Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba

Singa Yang Jatuh Cinta Pada Domba
Ingatan terburuk Diangela


__ADS_3

Dari tempat duduknya, Stella terus mencuri-curi pandang pada Zanna sambil memakan sarapannya.


Ia ingin mengajukan pertanyaan yang semalaman terus berputar di kepalanya. Tapi dia agak ragu untuk mengatakannya.


"Ada apa?" Zanna bertanya ketika menyadari dirinya terus di pandangi oleh Stella. "Kalau mau ngomong sesuatu, ngomong aja." lanjutnya.


Stella agak tersentak ketika Zanna berhasil memergokinya. Ia berdekhem untuk menetralisir rasa gugupnya. "Emmmm. Aku mau nanya bun."


"Apa?" Zanna menaikan sebelah alisnya.


Stella menyipitkan matanya. "Emmm, apa aku punya kakak atau adik?"


Zanna tertegun mendengar pertanyaan Stella. Ia bahkan sampai menjatuhkan sendoknya ke mangkuk. Zanna mendongak. "Ng-nggak. Kamu nggak punya saudara. Kamu anak tunggal." Jawab Zanna tanpa menatap Stella.


Stella bisa melihat bahwa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh ibunya. Itu sudah bisa di tebak dari gelagatnya, yang tidak seperti biasanya.


Stella semakin menyipitkan matanya. Ia menatap lekat-lekat ibunya itu. "Yakin?" tanya Stella dengan sebelah alis yang terangkat.


Zanna menghela nafas. Ia menoleh pada Stella. "Bener! Emangnya kenapa kamu nanya kayak gini?"


Stella mengembungkan pipinya. "Enggak papa. Cuman aku selalu mimpi, kalau aku punya adik."


Sekali lagi ekspresi Zanna seperti tadi. Gelisah, terkejut, dan takut. Semua ekspresi itu tercampur, dan Stella bisa melihat ekspresi itu di wajah ibunya.


"I-itu cuma bunga tidur. Nggak usah di pikirin. Sekarang berangkat sekolah, udah jam segini. Nanti telat."


•••


"Hahhhh." Stella menopang pipi, lalu menghela nafas panjang. Ia menatap bosan pada guru B. Indo yang tengah menjelaskan materi.


Ia sudah hapal materi yang di terangkan, karna ia telah mempelajari semua materi kelas 11, semester 1 di rumahnya, untuk sekedar mengisi waktu luang.


"Hahhhhh." Entah yang ke berapa kalinya Stella menghela nafas. Membuat Tata menatapnya heran.


"Napa sih?" Tata mencolek bahu Stella agar menengok ke arahnya.


Stella menoleh dengan wajah malas. "Bosen." Jawabnya singkat.


Tata membelalak. "Seorang Stella bisa bosen?" tanyanya dengan suara dramatis. Tanpa alasan Tata mengatakan itu, karna setahunya Stella itu adalah orang yang maniak pelajaran dan sangat-sangatlah rajin.


Stella memutar kedua bola matanya. Ia kembali menoleh ke depan tanpa menjawab perkataan Tata. Stella mendongak menatap jam, yang menunjukan pukul 08.45.


Semakin bertambahlah ke-badmood-annya, mengetahui jam istirahat masih lama.


Tata mengerutkan dahinya melihat Stella yang bersikap seperti itu. Biasanya Stella itu orangnya serba perfeck. Bahkan waktu duduk pun, dia tidak pernah condong dan terus duduk dengan tegak sepanjang pelajaran.


"Kenapa sih?" tanya Tata sekali lagi.


Stella mengedikan bahu.


"Lo lagi PMS?"


Stella menggeleng. "Cheesee cakenya Stella, hilang." Gumamnya yang masih dapat di dengar oleh Tata.


"Cheesee cake? Emangnya lo bawa Cheesee cake?"


Stella menarika tangannya. Ia jadi menopang wajahnya dengan kedua tangannya. Pipinya ia kembungkan. "Kak Ian." Selama beberapa hari ini, Stella tidak melihat Diangela di sekolah. Itu yang artinya, jika Diangela tidak ada, maka Cheesee cake untuknya juga tidak ada.


"Ian? Siapa?"


"Kak Diangela."

__ADS_1


"Hah? Apa hubungannya sama Cheesee cake?"


"Ish! Kak Ian itu kan, selalu ngasih Cheesee cake, setiap jam istirahat. Dan beberapa hari ini tuh cowok nggak nampakin batang hidupnya sedikitpun. Kalau kak Ian nggak ada, berarti Cheesee cake pun, nggak ada." Jelas Stella.


