
**Di sebuah ruangan berwarna putih yang lumayan besar, terlihat seorang anak kecil tengah berbaring di tengah ruangan itu.
Anak laki-laki itu perlahan terbangun dari
pingsannya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata sambil berusaha bangun. Di peluknya mainan robot-robotan miliknya dengan erat.
Ketika berhasil membuka matanya, anak itu mengernyit dan menghalangi kedua matanya dengan tangannya karna silaunya lampu di tambah seluruh ruangannya yang hanya berwarna putih.
Ruangan itu kosong. Tidak ada apapun kecuali si anak kecil yang baru bangun itu. Bahkan pintu untuk keluar pun tidak ada sama sekali.
"Aku.... di mana?" Tanyanya bingung lalu bangkit berdiri. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan itu. mainan robot-robotannya di biarkan tergeletak di lantai.
Ia tampak kebingungan dengan situasi yang tengah terjadi. "Kenapa aku ada di sini? Siapa orang tua ku?"
Anak kecil itu bertanya-tanya. Satu-satunya ingatan yang di ingatnya adalah namanya.
Anak laki-laki itu celingukan ke kanan dan ke kiri berusaha mencari pintu. Ia berlari ke arah kanan dan mendekati tembok putih itu lalu mengetuk-ngetuknya beberapa kali.
"Halo. Apa ada orang? Aku terjebak di dalam. Halo...." Teriak anak itu berusaha mencari jalan keluar.
Tidak mendapat jawaban yang di inginkannya, ia segera berbalik lalu berlari ke arah kiri mendekati tembok.
Ia kembali meneriakan kalimat yang sama berulang kali. Dia terus menyusuri tembok-tembok yang lainnya juga, sambil meneriakan kalimat tadi dengan suara yang lebih keras.
Anak itu bahkan menyusuri lantai dan meneriakan kalimat yang sama lagi berulang-ulang hingga suaranya serak.
Di suatu tempat. Lebih tepatnya ruangan yang berisi layar-layar tv yang menghubungkan dengan Cctv.
Semua tampilan di layar itu menunjukkan ruangan yang hanya berwarna putih dan di tempati oleh anak kecil di masing-masing tempat. Baik anak itu perempuan maupun laki-laki.
Ada satu pria paruh baya yang mengawasi. Pria itu memegang papan berjalan dengan beberapa lembar kertas di atasnya yang berisi data setiap anak di masing-masing ruangan.
Ruangan 056 menarik perhatiannya. Berbeda dengan anak lainnya yang menangis ketika terbangun, anak di ruangan itu justru berusaha mencari jalan keluar. Bahkan tidak menangis ketika dia memadamkan lampunya.
Anak itu sangat cocok untuk menjadi senjatanya.
Pria itu meletakan papan berjalannya di meja. Ia kemudian berkutat dengan keyboard di depannya dan menampilkan sebuah video untuk ruangan 056.
Video itu berisi kekerasan, pembunuhan, kanibal, dan hal buruk lainnya.
"Baiklah! Apa kau akan menangis seperti anak lainnya jika ku tampilkan video ini? Atau reaksimu berbeda seperti anak perempuan di ruangan 057."
Seperti dugaannya anak laki-laki di ruangan 056 itu tidak menangis. Anak itu hanya menatap datar layar saat video itu di putar.
Setelah video itu habis di putar, lampu di ruangan 056 kembali menyala.
__ADS_1
Anak kecil itu bergeming di tempatnya ketika kilasan adegan pembunuhan yang sadis terlintas di kepalanya, sampai sebuah suara menyadarkannya.
"Sstttt. Hey, apa kau di sana?" Suara anak perempuan terdengar.
"Apa kau bisa mendengar ku?" Suara itu bergema di ruangan serba putih itu. Anak laki-laki itu segera berdiri.
"Ya. Aku bisa mendengarmu. Siapa kamu?" Tanyanya ikut bertanya balik. Ia bingung darimana asalnya suara anak perempuan itu, karna suaranya bergema di ruangan ini.
"Hey. Aku di dinding sebelah kirimu. Carilah lubang kecil. Aku bisa melihatmu dari sini."
"Baiklah, aku akan segera ke—"
"Jangan keras-keras bodoh! Nanti ketahuan si tua bangka yang ada di balik layar itu." Bisiknya tapi masih bisa terdengan oleh si anak laki-laki.
