 'Dodol!!!' lanjut Diangela dalam hati.


Stella menoleh. "Beneran?" Diangela mengangguk. "Berarti Stella dong yang salah?"


"Iya salah! Sampai mau congkel matamu itu!" Diangela ingin sekali mengatakan itu dengan keras pada Stella. Tapi lagi-lagi perkataan Ansell terngiang di kepalanya. "Perempuan itu makhluk aneh! Labil! Walaupun salah, tetep nggak mau ngaku. Makanya jangan salahin perempuan, karna perempuan itu selalu benar."


Diangela tertawa datar. "Nggak salah! Sama sekali nggak salah!" ucapnya gemas.


"Terus siapa yang salah dong?" Stella memiringkan kepalanya.

__ADS_1


"Udah, jangan di pikirin. Ayo pulang!" Diangela kembali mengulurkan tangannya.


Stella menepis itu, dan malah ia yang mengangkat kedua tangannya. "Gendong! Kaki aku sakit tadi sempet jatuh."


Kenapa pula Stella harus meminta hal yang paling di benci Diangela, dari 100 hal yang di bencinya? Diangela itu benci di perintah! Karna menurutnya, ialah yang harusnya memerintah orang lain.


Dengan amat sangat terpaksa, laki-laki itu masuk ke tempat mandi bola dan jongkok di depan Stella. Stella pun dengan senang hati naik ke punggung Diangela.


"Pentopel Dombamu mana?" tanya Diangela ketika melihat kaki Stella yang tidak di balut apapun.


"Di buang ke tong sampah! Udah rusak!" ucapnya dengan suara bete. Gadis itu pun menyandarkan kepalanya di pundak Diangela.


Diangela mulai berjalan ke luar dari tempat bermain anak itu.


"Little Sheep!" tanpa di beritahu pun, kalian pasti tahu siapa orang mengatakan itu.


"Apa?"


"Kenapa dari sekian banyak tempat, perginya malah ke tempat bermain anak-anak?"


"Nggak pernah main di sana soalnya. Masa kecil kurang bahagia." Balas Stella dengan suara lesu.


Diangela menoleh ke samping, tepatnya je bahunya yang jadi sandaran Stella. "Masih untung masa kecil kurang bahagia. Sedangkan aku? Masa kecil penuh derita." Gumam Diangela.


"Nggak."


"Sebenarnya aku nggak tahu, masa kecilku itu bahagia atau nggak. Karna aku nggak inget sama masa kecilku."


Diangela mengernyit. "Nggak inget? Kenapa?"


"Nggak tahu! Kata bunda aku hilang ingatan, dan itu permanen."


Diangela menukikan kedua alisnya. Dahinya semakin mengkerut. "Hilang ingatan? Tapi itu kenapa nggak tertulis di data Stella yang aku cari? Benar-benar aneh! Little Sheep ini bahkan di ikuti oleh Stalker. Aku juga baru ingat, data tentang gadis ini sangat susah di cari."


...•••••...


"Cari data tentang Stella sampai ke akar-akarnya. Aku mau malam ini di kirim!"


Diangela duduk di kursi dekat jendela. Ia mengambil kopi hitamnya, lalu menyesapnya perlahan. Pandangannya terarah keluar jendela. Memandangi pemandangan malam yang menurutnya menenangkan, dan itu sudah menjadi kebiasaannya sebelum tidur.


Ting!!!


Setelah beberapa jam menunggu akhirnya data yang ia tunggu sudah di kirim. Ia langsung saja mengambil Ipadnya dan mulai membaca data yang di kirimkan lewat surel itu.

__ADS_1


Diangela mengernyit pelan ketika melihat beberapa poin yang menurutnya janggal. "Mereka selalu berpindah-pindah tempat selama setahun sekali. Ibunya Stella tidak mengijinkan anaknya untuk bermain handphone?"


Diangela mengambil ponselnya ia menelpon seseorang. "Stella seolah di TK, SD, SMP mana? Kenapa kau tidak mencari itu? Sudah ku bilang cari sampai ke akar-akarnya."


"....."


"Tidak ada? Di semua sekolah Indonesia? Apa mungkin ia TK, SD, dan SMPnya di luar negri?


"....."


"Tidak ada catatan bahwa mereka warga imigran?"


"....."


"Kalau begitu dengan ayahnya?"


"....."


"Susah mencarinya? Hacker handal sepertimu, yang bahkan di cari-cari keberadaannya oleh mafia di Itali, susah mencari data satu keluarga saja?!"


"........"


'Baiklah kalau begitu! Cari tahu tentang ibunya Stella. Aku juga ingin itu di kirim malam ini!"


Diangela menumpukan kaki kanannya ke kaki kirinya. Ia menopang pipi di pegangan kursi. Wajahnya menunjukan raut heran yang kentara.


"Ini aneh! Si Little Sheep tidak sekolah TK, SD, maupun SMP. Dia juga bukan warga imigran. Ayahnya Stella juga sangat misterius. Bahkan secuil data tentangnya tidak dapat di temukan oleh hacker handal seperti Marco? Aku tidak menyangka bahwa keluarga Little Sheep ku ini, penuh dengan rahasia dan misteri."


Saat ini pikiran Diangela terus berkecamuk. Memikirkan betapa misteriusnya keluarga Stella.


Ting!!!


Akhirnya yang di tunggu-tunggunya sudah datang. Tanpa membuang waktu, Diangela mengambil Ipad dan mulai membaca data yang di kirim.


Diangela sontak berdiri ketika mengetahui satu fakta yang membuatnya terkejut. Dahinya bahkan lebih mengkerut dari sebelumnya.


"Zanna Kirania, bukan ibu kandungnya Stella?!!"


...√√√√√...


Jangan lupa baca cerpenku.


Judulnya : For You, genre (Teen, Romantis) 😉

__ADS_1


Sekarang aku mau ngubah jadwal up ku, jadi 3 hari sekali. Biar dapat feel-nya.


__ADS_2