Tata ber-oh-ria, ia membuka mulut hendak bicara tapi terpotong karna perbuatan Stella.


"Iya, Stella ada apa?" tanya guru perempuan itu, melihat Stella yang mengacungkan tangannya.


"Saya izin ke UKS, ya bu. Pusing kepala saya." Tata kicep mendengar itu.


"Kamu sakit?"


Stella mengangguk. "Iya bu." Sebenarnya tentang sakit kepala itu, memang benar. Itu terjadi sebab ia begadang tadi malam karna tidak bisa tidur.


"Oh, yaudah, ibu izinin." Tanpa keraguaan sedikit pun bu Harumi mengizinkan Stella. Sebab, mana mungkin murid teladan macam Stella bisa berbohong.


"Makasih bu." Stella berdiri dari duduknya, bibirnya berkedut menahan senyum melihat Tata yang melongo di tempatnya.


Ia segera keluar dari kelas dan menuju ke UKS. Setelah sampai ia tiduran di ranjang selama beberapa menit, tanpa memejamkan matanya. Pikirannya terus berputar tentang mimpinya semalam dan gelagat aneh ibunya pagi tadi.


"Aku mau ke rooftop, tapi kok malah ke UKS?" sebuah suara yang berasal dari pintu UKS, menarik perhatian Stella. Ia perlahan bangun dan mengintip.


Stella melihat Ansell yang tengah mengomel kepada dirinya sendiri. Gadis itu mengerutkan dahinya.


"Kau siapa? Kenapa mengintipku seperti itu? Apa kau mata-mata?" pertanyaan Ansell yang tiba-tiba membuat Stella berjengit kaget. Ia perlahan menunjukan dirinya sambil tersenyum canggung.


"Emm, hai." Stella melambaikan tangannya dengan kaku. "Namaku Auristella. Aku bukan mata-mata."


"Oh." Jawab Ansell lalu berbalik hendak keluar.


"Hah?"


"Tunggu. Kau bilang, nama mu siapa tadi?" tanya Ansell setelah berbalik.


Ansell menyipitkan kedua matanya. "Oh ya. Aku ingat. Kau pacarnya Diangela, kan?"


Stella mengangguk ragu. "Iya."


"Oh." Sekali lagi Stella mengernyitkan dahi melihat Ansell yang bersikap plin plan.


"Tunggu." Stella mengejar Ansell yang sudah keluar dari UKS.


Ansell menoleh. "Apa?"


Stella berlari kecil, dan berdiri di hadapan Ansell. "Bukankah kau mau ke rooftop? Kau tidak ingat jalannya, kan? Mau ku antar?" tawar Stella sambil tersenyum manis.


"Sepertinya kau sangat buruk dalam hak menentukan arah." Lanjut Stella.


Ansell menaikan sebelah alisnya. "Bukan karna itu." Ucapnya dingin. "Aku punya penyakit lupa ingatan jangka pendek."


Stella membatu mendengar suara dingin itu. Tapi suara dingin Diangela lebih menakukatkan baginya dari pada Ansell. "Alzheimer?"


"Ya."


"Terus?"


Ansell mengerutkan dahinya. "Terus? Apa maksudnya?"


"Ya terus kenapa jika kau punya penyakit? Aku cuma mau mengantar mu saja, sembari ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. Kau tahu simbiosis mutualisme?"


"Kau tidak merasa aneh, karna aku punya penyakit ini? Orang lain biasanya memandang ku sebagai orang sinting karna penyakitku, ini." Ucap Ansell, sembari menatap lekat bola mata Stella. Berusaha mencari kebohongan di sana, dan hasilnya nihil.

__ADS_1


Stella memiringkan kepalanya ke kiri. "Memangnya kenapa jika kau punya penyakit? Dan kenapa pula aku harus merasa aneh dengan penyakitmu? Aku tahu ribuan penyakit dari buku kedokteran yang aku baca, dan kau itu termasuk beruntung karna tidak mengidap penyakit yang lebih serius."


"Heh." Ansell tersenyum tidak bisa menahan kedutan di sudut kiri bibirnya. Untuk menyembunyikan senyumnya itu, Ansell berbalik membelakangi Stella. "Kau orang yang pertama kali mengatakan hal itu padaku. Terima kasih."


"Sama-sama. Aku mau tanya sesuatu padamu."