"Ups. Maaf." Bisiknya lalu berlari menuju tembok sebelah kiri nya. Ia menyusuri tembok itu dan akhirnya ia menemukan sebuah lubang kecil.
Ia mengintip ke lubang kecil itu. Terlihat bola mata berwarna biru safir yang sangat indah.
"Hai. Kau bisa melihatku?" tanya anak perempuan pemilik bola mata itu
"Iya." Angguk si anak laki-laki. "Matamu sangat indah." pujinya yang membuat si anak perempuan terkekeh.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau juga hilang ingatan?"
"Apa?! Dua tahun?" Teriak si anak laki-laki.
"Ssttt, sudah kubilang jangan berisik bodoh! Kau ini punya otak atau tidak. Nanti kita ketahuan si tua bangka jelek itu. Kau tidak tahu saja setiap sudut ruangan ini di lengkapi kamera pengawas." Geram si anak perempuan.
Anak laki-laki itu memukul mulutnya lalu meringis pelan. "Maaf aku lupa. Kenapa kau bisa tahu semua itu?"
"Aku ini anak yang pintar tahu! Hal sekecil itu saja tidak akan luput dari ku."
"Umurmu berapa?"
"Emmm, 10 tahun. Maybe."
"Aku juga berumur 10 tahun. Oh ya, jika ada kamera pengawas di ruangan ini, berarti si tua bangka itu tahu kita sedang bicara dong! Kalau begitu percuma kita bicara sambil berbisik-bisik begini."
"Kamera pengawasnya di matikan jika sudah pukul 12.00 malam."
"Berarti sekarang pukul 12.00 malam?"
"Ya. Aku akan memberitahu mu sesuatu yang sangat penting. Kau jangan memberitahu nya pada siapa-siapa ya."
"Memangnya akan ku beritahu pada siapa, jika aku saja terkurung di sini."
__ADS_1
Anak perempuan itu tertawa. "Hehe. Iya juga ya."
"Memangnya rahasia apa yang akan kau beritahukan?" Tanya si anak laki-laki lalu mendekat.
"Setiap hari Selasa akan di adakan ujian. Jika ujianmu bernilai 90 atau lebih kau lulus tes, dan satu permintaamu akan di kabulkan, kecuali keluar dari sini. Tapi jika nilai ujianmu di bawah angka 90, kau akan mati."
"Apa?! Siapa psikopat gila yang melakukan itu?"
"Kau tahu psikopat? Sepertinya kau pintar."
"Kau tahu dari mana?"
"Rahasia."
"Cih! Kau curang! main rahasia-rahasiaan. Eh, tapi jika di adakan ujian, berarti ada banyak anak kecil seperti kita yang di tempatkan di ruangan lainnya?"
Terdengar suara tepuk tangan dari sebrang. "Woww, kau pintar juga."
"Jadi itu benar?"
"Ya."
"Tunggu. Aku tadi sudah mengetuk-ngetuk dinding ini, tapi kenapa kau tidak menjawab ku?" Tanya si anak laki-laki sambil memberengut sebal.
"Kau bodoh atau tidak punya otak? Kalau kau tidak punya otak, nanti aku minta otak saat aku mendapat nilai 100 di ujian nanti, lalu memasangkannya di kepalamu!"
"Sudah kubilangkan! Ruangan ini penuh kamera pengawas, menurutmu apa yang akan terjadi jika aku menggubris teriakan mu, yang seperti ayam kejepit?" Lanjut si anak perempuan dengan suara geram tertahan.
Anak laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang memang gatal sambil terkekeh. "Hehe. Maafkan aku. Ngomong-ngomong, ujiannya tentang apa?"
"Huh!" Si anak perempuan terdengar menghela nafas dan memutar bola matanya. "Tentang video yang kau tonton tadi."
"Apa?! Dia mau membuatku jadi psikopat?"
"Sepertinya."
"Apa motifnya melakukan itu? Dia ini sudah gila ya?"
"Sudahlah! Kita lanjutkan lagi besok! Aku sudah mengantuk."
"Ok. Siapa namamu?"
"Auristella. Panggil saja Stella. Kalau nama mu?"
"Diangela. Panggil saja Ian*."
__ADS_1