"Silahkan saja tanyakan."


"Kenapa kak Ian beberapa hari ini nggak kelihatan?" tanya Stella.


"Tunggu, kau bilang kak Ian tadi? Maksudnya Diangela?" tanya Ansell terkejut.


Stella mengerutkan dahi lalu mengangguk. "Iya. Emang kenapa?"


Ansell berbalik membelakangi Stella, ia menggigiti kukunya sambil mengernyit pelan. Aneh! Ini benar-benar aneh!


Ansell kembali berbalik. "Apa dia tidak marah di panggil Ian?"


"Tidak." Stella menggeleng pelan. "Malahan dia yang menyuruhku memanggilnya begitu."


"APA?!" teriak Ansell terkejut setengah mati. Pasalnya Diangela itu sangat tidak suka jika ada orang yang memanggilnya dengan sebutan Ian. Makanya ia terkejut mengetahui bahwa, Diangela lah yang menyuruh Stella memanggilnya begitu.


"Kenapa sih?!" tanya Stella heran.


Ansell menggeleng sambil tersenyum. "Nggak! Nggak papa. Eh, tadi kau bertanya apa?" tanya Ansell mengalihkan topik pembicaraan.


"Kenapa beberapa hari ini kak Ian tidak kelihatan? Dia sakit? Aku bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, dan kulihat raut wajahnya sedih. Apa dia punya masalah besar, Sampai dia menangis?"


"Menangis?" tanya Ansell heran lalu berbalik dengan sebelah alisnya yang terangkat. Stella mengangguk kemudian menceritakan kejadian itu dengan detail.


"Hahaha." Ansell tertawa sambil menutupi wajahnya dengan tangannya. "Aku tidak menyangka dia bersikap seperti itu padamu."


"Baiklah! Sebagai rasa terima kasihku, akan aku ceritakan alasannya sedih waktu itu, sembari kau menunjukan jalan menuju rooftop."


Stella mengangguk antusias. "Jalannya ke sini. Ayo." Stella menunjuk ke arah belakang Ansell, lalu berjalan di ikuti Ansell di sampingnya.


"Pertama-tama, kau tidak boleh memberitahukan hal ini pada siapapun."


Stella mengangguk. "Iya. Aku janji nggak bakalan ngasih tahu siapapun."


"Kedua. Kau tidak boleh membicarakan pembicaraan kita hari ini di depan Diangela."


"Siap 86!" karna refleks, Stella sampai hormat. "Upps. Maaf." Ucapnya lalu menurunkan kembali tangannya.


"Hahahaha. Kau lucu juga. Kita lanjutkan pembicaraan kita tadi. Hal yang akan aku bahas denganmu ini, adalah ingatan terburuk Diangela. Kau tidak boleh menilainya sembarangan setelah mendengar perkataanku, karna kau tidak tahu masa lalunya."


"Tentu saja, amu tidak akan menilai orang sembarangan."


Pandangan Ansell yang tadinya tertuju pada Stella, beralih ke depan dengan pandangan menerawang. "Aku tidak akan menceritakannya secara detail. Hanya garis besarnya saja. Hari itu, kita kedatangan saudara dari Italy. Namanya Regis Landegre, dan kita bertiga di suruh untuk menyambutnya oleh ayah kami."


"Regis mengatakan hal ini pada Diangela. "Aku tidak butuh di sambut oleh orang yang telah membunuh teman-temannya sendiri."


Degh!


Jantung Stella seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Ansell. Apa maksudnya dengan membunuh? Saking kagetnya, ia bahkan menghentikan langkahnya.


Ansell ikut berhenti tanpa menoleh. "Seperti yang ku katakan tadi. Kau jangan menilainya sembarangan, sebab kau tidak tahu masa lalu Diangela." Ucapnya. Ia lalu menoleh ke samping dengan bola matanya yang melirik Stella. "Terima kasih sudah mengantar ku ke rooftop."


Setelah mengucapkan itu, Ansell berjalan menuju tangga yang berada di belokan depan, yang menuju ke rooftop.


Stella menatap punggung Ansell yang mulai menjauh dengan pikirannya yang berkecamuk.

__ADS_1


Langkah Ansell tiba-tiba terhenti. Ia menoleh lalu menatap dengan intens pada Stella. "Oh, ya satu hal lagi. Berhati-hatilah pada Diangela. Jangan terlalu mempercayainya." Setelahnya, Ansell melanjutkan langkahnya.


Hati-hati? Kenapa?


__ADS_2